Cerpen Komala Sutha (Bangka Pos, 26 Januari 2020)

Mimpi Melahirkan ilustrasi Bangka Pos-1
Mimpi Melahirkan ilustrasi Bangka Pos

Rianti menghela nafas. Suara motor suaminya telah berlalu beberapa menit yang lalu. Begitu pula dengan suara anak-anaknya telah menghilang seiring detak jarum jam di atas tembok kamar tepat  di atas pintu.

“Ayo, kita pergi ke bidan!” semalam kakak perempuannya yang bernama Ana tampak khawatir.

Ah, semalam Rianti benar-benar mulas. Masih terasa sakit sekitar perutnya. Tiba-tiba tangannya meraba perutnya. Tak ada buncitan sedikit pun. Hanya lipatan perut layaknya perempuan-perempuan yang pernah melahirkan. Rianti mendesah. Ia memang  hamil, malah hampir melahirkan. Tapi dalam mimpi. Tiba-tiba, ia terus memikirkan mimpinya.

Pukul delapan lewat lima belas menit. Rianti baru beranjak. Keluar kamar, lalu menuju kamar mandi. Membuka pakaian yang membungkus kulitnya. Mandi. Segar. Bibirnya sedikit bersenandung. Mimpi melahirkan membuatnya riang.

Setelah menghabiskan sarapan—nasi goreng dengan taburan telur dadar dan sedikit kerupuk udang buatan suaminya—Rianti kembali ke kamarnya. Membaringkan tubuhnya. Ia kembali memikirkan mimpinya semalam. Baru kali pertama sepanjang hidupnya di atas dunia, bermimpi yang aneh. Hamil lalu mau melahirkan. Pernah ia mendengar, konon orang yang mimpi hamil atau melahirkan, akan mendapat  keberuntungan.

Rianti termasuk tipe wanita yang percaya pada mimpi. Waktu remaja, ia selalu mengaitkan mimpi malamnya dengan kehidupannya. Atau peristiwa-peristiwa baik yang sedang atau yang akan dilaluinya. Tak jarang, dicarinya informasi pada orang-orang yang dipercaya mengerti hal itu. Atau bisa menafsirkannya. Seperti pada ibunya. Malah sekali waktu dibelinya sebuah buka tafsir mimpi.

Hingga matahari semakin naik di atas, tapi Rianti tak merasakan panasnya. Ia masih dengan manis berbaring di atas tempat tidur. Lalu memikirkan mimpinya lagi. Mengapa seperti dalam kejadian sebenarnya? Ia benar-benar merasakan mulas yang luar biasa. Perutnya buncit halnya ibu-ibu hamil sembilan bulan. Dalam mimpinya, memang sembilan bulan. Rianti membayangkan kembali mimpinya. Hingga berkali-kali. Tapi tiba-iba ia sangat merasa senang ketika ingat lagi apa yang pernah didengarnya. Bahwa mimpi hamil atau melahirkan akan mendatangkan suatu keberuntungan pada si pemimpi.  Mungkinkah dirinya akan hamil dan melahirkan lagi? Rianti menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak, ia tak boleh hamil lagi. Apalagi melahirkan, batinnya berontak. Menentang keras. Sudah cukup   anaknya empat, keluar dari rahimnya. Masih terasa sakit di sekitar perut. Ah, ia tak mau membayangkan jika hal itu menjadi kenyataan. Melahirkan lagi? Dirasanya sudah cukup anaknya empat. Malah baginya, itu pun kelebihan. Kalau bertambah lagi, tentu hidupnya semakin repot. Keuangan pun tak mendukungnya.

Ketika anak ketiga dan keempat bahkan hanya suaminyalah yang tahu ia hamil. Saat melahirkan, para tetangga pun kaget melihat jemuran di depan teras rumahnya. Pakaian bayi. Disangkanya Rianti baru mengadopsi bayi.

Bunyi ketukan keras di pintu rumah mengagetkannya. Ia segera bangkit dari tempat tidur. Diburunya pintu depan. Bibirnya serta merta tersungging senang melihat siapa yang datang.

“Kebetulan kau datang!” Rianti dengan segera luncurkan dari bibirnya apa yang dialaminya semalam dalam mimpi.

“Kau akan dapat keberuntungan!” Dian dengan antusias menanggapi cerita sahabatnya dan langsung memberi semangat.

“Benarkah?” binar  mata Rianti. Yang dipikirkannya ternyata sama.

“Bisa kau jelaskan… kira-kira keberuntungan yang seperti bagaimana?” Rianti tak sabar. Ia tahu Dian termasuk wanita yang sama dengannya. Bahkan bisa dikatakan berlebihan. Dian sangat percaya tafsir mimpi.

“Keberuntungan itu beragam. Bisa rejeki yang datang tiba-tiba, kebahagiaan yang tak diduga, atau berproses…”

“Contoh!” seru Rianti cerewet. Bibirnya pun tersenyum.

“Suamimu naik pangkat!” Dian menahan senyumnya.

“Suamiku bukan pegawai yang memungkinkan bisa naik pangkat,” senyum Rianti menghilang. Ia jadi sedih ingat suaminya yang hanya pekerja serabutan padahal ijazahya sarjana ekonomi dan ketika kuliahnya terbilang mahasiswa yang cukup cerdas.

“Hemmm… mungkin… suamimu akan segera mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan,” Dian menyentuh lengan Rianti.

“Semoga saja,” Rianti beranjak mau mengambil air tapi Dian segera melarangnya karena tak akan lama-lama di rumah Rianti. Hanya menengok saja karena kangen sudah sebulan tak bersua.

“Mimpimu akan menjadi kenyataan!” Dian menepuk bahu Rianti.

“Suamiku dapat kerjaan yang bagus? Hidupku akan mapan? Atau…”

“Pokonya… keberuntungan yang membuat kalian bahagia. Kalaupun bukan suamimu, bisa saja kau sendiri yang mendapat keberuntungan.”

“Ah… apalah aku ini!” Rianti membuang muka. Merasa rendah diri akan banyak hal. Ia bukan anak kuliahan dulunya. Tak pernah memiliki pekerjaan hingga menikah dan memiliki  anak empat. Hanya di rumah saja mengurus rumah tangga dan mengatur keuangan yang serba kekurangan.

“Harus percaya diri!” Dian melepas tawa lalu pamit pulang.

Ponsel Rianti bergetar. Suaminya mengabarkan pulang sore. Kedua anaknya yang masih SD akan dijemput neneknya—ibu suaminya—langsung karena akan diajak mengunjungi saudara di tempat lain. Dimungkinkan menginap.

Anak Rianti empat. Yang sulung baru melepas SMU-nya. Sudah setengah tahun ikut suami kakaknya. Membuka toko roti dan butuh yang melayani pembeli. Anak keduanya sudah kelas delapan. Ia pulang ke pesantren karena mondok di sana. Setiap Sabtu sore baru pulang.

Entahlah, Rianti selalu merasa kekurangan dalam keuangan. Gaji suaminya selalu dirasa tak cukup. Tiba-tiba ia mengingat mimpinya lagi. Ia yakin, hidupnya akan mendapat keberuntungan.

Kakinya diseret ke kamar. Tubuhnya berbaring lagi. Tak ada kegiatan masak di dapur. Hingga pukul tiga sore, perutnya tak dirasa lapar. Ia pun tak berkeinginan pergi ke dapur. Suaminya belum tentu pulang sore seperti pesan pendeknya di ponsel. Mungkin saja selepas Magrib. Anak-anaknya jelas menginap. Jadi, tidak ada yang akan dilayaninya. Ia kembali membayangkan mimpinya. Kalau keberuntungan datang dari dirinya, ia pun bingung, keberuntungan seperti apa. Punya pekerjaan tak mungkin mengingat belum pernah kerja sekali pun. Tak mungkin lagi tiba-tiba ada yang menawarkan kerjaan. Bisnis? Rianti tak bisa bisnis. Karir? Warisan? Ah, lebih mustahil. Warisan dari orang tunya sudah jelas, rumah mungil yang sekarang ditempati. Warisan dari orang tua suaminya? Ketika mertua laki-laki meninggal, sebulan kemudian warisan dibagikan. Yang tersisa rumah yang ditempati mertua perempuan, tapi tak mungkin dibagikan. Karena anaknya bukan hanya satu dan kalaupun akan dibagikan, harus menunggunya dulu meninggal. Pikiran Rianti berubah ngaco.

Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan Rianti masih memikirkan mimpinya. Mimpi hamil dan mau melahirkan. Sudah sering bahkan tiap malam tidurnya dihiasi mimpi, tapi tak pernah mimpi yang sama. Tak pernah lagi mimpi melahirkan. Tapi justru mimpi yang satu itu yang terus mengganggu hari-harinya. Ia berharap datang suatu keberuntungan seperti apa yang pernah didengarnya dari orang-orang, dari sahabatnya Dian bahkan entah berapa buku penafsir mimpi yang telah dibeli dan dibacanya. Menyatakan hal yang sama. Akan memperoleh keberuntungan. Tapi setelah berbulan-bulan bahkan tepat setahun sejak mimpi itu, keberuntungan yang ditunggunya tak kunjung menghampirinya. Suaminya masih pekerja serabutan. Ia sendiri pun tak mendapat keberuntungan pribadi. Warisan atau sejenisnya.

Tubuh Rianti tak kurus walau tiap saat masih memikirkan mimpi itu. Ia semakin malas. Kerjanya hanya tiduran. Anak-anaknya yang SD pun lebih memilih tinggal dengan neneknya. Tapi Rianti tak peduli. Ia asyik sendiri dengan hayalannya. Menunggu mimpi. Mimpi yang tak pasti. Hingga pada suatu hari, ia nyaris berteriak kaget. Ketika tak percaya apa yang menimpa dirinya. Bukankah sejak 40 hari bayi bungsunya lahir, ia langsung pergi ke rumah sakit di ujung kota. Menjalani operasi tubektomi agar tak hamil lagi. Hamil dan melahirkan kegiatan yang berhubungan. Sama-sama membuatnya muak dan melelahkan. Ia yakin setelah menjalani operasi itu dirinya tak mungkin hamil lagi.

Rianti benar-benra histeris. Ia seperti mendapat musibah yang paling dahsyat. Sebuah alat pendeteksi kehamilan menyatakan dirinya positif hamil. Ia tak terima. Usianya menjelang tak produktif melahirkan tapi mengapa harus hamil lagi. Dokter yang dulu mengoprasinya tak becus? Rianti memaki-maki sendiri di dalam kamarnya. Ia lupa, ada yang lebih berkuasa dari semua itu. Manusia hanya bisa berusaha. Kehendak Tuhan tak bisa ditolak. Ya, Tuhan.  Tuhan yang selama ini ia hiraukan. Ia pun bahkan tak menyadari, kehamilan adalah suatu proses menuju keberuntungan. Tuhan pun sudah mempersiapkan rejeki untuk setiap anak yang mau lahir. Tanpa terkecuali. Banyak perempuan yang tak bisa hamil dan hanya mampu berangan-angan. Hanya bermimpi. Sebatas mimpi. Dan Rianti pun pernah bermimpi. Mimpi hamil dan mau melahirkan. Mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. ***

 

Katumbiri Sastra, 15 Fébruari 2019

Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam  koran dan majalah di antaranya Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Merapi, Denpasar Post, Lampung Post, Padang Ekspres, Malang Post, Bangka Pos, Analisa, Medan Pos, Kabar Cirebon, Tanjungpinang Pos, Tribun Kaltim, Radar Tasik, Kabar Priangan, Galura, Femina, Hadila, Potret, Majalah Anak Cerdas, Mayara, Sunda Urang, Warta Sunda, Beat Chord Music, Manglé, Sunda Midang, Kandaga, Metrans, Buletin Selasa, Redaksi Jabar Publisher, dan tulisan lainnya tergabung dalam beberapa buku solo dan puluhan buku antologi cerpen serta puisi.