Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 29 Januari 2020)

 

Sepuluh tahun lalu, di tahun pertama menulis, saya menggarap buku biografi atas alasan yang sangat emosional: mengagumi sang tokoh. Saya lupa, orang-orang yang bersikait dengan hidupnya belum tentu layak dihormati alias tak seharusnya saya temui—termasuk orang kaya yang satu itu.

***

Ini janji kesekian yang saya harapkan bisa si narasumber tepati. Sebenarnya saya diberi klien daftar berisi 20 narasumber dan saya hanya “wajib” memilih separuhnya saja untuk diwawancarai. Dan saya sudah melupakan sosok ini kalau saja, ketika saya berada di Bandung, ia tidak mengontak saya dan mengatakan siap diwawancara Ahad ini.

Baiklah saya pikir, saya harus menghormati usahanya menghubungi saya duluan. Siapa tahu ia merasa bersalah sebab sudah membatalkan sejumlah janjinya dengan saya selama ini.

Ya, atas sinyal baik itulah saya menyimpulkan bahwa tugas ini akan segera bisa saya rampungkan, apalagi ketika ia membalas WhatsApp pagi itu dan menyatakan bakda Magrib siap diwawancarai.

Catatan Benny Arnas-9
Di Pakistan, saya bertemu dengan anakan kambing atau domba yang besar sekali yang linglung. Entah bagaimana, tiba-tiba saya teringat orang kaya yang mabuk itu. 

Ia memberi alamatnya setelah bertanya apakah saya akan mengendarai mobil atau sepedamotor. Atas alasan kepraktisan dan menyadari kalau mobil saya belum dicuci, saya pun menjawab “sepeda motor”. Dari pertanyannya saya menyimpulkan kalau akses ke rumahnya dapat ditempuh dari beberapa jalan dengan kelebaran berbeda.

Pukul 19.00, sebelum berangkat saya meneleponnya dan ia mengatakan lebih baik saya tiba di sana pukul 20.30 sebab ia sedang bermain bulutangkis. Saya mulai khawatir kalau janji yang ini pun akan bernasib seperti semula. Tapi okelah, saya berprasangka baik dulu. Saya kembali masuk rumah dan melanjutkan bermain dengan anak-anak. Ya, sungguh, bila tak menenggang janji dengan klien, saya tidak ingin meninggalkan keluarga malam ini sebab sudah beberapa pekan belakangan saya lebih banyak menghabiskan waktu di Palembang, Jakarta, Jogja, dan terakhir Bandung. Saya ingin “membayar utang waktu” malam ini–walau saya tahu itu takkan setimpal.

Baca juga: Neknang & Ikhlas – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 22 Januari 2020)

Singkat cerita, saya pun tiba di alamat yang disebutkan, tapi saya tak tahu rumahnya walaupun ia mengatakan kalau semua orang di sekitar alamat itu mengenalnya. Saya pun maklum dan menjadi tak enak hati sebab tidak mengetahui cara mencari tahu tokoh masyarakat seperti dia. Satu, dua, empat, tujuh orang saya tanya dan hasilnya sama. Mereka tak tahu di mana rumah klien saya itu. Jujur, saya pun heran sekaligus dongkol.

Saya pun mengirim WhatsApp tentang hasil pencarian itu, Saya tidak mau meneleponnya. Entah, saya malas saja. Tak lama, saya pun mendapat balasan. Ia telah memberi alamat yang keliru: alamat rumahnya yang lama. Tanpa selipan kata “maaf”, ia mengirim alamat rumah yang saat ini ia tempati.

Saya masih mencoba bersabar. Saya lajukan sepeda motor ke alamat yang berjarak sekitar 3 kilometer itu. Uh, untung saya mengendarai motor, jadi cukup simpel memutar-belokkan kendaraan.

Benarlah, di alamat baru tersebut, jalan menuju rumah sang klien memang cukup sempit sehingga tidak bisa dilalui mobil. Namun, semakin saya masuk ke dalam, jalan pun melebar. Dan saya mulai ‘ngeh’ dengan medan, sekaligus saya tahu jalan mana yang mesti saya ambil kalau mengendarai mobil di daerah ini nantinya.

Rumahnya memang mudah dikenali sebab termasuk rumah yang paling megah (di atas tanah 40×50 m), walaupun saya masih bertanya dengan seorang tukang ojek yang mangkal di persimpangan untuk memastikan kalau tebakan saya tak salah.

Usai memarkirkan sepeda motor di garasinya yang luas, seorang pemuda—yang saya taksir berusia—20 tahunan mengarahkan saya untuk masuk lewat pintu samping, bukan pintu depan.

Baca juga: Kita (Bukanlah) Hari Ini! – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 15 Januari 2020)

“Bapak sedang nonton,” ujarnya sembari menyilakan saya masuk. Saya pikir dia adalah orang yang bekerja di rumah megah tersebut.

Benar saja, di ruang tengah, klien saya sedang duduk di atas sofa santai sembari merokok.

“Kita nonton ini dulu,” katanya sembari menunjuk TV plasma 50 inci (atau lebih besar dari itu) yang menyiarkan Mata Najwa. Saya mengangguk kecil sebelum mengarahkan pandangan ke layar plasma. Lima belas menit kemudian, saya diajaknya ke beranda samping. Saya senang dia memilihkan tempat ngobrol yang kondusif. Di sana terdapat semacam pendopoan yang rindang oleh pohon-pohon belimbing dan mangga yang sedang berbuah dengan lebatnya.

Ia pun bercerita panjang lebar tentang pekarangannya yang asri, tanahnya yang luas, dan desain rumahnya yang sangat barat. Di sela-sela ceritanya, ia sempat menawari saya kopi atau teh dan saya jawab cukup air putih sembari melirik tumpukan air mineral kemasan dalam bentuk gelas di atas meja. Ya, saya ingin segera memulai sekaligus menuntaskan pekerjaan malam ini.

Baru saja saya membuka laptop (saya terbiasa mengetik langsung hal-hal penting yang disampaikan narasumber ketimbang merekamnya terlebih dahulu), hujan turun. Deras sekali. Beberapa menit kemudian, dengan santainya ia bilang, “Bagaimana kalau besok siang saja kita wawancaranya?”

Saya diam.

“Habis olahraga itu capek. Saya mau istirahat,” lanjutnya santai.

Saya harap apa yang baru saja saya dengar adalah igauannya saja.

“Motormu tinggal saja di sini. Biar sopir saya yang mengantarmu pulang. Siang esok sekalian kamu ambil. O ya rumahmu di mana?”

Baca juga: Kertas Kerja Omong Kosong – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 08 Januari 2020)

Saya refleks menyebut alamat saya dan dengan spontan juga ia mengatakan kalau itu terlalu jauh, seakan-akan hendak meralat tawarannya barusan.

Saya segera memasukkan laptop ke dalam tas. Saya akan menembus hujan. Selain karena tas saya tahan air, saya juga pantang bertahan ketika sudah diusir—walaupun dengan cara yang sangat halus. (Ia mungkin tak tahu kalau sehari-hari saya berurusan dengan metafora).

Sesampai di rumah, usai mengeringkan basan dengan handuk, saya ceritakan semua kepada istri, tentu dengan sedikit emosional. Ya, sedikit, sebab saya tahu kalau istri saya sepertinya sedang ngantuk. Saya berencana tidak akan mendatanginya lagi besok. “Lagipula,” kataku masih dalam nada emosi, “ia hanya 1 dari 10 narsum dalam daftar yang berisi 20 nama itu.”

“Anggap saja ini sebagai bagian ‘seru’-nya pekerjaan Ayah. Jangan Ayah merasa ‘sudah besar’ sehingga orang lain, tak diperkenankan berlagak ‘lebih besar’. Dia hanya tidak tahu siapa Ayah dan itu bukan masalah besar, bukan? Dia tidak ada dalam ‘lingkaran’ tulisan-tulisan Ayah yang belum seberapa itu. Sesederhana itu urusannya. Siapa tahu Tuhan sedang menguji Ayah.”

“Tapi besok kita akan ke Padang?”

“Kan petang!” balas istri.

Packing?”

“Kan cuma 2 hari. Biar Bunda yang urus.”

“Bila esok jadwal itu pun dibatalkannya?” Saya mencoba mengembalikan topik percakapan.

“Bunda pernah baca tulisan Ayah, di buku yang mana gitu,” jawabnya tenang, “hidup adalah hari ini, kemarin sudah lalu, dan esok belumlah tentu. Ingat kalau Ayah pernah nulis kalimat keren itu?”

Tiba-tiba saya melupakan kekesalan dan mencintainya habis-habisan. Bila ada yang meragui tentang kekuatan tak terduga istri yang baik, mungkin ia perlu menyimak cerita ini. *

 

Lubuklinggau, 28 Januari 2020