Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 02 Februari 2020)

Mitos Makan Malam ilustrasi Suara Merdeka-1
Mitos Makan Malam ilustrasi Suara Merdeka

Upacara tahun baru imlek seperti perayaan atas kesedihan bagi keluargaku. Setiap tahun baru datang, aku dan saudarasaudaraku akan menyiapkan dua kursi kosong dan sebuah piring yang siap menerima hidangan. Kursi itu tidak boleh digunakan siapa pun di antara kami—sama dengan piring itu. Dua benda itu adalah cara kami menyambut seluruh kenangan yang pernah terjadi di keluarga kami.

***

Setiap malam tahun baru imlek, A Ma mengimbau anggota keluarganya untuk berkumpul. Setelah semua anak berkumpul, A Ma akan memasak dan menghidangkan makanan yang sangat banyak pada kami.

Tradisi itu dimulai bukan tanpa sebab. Jika aku tepat mengingat, A Ma memulai kebiasaan itu dua puluh tahun lalu, saat umurku delapan dan kota dilanda kerusuhan. Aku masih sedikit trauma mengingat tragedi 1998 yang hampir memusnahkan keluargaku. Lebih-lebih, saat mengenang rumahrumah yang dibakar, demonstrasi, pemerkosaan, dan pembantaian yang terjadi. Belum lagi mengingat setiap malam kami selalu berdoa kepada para dewa agar selamat. Namun memang kami beruntung. Para dewa bermurah hati melindungi kami. Hingga kemudian, persis pada malam tahun baru di pengujung 1998, A Ma membuat perayaan makan malam sederhana sebagai tanda syukur.

Hanya bertahun-tahun kemudian, makan malam yang A Ma adakan itu aku tahu merupakan pesta makan malam yang terlambat dari perayaan tahun baru imlek sebelumnya. Makan malam itu terpaksa diundur karena keadaan yang tak menentu di pusat kota Jakarta. Keluarga kami keturunan Tionghoa. Pemerintah Orde Baru mengekang dengan ancaman. Mereka tidak segan memberangus kami. Pemerintah sengaja melakukan itu karena keturunan Tionghoa dicurigai sebagai pembawa ajaran komunisme melalui perayaan-perayaan mereka.

Baca juga: Mitos Upacara Chúxī – Cerpen Risda Nur Widia (Jawa Pos, 26 Januari 2020)

Namun itu dahulu. Sekarang kami berhasil melupakan. Bahkan kebiasaan pesta makan malam yang kami lakukan pada ujung tahun masih terus kami lakukan. Jadi bisa dikatakan, di keluarga kami ada dua perayaan menyambut tahun baru. Pertama, makan malam tahun baru imlek. Kedua, perayaan untuk mensyukuri keselamatan hidup kami. Jadi, tradisi dua perayaan makan malam itu menjadi kewajiban yang tak boleh kami lewatkan. Sesibuk apa pun kami, wajib mengikuti. Karena begitu penting makan malam ini, APa bahkan dahulu, yang sedang sakit, tetap melaksanakan.

Kami yang melihat keadaan A Pa merasa sedih. Adikku Lin sampai menahan tangis saat melihat APa memakan mi misoa di depannya. A Pa berjuang memakan mi misoa agar tak lekas putus. Sayang, pada tarikan pertama mulut APa, mi misoa yang panjang acap terputus. Semua anggota keluarga terdiam mengetahui itu. Semua benak kami memikirkan sesuatu yang sama, tetapi APa menutup dengan kelakar. ”Aku tak sengaja menggigitnya,” kata APa. “Masakan istriku selalu membuatku tak sabar untuk menelan. Betapa beruntung aku menikahinya.”

A Pa menyeringai santai, tetapi kami semua anggota keluarga mengeram perasaan waswas. Kami tidak bisa berbohong untuk tak khawatir. Ditambah lagi mitos mengenai mi misoa yang dapat meramal umur seseorang, akhirnya membuat kami tambah masygul. Karena apabila mi yang dimakan panjang akan sejalan dengan umur yang panjang, begitu juga sebaliknya. Malam itu, mi yang APa makan selalu pendek. Mi yang A Pa makan seakan ingin menyatakan umurnya. Akhirnya apa yang kami pikirkan terjadi tiga hari kemudian. A Pa meninggal.

***

Hari ini A Ma memasak banyak makanan untuk pesta akhir tahun baru imlek. Para cha mou nian membantu A Ma menyiapkan hidangan berupa sup rebung, rumput laut hitam, mi misoa, ayam serta ikan panggang, bebek goreng, haisom, jeruk mandarin, kue keranjang, dan yu sheng. Para xioa sheng, termasuk aku, sibuk merapikan rumah dengan membersihkan perabotan beserta patungpatung keramik koleksi A Pa dari debu. Kami percaya dengan membersihkan rumah, semua kesialan tahun sebelumnya akan pergi dan rezeki baru datang. Kami bahkan tak luput menempelkan gambar Dewa Men Shen di depan pintu rumah. Melihat gambar Dewa Men Shen yang melekat di pintu, mendadak mengingatkanku pada masa lalu.

Dahulu, A Pa dan A Ma percaya, Dewa Men Shen yang melindungi keluarga kami dari kekacauan 1998. Setiap dua hari sekali, A Ma selalu menyuruh aku meletakkan makanan, yang sama seperti kami makan, di depan pintu. Aku pernah bertanya kepada A Ma untuk apa menaruh makanan di sana. Aku menambahkan juga, lebih baik makanan itu kami makan saja. Apalagi saat itu kami benarbenar hidup dalam kekurangan. AMa malah memukul kepalaku.

“Kan, sayang, Ma,” kataku. “Makanan itu hanya dibawa lari kucing. Kita cuma buangbuang makanan.”

A Ma yang merasa tidak cukup memberikan penjelasan berupa pukulan, akhirnya menjelaskan, “Kucing dan semut itu adalah hewan-hewan suruhan dewa. Mereka disuruh mengambilnya.”

Setelah A Ma menjelaskan begitu, aku tak membantah lagi. Aku sadar, membantah hanya akan menerima pukulan lebih keras.

Akhirnya aku menuruti perintah A Ma. Hingga kini, karena kepercayaan A Ma, keluargaku masih sering menempelkannya. Setelah selesai memasang gambar Dewa Men Shen di depan pintu, aku beralih ke ruangan tengah. Di sana, aku melirik boneka-boneka keramik Kung Kung. Aku membersihkan dari debu pelan-pelan seraya melihat boneka-boneka keramik koleksi Kung Kung secara teliti. Melihat bonekaboneka itu membuatku teringat kebiasaan A Pa dahulu yang acap membeli boneka.

A Pa semasa hidup membeli banyak boneka keramik untuk Kung Kung. Apabila dihitung ada seratus buah. Jumlah itu sengaja A Pa penuhi sebelum meninggal. Karena dahulu, Kung Kung, meminta A Pa menebus dosanya kepada Pho Pho, yang tak bisa membelikan seratus boneka keramik sebagai maskawin. Keluarga APa keluarga miskin. Jadi untuk melunasi maskawin, Kung Kung harus membayar secara mencicil. Maskawin yang diminta Pho Pho pada Kung Kung seratus boneka keramik. Kung Kung yang tak bisa membelikan babi sebagai maskawin, menerima syarat Pho Pho. Sial, kemiskinan membuat Kung Kung tak bisa melunasi janji.

Mengingat kisah A Pa yang harus melunasi beban hidup Kung Kung, membuatku berpikir: A Pa telah melalui hidup yang berat. Selain harus membanting tulang mencukupi kebutuhan keluarga, APa juga bekerja keras melunasi utang maskawin Kung Kung. Menyadari semua itu, aku terduduk sejenak melihat bonek-boneka yang berjejal. Sampai aku merasa jerih payah APa mengumpulkan seratus boneka keramik itu membuatnya kini terekam abadi di ruangan ini.

***

Setelah pekerjaan para wanita selesai di dapur, dan pekerjaan para pria bersih-bersih beres pula, puncak perayaan tahun baru imlek adalah makan malam bersama. Semua jenis makan yang dimasak sejak pagi sudah terhidang di atas meja. Aku dan saudarasaudaraku berkumpul mengelilingi meja. A Ma membagikan satu per satu piring kepada kami. Namun ada sesuatu yang aneh dalam gelagat A Ma. Selain membagikan piring untuk anak-anaknya, AMa juga menyiapkan piring kosong milik A Pa. A Ma seolah menghidangkan makanan untuk suaminya. A Ma seakan masih terbanyang kehadiaran A Pa.

“Bahkan bagi mereka yang mati,” tandas AMa seraya melirik kami. “Acara ini tidak boleh dilewatkan.”

Kami kasihan atas ketidakberesan jiwa A Ma. Namun kami tahu semua itu terjadi karena kesedihannya.

A Ma tetap melakukan apa yang dia yakini. Ia bertingkah seolah semua baik-baik saja dan normal. A Ma bahkan dengan santai menghidangkan makanan kepada kami sekeluarga.

“Sayur rebung bagus untuk keberuntunganmu,” kata A Ma mengambilkan sayur untukku. A Ma terus menyarankan untuk memakan santapan berdasar peruntungan. Misalnya, menyatap fucai bagus untuk kemakmuran. Melahap ayam dan ikan, baik untuk keberuntungan. AMa tidak luput menyebutkan berkah dari setiap makanan yang dia ambilkan.

“A Pa, kamu makan haisom yang banyak ya,” desis AMa meletakkan teripang laut rebus. “Haisom bisa membuat umurmu panjang.”

A Ma tersenyum manis ketika menghidangkan haisom ke piring APa. A Ma seolah melihat kehadiran APa secara kasatmata. Kami hanya saling pandang.

Setelah menghidangkan semua makanan, A Ma mengambil mi misoa. Lalu, A Ma memakan pelan. Namun baru sesesap mi misoa masuk mulut AMa, mi itu terputus. AMa tertegun. A Ma sekali lagi meraih mi misoa dengan sumpit. A Ma menyesap pelan. Mi itu putus lagi.

“Mungkin mi lama,” tandas A Ma. “Tadi aku membeli di warung A Chong. Katanya tinggal stok mi ini saja.”

Kami enggan menyinggung perihal umur atau peruntungan apa pun mengenai mi itu. Akan tetapi hati kami sekeluarga tidak bisa tak khawatir atas diri AMa.

***

Seperti sudah kami sekeluarga takutkan, makan malam itu adalah makan malam terakhir A Ma bersama kami. Beberapa bulan kemudian, AMa meninggal. Kami sangat terpukul. Bahkan selama beberapa tahun kami belum bisa menerima. Kami akhirnya berpikir, sebenarnya A Ma tidak mati, tetapi sedang tertidur. Jadi bukan hal aneh apabila setiap perayaan makan malam akhir tahun berikutnya, kami selalu menyiapkan dua piring kosong untuk A Ma dan A Pa. (28)

 

Catatan:

A Ma: Ibu; APa: Bapak; cha mou nian: saudara perempuan; haisom: teripang laut; yu sheng: salad ikan segar dari irisan sayur wortel dan lobak serta irisan daging tuna atau ikan salem yang sudah direndam minyak wijen; xioa sheng: saudara laki-laki; Dewa Men Shen: Dewa Penjaga Pintu; Kung Kung: Kakek; Pho Pho: Nenek; fucai: rumput laut hitam.

 

Risda Nur Widia menerbitkan buku tunggal Bunga-Bunga Kesunyian (2015), Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016), dan Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing (2018).