Cerpen Ongky Arista UA (Padang Ekspres, 09 Februari 2020)

Perahu Kesedihan ilustrasi Orta - Padang Ekspres (1)
Perahu Kesedihan ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Perahu Kesedihan yang cukup terkenal itu teronggok di atas permukaan air laut yang masih dangkal. Kepala perahu menghadap ke bibir pantai. Sedang tubuh perahu, sedikit miring ke sisi bagian kiri. Dari posisiku berdiri, perahu itu tampak seperti hiu besar yang terdampar, hanya tampak bagian kepalanya.

Cukup rasanya bila perahu itu menampung sepuluh hingga dua puluh tubuh manusia. Tetapi tidak dan sungguh tidak. Hanya seorang lelaki saja yang boleh naik sebagai penumpang. Itu pun hanya lelaki yang hendak menghibur diri dengan kesedihankesedihan yang dalam.

“Benar begitu?” tanyaku pada seseorang yang mengantarku.

“Iya.”

“Apa masalahnya kalau bersama seorang teman?”

“Tidak boleh naik kalau tidak satu orang lelaki.”

“Satu orang perempuan?”

“Juga tidak.”

“Jika tidak untuk menikmati kesedihan yang dalam?”

“Juga tidak.”

“Lalu?”

“Hanya untuk seorang lelaki yang hendak menikmati kesedihan yang dalam.”

Dari tepi pantai, dengan sedikit menggeser tubuh agak ke sisi kanan, aku bisa melihat seorang perempuan tengah duduk di sebuah kursi di bagian depan perahu. Dekat pada tiang. Mengenakan baju putih tulang. Perempuan itu memandang ke garis tepi di mana aku berdiri. Kemudian perempuan itu berdiri dan melangkah ke ujung kepala perahu. Sepertinya, perempuan itu sedang mengintai keberadaan orang-orang yang hendak menaiki Perahu Kesedihan itu.

Baca juga: Ladang Kosong Kubur Ingatan – Cerpen Ongky Arista U.A. (Rakyat Sultra, 29 Juli 2019)

“Siapa dia?”

“Pemilik perahu.”

“Seorang yang asli perempuan?”

“Seperti yang bisa kamu lihat.”

“Dari mana dia berasal?”

“Setiap pagi buta, dia dan perahu itu sudah di sini, entah, mungkin datang dari tengah laut, dan tak ada yang benar-benar tahu.”

Kemudian orang yang mengantarku itu bercerita bahwa di sepanjang pantai ini, siapalah yang tidak tahu perahu yang bertulis ‘kesedihan’ di lambung sebelah kiri dan kanannya. Dengan seorang perempuan di atasnya. Masih kata orang yang mengantarku, seorang lelaki yang menaiki perahu itu sama artinya siap diri untuk meneguk kesedihan yang luar biasa dalam. Mestilah siap diri untuk memuntahkan air mata banyak-banyak, dan memuntahkan segumpal darah kesedihan yang tiada tandingannya. Tetapi, lagi-lagi kata orang yang mengantarku, orang yang tiada pernah menaikinya tiada akan pernah menaruh percaya sama sekali soal kesedihan di atas perahu itu.

“Apakah perempuan itu cukup cantik?”

“Tiada aku pernah melihat yang secantik dia,” jawab orang yang mengantarku itu.

“Bagaimana kesedihan yang dalam itu bisa muncul di sisi perempuan yang secantik itu?”

“Aku tidak bisa menjelaskan, sulit untuk digambarkan melalui kata-kata yang terbatas di mulutku, dan itu cukup menyesakkan. Kau cukup naik dan nanti kau akan  mempersaksikannya sendiri.”

Ketika orang yang mengantarkanku meninggalkan tepi pantai, aku segera berjalan mendekati perahu kesedihan itu. Sambil bertanya-tanya dan menjawabjawab sendiri soal kesedihan yang dalam kakiku mulai memasuki air laut yang perlahan pasang. Perempuan itu kembali berdiri setelah tadi kembali duduk, dan benar-benar memandang ke arahku yang berjalan mendekati perahunya. Kecipak air menyeruak. Kurasai batu-batu berlumut bersentuhan dengan tapak kaki. Kian dekat ke perahu, kakiku kian terkulum air yang hampir melewati lutut.

Baca juga: Sang Peracik – Cerpen Ken Hanggara (Padang Ekspres, 02 Februari 2020)

Kian dekat kian kulihat jelas nama perahu itu bukan bernama Kesedihan. Tapi Kepedihan. Hanya huruf “p” ditulis menyerupai lekuk huruf “s”. Itu artinya, bukan hanya sedih yang akan kuderita bila naik perahu ini, tapi pedih, pedih yang dalam. Tetapi aku belum juga percaya. Bukankah barangsiapa yang tidak percaya pada apa pun yang belum dirasainya sendiri niscaya ia akan selamat dari kekecewaan batin?

“Hai!” kataku, hendak mengakrabi perempuan di atas perahu, ketika jarak antara aku dan perahu telah kurang dari dua meter. Perempuan itu tidak menjawab, hanya menjulurkan kepalanya melewati tepi pembatas di bagian kiri perahu. Lalu duduk di tepi pembatas dan memandang ke arahku.

Tertangkap oleh mataku, bibir perempuan itu berona merah. Entah sebab sentuhan apa. Adakah kepedihan telah menyepuh bibirnya menjadi merah semacam itu? Adakah waktu telah memeram bibirnya menjadi begitu merah terpelajar?

Rambut perempuan itu lurus. Sebagian terurai melewati kedua belah pipinya yang kusaksikan begitu halus. Walau matanya agak sipit tapi tak sama sekali memadamkan tajam matanya ketika memandang. Kulitnya bersih walau tidak putih cerah.

Dan—ini yang terpenting—tiga kancing bajunya, berurut dari kancing paling atas terlepas. Aku menyadarinya setelah beberapa detik kemudian. Dadanya mengintipku yang kebetulan saja tengah memandang kancing-kancing yang terlepas itu. Kemudian perempuan itu berdiri dan meninggalkan tepi pembatas perahu. Kulihat roknya berwarna gelap tetapi tipis sekali. Lekuk pahanya hampir ke bagian pangkal dapat kutangkap dengan teramat baik.

Perempuan itu segera muncul lagi, dan menjulurkan tangga kecil dan aku segera menaiki tubuh perahu dari sisi sebalah kiri.

“Kau bersedia untuk merasai kepedihan yang dalam?”

“Maaf?” jawabku.

“Baik, kuulangi, kau siap merasai kepedihan yang dalam?”

“Tentu, aku sudah terbiasa dengan segala macam kepedihan yang dalam,” jawabku.

“Baik, kita tunggu hingga air laut telah sempurna pasang.”

“Ke mana kita akan pergi?”

“Ke dunia yang penuh dengan kepedihan,” jelasnya.

“Adakah pembunuhan sadis di sana? Atau pemimpin kejam yang memakan uang rakyatnya? Atau pemimpin agama yang menjadikan ajarannya sebagai modal berkuasa?”

Baca juga: Burung Kalimbang Hujan – Cerpen Afri Meldam (Padang Ekspres, 26 Januari 2020)

Perempuan itu hanya diam, lalu masuk ke sebuah ruangan berkotak di bagian ekor perahu. Ruangan itu semacam kamar kecil di sebuah kapal.

Tak lama dari itu ia keluar dengan membawa… dan astaga! Sungguh sama sekali tiada kusangka apa yang hendak ia lakukan ketika permunculannya kali ini ialah tanpa mengenakan sehelai pun kain penutup tubuh. Astaganya lagi, tubuh telanjang perempuan itu kini seperti hidangan di tempat-tempat makan.

Perempuan ini terlalu berterus-terang, pikirku, dan sungguh telah mengoyak segala isi dada, dan telah mengoyak-ngoyak segala ceramah keimanan yang mengakari pikiran. Lantaran aku tak tahu harus ke bagian tubuhnya yang mana harus lebih dahulu memandang, maka aku segera memilih untuk memalingkan muka, pura-pura malu, alih-alih agar ia tahu betapa aku masih menyimpan sedikit harga diri sebagai lelaki baik juga beriman tebal.

“Kau tak perlu kaget, apalagi sampai memalingkan muka,” katanya. “Lelaki yang pernah naik ke perahu ini sudah pernah melihatku dalam bentuk semacam ini. Jadi, anggaplah ini sebagai sesuatu yang umum terjadi di dunia ini.”

“Aku tidak suka yang terlalu berterusterang.”

“Yang bersembunyi-sembunyi kalau begitu?!”

“Tidak pula macam itu,” tukasku.

“Jika kau tidak bersedia untuk bersikap biasa saja, kau boleh turun dan kembali ke tepi, dan kau akan selamat dari kepedihan yang dalam.”

Belum lagi aku membalikkan muka pada tubuh perempuan yang telanjang, dada kembali koyak oleh apa yang aku bayangkan akan segera hinggap di mataku. Oh, perempuan telanjang dalam angan kini datang sebagai kebenaran yang melebihi segala kebenaran dalam filsafat perempuan.

Jika bukan karena aku penasaran perihal kepedihan yang akan ditunjukkannya, maka pastilah aku akan segera turun dan meninggalkan perahu ini. Tetapi perempuan ini hanya seorang diri di atas perahu dan aku bisa melakukan apa saja terhadapnya. Dengan memakai pikiranku yang terakhir ini pastilah aku yang akan memenangkan situasinya.

“Kau bermasalah dengan memakai baju?”

“Aku tidak ingin tubuhku ditelanjangi sejak dalam pikiran oleh setiap lelaki yang menaiki perahu ini, dan lebih baik bila aku sendiri yang menelanjangi tubuhku.”

“Itu pilihan yang absurd,” jawabku dan belumlah aku berbalik muka ke arahnya.

“Ketidakterus-terangan jauh lebih absurd,” timpalnya.

“Kecuali kau bersedia untuk tidak berbuat macam-macam sejak dalam pikiranmu maka aku akan memakai baju, dan jika kau tidak dapat untuk tidak bermacam-macam sejak dalam pikiranmu, maka sekarang sajalah waktu yang tepat untuk menghilangkan segala yang absurd itu.”

“Kau terlalu berani, kau hanya seorang diri,” kataku.

“Perempuan penakut hanya memancing lelaki untuk berani,” ia menjawab dengan mudah.

Baca juga: Ikan-ikan Penolong Bapak – Cerpen Fitria Sawardi (Padang Ekspres, 12 Januari 2020)

Alih-alih akan menoleh ke arahnya, aku justru memilih untuk menuruni perahu dengan tangga yang masih melekat di lambung kiri perahu. Tetapi perahu ini ternyata telah mengapung sempurna. Bunyi menyerupai derum mesin tiba-tiba terdengar. Perahu perlahan berbelok dan meluncur ke tengah lautan. Perempuan itu menepuk pundakku dan ketika aku menoleh, kepalanya sudah di dekat kepalaku dan kutahu ia telah memakai baju yang cukup lengkap.

“Semua lelaki yang naik ke atas perahu ini tidak satu pun yang menolak memandangku dalam tubuh yang terus terang.”

Belum lagi aku menjawab.

“Baru kau saja yang menolak,” lanjutnya.

“Kau melakukan itu dengan semua lelaki yang datang kemari?”

“Iya, tentu.”

“Untuk?” tanyaku, terdesak oleh penasaran.

“Sekedar untuk merayakan keterusterangan setiap lelaki yang datang kemari— menghilangkan yang absurd.”

“Lalu?” desakku.

“Dan hendak menunggu apa lagi jika kau mau merayakan hal yang seperti itu pula?”

“Lalu di mana kepedihan yang begitu dalam yang dimaksud orang-orang?”

“Jangan kau terlalu bergairah untuk mencari kepedihan yang dalam!”

“Jelaskan sesuatu soal kepedihan yang begitu dalam. Aku sudah terlanjur berharap akan muncul cerita kepedihan di atas perahu ini agar aku benar-benar dapat merasai kepedihan yang dalam itu.”

“Tidak ada kepedihan yang dalam, kecuali kau mau melakukan itu denganku serupa setiap lelaki yang datang kemari dan melakukannya…”

“Setelah itu?”

“Kau akan tahu di mana kepedihan yang dalam itu,” kata perempuan itu.

“Antarkan aku lebih dahulu ke dunia kepedihan yang kau maksud, boleh setelah itu.”

“Kau terlalu percaya pada cerita orang soal kepedihan yang dalam di sisi seorang perempuan sementara kau belum menikmatinya.”

“Tak ada cerita tanpa asal,” jelasku.

“Asal cerita adalah jika kau mau melakukan itu denganku,” jawabnya.

“Baiklah, kita mulai setelah senja sempurna jatuh hingga tengah malam,” jawabku dengan merasa tanpa ada pilihan. Perahu terus menapak-napak membelah muka lautan. Senja perlahan jatuh dan lenyap. Malam menggantung pada kolong langit. Arsir-arsir gelap mulai mengulum segala arah dan pandangan. Angin menembusi lubang-lubang kecil pada tubuh. Kurasai udara yang telah berubah begitu dingin.

Tak ada alat penerang pada perahu. Hanya sinar bulan yang begitu muram di sisi langit yang marjinal. Tujuan perahu belum juga diketahui dan aku sudah tidak peduli pada apa pun. Perempuan di atas perahu ini segera memimpinku dalam selubung gelap dan segala bentuk keterus-terangan; yang tiada sama sekali absurd di dalamnya, yang sungguh nikmat tiada absurdnya.

Aku pun punya alasan untuk terlelap dengan tenang lepas pertengahan malam. Malam itu kuingat tak ada mimpi buruk. Namun ketika keesokan paginya aku terjaga, kurasai ada yang perih, ngilu dan begitu menyiksa, dan kian kurasai bahwa telah ada yang terpotong di antara pangkal paha.

“Kau memaksa, nikmatilah, kau akan tahu kepedihan yang begitu dalam itu,” kata perempuan itu, yang tak benar-benar kusadari bahwa ia tengah memelukku. “Kau akan belajar cara mencintai tanpa alat pemuas nafsu,” tandasnya. (*)