Cerpen Rendi Syahputra (Medan Pos, 02 Februari 2020)

Muara Doa ilustrasi Medan Pos (1)
Muara Doa ilustrasi Medan Pos

“Kapan kau berikan cucu untukku, Ratna? Bertahun-tahun kau tak pernah hamil lagi, apa benar kau sekarang mandul?” ketus ibu mertua tanpa ada basa-basi memulai percakapan dari sudut ruang dapur.

Ratna hanya bisa tertegun. Tak ada niat untuk melawan ibu mertuanya. Segala usaha telah Ratna dan Shandy lakukan agar bisa mendapat momongan, namun Tuhan belum menjawab permintaan pasutri yang telah menikah sejak tujuh tahun silam.

“Sabar bu. Saya dan Mas Shandy sudah berusaha dan berdoa, mungkin Allah belum saatnya memberikan kami anak. Aku percaya Allah akan memberikan jalan yang terbaik buat kami. Ratna mohon doa juga dari ibu.” Jawab Ratna sembari untuk menenangkan hati ibu mertuanya.

Lantas sang mertua tak menghiraukan Ratna dan meninggalkannya begitu saja. Nyonya Kirana merupakan ibu dari Shandy. Shandy adalah anak sulung dari almarhum Tuan Ridwan Puja Kesuma Diningrat dan Nyonya Kirana Kesuma Diningrat yang merupakan keluarga terpandang. Ratna sangat beruntung dipersunting oleh Shandy yang merupakan seorang dokter gigi.

Kecintaan dan menikahi Ratna anugerah terindah yang dirasakan Shandy. Ratna merupakan sosok wanita yang salihah, cerdas, dan juga bijaksana yang selalu mengenakan baju muslimah. Hal tersebut memutuskan Shandy untuk menikahinya dan bersama-sama membangun mahligai rumah tangga.

Waktu di bulan ketiga pernikahan, Ratna pernah hamil. Namun Allah mengujinya, dengan peristiwa Ratna keguguran di usia kehamilan memasuki dua bulan. Kata dokter spesial rahim dan kandungan, Ratna mengalami masalah ovulasi, di mana masalah ini terjadi saat telur tidak matang di dalam ovarium, atau saat ovarium gagal dan tak bisa melepaskan telur yang matang. Hal ini kerap dikenal sebagai kegagalan ovarium prematur.

Ratna terkesiap. Spontan air matanya menghujani pipi. Tampak raut wajah Shandy yang mendung mendengar penjelasan dokter kala itu. Shandy berjanji tak berbagi cerita hal ini kepada sang ibu.

“Mas, kita sudah lama menunggu buah hati, namun hingga detik ini aku belum bisa hamil. Aku bersedia dimadu, Mas? Aku mau Mas Shandy menikah lagi, agar ibu senang. Bukankah ia ingin sekali menimang cucu?” tanya Ratna dengan tatapan serius.

Perkataan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Ratna. Ia tak mau melihat ibu mertuanya sedih, dan tak mau pula para kolega sang ibu mertua, yang kerap menyindir tentang perihal cucu, yang hingga detik ini belum dapat diberikan oleh anaknya, sebagai penerus keluarga Tuan Ridwan Puja Kesuma Diningrat.

Shandy sangat terkejut. Tenggorokannya terasa tercekat, membuat ia hampir kesulitan bernapas. Ia seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. “Ratna istriku. Aku tak mau membagi cintaku kepada siapa pun. Aku tak mau menikah lagi. Cukup hanya kau seorang yang ada di relung hatiku.” Sahut Shandy dengan senyum tulusnya.

“Aku percaya Ratna, Allah pasti memberikan kita anak. Percayalah. Kita sama-sama berusaha, ya? Semua doa dan upaya kita langitkan agar Allah menjawabnya.”

Shandy memeluk erat sang istri. Ia selalu menguatkan istri tercintanya agar tetap tabah dan tawakal. Di balik musibah yang dialami, Allah telah menyiapkan kebahagiaan untuk hamba-hambaNya yang senantiasa bersabar menghadapi cobaan.

Waktu menandakan pukul 3 sore. Sudah dua jam Shandy dan Ratna berada di rumah sakit spesial ibu dan anak yang sering mereka datangi perihal untuk proses penyembuhan. Kali ini mereka berdua memutuskan kembali pulang ke rumah lebih cepat.

“Habis dari mana kalian berdua? Ke dokter lagi? Ratna itu mandul, Shan. Sudahlah, kau menikah saja lagi. Ibu sudah cukup sabar menanti anak darimu, tapi apa? Hingga saat ini kalian belum bisa memberinya untuk ibu.” Tanya nyonya Kirana terdengar sinis.

Teguran dengan suara lumayan keras itu segera saja membuat Shandy menoleh. Di sudut ruang tamu sudah berdiri ibunya memandangi dengan tatapan tajam. “Sudah puluhan kali ibu menanyakan itu. Aku dan Ratna sudah berusaha bu. Kumohon ibu mengerti, tak semestinya ibu mengucapkan perkataan itu. Ingat bu! Ini menantumu, ibu harus bersikap baik juga dengannya. Dan satu lagi, aku tak akan mau menikah dengan wanita manapun.”

“Mulai besok, aku akan pindah, Bu. Izinkan aku dan Ratna tidak berada di rumah ini. Aku ingin Ratna tenang dan mengajaknya rutin untuk mengecek rahim dan kand- ungannya dan memeriksa keadaannya.” Shandy m e r a s a lega dan tenang, bahwa ia yakin dengan keputusannya.

Nyonya Kirana terpengarah mendengar perkataan yang dilayangkan Shandy kepadanya. “Ohh, kalian mau pindah. Jika itu keputusan darimu Shandy, baiklah. Ibu turuti apa maumu.”

Enam bulan sudah Shandy dan Ratna tidak satu rumah dengan sang ibu. Walau demikian, mereka tak pernah absen untuk berkunjung setiap bulannya. Sang ibu mertua, tak pernah lagi bertanya tentang perihal kehamilan menantunya. Mungkin benar, sabar, usaha, dan disertai dengan doa adalah kuncinya.

Selama enam bulan, Shandy selalu mengajak Ratna terapi kesuburan rahim. Ia juga selalu memberikan jamu kesuburan kepada Ratna, bukan itu saja, terkadang Shandy menyuruh tukang urut untuk mengurut Ratna. Semua tentang pengobatan dan kesembuhan untuk Ratna adalah bentuk usaha yang dilakukan sang suami. Dan semua perihal itu, ia serahkan kepada Allah sang kuasa melalui bait-bait doa.

Allah aha baik, akhirnya menjawab pasangan suami istri tersebut. Mual, kram, dan pusing seperti berputar-putar dirasakan oleh Ratna. Awalnya ia menduga, jika ia sedang masuk angin.

“Badanku kok panas ya? Pusing juga. Apa aku lagi hamil? Ahh, sepertinya tak mungkin. Tapi yang aku rasakan, seperti tanda-tanda sedang hamil.” Gumam Ratna.

Dengan langkah mantap, Ratna berjalan ke ruang kamar mengambil test pack. Setelah ia gunakan test pack tersebut, dengan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Akhirnya, Alhamdulillah ternyata Ratna positif hamil.

Ratna bersyukur sekali, tak terbendung air matanya jatuh seketika. Ia segera memberitahu sang suami. Shandy bahagia penuh syukur bahwa Allah menjawab permohonan doa yang mereka lantunkan. Spontan saja Shandy memeluk, mencium, dan mengelus-elus perut Ratna . Mereka larut dalam suasana bahagia.

Di usia kehamilan delapan bulan, Ratna dan Shandy memutuskan untuk bersama-sama lagi satu atap dengan sang ibu. Nyonya Kirana tidak mengetahui bahwa menantunya sedang hamil. Hal ini sengaja dirahasiakan oleh mereka, agar sang mertua mendapat kejutan bahagia yang telah lama dinantinya.

Sampai di rumah, ibu Shandy kaget melihat Ratna sedang hamil tua. Keadaan kini berbalik. Ekspresi wajah sang mertua berubah tiga ratus enam puluh derajat memancarkan wajah senang penuh bahagia. Ratna menatap dengan pandangan tulus. Ratna menghela napas panjang, lalu ia melangkah mendekati ibu mertuanya.

“Maafkan ibu, Ratna. Ibu bersalah, selalu berkata sinis padamu. Ibu sangat menyesal. Ibu mengakui kesalahan ibu.” Pada saat itu pula Ratna spontan memeluk erat ibu mertua. Tampak air mata sang ibu menetes di pundak Ratna.

Angin berhembus lembut menghangatkan suasana rumah. Peristiwa yang sedang dirasakan oleh keluarga berujung kebaikan. Mereka tenggelam dalam kebahagiaan yang sejak lama terkubur.

Di kehamilan sembilan bulan, Ratna mengalami kontraksi hebat, sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit bersalin. Sudah dua jam Ratna dan sang suami berada di ruang bersalin, sementara ibu menunggu di luar.

“Kau harus kuat sayang. Aku percaya kau bisa melahirkan secara normal. Aku selalu berada di sampingmu, aku mencintaimu.” Ucap Shandy dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

Mata Ratna  berbinar-binar mendengar ucapan sang suami. Ia tersenyum lebar, menandakan ia sanggup dapat melahirkan secara normal. Proses persalinan terasa sangat tegang. Shandy seraya berdoa dan menyemangati sang istri. Dokter telah menyatakan pembukaan serviks tandanya Ratna siap untuk menjalani proses melahirkan normal.

Ketika serviks sudah terbuka sepenuhnya, dokter menyuruh Ratna mengejan. Kemudian tubuh bayi akan bergerak menuju vagina yang merupakan jalan lahir bayi. Keringat membasahi sekujur tubuh Ratna bersamaan dengan darah yang keluar. Sungguh, pengorbanan yang sangat mulia dilakukan oleh setiap wanita.

Lima puluh menit proses persalinan berlangsung. Akhirnya dengan susah payah, Ratna berhasil melahirkan sepasang anak kembar yang sehat dan lucu. Saat itu pula tangisan sang suami pecah.

Shandy mencium sang istri dan kedua anaknya. Ia sangat bersyukur. Segala usaha, tawakal, dan berdoa dengan jiwa yang khusuk pada-Nya, ternyata ada hikmah di balik semua ini. Allah telah menyiapkan kebahagian untuk keluarga kecil merseka.

 

Rendi Syahputra. Penulis adalah mahasiswa UMSU jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.