Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 05 Februari 2020)

 

Karena pada dasarnya yang terbentang di muka Bumi adalah ladang tanpa nilai, lokalitas yang berdiam dan atau membentuk suatu daerah pun berstatus sama.

Penyebutan lokalitas atau kearifan lokal atau lokalitas khas, tidak akan memberikan efek apa pun apabila masyarakatnya (termasuk pemerintah, tentu saja) tidak mengelolanya sesuai dengan kepentingan yang menyentuh banyak kalangan alias sebagian besar penduduk alias pelbagai lapisan masyarakat, sebagaimana apabila penulis tidak paham bagaimana mendayagunakannya sebagai senjata yang menproduksi teks berkekuatan khas.

Tetapi, kalimat di atas terdengar begitu klise, basi, picis, dan memuakkan, bukan? Mari kita bersama-sama mengakui, untuk kemudian sama-sama bangkit, dan menemukan formulasi untuk memberi “arti” pada apa pun yang mengambang sebagai lokalitas—searif atau sekhas apa pun keadaannya.

Untuk urusan ini, yang paling penting adalah kesadaran bahwa apa pun nama dan rupanya, lokalitas adalah keniscayaan, seawam dan sespesifik apa pun, searif dan seburuk apa pun kehadirannya. Namun, karena kehadirannya sebagai sesuatu yang ada dan membumi di daerah tersebut, sejatinya ia adalah potensi. Dan potensi adalah “ladang dengan nilai” yang bisa di-upgrade sampai titik tertentu ketika ia digerakkan, diolah, atau dimodifikasi hingga menjadi energi kinetik dengan luaran sebagaimana mestinya—bahkan bisa melampaui prediksi dan atau ekspektasi banyak orang sekalipun!

Baca juga: Lokalitas Mengaliri Darahmu – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 11 Desember 2019)

Itulah yang dilakukan oleh Belgia dengan Manneken Pis-nya; Bandung dengan The Great Asia-Afrika-nya; Sungai Salzach di Salzburg dengan Jembatan Seribu Gembok-nya; Gunung Tangkuban Perahu dengan kisah Dayang Sumbi-nya; Mongolia dengan Festival Elang-nya, Holy Festival di India, Zagreb dengan Museum Patah Hati-nya, Helsinki dengan pelajaran Bahasa Ibu yang konsisten di sekolah dasarnya, Belanda dengan Van Gogh-nya, atau Pakistan dengan kendaraan umum yang berhiaskan kain dan rumbai-rumbai cantik seperti sang putri yang tak bosan dipandang.

Di Museum Patah Hati, Kroasia, dalam sebuah lawatan kebudayaan pada 2019
Di Museum Patah Hati, Kroasia, dalam sebuah lawatan kebudayaan pada 2019

Sejatinya, masih banyak contoh dari varian lokalitas lainnya, tapi penulis memang sengaja menampilkan karya-yang-berangkat-dari-lokalitas dengan pola kreatif yang bisa ditiru. Selain itu, contoh-contoh di atas juga bukan fokus pada efek pariwisata yang ditimbulkan sebuah karya berbasis lokalitas. Bukan! Fokusnya adalah bagaimana karya-karya berbasis lokalitas itu muncul. Ya, karya. Dan mari kita lihat, bagaimana hal itu bisa terjadi?

***

Mannaken Pis adalah patung anak kecil setinggi 60 cm ini karya The Elder dengan latar belakang cerita anak laki-laki yang mengencingi sumbu meriam musuh sehingga Belgia tidak jatuh ke tangan musuh. Sejarah Bandung yang menjadi tuan rumah konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 menjadi latar belakang berdirinya kawasan wisata terpadu The Great Asia-Afrika. Satu dari lima jembatan yang menghubungkan kota tua dan kota lama di atas Sungai Salzach yang dialiri air dari pegunungan Alpen ini memiliki pagar yang dibuat dari anyaman kawat yang kuat. Keromantisan kota kelahiran Mozart ini menyulut banyak pasangan yang membeli gembok dan mengaitkannya di kawat-kawat tersebut sebagai simbol cinta sejati. Analisa serupa atas contoh karya selanjutnya bisa Anda temukan sendiri setelah menemukan kekuatan yang bersembunyi di baliknya.

Ya, apa yang menjadi kekuatan besar dari karya-karya di atas?

Jawabannya adalah “Story” alias cerita yang kuat.

Baca juga: Berkarya = Kedaulatan Bersuara – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 18 Desember 2019)

Semua peradaban bisa membangun bangunan megah, patung yang cantik, museum yang menyimpan benda-benda purbakala, dan kawasan terpadu yang unik. Banyak negara memiliki gunung, sungai, pantai, dan hutan yang indah. Pelukis, penyanyi, dan seniman berbakat lintas bidang juga lahir di mana-mana. Tapi, tanpa “story”, semuanya takkan dilirik, takkan dipuja-puji, takkan dicari publik, takkan meningkatkan harkat-martabat suatu daerah atau sebuah kota atau sebuah negara!

Apakah “story” itu memang benar ada atau legenda atau mitos atau diada-adakan semata, itu urusan yang lain. Dalam urusan ini, Finlandia tampaknya menyadarinya sejak awal dengan memberikan porsi jam belajar dengan metode bercerita dalam bahasa Ibu yang banyak atau Einstein yang mencetuskan bahwa membacakan anak-anak lebih banyak cerita adalah usaha yang tepat untuk membuat mereka genius.

Dalam urusan ini pula, kita kadang lupa bahwa yang membuat sapiens terus bertahan adalah karena pesona dari “story” atau “tatanan khayali” yang dibangun-sambung dari individu satu ke individu yang lain, intersubjektivitas, sambung-menyambung. Dan itu tidak sama dengan secara bersama-sama atau satu kelompok sekaligus.

Dua ribu orang tak saling kenal bisa mengunjungi Nepal bukan demi mencari rusa salju untuk mereka makan dagingnya. Salah satu alasannya karena ucapan Jack Nicholson—Tuhan memberikan bocoran seujung jarum tentang surga itu seperti apa dengan menciptakan Himalaya—dalam film The Bucket List (2007) yang populer dari mulut ke mulut, hingga film itu meraih keuntungan lebih dari 20 juta dolar AS.

Ratusan juta rakyat Indonesia menghormati bendera merah putih karena mereka mendapatkan warisan kisah yang membuat secarik pusaka dua warna bisa berkibar dengan leluasa. Hal ini tentu berbeda dengan sejumlah atau beberapa (bukan ratusan apalagi jutaan atau ribuan) monyet atau kucing yang justru bertengkar memperebutkan pisang atau ikan asin.

Bukan karena isu “pisang dan ikan asin” tadi tidak dialihkan pada pesona Himalaya atau Kemerdekaan Indonesia, melainkan karena mereka tidak memiliki bahasa yang kompleks untuk memproduksi dan menghayati sebuah cerita.

Baca juga: Seberapa Gembira Kamu Membaca – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 Desember 2019)

Pada titik ini, perkara lokalitas sebenarnya sudah bermigrasi ke urusan memproduksi karya berbasis cerita. Tiap daerah memiliki cerita, bahkan memiliki bahasa dan dialek khusus dan aksara spesifik.

Peranti kebudayaan yang bernama cerita adalah jantung karya berbasis lokalitas itu sendiri, dengan bahasa sebagai alat atau pembungkusnya. Cerita dan bahasa inilah yang akan membuat perkebunan, dongeng yang telanjur ada, kebiasaan setempat, situs bersejarah, kuliner, dan lain sebagainya, menjadi sesuatu yang bernilai di mata penikmat karya, baik itu wisatawan, akedemisi, seniman, budayawan, atau masyarakat awam.

***

Jadi, permasalahannya adalah telah cukupkah kita menemukan atau bahkan menggali “story” setiap lokalitas yang ada, untuk kemudian kita olah ke dalam karya yang bersesuaian dengan renjana dan kemampuan kita—karya arsitektur, sastra, seni rupa, pertunjukan, festival, atau kebiasaan kolektif?

Kalaupun sudah, telahkah ia dibungkus dengan bahasa yang khas dan bertenaga, sebagaimana sapuan kuas Gogh atas semua karyanya di atas kanvas, sebagaimana Museum Patah Hati yang menampilkan peta patah hati yang bisa ditandai siapa pun yang menyetorkan benda yang pernah membuatnya merana, atau David Cerni yang membuat patung Franz Kafka dengan prinsip instalasi bergerak sehingga tampak unik dan hidup? Atau kita hanya menampilkan keindahan aliran dalam selebaran dan spanduk? Atau kita hanya merutuki kehadiran lokalitas perkebunan sawit hingga kebiasaan merutuk itu menjadi varian lokalitas yang baru?

Ya, tugas kreator hari ini adalah memproduksi energi kinetik, yaitu: menemukan, menggali, atau bahkan kalau perlu menciptakan cerita yang kuat atas lokalitas yang ada, lalu menggarapnya dengan kreativitas dengan konsep yang duduk dan eksekusi yang cemerlang. Dan hal itu harus terus diproduksi berulang-ulang, menjadi siklus yang ajeg dan memuakkan namun terus dilakoni, sampai ia menemukan jaringan kerja dan materi sebagai sumber daya kreatifnya di tingkat lanjut.

Tanpa kekuatan cerita, gagasan kreatif, dan keistiqomahan untuk melakoni siklus itu secara terus menerus, lokalitas—searif dan sekhas apa pun—selamanya hanya akan jadi identitas dan kebanggaan semu. Sebab ia tak memberi apa-apa. Selamanya lokalitas hanya akan jadi energi kreatif mentah. Kita terus mengagung-agungkan keberadaannya karena potensi dengan daya letus tanpa batasnya, tapi di saat yang sama kita juga merutuki keberadaannya yang tak juga membawa perubahan lebih baik, apalagi membawa masyarakat daerah itu menjadi sejahtera dan bahagia.

Berkarya memang bukan urusan manusia. Ia adalah bagiannya orang-orang kreatif: mereka yang merelakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memikirkan ide, memproduksi cerita, lalu bergerak—atau bahkan menggerakkan orang-orang—untuk memberi adinilai pada sumber daya lokalitas yang ada!

Ingin menjadi bagiannya atau menyaksikan lokalitas itu mengonggok saja, itu pilihan dan urusan masing-masing. ***

 

Lubuklinggau, 4 Februari 2020

Tulisan ini adalah bagian kedua (tamat) atas tulisan dengan judul yang sama yang tayang di kolom ini pada 11 Desember 2019.