Cerpen M.Z. Billal (Tanjungpinang Pos, 02 Februari 2020)

Orang-orang yang Menjaga Tidur Mereka di Sungai yang Merah ilustrasi Pur Purwanto - Tanjungpinang Pos (1)
Orang-orang yang Menjaga Tidur Mereka di Sungai yang Merah ilustrasi Pur Purwanto/Tanjungpinang Pos

INI adalah hari terakhirku. Esok aku tak akan ada lagi di sini. Sungai di hadapanku adalah saksi sekaligus menjadi rumah bagi segala kenangan tentang diriku. Meski tak akan pernah ada yang ingat bahwa aku pernah dilahirkan, tumbuh besar, bahkan mati di sini. Aku tidak akan pernah mempermasalahkannya. Aku hanya ingin kau selalu merawat kenangan, menjaga dan mencintai tanah kelahiran ini sepanjang usiamu. Sampai matamu tertutup abadi dan sungai ini memeluk rindu tubuhmu, tanpa luka dan merah darah.

***

Pagi ini aku terbangun lebih awal. Entah mengapa. Ada perasaan yang membuatku resah, tetapi aku tak tahu apa itu. Biasanya aku bangun setengah jam sebelum masuk waktu subuh.  Dan yang lebih heran lagi Mak sudah berada di dapur yang saat itu masih pukul 3 pagi. Asap tungku sudah mengepul. Ia tampak sibuk memasak menyiapkan sarapan pagi sebelum kami pergi berdagang kue ke pasar Kota Rengat yang sudah kami olah semalaman.

“Sudah bangun, Mak.”

Mak hampir saja tertimpa bilah kayu yang terbakar karena kaget mendengar suaraku. Tungku yang diletakkan di meja khusus yang padat oleh tanah dan timbunan abu sisa kayu bakar, membuat ujung bilah-bilah kayu bakar yang panjang itu terjulur hingga melewati batas meja tungku yang tidak begitu besar. Dan suaraku yang memecah sunyi pagi di dalam rumah refleks membuat Mak menyenggol salah satunya. Beruntung Mak sigap pada saat itu, bilahan kayu yang terbakar langsung dipegangnya dan disorong ke dalam pusat tungku yang menyala.

“Iya, Suf. Mak susah tidur malam ini. Tak mau terpejam mata. Padahal badan Mak letih.”

“Istirahatlah, Mak. Masih pagi betul ini. Belum lama kita selesai buat kue tadi kan. Selepas subuh kita sudah harus berangkat ke pasar. Nanti Mak sakit.”

“Iya,” jawab Mak sambil meniup api tungku yang meredup dengan potongan bambu kecil mirip seruling. “Lah, kenapa pula kau tak tidur?”

“Sudah tidur, Mak. Tapi tiba-tiba terbangun karena mimpi.” Aku menjawab sederhana seraya melangkah menuju pintu. “Yusuf mau keluar sebentar, Mak. Cari angin di luar. Lumayan gerah malam ini.”

“Di luar dingin.”

“Tak apa, Mak.”

Kubuka pintu depan sambil mengingatkan Mak untuk kembali beristirahat. Angin dini hari yang berembus dari Sungai Indragiri langsung menerpa sekujur tubuhku yang hanya berlapis kaos tipis dan sarung peninggalan ayah. Suhu gerah yang bersumber dari lampu minyak dan api tungku seketika sirna. Digantikan hawa dingin hebat yang menyusup melalui pori-pori hingga menjalar ke jantung. Membuat hatiku bertambah gelisah tanpa alasan yang jelas.

Kemudian aku menuruni tangga kayu dan menyusuri jalan kecil di antara semak rendah. Rumah-rumah yang berdiri di sepanjang tepian Sungai Indragiri berbentuk panggung dan seluruhnya hanya berpenerangan lampu minyak. Itu karena Sungai Indragiri mudah meluap bila hujan tiba dan belum adanya listrik sebagai sumber penerangan di malam hari.

Sampai di jarak paling dekat dengan sungai, mataku menyisir dari hulu sungai hingga ke bagian hilirnya lalu menghirup udara yang begitu dingin dalam-dalam. Kemudian melepaskannya perlahan bersama segala pikiran risau yang melayang-layang di kepalaku. Di seberang tampak sebuah perahu kecil berpenerangan lampu minyak terombang-ambing lembut mengikuti ritme aliran sungai. Seorang atau mungkin dua orang sedang sibuk menjala ikan yang nanti akan dijual di pasar kota juga.

Meski aku sudah berkali-kali menghirup udara dan melepaskannya, tetapi perasaanku masih saja risau. Hatiku seperti terbawa arus sungai dan berkelana sampai jauh ke Selat Malaka. Rasanya aku tak ingin malam ini selesai. Ada hal-hal lain yang mendadak saja muncul ke permukaan hati. Pikiran-pikiran yang menenteramkan juga yang mengkhawatirkan. Aku teringat ayah dan sangat merindukannya. Tapi aku juga merasa sedih saat mengenang ia meninggalkan rumah dan tak pernah kembali karena ikut berjuang melawan kompeni. Aku ingin memiliki keluarga yang utuh dan menghabiskan masa remaja dengan bahagia. Aku membayangkan membonceng ayah ke pasar Kota Rengat sementara Mak di rumah saja menunggu kepulangan kami.

Tanpa terasa air mataku luruh. Situasi ini sudah lama sekali tidak menderaku. Sebab aku sudah kebal menjalani hidup dan melewati hari-hari pada tahun-tahun usai kemerdekaan diproklamasikan. Aku tak mau larut dalam kesedihan sejak ditinggal ayah dan memilih kuat berjuang bersama Mak di antara ketegangan yang masih terjadi di negeri ini melawan keserakahan penjajah.

Tetapi entahlah, perasaanku malam ini lain. Aku menginginkan semua orang yang sudah tiada kembali pulang ke rumahnya masingmasing. Bertemu orang-orang yang masih tidur dan saat pagi beraktifitas seperti biasanya. Seolah-olah tak pernah ada hal buruk yang terjadi.

Membayangkan itu semua membuat perasaanku lebih damai, walau kegelisahan tetap berkembang biak subur di dalamnya. Hingga aku menyadari bahwa aku sudah satu jam menyendiri di tepian Sungai Indragiri dan tubuhku semakin dingin, saat azan subuh sayup-sayup berkumandang dari musala. Memerintahkan semua orang pergi bersujud di hadapan Sang Pencipta.

Setelah menunaikan salat subuh, aku segera berkemas. Membantu Mak memasukkan beberapa jenis kue yang sudah kami buat ke beberapa wadah dan meletakkannya ke dalam keranjang bambu bulat yang lebih besar. Lalu kami menyusuri jalan kecil menuju jalan aspal. Aku mendorong sepeda pelan-pelan, sementara Mak menenteng dagangannya. Setelah sampai di pinggir jalan, barulah Mak kusuruh naik di boncengan belakang dan kami menempuh perjalanan menuju pasar Kota Rengat yang tidak seberapa jauh lagi.

Pagi menjelang matahari benar-benar menyingkap tuntas kegelapan di Rengat, orang-orang sudah sibuk menjalankan aktifitasnya masing-masing. Jalan tak lagi sesepi makam. Aku dan Mak menegur beberapa orang melintas yang kami kenal. Bahkan ketika sampai di pasar aku semakin senang, tanpa firasat aneh dan merasa lebih ringan, saat melihat para prajurit TNI dari Batalyon III, Resimen IV, dan Divisi IX Banteng Sumatera yang tampak gagah menyusuri jalanan kota Rengat. Aku terpikat pada kekuatan yang dimiliki para tentara itu dan merasa aman bila mereka menjaga kota. Aku tak perlu lagi takut dan merasa tercekam oleh kegelisahan yang sejak dini hari menyerang hatiku. Ah, rasanya aku ingin menjadi tentara saja untuk lebih kuat melindungi Mak dan orang-orang di Rengat ini, pikirku.

Aku mengantarkan Mak ke tempat ia biasa berjualan. Dekat  dengan pedagang buah dan penjual roti jala yang selalu ramah dan rajin tersenyum. Kubantu Mak menggelar dagangannya cepat-cepat. Sebab, selain membantu Mak berdagang kue di pasar ini, aku juga punya kerja sampingan yang lain. Yakni sebagai kuli panggul. Seperti dua temanku yang lain, Syafi’i dan Zainal. Akan tetapi setelah kucium tangan Mak dan pamit kepadanya, perasaan gelisah kembali mencuat bahkan lebih runcing hingga dadaku mulai sesak.  Entah perasaan apa ini. Aku hanya bisa menekannya agar tak terlalu menyakiti.

Kutinggalkan Mak yang mulai berbincang bersama teman-temannya sambil berusaha menenangkan diri. Mengayuh sepeda lebih cepat dan kembali berpapasan dengan para TNI bertubuh tegap. Aku tersenyum, dalam hati mengagumi. Kepalaku kembali dipenuhi khayalan tinggi. Namun tak begitu lama, setidaknya ketika aku baru saja bertemu kedua temanku, aku mendengar suara bising dari langit.

Matahari yang sudah bersinar terang pada pukul 6, membuatku mudah melihat apa yang di atas sana. Antara kaget dan merasa khawatir, aku dan sebagian besar orang melihat sepasang pesawat bercocor merah dan berpanji triwarna: merah, putih, dan biru, melesat dan menjatuhkan benda-benda aneh, yang setelah benda itu mendarat barulah aku tahu. Benda-benda itu adalah bom milik pesawat tempur Belanda. Dan dalam sedetik meluluhlantakkan kota dengan dentumandentuman keras sekali. Mengacaukan kedamaian yang tadi tercipta di sini.

“Maaak!!!” Aku spontan memekik kuat memanggil Mak seraya menjatuhkan sepeda. Tubuhku menggigil hebat melihat para tentara dan masyarakat sipil berlarian menembus asap dan kekacauan. Sementara bom masih berjatuhan seperti hujan dan suara dentum terus menghentak kesunyian langit.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak mengenali Rengat, kota yang amat kucintai. Suaraku musnah oleh tangis dan teriakan orang-orang yang menyelamatkan diri. Bahkan ketika kusaksikan banyak darah menggenangi jalanan dan potongan-potongan tubuh, aku semakin ketakutan. Dalam pikiranku hanya ada wajah Mak. Satu-satunya harta terindah yang tersisa dalam hidupku.

Namun aku sulit mengenali jalanan yang sudah biasa kulewati ini. Begitu banyak puing bangunan yang terserak di sembarang tempat, bahkan pohon-pohon tumbang yang menghalangi. Dari belakang aku mendengar suara dua temanku memanggil.

“Yusuf, lekas lari! Kita tak punya waktu!”

Kurasakan kedua tanganku digenggam erat oleh kedua temanku, Syafi’i dan Zainal. Mereka membimbingku berlari secepat mungkin, tak peduli kepalaku tak lagi bisa berpikir waras. Menghindari bom, orangorang panik, dan pasukan Belanda yang tampak mulai datang menggunakan kapal perang, yang ketika turun langsung memberondongi apa saja dengan peluru. Termasuk tubuh Zainal yang kurus.

Aku dan Syafi’i memekik hebat menyaksikan tubuh seorang teman baik tersungkur di jalan dan tewas tanpa berkata apa-apa. Darah menyembur dari punggungnya. Aku ingin sekali membimbingnya berlari. Namun itu tak berguna. Kami lantas meninggalkannya rebah sendirian di pinggir jalan dan kembali berlari menyelamatkan diri.

Kota Rengat, semakin siang semakin membara. Desing senapan tak sudah-sudah. Pasukan Belanda seperti kelaparan nyawa manusia.  Mereka tak peduli dan fakir belas kasih. Anak-anak, orang tua, bahkan wanita hamil pun dihabisi. Aku dan Syafi’i memilih bersembunyi ke gorong-gorong bersama orang-orang. Namun, lagi-lagi aku mendapati kenyataan pahit bahwa Syafi’i dan yang lain pun meregang nyawa di situ, meski aku sempat berlari ke dalam semak sambil menangis dan menoleh sekilas kepada tubuh temanku yang terapung di air yang telah berubah menjadi sangat merah.

***

Sore hari, Rengat adalah kota mati. Kota bagi orang-orang mati dan yang menjemput kematian. Aku dan para penduduk Rengat seperti kehilangan harapan dan tak berdaya. Meski tadi aku berhasil menyelamatkan diri, tapi aku tetaplah remaja yang tak mampu melawan ketegangan hebat ini. Aku dan para penduduk yang masih hidup dipaksa mengangkat mayat-mayat para korban tembak dan bom, dan melemparkannya ke Sungai Indragiri.  Hingga menciptakan dominasi warna merah pekat di sepanjang sungai.

Hatiku hancur lebur ketika melakukan itu. Menangis pun sudah tak ada air mata yang bisa dikeluarkan. Menyaksikan segalanya adalah perwujudan dari rasa gelisah dan gerah yang menderaku semalam suntuk.  Aku teringat Mak yang kini entah bagaimana nasibnya. Pilu sekali.

Setelah semua mayat yang berserakan dilempar ke sungai, penderitaan kami, orangorang yang tersisa, belumlah usai. Aku dan semua orang digiring ke bantaran Sungai Indragiri yang kini menyengat oleh bau amis. Di situ kami diadili untuk terakhir kalinya. Seolah para tentara Belanda adalah Tuhan yang berhak menentukan ajal seseorang.

Aku benar-benar menyaksikan kekejian itu. Betapa sadisnya saat melihat orang-orang lemah harus menghadap ke sungai sambil mengangkat tangan atau kakinya, lalu ditembak mati dan spontan terjun ke sungai oleh tentara Belanda. Bahkan ketika tiba giliranku harus maju dan diadili. Berdiri dengan kaki gemetar dan dada luluh lantak, aku memandang Sungai Indragiri seperti dipenuhi jutaan kelopak bunga mawar yang turun dari langit sementara sinar matahari senja mengemasnya menjadi indah, menjadi saksi untuk ribuan orang yang menjaga tidur mereka di sungai yang merah. Termasuk aku.

Aku tak pernah tahu apa yang terjadi setelahnya. Aku hanya merasa sesuatu yang kecil namun keras menembus cepat kepalaku, dan membuatku kehilangan segala ingatan juga kenangan. Sebab semuanya telah gelap dan ringan. ***

 

M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya.