Cerpen Kakanda Redi (Pontianak Post, 02 Februari 2020)

Laki-Laki yang Melukis Dendam ilustrasi Kekes - Pontianak Post (1)
Laki-Laki yang Melukis Dendam ilustrasi Kekes/Pontianak Post

TAK terbilang lagi betapa sakitnya hati Wisnu demi mendengar kata-kata Sudirja setiap kali mereka bersua di sebuah acara tahunan yang rutin diadakan. Sekuat hati Wisnu menyabarkan dirinya sendiri. Senyumnya kembang, tapi darahnya mendidih.

“Untung dulu kamu kawinnya sama aku. Coba kalau sama Wisnu. Setiap datang ke acara temu kangen seperti ini ya bakalan naik motor kamu, Sum,” ujar Sudirja seperti tanpa rasa bersalah sedikitpun. Agaknya mereka yang hadir sudah cukup maklum dengan tabiat Sudirja. Bahasanya yang ceplas-ceplos adalah ciri khas. Tak perlu sakit hati. Untuk kelakuannya itu, semua punya pemakluman khusus.

Wisnu tersenyum simpul. Hidangan di atas meja sudah tak menarik minatnya lagi. Diliriknya Sumi yang segera membuang muka, seperti menahan rasa tidak enak kepada Wisnu. Sumi dulu adalah kekasihnya. Entah bagaimana ceritanya, Sumi pada akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Sudirja, laki-laki yang sudah kaya sejak muda. Wisnu sendiri menikah dengan Larasati, perempuan baik hati yang cintanya diterlantarkan oleh Sudirja. Sungguh sebuah kisah cinta yang pelik.

“Setidaknya motor itu hasil jerih payah Mas Wisnu, bukan pemberian orang tua!” Larasati membela suaminya. Sakit juga hati Larasati setiap kali terdengar di telinganya kalimatkalimat mantan kekasihnya yang terlalu tinggi itu. Padahal, selain tabiatnya yang sudah dimaklumi oleh banyak orang, semua juga tahu kalau kekayaan Sudirja itu kekayaan turunan. Sudirja anak tunggal dari orang tua yang kaya raya.

“Hei, jangan marah begitu, Laras. Aku cuma becanda. Lihat suamimu, dia saja tidak marah,” Sudirja terkekeh. Didekatinya Wisnu yang masih mematung, “Sebenarnya kerjaanmu apa sih, Nu? Kerja di perusahaan papaku saja. Jadi tangan kananku. Bagaimana?”

Wisnu tersenyum lagi. Dicarinya Sumi. Perempuan yang pernah mengisi hariharinya di awal perkuliahan dulu itu sudah tidak tampak. Entah kemana perginya.

“Aku pelukis. Aku sudah terlanjur senang melukis. Motorku itu kubeli dari hasil jualan lukisan. Kontan! Suatu saat aku akan punya mobil juga. Akan kubawa perempuan baik hati itu jalan-jalan keliling kota dengan mobil baru. Kau lihat saja nanti!” Ujar Wisnu sambil mengerling ke arah Larasati. Dadanya bergemuruh. Semacam ada perasaan tidak suka yang sulit untuk dijelaskan. Untuk kali ini, perasaannya tidak bisa diajak bercanda. Ditepuknya pundak Sudirja dua kali.

Temu kangen itu selesai juga. Wisnu tetap tidak berhasil menemukan Sumi hingga dia dan Larasati sudah duduk di atas motor.

***

Di ruang tamu yang tak begitu luas, Wisnu sedang melukis seraut wajah yang beberapa hari yang lalu sudah membuatnya sakit hati. Lukisan wajah itu belum rampung, namun secara kasar sudah dapat dikenali wajah siapa yang sedang Wisnu lukis.

“Kamu punya firasat lagi kalau orang itu akan mati?” Laras menyodorkan segelas minuman dingin.

“Entahlah. Aku hanya ingin melukis wajahnya saja. Umur rahasia Tuhan. Yang sudah-sudah itu hanya kebetulan saja.”

Laras tak menanggapi. Sebaliknya, perempuan kuning langsat itu memilih untuk meninggalkan suaminya yang tengah asyik melukis. Di benaknya masih saja menduga-duga. Seperti yang sudah-sudah, setiap suaminya melukis seraut wajah, tak seberapa lama, orang yang dilukis itu mati dengan cara yang nyaris sama; dibunuh! Laras mulai berpikir kalau suaminya punya semacam kekuatan untuk menerawang masa depan atau apalah namanya dan itu membuat Laras sedikit merasa tidak nyaman lantaran wajah yang dilukis suaminya kali ini adalah seseorang yang tidak asing.

Di ruang tamu, Wisnu dikejutkan dengan suara daun pintu yang diketuk. Wisnu segera menutupi lukisannya dengan kain putih lantas bergegas membuka pintu. Wisnu menerima tamu yang berpakaian rapi. Pembawaannya tenang. Wisnu yang kerap menerima tamu seperti ini cukup bisa menguasai keadaan. Tak kelihatan sedikitpun gugup atau canggungnya.

Tamu itu menyerahkan selembar foto. Tatapan matanya serius dan sesekali tertangkap sedang melirik ke kiri dan ke kanan, seperti tengah memastikan jika percakapan ini aman dari telinga selain telinga mereka berdua.

“Calon komisaris di sebuah perusahaan. Istrinya sendiri yang memberi perintah. Saya kira, dua ratus juta adalah harga yang pantas.”

Wisnu menerima selembar foto yang diserahkan oleh tamunya. Tak ada ekspresi yang mencolok di wajah Wisnu. Datar. Biasa saja. Seolah yang seperti ini sudah kerap terjadi.

“Berapa lama?”

“Bung harus sudah menyelesaikan pekerjaan Bung selambat-lambatnya lusa. Menurut info, orang ini akan diangkat menjadi komisaris utama tiga hari lagi.”

Wisnu mengangguk, “Baik. Tiga ratus juta. Jika deal, sebelum lusa pekerjaan saya pasti selesai. Jika tidak, sebaiknya Bung…”

“Oke, deal!”

Kedua orang itu saling bersalaman. Wisnu tersenyum puas. Sambil menyelam minum air, ucapnya dalam hati. Tak lama lagi, mimpinya untuk mengajak Larasati jalan-jalan dengan mobil akan kesampaian.

***

 Besoknya, koran-koran memuat judul headline di halaman muka dengan berita yang seragam. Sudirja Sumaryadi, calon Komisaris Utama PT X, tewas. Diduga pembunuhnya adalah seorang penembak misterius.

Wisnu tersenyum membaca judul berita salah satu koran terkemuka di kotanya ini. Nun, di rumah duka, tanpa Wisnu ketahui, Sumi tengah meraung-raung. Wajahnya begitu sedih. Namun, di lubuk hatinya sudah terasa dengan nyata posisi komisaris utama yang sebentar lagi akan jatuh kepada dirinya.

 

Mempawah, September 2019