Cerpen Yuditeha (Solopos, 09 Februari 2020)

Paman ilustrasi Hengki Irawan - Solopos (1)
Paman ilustrasi Hengki Irawan/Solopos 

Liburan sekolah sudah di ambang mata. Setidaknya ada tiga tempat yang ada di kepalaku, pertama bermain ke tempat bulik yang rumahnya dekat hutan Bromo, kedua berkunjung ke rumah nenek di Desa Sukodono, dan ketiga kemah bersama teman di taman Kalisoro. Ahai, tak sengaja ketiga tempat yang kusebut ternyata berakhiran o. Menyadari ketidaksengajaan itu, aku senyum-senyum sendiri.

Untuk meyakinkan tempat mana yang akan kupilih, sengaja kupertimbangkan plus minusnya. Jika aku pergi ke rumah bulik, tentu saja aku bisa bermain di hutan Bromo, hutan yang kabarnya masih menyimpan kisah misteri, bahkan katanya hutan itu bisa memberi petaka bagi orang-orang jahat. Aku selalu tertarik dengan kisah seperti itu, dan ingin tahu bagaimana keadaannya, apakah sama dengan hutan-hutan pada umumnya. Selain itu aku juga ingin bermain petualangan di sana. Meski aku perempuan, nyatanya aku suka permainan seperti itu.

Jika memilih pergi ke rumah nenek, aku bisa mengerjakan beberapa kegemaranku sekaligus, di antaranya berkunjung ke Waduk Kedung Ombo. Perihal Kedung Ombo, salah satu guruku pernah bercerita, katanya proyek itu mengorbankan beberapa permukiman warga, di mana area desa yang mereka tinggali ikut tenggelam oleh air waduk. Kegemaranku lainnya, aku bisa bermain di Pasar Harjosari. Nenek pernah bilang, jika hari sedang pasaran ada berbagai permainan tradisional, dan aku penasaran akan hal itu.

Ketiga, kemah bersama teman di taman Kalisoro. Kekuatan dari pilihan ketiga ini agak berbeda dengan kedua pilihan sebelumnya. Menurutku keputusan berkemah dapat menuntaskan penasaranku perihal bagaimana rasanya jika aku tinggal di luar rumah dengan seizin orang tua. Aku penasaran tentang perasaan merdeka, meski tentu saja dengan konsekuensi harus bertanggung jawab dengan apa yang kulakukan, seperti yang pernah dikatakan bapak beberapa waktu lalu ketika aku meminta izin.

Waktunya liburan tiba. Aku harus segera memutuskan hendak ke mana. Dari apa yang kupikirkan, tampaknya aku lebih memenangkan pergi ke rumah bulik. Sebenarnya bukan bulik yang menyita perhatianku, tapi cerita tentang diri pa manlah yang membuatku penasaran. Aku membayangkan bermain dengan paman akan terpuaskan kegemaranku perihal petualangan. Informasi tentang paman, kabarnya jagoan penakluk alam dan hal itu sungguh menjanjikan untuk membuat liburanku kali ini penuh vitamin. Terlebih setelah aku mendengar reputasi paman di dunia petualang telah teruji. Kurasa pilihanku sudah tepat.

“Sudah mantap?” tanya bapak meyakinkanku saat akan mengantarku.

“Bukankah pantang membatalkan apa yang telah diputuskan?” jawabku dalam bentuk tanya dan bergaya menirukan logat orang dewasa bicara.

Bapak hanya menanggapiku dengan senyum. “Ayo berangkat kalau gitu.”

Perjalanan ke rumah bulik dengan mengendarai motor, diiringi serentetan nasihat bapak, yang intinya meski di rumah bulik sendiri, aku tetap harus berlaku sopan, terlebih kepada paman. Menjelang senja, kami sampai di rumah bulik. Ketika kami masuk halaman rumahnya, paman sedang duduk di teras. Sepertinya sedang santai sembari merokok.

“Loh, Mas Wiryo, ta,” sapa paman.

“Iya. Mengantar Juli, katanya ingin liburan di sini,” sahut bapak sembari menjulurkan tangan, mengajaknya salaman, demikian juga aku. Entah mengapa saat itu aku merasa ada yang aneh. Mungkin karena paman tidak mengajakku bicara. Tapi aku tidak ingin memikirkan itu berlarut. Kami dipersilakan masuk dan duduk di ruang depan, sedangkan paman terus masuk ke dalam. Tidak lama kemudian bulik keluar dengan sambutan yang menurutku sangat heboh, terlebih kepadaku.

Kepada bapak, bulik bicara seperlunya tapi kepadaku rasanya bulik ingin tahu banyak hal, dari perihal ibu, sekolahku, nilai raporku, bahkan tentang fisikku yang menurut bulik besarnya di luar dugaan. Sebenarnya aku baru duduk di bangku SMP kelas II, tapi menurut bulik sudah seperti anak SMA. Aku hanya bisa senyumsenyum menanggapi perkataan bulik. Seusai bapak berlalu, bulik langsung menunjukkan kamar untukku dan menyuruhku istirahat. Sedangkan paman kembali duduk di teras rumah. Di dalam kamar aku tidak segera tidur. Aku ingin santai sejenak. Ternyata rumah bulik sangat sunyi.

“Jika Mas longgar, ajaklah besok Juli ke hutan. Dia ke sini ingin melihat hutan itu.” Perkataan bulik sangat jelas kudengar. Jangankan suara manusia, saking sunyinya suara-suara serangga malam pun bisa terdengar.

“Mau melihat apa di sana?”

“Ya, namanya anak-anak, mungkin penasaran hutan itu gimana.”

“Kurang kerjaan saja.”

Begitu mendengar tanggapan paman, keheranan-herananku sebelumnya berkelindan di kepalaku. Entah mengapa, detik itu juga ada keinginan untuk membatalkan liburan di rumah bulik. Bukan masalah takut, tapi karena di dalam hatiku sudah ada perasaan tidak nyaman dengan paman, bahkan rasa seperti itu sudah kurasakan sejak pertama bertemu tadi. Aku kepikiran terus hal itu, hingga sebagian malam telah terlewati pun aku belum bisa tidur, dan aku tidak tahu kapan aku benar-benar bisa terlelap. Pastinya sudah dini hari, dan mungkin karena hal itu hingga aku bangun kesiangan. Di saat kesadaranku belum sepenuhnya terjaga, samar-samar aku mendengar paman bicara.

“Katanya mau ke hutan, tapi sudah jam segini belum bangun.”

“Mungkin capai,” sahut bulik.

“Capai apa?” Mendengar percakapan itu kesadaranku langsung utuh. Tapi aku belum berani keluar kamar, karena jika aku keluar saat itu mereka akan menduga aku mendengar percakapan mereka dan hal itu bisa membuat kami tidak nyaman.

“Jangan keras-keras, Mas. Nanti dia dengar.”

“Kalau dengar, kenapa?”

“Ya sudah kamu tidak perlu menunggu dia. Jika dia sudah siap, nanti aku kabari.”

“Suruh ke hutan sendiri saja, aku banyak urusan!”

Setelah itu hening agak lama. Sepertinya paman pergi. Karenanya aku memberanikan diri keluar kamar bermaksud mandi. Bulik tahu aku sudah bangun, dan sebelum memintaku sarapan, dia langsung memberiku handuk dan menyuruhku mandi. Saat kusadari bulik sangat memperhatikanku, perasaanku menjadi tidak enak. Aku berpikir mungkin kehadiranku mengganggu mereka.

Hari itu seharian kuhabiskan di rumah saja, bahkan aku sering berada di kamar. Pada saat itu tebersit lagi keinginan untuk segera pulang dan melupakan penasaranku perihal hutan Bromo. Sampai tak terasa hari sudah menginjak malam lagi dan aku hanya berdiam di kamar, asyik dengan ponsel dan akhirnya tertidur.

Kira-kira tengah malam aku terbangun karena mendengar suara gaduh. Samar aku mendengar ada orang marah. Jantungku berdebar lebih cepat, dan karenanya aku benar-benar terbangun hingga pada saat itu aku menyadari yang tadi kudengar ternyata suara paman. Kuperhatikan marahnya paman begitu menggebu dan menurutku bukan lagi marah tapi murka. Aku mendengar suara barang-barang jatuh. Bahkan aku bisa mendengar beberapa barang yang terbuat dari kaca pecah. Aku beranikan diri mengintip dari lubang kunci. Aku merasakan marahnya paman sudah tidak terkendali. Bahkan aku sempat melihat dia menendang bulik dan menamparnya berulang kali. Tapi anehnya aku tidak mendengar suara tangisan sedikit pun dari bulik. Detak jantungku semakin tak menentu dan badanku seperti bergetar. Aku takut. Esok hari, pada saat sarapan, aku memberanikan diri menanyakan kisah semalam, tapi aku tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Bahkan bulik malah mengatakan bahwa aku tidak perlu memedulikan peristiwa itu.Tapi ketika aku tahu hampir tiap malam perilaku paman begitu justru membuatku ingin bertahan di rumah bulik.

Di dalam diriku juga ada dorongan yang membuatku justru berani meminta kepada paman untuk mengantarku main ke hutan Bromo. Lalu aku memikirkan sesuatu, yaitu tentang permainan yang menantang. Semacam seru-seruan yang biasa kulakukan bersama teman-temanku di kebun, seperti bermain jebakan dan ranjau-ranjauan. Permainan yang menurutku bisa memicu adrenalin. Kami harus melewati beberapa rintangan hingga yang terakhir menguji ketangkasan memanjat pohon kelapa dan memetik buahnya. Siapa yang pertama berhasil menjatuhkan kelapa, dialah pemenangnya.

Pada suatu kesempatan aku mengutarakan keinginanku itu kepada paman, dan paman langsung menuruti permintaanku dengan satu syarat. Aku harus membuat sendiri seluruh jenis jebakan dan ranjau itu. Tibalah waktunya petualangan dimulai. Aku yang sudah terbiasa dengan permainan seperti itu dengan mudahnya melewati seluruh rintangan, terlebih kali ini aku sendiri yang membuat jebakan dan ranjauranjau itu. Tapi tidak demikian dengan paman. Tampaknya paman kewalahan, terlebih sebelumnya paman tidak menyadari jenis jebakan dan ranjau itu benar-benar menggunakan benda tajam sungguhan, seperti halnya besi lancip, gunting, bahkan pisau. Tentu saja akulah yang memasang semua itu di sana tanpa sepengetahuan paman. Aku meminjam barang-barang itu dari bulik. Paman beberapa kali mujur, bisa melewatinya, tapi beberapa jebakan dan ranjau berhasil melukai dirinya. Tapi paman sepertinya tidak memedulikan sebagian tubuhnya terluka dan berdarah. Pada jebakan terakhir paman terluka lagi. Kali ini, luka itu sangat parah hingga membuatnya tidak berdaya dan akhirnya roboh tepat di bawah pohon kelapa. Sebelum paman benar-benar menyadari keadaan, aku yang saat itu sudah berada di atas pohon kelapa siap menjatuhkan banyak buah kelapa persis ke arah tubuhnya.

 

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar Jawa Tengah.