Cerpen Arbi Tanjung (Haluan, 02 Februari 2020)

Percakapan Orang Hilang ilustrasi Haluan (1)
Percakapan Orang Hilang ilustrasi Haluan

Aku masih ingat sejak ayah dijemput orang di malam itu. Saat aku belum tidur karena masih asyik mendengar kisah ayah soal sekolah agamanya di Bukittinggi. Kisah saat ia dan kawan-kawannya dipanggil “Siak” oleh orang kampung. Pagi belajar, siang ikut ke ladang atau sawah pemilik rumah tempat mereka menumpang.

Biasanya, sebut ayah, mereka bisa lima sampai enam orang di tiap rumah, dan biasanya mereka juga berasal dari daerah yang sama. Jadi, jika ada orang tua berkunjung untuk mengantar sambal dan uang belanja, mereka mencari alamat dengan menyebutkan nama daerah asal seperti, Asrama Piaman, Asrama Solok, Asrama Tapanuli, Asrama Pikumbuah, dan lain sebagainya.

Cerita ayah terputus oleh ketukan kasar ke daun pintu rumah kami. Lidah api dari ujung sumbu lampu togok meliuk kiri kanan searah embusan angin dari celah dinding rumah. Ayah bergegas mengenakan kupiah hitam yang digantung di samping cermin, yang sudah menebal debu di permukaannya. Buram. Tak jelas apa yang dibicarakan ayah dengan tamunya. Sebab, ayah berpesan agar aku dan ibu tidak keluar dari kamar. Beberapa minggu terakhir, di kampung kami beredar kabar orang hilang. Kabarnya, mereka hilang setelah dijemput malam.

Dari arah pintu, sayup-sayup terdengar suara ayah; “Tunggu, aku izin ke istri dan anak-anakku.” Ayah mendatanngi kami. Memeluk ibu, mencium kening si Bahar dan Rahmi yang  tidur pulas bergelung kain bekas karung tepung. “Kita akan baik-baik saja,” pesannya malam itu. Sembilan bayangan tampak meninggalkan halaman saat kuintip dari celah dinding.

***

Foto ayah berkemeja putih berkupiah hitam pekat itu mulai pudar dan menguning dimakan waktu. Foto itu tergantung di dinding. Ayah pernah menyampaikan, foto itu dikodak oleh tukang kodak dekat Kampung Cina Bukittinggi. Sebelum ia dan kawan-kawannya berpisah pulang ke kampung masing-masing. Lewat foto, ayah menatap pada siapa saja yang melintas atau duduk di ruang tamu. Keberadaan ayah kami gelap dan kelam sebagaimana warna malam sejak ia mengacak rambutku sebelum mengikuti tamu yang menjemputnya.

Hingga suatu hari, sampai kabar kepada ibu bahwa ada orang yang melihat ayah di Kota Medan. Kabar itu datang dari perantau yang pulang, tujuh tahun setelah ayah  hilang. Ayah memang tak pernah berkabar usai peristiwa itu. Kami tahu dan selalu melihat ke mana pun orang menemukan mayat di sungai, di hutan tepi kampong, atau di tengah ladang. Aku masih ingat, sebelum dan setelah ayah pergi, di kampung kami dan di kampung-kampung tetangga, banyak ditemukan mayat luka dihanyutkan ke sungai.

Kabar tentang ayah, memaksaku untuk mengikuti pinta ibu, meski sebenarnya aku dan kedua adikku tidak percaya soal ayah di Medan. Sungguh, kami sudah  pasrah, tetapi istri mana yang mau menutup pintu harapan agar suaminya pulan dalam keadaan baik-baik saja. Ayah kembali, adalah harapan dan satu-satunya doa yang tak luput dipanjatkan ibu setiap waktu.

Masa itu, bus ke Medan di Jalan Raya Lintas Sumatera di depan gerbang kampung kami tidak seramai saat ini. Sejak pagi, banyak sanak saudara dari pihak ayah dan ibu yang ikut mengantarku ke lebuh gedang menunggu bus. Semasa itu, Medan adalah “rantau yang masih keruh banyak ikannya,” kata orang kampung. “Mudah mencari uang di sana asal mau menggerakkan tulang selapan karat yang lekat dibadan,” kata mereka lagi. Orang kampung kami sejak dulu telah ramai ke sana. Kata orang, selain orang Mandailing, orang kampung kami adalah orang yang sering dipilih jadi khatib dan tuan kadi oleh Sultan, penguasa di sana.

Tukang becak, tukang jahit, tukang pangkas, penjual sate, atau menggalas kaki lima, adalah mata pencarian kebanyakan perantau dari kampung kami. Tentunya, bukan bagi mereka para perantau yang bersekolah dan berijazah, yang biasanya adalah pegawai pemerintah, pegawai swasta , atau pengusaha. Saking ramainya orang kampung kami, lalu kau tersesat di pusat Pasar Medan, maka bertanyalah memakai bahasa kampung kami, dijamin aman.

Sekali dua aku berandai, jika benar ayah ada di Medan, tentulah pekerjaan ayah seperti yang disebutkan tadi. Lepas zuhur, bus yang akan kutumpangi belum juga datang. Bekal makan siang yang disediakan untukku sudah habis kusantap. Tersisa bekal untuk dua hari dua malam perjalanan. Masa itu, beberapa ruas jalan lintas Sumatera belum diaspal, dan jika hujan turun menyimbah, tak ada bedanya dengan sawah.

Supir dan kernet bus adalah orang pilihan. Mereka pemberani dan lihai mengemudi, sekaligus montir paling fasih seluk beluk mesin. Jika tidak demikian, alamat akan terlantar terus bus dan penumpang di lebat rimba Sumatera. Melepas sanak saudara merantau dengan kondisi di masa itu hampir-hampir seperti melepas pergi untuk tidak kembali.

Di bangku bus, segala tentang ayah datang masuk ke ruang ingatan. Beradu cepat dengan tanya yang kami sekeluarga rawat di dada dan pikiran. Kemana ayah di bawa? Siapa yang membawa ayah? Kenapa ayah dibawa?

Beberapa kemungkinan jawaban atas pertanyaan itu pernah kami dapatkan dari cerita lapau. Katanya, jika ayah pernah menandatangi surat usai menerima peralatan tani seperti cangkul dan sabit, dan jika ayah pernah ikut rapat-rapat rahasia tengah malam, maka kemungkinan besar ayah masuk daftar orang yang harus dibersihkan. Saat itu, setelah orang-orang kampung diperintahkan menggali lubang di halaman rumah masing-masing, saat itu pula berita kehilangan sanak saudara jadi peristiwa biasa di kampung kami. Kehilangan yang lahirkan  ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan. Jadi mayat atau tak kembali tanpa berita selamanya. Dua kemungkinan bagi mereka yang hilang.

Seingatku, sebelum ayah hilang, ia acap pulang pergi ke Bukittinggi. Katanya, bertemu kawan sekolah dan mengaji. Tak pernah pula kulihat cangkul dan sabit baru di rumah kami di masa itu. Kalaupun keluar malam, biasanya ayah mengisi pengajian ke surau-surau.

Siang, matahari hampir tepat segaris lurus di kepala. Hampir dua puluh empat jam bus kami melintas antara bukit dan jurang bukit barisan. Rimba, perkampungan, dan pasar tradisi silih berganti kami lewati; Lubuk Sikaping, Rao, Muara Sipongi, Kota Nopan, Panyabungan, dan kini bus berhenti di rumah makan di Padang Sidempuan.

Saat menyuap nasi ke mulut, tanpa sengaja kudengar percakapan orang di meja sebelah. Percakapannya itu ke itu juga, sama seperti di kampung kami; cerita orang hilang. Di sini, orangorang juga mencari yang hilang. Secepat percakapan sampai ke telinga, secepat itu pula muncul tanya baru di benakku.

Jalan menurun tajam antara Sibolga dan Tarutung. Hujan lebat membuat roda bus terpuruk ke dalam lumpur. Semakin gas ditekan supir, semakin dalam roda terbenam. Penumpang laki-laki diminta turun untuk meringankan beban sekaligus mendorong bus agar keluar dari lubang. Malam gelap pekat, tapak tangan pun tak tampak, suara kepak sayap nyamuk nyaring mengiang di daun telinga. Aku jadi ingat cerita pembantaian orang-orang ‘terlibat’. Konon, mereka akan dibawa ke tempat yang paling gelap, biasanya rimba raya, mungkin seperti tempat ini, dan dibantai. Setelah itu, jasadnya dilempar ke sungai. Cerita yang mengalir deras dari mulut ke mulut, tanpa seorang pun mengaku pernah jadi saksi.

Pagi buta, embun masih menyelimuti atap rumah-rumah penduduk di Tarutung. Perempuan peladang dengan penutup kepala khas Batak melintas di depan perhentian bus. Para lelaki mengerubungi meja warung, asap menguap ke udara dari gelas kopi dan mulut mereka. Tarutung yang dingin. Di sini, di perhentian ini, percakapan kisah orang-orang kehilangan ayah, kehilangan anak, atau kehilangan saudara lelaki, selalu menguar dan disimak.

Di kota  mana lagi bus ini akan berhenti? Balige? Siborong Borong? Parapat? Siantar? Tebing Tinggi? dan Lubuk Pakan? Apakah di tiap tempat perhentian itu akan mengirimkan cerita yang sama ke telingaku?

***

“Ayahmu tak pernah kemari, tak pernah ke rumah ini,” kata Etek kepadaku. “Jika benar ia di Medan, tak mungkin ia tak mau singgah ke sini? Etek ini adik kandungnya.”

Beberapa saat kemudian, pintu rumah itu diketuk. Derap sepatu lantang menghantam lantai teras. “Nah itu, suami etek pulang,” ucapnya.

“Assalamualaikum.” Salam seseorang bersuara berat dari luar.

Lelaki tegap berseragam berdiri di depan pintu. Langkahnya terhenti saat mata kami beradu pandang. Tatapan mata, gerak pipi wajahnya, serta garis bibirnya penuh heran, tak percaya. Entah apa yang ia pikirkan. Kesan heran berubah jadi takut perlahan, tampak dari riak mukanya.

“Mirip bang Harun kan bang?” suara etek memecah suasana.

Wajah dan nama itu. Iya, nama Harun Bin Burahim membuatnya semakin diam. Sekilas, peristiwa penembakan di hutan malam gelap itu berputar kembali jelas di matanya. (*)

 

Lubuk Sikaping, Oktober 2019