Cerpen Luhur Satya Pambudi (Minggu Pagi No 43 Tahun 72 Minggu V Januari 2020)

Rumah Belakang ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Rumah Belakang ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

RUMAH yang berada persis di barat tempat tinggal saya mulai dirubuhkan bangunan aslinya. Sebuah jalan kecil yang cukup dilewati satu mobil belaka menjadi pemisah jarak antara kedua bangunan. Sesudah sekitar delapan tahun dibiarkan terbengkalai tanpa penghuni, baru beberapa hari lalu terlihat kembali aktivitas manusia di tempat tersebut. Rumah itu laku terjual belum lama ini dan pembelinya seorang pemilik hotel. Rencananya, bekas rumah itu akan menjadi tempat parkir hotel, yang lokasinya di sebelah selatan rumah saya, yang selama ini tidak memiliki halaman luas untuk menaruh kendaraan para tamu.

Hotel itu berada di kompleks perumahan yang jalannya tak terlalu lebar. Maka mobil-mobil yang diparkir di halaman hotel yang sempit kerap mengusik lalu lintas tetangga sekitar, terutama ketika pagi dan sore hari. Sejumlah insiden bahkan sempat terjadi, beruntung tak sampai berkepanjangan.

Sang penjual rumah, yang dahulu menjadi tetangga saya, kembali menyapa orang-orang yang sudah lama maupun baru dikenalnya. Lingkungan rumah kami telah banyak berubah warganya, terutama sejak gempa besar sekian tahun silam melanda kota. Berhubung sejumlah barang masih tertinggal di dalam rumah, ia menawari kami membelinya dengan harga relatif murah. Maklum, yang dijual semuanya barang bekas.

Maka ada tetangga saya yang lantas mempunyai lemari makan anyar. Yang lain memeroleh lemari pakaian, lantas ada pula yang kini memiliki meja belajar. Biarpun barang-barang tersebut sudah lawas, rata-rata masih cukup bagus kondisinya. Mungkin tinggal dibersihkan, sedikit diperbaiki, dan dipoles ulang, sudah laksana barang baru belaka. Saya sendiri tidak membeli apa-apa. Selain rumah saya sudah penuh barang, anggaran untuk membelinya memang tiada.

***

KETIKA menjelang pemilihan umum beberapa tahun silam, rumah itu pernah menjadi kantor sebuah partai politik anyar. Hal itu melegakan tetangga sekitar karena bakal ada tanda-tanda kehidupan lagi di situ. Sudah begitu lama kehampaan belaka membuat rumah itu pantas dihuni makhluk tak kasat mata. Sejumlah tetangga bahkan tanpa ragu menyebutnya sebagai rumah angker. Memang kenyataannya pernah ada yang melihat penampakan makhluk gaib atau mendapat gangguan  ketika melewati rumah itu kala malam gelap dan sepi.

Misalnya, ada tukang bakso yang pernah merasa mendapat pesanan dua mangkok bakso dari penghuni rumah itu, padahal sebenarnya di situ kosong belaka tanpa sesiapa. Ada pula tetangga yang saat lewat depan rumah pada malam sepi seperti dipanggil namanya. Beruntunglah saya yang tak perlu merasakan berbagai kejadian mistis sebagaimana mereka.

Namun asa kami percuma saja. Ternyata kantor partai politik itu fiktif belaka. Nyaris tak terlihat kegiatan apa pun, kecuali pernah suatu ketika rumah kosong tersebut dipasangi atribut parpol oleh sejumlah orang dari rukun tetangga sebelah. Rupanya ada seorang perempuan yang masih satu rukun warga dengan kami menjadi calon legislatif dari sebuah parpol baru. Ia yang sebenarnya dipercaya pemilik rumah untuk menjaganya, sejenak waktu meminjamnya, dan pura-pura menjadikannya kantor parpol. Tentunya demi memenuhi persyaratan dari Komisi Pemilihan Umum.

Anehnya, partai politiknya sempat berganti nama. Kedua nama parpol baru itu belum pernah saya dengar sebelumnya. Entah bagaimana caranya hingga bisa demikian kejadiannya. Saya tak paham dan tak ingin tahu. Dunia politik bukanlah hal yang menarik bagi saya, mungkin lantaran terlalu banyak intrik dan permainan tak jujur di sana. Yang akhirnya kerap tertampak di kantor itu justru sang calon legislatif dan seorang laki-laki -yang kami tahu bukan suaminya, bercengkrama berdua belaka. Entah mereka melakukan apa di situ, mungkin saja sedang menjalani rapat internal partai, tentunya bukan menjadi urusan kami, dan biarkan hal itu menjadi privasi mereka sendiri. Tapi, sekiranya ada tetangga yang mau sekadar bergunjing atau bahkan akan mengambil sikap tertentu terhadap mereka, silakan saja. Saya tidak mau turut serta.

***

SEKITAR tiga puluh tahun lalu, rumah tersebut dihuni sebuah keluarga yang seluruh anak laki-lakinya berjumlah lima orang dan pernah menjadi teman sepermainan saya. Ada yang lebih tua, ada pula yang lebih muda ketimbang saya. Kami senantiasa bisa bermain bersama dan memiliki beragam wujud permainan kala masih bocah. Keakraban di antara kami terjalin apik semasa itu. Bocah-bocah bisa bermain dari satu rumah ke rumah yang lain dengan begitu nyaman.

Biasanya di rumah saya, kami membaca buku-buku koleksi saya dan kakak perempuan saya. Ada novel anak-anak karya Enid Blyton, komik Tintin, komik Superman, buku pengetahuan bergambar, dan banyak judul buku lainnya, sampai majalah anak-anak yang dahulu terkenal. Banyak pengetahuan telah kami dapatkan dengan membaca beragam buku sedari kami kecil dahulu.

Nah, di halaman rumah belakang itu kami malah pernah pura-pura berkemah ketika liburan sekolah tiba. Kami mendirikan sebuah tenda, lalu selama hari masih terang, kami keluar masuk tenda itu. Di antara kami, ada bocah laki-laki maupun perempuan. Anak-anak perempuan lalu memasak di luar tenda, yang laki-laki sebatas membantu. Kami pun lantas makan bersama dengan lauk pauk seadanya hasil karya sendiri. Mungkin rasanya tidak lezat, tapi kami mampu menikmatinya belaka. Kami membayangkan benar-benar tengah berkemah di tempat yang jauh, tidak sedang berada di halaman sebuah rumah. Ketika petang datang, saya dan teman-teman pulang, sementara anak-anak yang tinggal di situ berencana bermalam di dalam tenda. Ah, menyenangkan jua rasanya mengenang masa bocah kami dahulu. Sayangnya, semua teman sepermainan saya kemudian berpindah rumah satu demi satu mengikuti orangtuanya dan tidak menjadi tetangga saya lagi. Sudah lama sekali kami tidak menjalin komunikasi, entahlah kabar mereka saat ini.

***

RUMAH belakang itu pun kini tinggal kurang dari separuh bangunan aslinya dan menyisakan sepercik kenangan masa silam. Barangkali sebentar lagi rumah itu malah diratakan dengan tanah sepenuhnya. Tatkala menyaksikan para tukang merubuhkannya, saya sekadar membatin bahwa betapa mudahnya kita menghancurkan sesuatu, padahal ketika membangunnya tempo hari pasti dengan susah payah. Memang tidak akan ada pembaharuan jika tidak terjadi perusakan terlebih dahulu. Demikianlah yang dikatakan Batara Guru, sang pemimpin dewa dalam komik wayang yang pernah saya baca. n

 

Luhur Satya Pambudi: lahir di Jakarta, tinggal di Yogyakarta.