Cerpen Dadang Ari Murtono (Rakyat Sultra, 27 Januari 2020)

Yang Lebih Kuat dari Cinta adalah Waktu ilustrasi Istimewa
Yang Lebih Kuat dari Cinta adalah Waktu ilustrasi Istimewa

Untuk ulang tahunnya yang ke-44, Ning menginginkan sebuah pagi berwarna hijau. Ia melongokkan kepala keluar jendela. Lumut yang sabar merayap di permukaan batu dan tembok, rumput yang tumbuh tidak tergesa, mawar yang mekar perlahan-lahan, dan matahari yang merangkak lambat diseret ceracau burung-burung liar.

“Tapi itu semua terlalu cepat,” gumamnya serak. Dan lelaki bermisai tebal serta berambut cokelat itu mendekapnya dari belakang, mendaratkan lidahnya di tengkuk Ning.

“Yang tak pernah terlambat atau terlalu cepat adalah waktu. Dia selalu tepat, karena itu kita mengenal frasa tepat waktu,” kata lelaki itu.

Ning melenguh pendek. “Tapi aku tak mau kau pergi,” dengusnya.

Pada hari ulang tahunnya yang ke-44, Ning teringat suatu pagi pada hari ulang tahunnya yang ke-40, ketika ia terbangun dan menemukan suaminya tak ada di tempat tidur mereka. Ia tahu, suaminya sudah berangkat lari keliling kompleks perumahan, sesuatu yang rutin dikerjakan lelaki itu setiap pagi. Ia juga tahu, bagi suaminya, tak ada yang istimewa dengan hari itu. Tujuh belas tahun mereka hidup berbagi rumah dan tak sekali pun suaminya mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya, apalagi memberinya hadiah, menyediakan kue dengan lilin-lilin cantik, mempersembahkannya suatu hari di mana ia dibebaskan dari kewajiban memasak serta membersihkan rumah, atau kejutan lainnya. Maka pada pagi di hari ulang tahunnya yang ke-40 itu, ia bangkit dari tempat tidur dengan malas-malasan. Dingin pagi menyusup dari angin-angin jendela kamar, membuat kulit-kulitnya mengerut. Ia berjinjit ke kamar mandi. Lantai tertular dingin dari luar.

Selesai cuci muka, ia pergi ke warung di ujung gang untuk mendapatkan sayur-mayur, tempe, udang, dan bawang serta cabai yang akan ia masak hari ini. Ia tidak suka udang sebenarnya, karena kulitnya sensitif dan ia senantiasa gatal-gatal setiap kali menyantap udang. Namun, semalam suaminya sudah berpesan kepadanya ingin memakan udang goreng tepung. Dengan gemas bercampur sebal, ia bersihkan udang itu sesampainya di rumah. Bau amis udang membuatnya bersin dua kali. Ia baru menyadari bahwa pisau kecilnya tidak ada di tempat di mana seharusnya berada sewaktu ia hendak mengupas bawang dan memotong sayur serta tempe. Ia celingak-celinguk, seraya mengingat-ingat kapan terakhir kali ia menggunakan pisau itu dan kemudian meletakkannya. Ia yakin seyakin hari ini ia berulang tahun yang ke-40 jika pisau itu kemarin, setelah ia memasak, ia sisipkan di kayu yang dipakukan di tembok, tempat di mana pisau-pisau memang seharusnya berada.

Benar-benar hari yang buruk, pikir Ning. Di hari ketika ia seharusnya mendapat ucapan selamat dari suaminya, mendapat hadiah, dan kejutan serta perlakuan yang istimewa seiring bertambahnya usia, ia justru masih disibukkan urusan memasak dan kini ditambah lagi dengan pisau yang tak jelas di mana keberadaannya. Sebalnya bertambah-tambah. Minatnya memasak yang sedari awal memang sudah redup, lantas berubah kian redup. Ning sedikit membanting sayur-mayur yang diangkatnya. Lalu berujar sedikit keras, “Barang siapa yang menemukan pisau itu, kalau perempuan kuanggap saudari, kalau laki-laki biarlah menjadi suamiku.”

Kalimat itu jelas ia dapat dari khazanah dongeng-dongeng yang kerap ia dengar sewaktu Ning masih kecil. Dan adalah suatu kebetulan belaka bila dalam kedongkolannya pagi itu, kalimat itulah yang muncul di otaknya dan segera meluncur dari mulutnya. Namun, segera ia menyadari ada yang keliru. Buru-buru ia meralatnya. “Barang siapa yang menemukan pisau itu, kalau perempuan kuanggap saudari, kalau laki-laki biarlah menjadi selingkuhanku.”

Ning merasa dadanya sedikit lega setelah mengatakan kalimat tersebut. Ia menghirup napas dalam-dalam. Dadanya mengembang dan ia bersiap untuk meneruskan mencari pisau yang hilang tersebut. Namun, tepat pada saat itulah, ia melihat di depannya, dari udara kosong, tercipta gumpalan bening yang kian lama kian memadat. Dan enam setengah menit selanjutnya, gumpalan itu telah menjelma seorang lelaki bermisai tebal dengan rambut cokelat bergelombang.

“Aku mendengar perkataanmu,” kata lelaki itu. Suaranya seperti berasal dari lorong yang jauh, namun bening dan sedikit bergema.

Ning tugur dengan mulut melongo. Angin dingin berhembus, menggerakkan anak-anak rambutnya, namun biji-biji keringat terbit di keningnya yang halus dan lebar.

“Aku mendengar perkataanmu,” lelaki itu mengulang apa yang barusan ia katakan. Dan Ning tetap saja bergeming. Ia ingin menjawab, sebetulnya, namun otot-otot di sekitar mulutnya serasa sekaku tiang listrik. “Aku menemukan pisau yang kau cari dan aku membawakannya untukmu. Dan seperti yang kau lihat, aku laki-laki,” lelaki asing itu menambahkan.

Pada saat itulah, Ning yang masih berdiri terpaku mengerti alasan kenapa ia tidak dapat bergerak; bukan karena takut menyaksikan keganjilan yang terjadi di depannya, melainkan akibat denyar asing yang meledak-ledak di kedalaman dadanya atas keindahan paripurna yang terpampang di hadapannya, sebuah situasi yang dulu pernah ia rasakan di awal-awal perkenalan dengan suaminya, namun dengan intensitas dan kadar yang jauh lebih tinggi. Dengan terbata-bata, akhirnya Ning sanggup juga mengeluarkan kata-kata dari tenggorokannya. “Kau malaikat?”

Lelaki asing itu tersenyum. Ning merasa dunia di sekitarnya terang benderang.

“Aku jauh dari itu. Waktuku tak banyak dan aku menagih apa yang tadi kau janjikan,” ujar si lelaki. Ia mengenakan kemeja putih yang transparan sehingga otot-otot di perutnya terlihat menantang, begitu juga dengan dua area dadanya yang bidang dan kekar. Ning yang mendadak gagap benar-benar tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Dan lelaki itu, yang sepertinya memiliki semua syarat sebagai lelaki idaman, perlahan melangkahkan kaki mendekati Ning. Lelaki itu bertelanjang kaki, namun suara langkahnya terdengar jelas dan mantap. Ning mengira jantungnya berhenti berdebar sewaktu lelaki itu memeluknya, lantas membisikkan selamat ulang tahun di kuping kirinya.

“Suamimu tidak akan kembali sebelum tengah hari,” ujar lelaki itu. “Tenanglah.”

Apakah lelaki itu tidak tahu bahwa yang membikin Ning tidak tenang bukanlah kecemasan akan suaminya yang pulang, melainkan pesona si lelaki itu sendiri yang tak tertanggungkan?

“Aku membuat ia tertidur di bawah pohon kersen, di tanah kosong gang sebelah. Tak akan ada yang melihatnya, apalagi membangunkannya,” tambah lelaki itu.

Ning sadar pipinya memerah. Matanya terasa hangat. Dan tubuhnya seakan terbakar. Dengan halus namun pasti, tangan si lelaki mulai menyusup ke balik daster kembang-kembang yang dikenakan Ning. Tangan Ning bergerak menepis tangan si lelaki, seperti hendak menolak, namun tepisan itu lembut belaka dan mereka berdua mengerti apa yang selanjutnya akan terjadi.

Menjelang tengah hari, Ning tahu itulah hari terbaik yang pernah terjadi kepadanya. Namun, tak lama sebab lelaki itu kemudian berkata, “Aku harus pergi.”

Ning tak ingin lelaki itu pergi. Ia merajuk. Ia membalikkan punggungnya yang telanjang. “Kau jahat. Ini hari ulang tahunku. Seharusnya kau tak pergi secepat ini.”

Lelaki asing itu menciumnya dari belakang. “Aku tahu hari ini adalah hari ulang tahunmu.”

“Kapan kita bisa bertemu lagi?”

“Aku akan datang setiap kau berulang tahun, tapi hanya sampai sebelum tengah hari.”

“Kenapa begitu?”

“Sebab memang hanya itulah yang bisa aku lakukan.”

***

Untuk ulang tahunnya yang ke-44, Ning menginginkan sebuah pagi berwarna hijau dan waktu yang berjalan lambat. Suaminya, seperti tahun yang sudah-sudah, pergi lari keliling kompleks perumahan dan jatuh tertidur di suatu tempat atau bertemu kenalan lama yang mengajaknya ngobrol di sebuah kafe atau hal-hal semacam itu. Yang jelas, suaminya tidak akan pulang sebelum tengah hari. Dan lelaki asing yang bahkan tak pernah ia tahu namanya—dan selalu mengatakan tak memiliki nama itu—akan muncul dari gumpalan udara kosong, lantas memeluknya, mengucapkan selamat ulang tahun, menelanjanginya, dan segera mereka terlibat cinta bergelora yang tak pernah berumur lama.

Tapi tak ada yang lebih tepat waktu selain waktu itu sendiri.

“Aku harus pergi,” ujar si lelaki.

Ning memegang tangan si lelaki bermisai tebal dan berambut cokelat itu yang perlahan memudar sebelum kembali menjelma udara kosong. Ning tahu ia tak memiliki kuasa lebih, tak peduli sebesar apa cinta di antara mereka. Ning tahu yang lebih kuat dari cinta adalah waktu.

 

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), dan Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.