Cerpen Purwadmadi (Kedaulatan Rakyat, 02 Februari 2020)

Kala Lodra ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyat (1)
Kala Lodra ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat

KETIKA keris pusaka itu dihunjamkan ke ulu hati istrinya, bukan jerit histeris atau tangis melas yang terlihat dan terdengar. Justru, sebentuk senyum tipis, meski bukan senyum manis. Senyum terakhir bibir istrinya itu, jauh lebih perih mengiris daripada sayatan welat bambu wulung. Jauh lebih menghunjam ketimbang tusukan keris berulang-ulang.

Akan tapi, Sudargana sudah rela. Rela membunuh istri dan menguburkannya di kamar tengah rumah besar miliknya. Persis di tengah senthong, di bawah lantai yang di atasnya ditempatkan petanen. Di pembaringan itu Sudargana dan istrinya, Kencana Wulan, selalu masyuk bercengkerama, suntuk berhibur berburu kenikmatan. Kali ini, Sudargana telah membenamkan raga istrinya ke dalam tanah di bawah pecengkeramaan bersih dan selalu wangi.

Kekejaman tidak datang serta merta. Pembunuhan bukan kerja sekilas dan sambil lalu. Kekerasan dan pembunuhan, tersusun dari keping-keping rasa jahat yang tak perlu direncanakan, tak harus diniatkan. Tak ada yang datang serba tiba-tiba. Selalu ada sebabnya, sekaligus punya argumennya.

Selesai mengubur dan meratakan kembali lantai senthong, merapikan kembali petanen, Sudargana membuang jauh rasa sesal. Lalu, menimbun rasa sesal itu dengan perasaan lega. Penghalang demi penghalang telah dilenyapkannya. Namun, senyum terakhir istrinya, selalu membuka lembar sesal, dipenuhi goresan rasa mengiris, perih menusuk-nusuk ulu kalbu terdalam.

Ketika rasa sesal itu akan muncul, segera terbit kegembiraan bayangan wajah Sriandulusasi, putri tunggal Bupati Randublatung, mitra utama Pemerintah Kolonial dalam mengelola hutan jati. Satu permintaan Raden Wreksa Pamuncak, Bupati Randublatung, keris pusaka Kiai Ageng Kala Lodra harus tersarungkan ke perempuan keturunan Ki Gitasandhung, pemimpin Wong Kalang yang menolak keras penguasaan hutan jati oleh Pemerintah Kolonial. “Sudargana, sebelum kamu beranak, sarungkan Kala Lodra ini ke ulu hati tubuh istrimu. Kencana Wulan, harus mati. Garis silsilah Gitasandhung harus diputus. Darah segar keturunan Gitasandhung menjadi permandian suci Kala Lodra. Kesaktiannya akan berlipat-lipat.”

“Kanjeng Bupati Wreska Pamuncak, imbalan macam apa yang bakal aku terima atas kekejaman ini?” tanya Sudargana mempertegas janji transaksi kekejaman itu.

“Sriandalusasi jadi istrimu. Kedudukan Wreksageni aku serahkan padamu. Kamu diangkat menjadi mandornya para mandor jati se-Randublatung. Setuju?”

Mereka bercakap berdua di tepian mata air tengah hutan jati yang sedang meranggas. Cuatan ranting dan cabang pohon, berhimpitan seperti mengiris biru langit. Seresah daun jati kering, menumpuk di antara pokok-pokok pohan yang rapat nyaris tanpa jarak. Hutan jati lebat, tambang uang sekaligus komoditas strategis untuk transaksi jabatan dan kekuasaan. Kayu-kayu politik yang membutakan Wreksa Pamuncak dan Sudargana.

“Dan lagi, Sudargana. Keris Kala Lodra setiap tahun harus dimandikan dengan darah segar perempuan hamil. Kala Lodra akan makin jadi sipat kandel, yang menguasai hajat hidup orang banyak. Menjaga hutan jati dari ancaman pribumi  kolot,” kata Wreksa Pamuncak.

Kala Lodra diserahkan kepada Sudargana. Membunuh, telah menjadi bagian kebiasaan menghadapi tukang blandong pencuri kayu di hutan jati. Namun, Kencana Wulan bukan tukang blandong pencuri kayu. Tega benar Sudargana, tetapi itulah yang terjadi. Seperti halnya sejarah, tidak diulang, tidak pernah batal karena waktu. Sudargana masih termangu di tepi pembaringan di atas kubur istrinya. Ia sedang diliputi bayangan silih ganti antara Kencana Wulan dan Sriandalusasi. Keris Kala Lodra belum sempat disarungkan. Tergeletak berlumur darah di atas meja dekat cermin.

Sudargana memandangi keris pusaka itu, dan yang terlihat Sriandalusasi-Kecana Wulan duduk berdampingan, penuh senyum di antara asap berkepul-kepul dari bilah keris Kala Lodra. Senyum mereka bagai kilatan welat mengiris kulit ari. Perih. Sudargana tidak sempat terkejut karena ia langsung semaput. ❑-g