Cerpen J. Akid Lampacak (Bangka Pos, 02 Februari 2020)

Gadis Penjual Jamu ilustrasi Bangka Pos (1)
Gadis Penjual Jamu ilustrasi Bangka Pos

Sebagai penjual jamu, gadis itu hanya kasihan pada orang-orang yang kesakitan. Maka tak heran, ia meski tidak bersuami, tapi pekerjaannya sudah melebihi dari perempuan yang sudah bersuami, sudah melebihi dari gadis-gadis yang ada di kampungnya, walau di kampungnya sendiri, segala perempuan sudah dikenal dengan perempuan yang ulet.

Dari pagi sampai terbenamnya matahari. Terkedang gadis itu belum ada di rumah, ada beberapa factor yang membuat gadis itu tidak pulang, peretama. Sebagai penjual jamu keliling ia  masih ada di perjalanan, karena jarak penjualan yang ia tentukan sebelum berangkat lumayan jauh, kedua. Gadis itu mimang terpaksa harus bermalam di tempat penginapan dikarenakan jamu yang dibawa belum juga laku, ketiga. Gadis itu terjebak hujan atau ada beberapa rintangan yang membuatnya tidak bisa pulang.

Pernah suatu kali, waktu itu musim hujan. Di mana di kalangan masyarakat banyak yang minat membeli jamunya, karena jamu yang dijuala tak hanya menyembuhkan penyakit-penyakit biasa. Tapi juga bisa menghilangkan rasa capek. Mereka hanya butuh istrahat sebentar, walau hanya merentangkan tubuh di lantai. sesudah itu rasa capeknya pelan-pelan akan menghilang, maka tak heran jika gadis itu selalu pulang tak tepat waktu.

Apalagi peminat pembeli jamu itu tak hanya orang tua, tapi pemuda-pemuda yang senang nongrong di pinggir jalan juga sering menyetopnya, tapi herannya gadis itu tak pernah perduli walau terkadang banyak warga yang membulinya karena dibeli para pemuda. Sebab tujuan gadis itu bukan menjual dirinya tapi, menjual jamunya. Perinsip itulah yang selalu tertanam di benaknya, sehingga gadis itu betah bertahan sebagai penjual jamu.

Ketika sampai kerumahnya. Gadis itu sempat berkata dalam hatinya,“kenapa aku tidak mencari pekerjaan yang lebih mulia saja. Lagian banyak saudara-saudara ayah yang mau memberi pekerjaan yang lebih mulia kepadaku”. Dalam hatinya. Tapi gadis itu selalu menolak apa yang dikatakan hatinya. Gadis itu selalu ingat perkataan ibunya sebelum meninggal, kala itu berada di sebuah taman kecil depan rumahnya, sambil meratapi nasipnya yang sudah sakit-sakitan mencari udara segar, sebagai bantuan penenang bagi tubuhnya. “saya tak pernah malu jadi penjual jamu, walau saya sering menerima omilan dari para tetangga, bahkan sampai mereka menuduhku dengan penggoda suami mereka, tapi saya selalu yakin Nak… selama pekerjaan saya ini masih memberikan yang terbaik bagi merka, saya tetap akan berusaha, menahan siuran angin yang setiap saat menumbangkan dada” itulah kata terakhir yang berjalan di telinga gadis itu. Dan tak mungkin ada kata lain yang bisa menghapus jejaknya, jika gadis itu masih menurut pada ibunya.

***

Sebagaimana matahari telah sempurna mendapingi pagi, angin menghantarkan riak suam ketubuh siang, gadis itu berjalan melintasi trotoar, menggendong jamu yang akan berusaha menulak beragam penyakit, sambil memandang lampu-lampu gantung yang sudah 5 jam lalu mati. dengan segala keringat di kening, gadis itu memasrahkan usahanya kepada Allah, sebab dengan begitulah cara terbaik seseorang akan tetap semangat bekerja, walau yang mereka kerjakan terkadang tak menghasilkan apa-apa.

Gadis itu faham bagaimana mengendalikan hidup yang dikendarai, walau sudah seharusnya gadis itu mempunyai pendamping, tapi jika Allah masih belum berkehendak, maka satu-satunya cara yang dilakukan gadis itu hanya bersyukur. Bersyukur atas apa yang sudah menimpa dirinya dan percaya bahwa yang telah terjadi sekarang, akan berubah pada waktunya. Hingga sampai waktu solat zuhur, azan yang terdengar membuat gadis itu sedikit gembira, walau jamu yang digendong masih tak laku sedikitpun saja, gadis itu membelokkan langkahnya mencari sumber suara azan, agar bisa solat berjemaah dan istrahat di beranda masjid walau sekedar menghilangkan rasa lelah.

Setelah sampai di halaman masjid, orang-orang berdatangan dengan kendaran mewah, hanya gadis itu yang berjalan kaki. Membuat gadis itu bertanya-tanya pada dirinya, mungkinkah masjid ini hanya boleh didatangi bagi orang-orang yang kaya?. Hampir tidak mau solat di masjid itu. Untung saja gadis itu  ingat dalam pelajaran Al-quran di masa sekolah MA dulu, kebetulan ada gurunya yang menerangkan, “masjid ini rumah Allah, dan siapapun yang mendatanginya itu bolah, asalkan dengan niat bertemu dengan Allah”. sebab itulah, gadis itu masih meluruskan pandangnya untuk bersujud kepada Allah.

Sesudah solat zuhur selesai, gadis itu langsung keluar, rencananya ia tidak mau istrahat di masjid itu, di karenakan merasa malu, masih timbul dalam hatinya perasaan yang bukan-bukan, perasaan yang sudah diyakini dari tadi seakan terundang kembali, ketika melihat postur tubuhnya yang tidak sebanding berada di sisi mereka. Namun, orang-orang malah berdatangan, mendekati mereka seraya ingin mengancam atau ingin mengeluarkan kata-kata yang tidak membuatnya senang, seperti kala umumnya, yang terdengar dari sebagian tetengganya. Tapi, malah berbeda meraka yang menghampirinya malah membalik pada apa yang telah dibayangkan gadis itu. Mereka-mereka membeli jamunya hingga habis, ada yang membeli hingga 20 bungkus, ada junga yang membeli hingga 25 bungkus.

Nyatanya gadis itu tidak suka, jika jamunya dibeli dengan pelantara kasihan, karena gadis itu selalu berfikir bahwa ia menjual jamu bagi orang-orang yang membutuhkan, bukan karena terpaksa, atau kasihan, dan yang paling herannya gadis itu sempat bertanya pada salah satu dari mereka yang membeli hingga puluhan bungkus, tapi mereka malah menjawab dengan segampang membalikkan sandal orang-orang di masjid, “saya membeli ini semua untuk di berikan kepada tetangga yang mengiginkan di rumah, soalnya jarang mereka bertemu dengan pedagang jamu”.

Mengiringi perasaannya, gadis itu seolah ingin solat kembali, meski sekedar solat sunnah sebagai tanda terimakasih kepda Allah, tapi sayang gadis itu terpaksa cepat pulang, setelah menerima telfon dari kerabatnya. Tanpa berfikir panjang. Gadis itu langsung pulang dengan botol-botol jamu di punggung, dengan air mata yang tergenang bagai daun yang menahan tetesan embun untuk jatuh di hari yang rabun. Gadis itu merasa kecewa berjualan di harai ini, kecewa, kenapa tadi pagi tidak bersama ayahnya saja di rumah, padahal waktu itu merupakan waktu terakhir bagi gadis itu untuk melihat ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi, yang namanya maut datang tampa disangka-sangka. Seperti yang dialami gadis itu, ayahnya tadi pagi masih tersenyum, masih sarapan dengannya, tapi sekarang ayahnya telah dipanggil oleh Allah.

Sungguh malang gadis itu. Setelah dua tahun ditnggal ibunya sekarang sudah ditinggal ayahnya. Apa lagi gadis itu tidak mempunyai saudara, gadis itu hanya mempunyai satu-satunya anggota keluarga, ibu dari seorang ayahnya, itupun sekarang sudah buta. Sanggupkah bagi gadis itu untuk berjalan di sebuah hutan sendirian, tanpa ada sebotol minumanpun, sementara sumber mata air sulit ditemukan.

***

Sesudah selesai tahlilan yang ke 7 harinya, malam itu masih bisa dikatakan malam yang menyimpan hujan, sebab sejak dimulai tahlilah hingga berkhir, langit masih menangis, seakan-akan ikut berduka atas kepergian ayah gadis itu, entah ada firasat apa lagi yang menimpa gadis itu, hingga lamunanan gadis itu terjeda sejenak, setelah ada seorang laki-laki separuh baya menghampirinya sambil melontarkan kata-kata sehalus debu yang dibasahi hujan pertama.

“Kamu yang sabar ya…” kata lelaki itu, tentu saja ia familinya atau tetangga dekatnya. Sangka gadis itu, karena lelaki itu begitu perhatian. Tapi, malah bukan. Lelaki yang berada di sisinya ternyata belum sema sekali di kenal. lelaki itu tanpa dikira, ternyata memberikan sebuah surat yang  dibuat ayahnya 20 tahun yang lalu, surat itu berisi surat janji perjodohan di antara gadis itu dengan peria bernama Farhan. Nama Farhan telah tertera dalam suratnya, juga di sertai tanda tangan ayahnya. Setelah surat itu dibaca, laki-laki itu langsung pergi tanpa bicara apa lagi, tanpa menjelaskan dirinya itu siapa, sebab dalam surat itu ia telah tertera sebagai ayah dari peria yang bernama Farhan.

Gerimis perlahan berhenti, membuat orang-orang pergi dengan membawa sebungkus suguhan, entah apa gerimis ini akan turun ketika orang-orang berada di tengah perjalanan pulang, atau selamanya berhenti hingga petang berganti pagi. Karena awan masih menyelimuti langit, dan tak ada satupun cahaya bintang yang tersiar di bola mata orang-orang, bisa jadi awan ini bisa menahan hujan saat ini untuk kembali jatuh. Namun, awan kali ini tak akan pernah bisa menahan jatuhnya air mata yang tertampung pada kelopak mata gadis itu, sebab dari tadi gadisitu ingin menangis, tapi selalu tertunda, kerena masih banyak orang di depannya.

Akhirnya gadis itu masuk ke kamar dengan tujuan melepas tangisnya, melepas seluruh bayangan tentang kebaikan yang telah ayahnya lakukan, walau ayahnya masih ada sedikit kesalahan kepadanya, kesalahan yang semakin nampak di tangannya, begitu jelas pada baris-baris surat yang sudah dibaca tadi. Kesalahan mengapa ayah tidak pernah bercerita sewaktu hidupnya. Tapi sebagai anak, gadis itu telah menyediakan dada basah pada ayahnya, walau perbuatan ayahnya membuat sedikit kecewa.

Dengan badan terlentang, tak terasa gadis itu melepas kesadaran, tidur dengan mata masih berair, hingga dalam tidurnya, gadis itu bertemu dengan sosok yang baru meninggalkannya. Kala itu ayahnya sedang berada di dalam pintu taman yang membatasi jalan, sedang gadis itu berada di pinggir jalan, sangat jelas gadis itu melihahat wajah ayahnya sambil melambaiankan tangan. Gadis itu mengira ayahnya akan menghilang jika dihampirinya. Tapi, ternyata tidak, ayahnya malah berkata “jadilah jamu bagi suamimu, seperti kau menjual jamu pada orang-orang-orang yang belemu kau kenal.

 

Sampang, 2020

J. Akid Lampacak, dikenal dengan Nama Panggilan B.J. Akid. Lahir di Sumenep Madura, Jawa Timur. Menulis cerpen dan puisi, masih tercatat sebagai Santri Pondok Pesantren Annuqayah. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media cetak, online, dan antologi puisi bersama. Menjadi ketua komunitas Laskar Pena Lubangsa Utara dan pengamat litrasi di sanggar Becak Sumenep.