Cerpen Rudi Riadi (Minggu Pagi No 44 Tahun 72 Minggu I Februari 2020)

Pesan Keabadian ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi-1
Pesan Keabadian ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi 

Padahal aku telah merencanakan kematianku sendiri dengan indah.  Berharap bila nanti tiba saatnya Izroil bertamu, aku sudah dikelilingi oleh orang-orang terkasih: anak-anak, para menantu yang baik, cucu-cucu, bahkan kalu mungkin para cicit. Semua berkumpul menangisiku.

Kenyataannya hidup tak selancar handphone 4G. Semua rencana itu sudah melenceng jauh, dan jauh sebelum kematian tiba dan tak kunjung tiba. Jauh sebelum anak-anakku lahir, jauh sebelum cucu-cucuku hadir. Aku bahkan terkunci dalam sebuah permainan kehidupan yang konyol.

Berawal dari sebuah pesan berantai yang menerobos ponsel pintarku pada aplikasi sosial yang cukup populer. Pesan yang menurutku cukup menarik, di mana aku tidak perlu bersusah payah menjaga kesehatan, karena ada jaminan untuk tetap hidup tak berujung.

Pesan itu berisi tentang akan datangnya wabah mematikan. “Bila ingin selamat, sebarkanlah pesan ini ke 30 orang temanmu.” Demikian akhir pesan. Sebuah tawaran yang menarik. Aku tidak perlu berhenti merokok dan tetap memakan makanan junk-food. Aku tidak perlu menemui dokter untuk memeriksakan kesehatan agar tubuh tetap bugar. Aku juga tidak harus bersusah payah membuat ramuan panjang umur dari herbal dan logam seperti yang dilakukan Lao Zi ribuan tahun yang lalu.

Iseng saja kukirimkan pesan itu kepada saudara atau teman yang sekiranya dapat memercayainya. Kulewatkan teman atau saudara yang pintar, karena aku takut orang pintar biasanya suka sekali menertawakan sesuatu yang tidak masuk akal. Beberapa emoticon jempol dan kata “amin” masuk sebagai balasan.

Sejujurnya aku sendiri ragu dengan pesan tersebut. Mungkin saja pesan itu dibuat oleh orang gila yang baru saja gagal nyaleg, atau dibikin oleh seorang pengarang yang tulisannya susah dimuat di media sehingga memilih untuk menjadi penyebar berita hoax. Lantas aku tidak serta merta menjadi sombong dan jumawa. Ditambah lagi beberapa tayangan televisi yang mengingatkan tentang kebohongan pesan tersebut. Katanya tidak ada wabah mematikan yang akan membunuh seluruh penduduk dunia ini. Yang ada adalah pesan itu merupakan pembunuh semangat hidup.

Keraguanku lalu menghilang setelah aku mengalami peristiwa menakjubkan seperti dalam film-film Barat. Suatu pagi yang merdu dengan kicauan burung aku bersiap berangkat menuju bandara untuk mengikuti seminar. Namun satpam rumah melarangku karena katanya tadi malam ia bermimpi pesawat yang akan kutumpangi itu jatuh dan menewaskan seluruh penumpangnya. Aku hanya senyum saja. Tapi kemudian terbesit mempercayai mimpinya. Mungkin saja apa yang dia impikan itu benar. Kuurungkan niatku untuk berangkat. Kutelepon panitia acara seminar dengan alasan yang paling logis.

Seorang lulusan S2 dari universitas ternama di negeri ini terpaksa harus percaya kepada seorang satpam yang mungkin sekolahnya saja tidak tamat. Dulu aku mengangkatnya menjadi penjaga rumah hanya karena dia punya badan yang kekar dan suka beribadah. Itu saja.

Lalu keajaiban itu tiba, apa yang ia impikan itu benar. Breaking news semua televisi nasional menyiarkan tentang jatuhnya pesawat yang akan kutumpangi. Aku tercenung untuk beberapa saat, tapi kemudian mimik mukaku berubah menjadi ekspresi rasa syukur yang luar biasa.

Kupanggil Satpam yang kekar dan rajin beribadah itu. Aku memberinya hadiah dan pesangon. Karena pada akhirnya aku memecat satpam itu.

“Terima kasih atas mimpimu. Tapi tidur saat bertugas tak akan kumaafkan!”

Semenjak itu, pola hidupku jadi lebih bebas. Kepercayaan diriku berlipat-lipat. Apalagi yang indah selain berumur panjang dan keselamatan.

Saking percayanya dengan pesan itu, aku bahkan mulai bermain-main dengan kematian. Nyaris kulupakan sebuah wabah yang mematikan itu.

Suatu siang yang tak terlalu terik aku menuju satu spot rel kereta api. Lalu berdiri di tengah rel itu sambil merentangkan tangan. Menantang kepala kereta untuk menghantam tubuh. Bunyi klakson yang keras dan khas membuat kotoran telinga berloncatan. Beberapa detik sebelum kereta itu meluluh-lantakkan tubuhku, seseorang dengan gagah berani meloncat dan tangannya menerkam tubuhku hingga kami berpelukan dan berguling-guling di antara gemuruh suara kereta api dan bunyi klakson.

“Apa yang kau lakukan?’ teriak sang penolong dengan napas yang masih tersengal. Dia lalu berdiri sambil menyempurnakan pakaiannya. Sejenak aku bergeming sambil memikirkan adegan yang baru saja terjadi.

“Kamu ingin bereinkarnasi menjadi kornet?” dia bertanya lagi dengan nada yang tinggi.

“Aku hanya ingin membuktikan kebenaran sebuah pesan,” jawabku dengan sedikit batuk-batuk karena sebagian debu masuk ke lubang hidungku.

“Kamu telah melakukan hal bodoh yang juga dilakukan seseorang kemarin.”

“Dia selamat?” tanyaku.

“Tidak. Tubuhnya hancur. Dia hanya mengirim pesan itu ke 29 temannya. Kurang satu,” jawabnya sambil begegas pergi. Dia tak peduli ketika aku mengucapkan terima kasih.

“Mungkin besok-besok akan datang lagi orang-orang bodoh yang terjebak pesan berantai itu …!” katanya setelah agak jauh.

Tapi ini adalah kabar bagus. Artinya pesan itu benar-benar obat mujarab. Obat gaib yang tak perlu harus kutelan seperti pil atau kulumuri seperti balsem.

Beberapa temanku juga demikian. Mereka sharing tentang mujarabnya pesan tersebut. maka menyebarlah ke seluruh dunia. Anak muda makin percaya diri, orang tua makin yakin untuk hidup beberapa ratus tahun lagi. Penduduk dunia mulai jarang ada yang mati. Mereka dijaga oleh Sang Pesan. Siapa dia? Tidak ada yang tahu. Itu adalah pesan anonim, milik bersama, Sebuah penemuan misterius seperti penumuan roda yang menakjubkan.

Dan ketika wabah itu datang aku sudah siap dengan segalanya. Aku dan isteriku tidak mati. Adapun penghuni dunia yang mati itu karena tidak percaya dengan pesan itu.

Tapi nyawa harus dibayar nyawa. Bagi kami yang sudah melek dengan dunia gadget mungkin sudah bisa membuat pesan itu menyebar dengan cepat. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang belum mengerti apa-apa. Maka terjadilah persitiwa yang mengerikan. Bayi yang lahir hanya numpang lewat saja. Beberapa detik menghirup udara bumi, kemudian mati. Anak-anak mulai banyak yang mati. Anak-anakku mati. Anak-anak tetanggaku mati. Anak-anak teman banyak yang mati.

Maka demikianlah kisah hidup kami sebagai orang tua. Meratap dalam umur yang panjang. Kami tidak bisa mencabut kembali pesan itu. Tidak ada pilihan lain selain hidup dalam kesepian bersama orang-orang yang mulai menua. Bersama mereka yang terjebak. Tidak ada tangis dan ketawa bayi.

Semua telah terjadi tanpa kami duga. Obat anonim itu telah menjebak takdir kami yang semestinya.

Ah, padahal aku telah merencanakan kematianku sendiri dengan indah.  Berharap bila nanti tiba saatnya Izroil bertamu, aku ingin sekali dikelilingi oleh orang-orang terkasih. Anak-anak, menantu-menantu, cucu-cucu, semua berkumpul menangisiku. ***

 

Bandung, 2020

Rudi Riadi, sehari-hari mengajar di SMA swasta di Bandung. Tulisannya dimuat di Tribun Jabar, Pikiran Rakyat, Galamedia, Guneman serta majalah sastra Sunda Mangle dan Cupumanik. Lebih banyak menulis dalam bahasa Sunda dan pernah mendapat hadiah sastra LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda) untuk bidang cerpen dan esai. Kumpulan cerpen bahasa Sundanya Pilihan jeung Harewos diterbitkan oleh Guneman Publishing.