Cerpen Komala Sutha (Kabar Cirebon, 01 Februari 2020)

Semalam di Jatinangor ilustrasi Kabar Cirebon-1
Semalam di Jatinangor ilustrasi Kabar Cirebon

Angin tampak enggan bersikap ramah. Tapi semua itu tak membuat Vina mengeluh. Gadis berusia sembilan belas tahun itu dengan sabar berdiri di depan kampus UNPAD Dipatiukur, menatapi biskota di depan matanya yang penuh sesak dengan penumpang. Ia belum mau menaiki tangga biskota itu. Ketimbang harus berdesak-desakan sambil berdiri tanpa mendapat tempat duduk, ia lebih baik menunggu biskota berikutnya agar bisa duduk dengan nyaman.

I swear!” seru Vina optimis malam minggu yang lalu ketika berada di kampung halamannya di Bandung Barat. Ia tidak akan membatalkan janji untuk datang ke Jatinangor, tempat dimana semua sobatnya kuliah dan kos. Jatinangor, kawasan dengan mayoritas mahasiswa. Kawasan kecil di perbatasan kota Bandung dan Sumedang, yang konon, penuh romansa.

Matanya melirik ke arah Rey yang duduk malas tak jauh darinya. Tampaknya dibanding Debi, Sinta, Bagas dan Beni, cuman Rey yang kelihatan kurang antusias dengan rencana kedatangan Vina ke Jatinangor. Sebenarnya, Vina bukan tidak merasakan itu. Ia bisa menebak dengan perasaan Rey. Cowok yang pernah memacarinya waktu SMU, sekarang bersikap kurang simpati padanya. Acuh dan dingin sekali.

“Kamu nggak suka, aku datang ke kosanmu, Rey?” tanya Vina hati-hati. Ditatapnya mata Rey. Ah, mata yang dulu selalu berbinar bahagia setiap kali menatap Vina.

Ketika bis melewati batas Bandung Sumedang, lamunannya buyar. Vina siap-siap mengatur tempat duduknya. Biskota melewati STPDN. Tak begitu banyak yang turun. Hanya beberapa. Mungkin mahasiswa yang kos sekitar sana. Lalu, biskota berhenti persis di depan kampus IKOPIN. Hampir limapuluh persen penumpang turun di sini.

Sejenak, Vina mengedarkan pandang ke sekeliling pondokan. Pondok Adinda bukan pondokan mewah. Kelihatan dari bangunannya yang sederhana. Memiliki sepuluh kamar yang saling berhadap-hadapan, ruang TV, tiga kamar mandi dan sebuah dapur.

“Semalam Rey nggak ada. Tapi…” cowok yang duduk di ruang TV itu berpikir sebentar, lalu, “O iya, barusan ada ceweknya datang kemari. Kayaknya, kunci kamar Rey ada di kosan Neni. Bentar ya, aku ke sana. Ambilin kuncinya. Tidak jauh koq,” cowok itu segera berlalu dari hadapan Vina yang masih berdiri bengong entah di depan kamar siapa. Yang ia sangka, lima kamar dari sepuluh kamar ini, tentunya ditempati sobatnya.

Segera dibukanya pintu kamar Rey. Sebenarnya, ia tidak enak masuk kamar cowok apalagi Rey. Inginnya sih di kamar Debi atau Sinta saja. Tapi harus gimana lagi, ketimbang nunggu lama di luar, mendingan rebahan dulu barang beberapa saat.

Vina menghela nafas. Lalu disimpannya tas yang sejak tadi bergelayut di pundak kirinya. Ia pun kemudian menghempaskan tubuh di kasur yang empuk. Nyaman sekali. Tapi belum lama dirasakan, matanya tertumpu pada sebuah amplop yang tergeletak di atas meja kecil tak jauh dari tempat tidur. Ia bangkit dan mengambil amplop yang membuatnya penasaran. Di situ tertulis, from: Neni.Muncul rasa penasaran yang sangat dari dalam hati Vina. Dibukanya amplop itu,lalu dibacanya kata demi kata yang terangkai begitu manis dari cewek yang bernama Neni untuk Rey. Betapa perhatiannya Neni pada Rey, terbukti dari beberapa kalimat yang terbaca Vina. Ada rasa cemburu menyelusup batin Vina.

Tanpa disadari, kertas beserta amplopnya teremas dalam genggaman Vina. Rasa cemburu menguasainya. Harus diakuinya, ia masih menyayangi cowok itu. Masih. Bahkan kedatangannya kemari bukan hanya untuk Debi, Sinta, Bagas dan Beni. Tapi yang utama, untuk Rey. Vina berharap, Rey akan kembali padanya. Tapi kalimat cowok yang barusan bicara dengannya, bahkan surat yang kini udah teremas dalam genggamannya, menjawab semuanya. Jika Rey sudah menemukan yang lain.

Vina, Rey dan Fahmi menuju salah satu rumah makan Padang.  Selama makan, batin Vina dongkol, kesal, sebal dan beberapa perasaan memuakkan menguasainya. Itu karena, acara makan malam yang seharusnya dilewati berdua saja dengan Rey, harus terganggu dengan kehadiran orang lain. Fahmi, biasa dipanggil Aa. Aa Fahmi. Itu kata Rey. Ia mahasiswa tingkat akhir AIK. Mantan ketua Rimbawan, katanya. Tapi Vina tidak peduli. Mau mantan ketua Rimbawan, mau ketua apa kek, ia tidak peduli. Yang jelas, ia tidak suka makhluk sok akrab itu hadir di antara dirinya dan Rey.

“Kenapa sikap Rey berubah?” desah batin Vina kecewa di depan Fahmi.

“Kamu musti maklum, Vin. Mungkin, Rey lagi kesel ama pacarnya. Neni mudik ke Garut tidak bilang dulu. Iya sih tadi Neni kemari. Tapi kayaknya yang bikin Rey kesel, Neni juga tidak nyimpen surat seperti biaanya. Pasti itu yang bikin sikep Rey uring-uringan,” jelas Fahmi panjang lebar. Vina berusaha menyembunyikan sikapnya yang berubah salah tingkah. Ia ingat, surat Neni siang tadi tak akan pernah sampai ke tangan Rey. Surat yang membuat Vina muak itu, telah hancur di tong sampah.

Ngobrol ngalor ngidul dengan Fahmi sangat membosankan Vina. Acara TV di malem Sabtu juga juga tidak ada yang menarik. Suasana di pondok Adinda sangat sepi. Hampir semua penghuninya pergi kecuali Rey yang ngerem sendiri di kamar dan Fahmi yang tampak masih betah ngobrol dengan Vina.

Dengan alasan ngantuk, Vina meninggalkan Fahmi. Ia rebahan di kamar Debi.

Beker milik Debi menunjukkan tepat pukul sembilan ketika perut Vina bereaksi lagi. Tadi waktu makan bareng Rey dan Fahmi, ia memang kurang berselera. Makannya tidak lebih setengah porsi. Itu karena kesal Fahmi selalu nimbrung di sela-sela keinginan Vina agar bisa berduaan saja dengan Rey.

Tangan Vina berhenti memainkan sendok, lalu diliriknya sepintas cowok di sampingnya. Fahmi berwajah cukup manis, meski tak sekeren Rey. Sikapnya juga baik, sopan, ramah dan perhatian. Buktinya, cowok itu dengan suka hati mau mengantar Vina mencari makan malam-malam setelah Rey menolak permintaan Vina untuk menemaninya. Tapi semua itu tak membuat Vina simpati pada Fahmi.

Setelah dirasa nafsu makannya benar-benar hilang, ditutupnya sendok. Lalu dililitkan tangannya di atas perutnya. Udara dingin Jatinangor mulai menggigit. Sementara, Fahmi sibuk bicara ngalor ngidul tentang apalah sesuatu yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Daerah asal, orang tua, tempatnya kuliah, cita-citanya bahkan cewek yang jadi idolanya.

“Vin, mau kan jadi cewek Aa?” Fahmi menatap Vina. Menyebalkan, desis Vina dalam hati. Kenal belom duabelas jam, sudah bicara ngaco. Vina  sebal. Bukan cuman pada Fahmi, tapi juga Rey. Kenapa Rey membiarkan ia bersama cowok ini? jerit hati Vina.

“Gimana, Vin?” harap Fahmi. Vina semakin sebal. Semua kata-kata Fahmi membuatnya muak. Tak taukah cowok sok akrab ini, kalau dirinya ingin bersama Rey malam ini?

Vina berdiri. Hatinya berontak. Untuk apa ia mempertahankan ditemani cowok ini, sementara pikirannya melayang pada Rey. Ia harus berterus terang pada Fahmi, ketimbang membiarkan cowok ini terus menggombal.

“Vina… ingin bersama Rey!” Vina setengah histeris di tengah malam.

Vina berkemas. Ia meninggalkan pondok Adinda.

Di terminal Jatinangor masih sepi. Tak ada manusia yang mondar-mandir. Beberapa sopir dan kondektur biskota masih terlelap di bangku-bangku panjang yang ada di sekitar terminal. Gerobak-gerobak makanan masih kosong. Sekarang hari Sabtu. Biasanya, pedagang banyak yang ikut meliburkan diri. Maklum, Jatinangor center pendidikan tinggi, dimana hari Sabtu hampir semua tempat kuliah libur.

Vina melirik malas jam manis yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih tigapuluh menit menuju pukul enam pagi. Dan ia hampir setengah jam berdiri. Sendirian. Hatinya terasa hampa. Ia kecewa. Kecewa dengan harapannya untuk mengajak Rey kembali di sisinya.

Masih terasa panas terik di siang hari kemarin. Tapi kemarin ia tak mengeluh meski kesal menunggu biskota yang bisa memberikan tempat duduk yang kosong dan nyaman. Juga meski sengatan matahari membakar kulit. Semua itu tak membuatnya mengeluh. Itu semua karena ia sangat berharap kedatangannya ke Jatinangor bisa mengembalikan Rey jadi miliknya. Ia ingin mengulang kembali kenangan indah yang pernah dirajutnya bersama Rey di SMU dulu. Karena sesungguhnya, ia masih sangat… ya, masih sangat menyayangi Rey.

Tapi ternyata, Rey tak mengharapkan Vina kembali.

Vina mendesah beberapa kali di sela-sela kekecewaannya. Ya, ia tak boleh mengharapkan lagi Rey, pikirnya meski dengan hati resah.

“Aku tidak mau kamu pergi, Vin!” seseorang berteriak dari sebrang jalan. Rey! jerit hati Vina. Untuk apa ia mengejarnya?

“Buat apa, Rey?” ujar Vina ketus sambil memalingkan muka. “Bukankah kamu udah jadi milik Neni?”

“Kamu tau darimana?” Rey menatap Vina. “Dari Aa Fahmi, ya?”

“Ya, itu benar! Ada yang mau aku akui. Aku udah ngerobek surat Neni buatmu,” aku Vina masih dengan suara ketus. “Terserah, kamu mau marah…”

Rey tampak kaget, tapi tak lama. Ia lalu mengembangkan senyum.

“Aku tidak marah, Vin. Sebenarnya, udah lama aku sering ngerobek surat Neni.”

Vina menatap heran sekilas Rey.

“Kamu tau, Vin. Aku tidak pernah menyukai Neni. Sikap cewek itu memang baik dan sangat perhatian ama aku. Tapi aku tidak peduli. Yang aku peduli…” Rey berhenti bicara. Ia menatap Vina lama sekali, lalu, “Vin, sadar tidak, kenapa Debi dan yang lainnya, ninggalin kamu di pondokan?”

Vina terperangah. Sekarang, ditatapnya cowok keren di hadapannya. Cowok menarik dan simpatik yang sampai kini masih disayanginya.

“Vin, semalam aku tidak bisa tidur. Mikirin kamu terus. Kenapa aku bodoh ya Vin, ngebiarin kamu ama Aa Fahmi? Aku jealous banget lho, Vin!”

Vina terpana.

“Malam ini, kamu mau di Jatinangor lagi, kan?”

Vina mengulas senyum termanisnya.

“Aku mau bersama kamu, Vina!”

Rey menatap Vina.  Begitu juga sebaliknya. Mata mereka bicara banyak. Tentang cinta. ***

 

Bandung, Januari 2008

Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam  koran dan majalah di antaranya Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Merapi, Denpasar Post, Lampung Post, Padang Ekspres, Malang Post, Bangka Post, Analisa, Medan Post, Kabar Cirebon, Tanjungpinang Post, Tribun Kaltim, Radar Tasik, Kabar Priangan, Galura, Femina, Hadila, Potret, majalah Anak Cerdas, Mayara, SundaUrang, Warta Sunda, Beat Chord Music, Manglé, Sunda Midang, Kandaga, Metrans, Buletin Selasa, Redaksi Jabar Publisher, dan tulisan lainnya tergabung dalam beberapa buku solo dan puluhan buku antologi cerpen serta puisi.