Cerpen Dian Supangkat (Jawa Pos, 02 Februari 2020)

Menyusu Ibu ilustrasi Budiono - Jawa Pos
Menyusu Ibu ilustrasi Budiono/Jawa Pos

PUTRI masih menyusu ibunya. Ia berusia tiga puluh empat tahun. Ibunya pun sukarela menyusuinya. Kulitnya sebersih daging kelapa muda. Wajahnya sesejuk kemboja merah muda yang ditanam di hotel-hotel mahal. Saat kau dekat dengannya, aromanya semerbak melati-melati yang dulu jadi pagar rumah tetanggamu. Bunga-bunga melati yang diam-diam kau petik sepulang mengaji.

Putri tumbuh serupa kersen yang ramping. Pohon yang buah-buahnya tak sempat merah karena burung gereja berebut dengan tangan-tangan bocah memetiknya. Putri tangguh meski tumbuh sendirian. Tanpa saudara. Bapaknya mati saat ia SMA. Saat ia terlampau malam pulang berlatih pementasan drama.

Bapak menunggunya di muka pintu. Bapaknya diam, namun Putri paham itu marahnya yang paling dalam. Mereka berdebat dalam diam dan bertengkar dalam sunyi. Kanker hati merenggut nyawa bapaknya. Putri meraung-raung. Ia satu-satunya perempuan yang mengantar bapaknya ke kuburan hari itu. Bapaknya dimakamkan dalam tradisi perempuan tak boleh datang ke pemakaman. Putri menatap mata-mata lelaki yang melengos saat ditentangnya.

Putri memikat banyak lelaki. Lelaki-lelaki dari negeri jauh. Jauh berbeda dari bapaknya. Lelaki yang dibesarkan untuk menjelajahi banyak benua. Lelaki yang dilepas sedini mungkin dari rumah. Lelaki yang melihat gadis-gadis Timur sebagai sesuatu yang eksotis. Lelaki-lelaki yang menyihirnya bagai ensiklopedia terbuka. Putri bisa bermain sepuasnya dalam berbagai kisah mereka. Kisah-kisah yang didengarnya saat kecil. Dalam versi yang lebih gila.

Baca juga: Mitos Upacara Chúxī – Cerpen Risda Nur Widia (Jawa Pos, 26 Januari 2020)

Lelaki-lelaki yang mengajari ia boleh berbahagia bagi dirinya sendiri. Lelaki yang menganggap dunia ini adalah samudra. Mereka bisa berenang ke sana kemari. Putri merekah menjelajahi benua mereka. Lalu, waktu berlalu. Putri dan lelaki-lelaki itu tumbuh ke arah berbeda. Mereka jauh merenangi samudra. Putri mendekati pantai. Ia rindu rumah. Putri rindu menyusu ibu.

Bunga-bunga angsana tumpah di jalan raya. Senja bersekongkol dengan langit menjadi lebih indah kala musim hujan. Putri masih menyusu ibunya. Ibunya tergelak karena teman-teman Putri telah menjadi susu bagi anak-anak mereka. Putri dimintanya tak lagi menyusu.

Ibu yang ditentangnya setelah bapaknya tak ada. Ibu yang membesarkannya dalam diam. Ia dan ibunya tumbuh dalam kesepian. Putri kembali ke rumah. Susu ibu tersedia di sana. Tak berubah. Malah berlebih kini.

Putri meyakinkan ibunya dengan cerita-cerita tentang menyusu yang samar-samar dipanggil muncul ke permukaan ingatannya. Sebuah cerita tentang seorang perempuan yang tubuhnya ditanam bersama fondasi sebuah menara. Tiga bersaudara yang membangun menara meyakini menara tak bisa berdiri tegak jika tak ada tubuh yang menjadi tumbal. Mereka bertiga sepakat untuk tak bicara apa pun pada ketiga istri mereka. Istri siapa pun yang datang membawa makan siang keesokan hari, maka tubuhnya yang akan ditanam di menara. Si sulung dan saudara kedua mengancam istri-istri mereka untuk tidak pergi ke menara. Sedang si bungsu hanya menutup mukanya dan sesenggukan semalaman. Ia tak berkata suatu pun kepada istrinya.

Istri si bungsulah yang mengantar makanan hari itu. Si suami tak mampu mencegah saat kedua saudaranya menanam tubuh istrinya melekat dengan tembok menara. Istri si bungsu punya syarat. Ia rela semua bagian tubuhnya ditanam, kecuali dua buah payudara dan kedua matanya. Ia ingin payudaranya menyusui bayinya sampai masa sapih. Ia ingin melihat bayinya menyusu dengan kedua bola matanya. Suaminya meraung-raung. Si istri memintanya membawa bayi mereka saat pagi dan senja agar bisa menyusu kepadanya.

Baca juga: Perempuan yang Tidur Menghadap Tembok – Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 19 Januari 2020)

Begitulah, setiap pagi dan sore, bayi si istri bungsu dibawa suaminya untuk menyusu. Secara ajaib air susunya tetap memancar untuk sang anak sampai tersapih.

”Apa Ibu ingin aku tak lagi menyusu setelah mendengar cerita itu?’’

Putri lalu bercerita tentang seorang pemuda miskin di sebuah desa di India. Ia tak bersekolah dan hanya merawat dua sapi saudagar kaya. Si saudagar kaya meminta tetangga-tetangga miskinnya untuk merawat sapi-sapinya yang berjumlah ratusan.

Sejak kecil ia diajak ayahnya menggembalakan dua sapi yang menjadi sumber penghasilan mereka. Ayah dan kedua adik perempuannya mati keracunan suatu hari. Ibunya bunuh diri, tak tahan akan kemiskinan mereka. Ia selamat karena mengalah untuk tak makan hari itu. Ia berumur sepuluh tahun. Si saudagar mendatanginya, hendak mengambil dua sapi miliknya. Si bocah memohon untuk terus menggembalakan kedua sapi. Si saudagar setuju asal ia bekerja lebih keras daripada ayahnya.

Ia tak punya waktu untuk menangisi kepergian ayah dan adik-adiknya. Ia mengambil rumput lebih banyak. Semua orang India memperlakukan sapi dengan kemanjaan dan kemuliaan. Si bocah dua kali lipat melakukannya. Kedua sapi itu adalah sahabat terbaiknya. Susu-susu sapi itulah penyambung napasnya. Susu-susu itu juga yang membuatnya tumbuh menjadi lelaki desa yang menawan. Kulitnya cokelat mengilat. Membersihkan sapi dan memandikan mereka membuat otot-ototnya kuat. Ia tumbuh menjadi remaja dengan gurat-gurat keperkasaan yang mencuat.

Si saudagar melihat bocah yang menjelma Bima dengan tubuh sekokoh trembesi. Si saudagar melihat tubuh binaragawan. Si saudagar menawarinya semua fasilitas untuk membuatnya ikut kompetisi binaragawan. Si bocah rela asal ia bisa tetap merawat sapi-sapi itu. Si saudagar dan si bocah sepakat.

Si bocah lalu tumbuh menjadi pemuda likat. Dadanya menonjol. Lengannya seperti gumpalan awan mengembang padat. Perutnya rapat. Kaki-kakinya pun kokoh. Susu-susu sapi kesayangannya mengalir deras dalam tubuhnya.

Baca juga: Monolog Angka – Cerpen Whani Darmawan (Jawa Pos, 12 Januari 2020)

Tibalah saatnya si pemuda berkompetisi. Si pemuda melewati berbagai kompetisi. Kejuaraan nasional dimenanginya. Hadiah-hadiah berlimpah baginya. Hadiah-hadiah yang lebih menarik bagi si saudagar. Pria dan wanita memujanya. Tak sedikit yang ingin berteman dengannya. Namun, semua itu tak penting bagi si pemuda. Hanya kedua sapi yang bersama sejak ia kecil yang terpenting baginya.

Seantero negeri mengenalnya. Wartawan datang ke desanya, hendak meliput. Ia tak suka menjawab pertanyaan. Si pemuda hanya sepakat diliput dengan satu alasan. Ia akan dipotret bersama kedua sapinya. Ia memeluk dan menciumi sapi-sapinya. Ia mengalungkan medali di leher mereka. Ia selamanya menyusu kepada sapi-sapi itu. Seorang wartawan bertanya, ”Apa kau selamanya akan menyusu kepada sapi-sapi itu? Sampai kapan kau akan menyusu kepada sapi-sapi itu?”

”Selamanya. Akulah anak mereka. Bukankah seorang anak harus menyusu kepada ibunya?”

***

Putri masih akan menceritakan kisah susu lain kepada ibunya. Putri berdiri di luar ruang operasi. Susu ibu kini tak ada lagi. Akar-akar kanker payudaranya.

 

Dian Supangkat, Peserta Kelas Menulis Fiksi Bersama Okky Madasari yang dihelat Jawa Pos pada 12 Desember lalu. Dian adalah seorang guru dengan semangat murid. Gemar membaca dan menulis cerpen. Beberapa kali juga membagikan tulisan perjalanan di media. Bisa disapa di Twitter @arianidian.