Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 02 Februari 2020)

Bulan Pucat ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia-1
Bulan Pucat ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

Bulan putih pucat di pagi hari selalu mengingatkanku pada masa kecil yang murung.

Dua puluh tahun silam, saat aku masih di kelas lima SD, kelas kami kedatangan seorang murid baru bernama Bulan. Ketika itu, Bulan adalah nama yang aneh, dan sampai detik ini, ingatan tentang Bulan adalah ingatan yang aneh, tidak sempurna, dan sedih. Aku tidak tahu Bulan ini datang dari mana, tapi ia tinggal satu kampung denganku bersama paman dan bibinya. Mereka menempati rumah si anu yang sudah puluhan tahun kosong.

Untuk pertama kalinya, kami melihat pintu serta jendela rumah–yang puluhan tahun tertutup–itu terbuka lebar. Seperti pemandangan aneh melihat cahaya menghambur bebas ke dalamnya. Seisi rumah dibersihkan. Perkakas-perkakas bobrok tak dipakai dikeluarkan.

Rumah itu punya pekarangan yang luas. Di sana, tumbuh sepokok jambu monyet yang besar dan rajin berbuah. Aku melihat Bulan untuk pertama kali saat ia memandikan kambing di bawah pokok jambu monyet di muka rumah yang ia tempati itu. Ia begitu sibuk sehingga tak memperhatikan atau tak memedulikan sekumpulan bocah laki-laki yang ribut bermain gundu beberapa meter dari tempatnya berjibaku dengan seekor kambing.

Bulan adalah gadis kecil dan kurus dengan potongan rambut bob dan poni hampir menutupi alis.

Kakinya seperti kecil dan panjang sebelah sehingga ketika berjalan ia harus menyeretnya. Bulan punya kulit yang pucat, membuat bekas-bekas luka di sekujur kaki dan tangannya amat terlihat. Mungkin bekas cacar atau bekas luka karena ia terjatuh dan lain sebagainya. Entahlah. Satu lagi, sering kali ia berbau seperti kambing. Hal yang membuat anak-anak tak mau dekat-dekat dengannya.

Keadaan kelas begitu hening ketika suatu pagi Bu Tris–wali kelas kami–membawa gadis itu ke depan pintu kelas. Bu Tris dan Bulan berdiri di muka pintu seperti dua pagar kurus yang menghalangi sebagian cahaya masuk. Ketika Bu Tris mengenalkan nama gadis itu ke penghuni kelas, bahwa namanya Bulan, Opik–salah satu siswa yang kami kebal badung–segera menyeru, “Kelas kita kedatangan Bulan Sabit!” Dan tawa pun meledak. Aku tak melihat ada sesuatu yang lucu di sana, tapi entah mengapa hampir semua anak tertawa. Bu Tris memberi isyarat pada Opik dan semua anak untuk diam.

Pada jam istirahat, Opik menjelaskan bahwa bulan seharusnya bulat dan gemuk. Kalau kurus, itu pasti bulan sabit. Opik merasa benar dengan hal itu. Semenjak itu, anak-anak memanggil Bulan dengan sebutan Bulan Sabit.

Bulan bukanlah gadis yang banyak omong, dan ia kelihatan tak peduli dipanggil Bulan Sabit. Ia seperti tak punya urusan dengan semua orang. Bulan begitu pendiam, wajahnya memamerkan kemurungan. Di rumah, ia tak pernah tampak bermain atau bicara dengan siapa pun. Yang ia lakukan hanya bersih-bersih, memandikan kambing, atau berdiri di balik pohon jambu monyet dan mengintip anak-anak yang sedang bermain.

Di sekolah pun begitu, yang ia lakukan cuma mengambar di buku tulis. Menggambar komik. Dari hari ke hari. Ketika kami bermain pada jam istirahat, kadang ia berjalan pelan keluar kelas, lalu duduk di bangku beton di bawah pohon mangga, hanya duduk, mengawasi semua anak yang sedang bermain, seolah-olah itu tugasnya. Dan di dalam kelas, ketika guru-guru belum datang, anak-anak suka sekali membuat masalah dengannya, terutama anak laki-laki.

Pernah suatu ketika, Opik mengendap-endap di belakang Bulan yang sedang menggambar. Lalu, tiba-tiba Opik merebut buku tulis Bulan dan memamerkan gambar-gambar Bulan ke anak-anak satu kelas. Bulan tidak berteriak, ia hanya menunjukkan muka kesal sambil terus mengejar Opik dengan terpincang-pincang, meminta bukunya kembali. Di lain waktu, sehabis jam istirahat, pernah ketika Bulan hendak duduk di kursinya, Sahdan menarik kursi itu sehingga Bulan terjengkang. Membuat semua anak terbahak-bahak. Kata Sahdan, “Sebaiknya kau mandi dulu supaya tidak bau kambing! Kasihan nasib kursi itu kau duduki terus-terusan sampai ikut bau kambing!”

Bulan tidak mengatakan apa-apa, tidak pula menangis, ia hanya berdiri kesakitan lalu kembali duduk seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin Bulan sudah sangat terbiasa dengan ejekan soal kambing. Ia tak pernah ambil pusing kalaupun anak-anak mengambil jarak dengannya sambil menutup hidung.

Di waktu yang lain, Sari pernah menjambak rambut Bulan sebab Opik menunjukkan sebuah gambar aneh di buku Bulan kepada Sari. Di buku itu ada dua gambar anak laki-laki dan perempuan sedang ciuman, dengan keterangan Yudi cinta Sari. Yudi adalah anak lelaki paling pendiam di kelas, giginya agak tonggos, ia juga sering dirundung oleh anak-anak lain, tapi kadang Yudi masih melawan. Melihat gambar yang ada sangkut paut dengan dirinya itu, Sari mendatangi Bulan dan menjambak rambutnya, “Bulan sabit bengkok! Apa maksudnya ini?” hardik Sari sebelum akhirnya menyobek halaman buku Bulan. Bulan cuma menggeleng untuk mengelak bahwa itu bukan perbuatannya. Namun, Sari sudah kadung menjambak dan menyobek halaman buku Bulan. Sementara itu, di bangku belakang, Opik dan Sahdan serta beberapa bocah lain tertawa-tawa sambil berbisik dan menutup mulut. Aku yakin itu perbuatan mereka sebab gambar Bulan tak pernah seburuk itu. Itu jelas gambar Opik, dan tulisan di situ adalah tulisan Sahdan. Aku hafal bentuk  huruf yang mencong-mencong itu.

Aku ingin sekali membela Bulan atau melaporkan kejadian-kejadian buruk itu pada guru, tapi aku tak pernah melakukannya. Aku tahu siapa diriku: seorang pengecut. Sekali saja aku membela Bulan, jelas akan muncul gambar baru, dan desas-desus baru bahwa aku menyukai Bulan, aku cinta Bulan. Aku tidak mau itu terjadi.

Belakangan, saat aku menyinggung soal Bulan, ibu menceritakan bahwa Bulan adalah anak yang malang. Ia tak seberuntung siapa pun. Konon, ibunya pergi ke luar negeri dan ayahnya ada di perantauan yang jauh. Maka itu ia ikut bibi dan pamannya yang seorang belantik kambing. Beberapa hari sekali, kami kerap melihat bibi dan paman Bulan berjalan menuju pasar kecamatan dengan menyeret kambing-kambing, kadang menaikannya ke keranjang di atas motor, atau kalau kambingnya ada beberapa ekor mereka akan menaikkannya ke mobil pikap. Pada sore hari atau saat libur, Bulan harus berkeliling ke ladang-ladang orang untuk meramban tumbuhan-tumbuhan liar buat pakan kambing. Meski aku tak pernah melihat Bulan membersihkan kotoran kambing, aku yakin dia juga melakukan itu sebab tak jarang tubuhnya berbau seperti kotoran kambing. Pekat sekali. Terutama saat di rumah pada sore hari.

Aku tak pernah benar-benar membayangkan bagaimana nasib malang Bulan ini akan berakhir kalau kejadian mengerikan itu tidak terjadi. Suatu siang, di hari Sabtu jelang pulang sekolah, Opik membuat ulah lagi. Ia menyembunyikan tas Bulan, setelah mengisinya dengan rumput. Sebelum doa pulang, Bulan mencari tasnya ke sana kemari dengan langkah tertatih-tatih, dan tas itu akhirnya ia temukan di atas lemari sebelah bangku guru. Dengan susah payah Bulan mengambil sapu, menyeret kursi, lalu mengambil dan mendekap tasnya yang berisi rumput. Opik berseru sambil terkekeh-kekeh, “Itu makan siangmu! Makan saja! Gratis!”

Saat itu, kami melihat wajah pucat Bulan seperti terbakar. Menyala-nyala. Dengan langkah tertatih-tatih Bulan mendatangi Opik, lalu menusuk muka Opik dengan pensil. Anak-anak perempuan menjerit tak karuan, beberapa berlarian memanggil guru. Opik meraung, menutup mukanya yang sudah berdarah-darah, sedangkan Bulan berjalan keluar kelas dengan langkah sedikit gemetar. Berguncang-guncang.

Esok harinya, Bulan ataupun Opik sama-sama tidak masuk sekolah.

Untuk melunasi rasa penasaranku akan keberadaan Bulan, sepulang sekolah aku berpura-pura jalan lewat depan rumah Bulan, sambil sesekali melirik rumah yang tampak sepi itu. Kabar mengerikan itu muncul pada sore hari, menjelang petang. Bibi dan paman Bulan mengatakan bahwa pagi itu Bulan tidak mau pergi ke sekolah karena sakit, tapi malah pergi ke ladang buat cari pakan kambing. Sampai sore jelang petang, Bulan tidak balik. Ketika bibi dan pamannya mencari-cari, mereka menemukan sandal, sabit, serta karung wadah rumput yang tadi pagi dibawa Bulan teronggok di tepi sumur tak berpagar di tengah-tengah ladang orang.

Malam hari, entah pukul berapa, tubuh Bulan ditemukan di dasar sumur, konon tubuhnya terjepit bebatuan. Esok paginya adalah pagi yang gaduh di kampung kami. Ladang dengan sumur tanpa pagar itu dipenuhi polisi. Dari sela-sela punggung orang dewasa, aku melihat kegaduhan itu dengan dada sesak. Takkan ada lagi Bulan Sabit di kelas kami. Namun, di langit pagi, aku melihat bulan yang lain, bulan putih pucat yang mengambang dan tampak penuh bekas luka. Bulan yang murung. Bulan yang sedih. (M-2)

 

Malang, 2019

Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni 1984. Ia suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya tepercik di berbagai media. Buku terbarunya, Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran, 2018. Kini bermukim di Malang.