Cerpen Bagus Sulistio (Radar Banyumas, 26 Januari 2020)

Mendoan untuk Tetangga ilustrasi Istimewa
Mendoan untuk Tetangga ilustrasi Istimewa

Hampir setiap hari Sri menghidangkan menu mendoan di meja makannya. Terkadang di musim tertentu ia kesulitan mencari tempe untuk bahan utama mendoan, perempuan ini tetap berusaha mencarinya hingga dapat. Baginya, mendoan adalah makanan pokok layaknya nasi.

Warto, suaminya Sri, tetap berlatih senantiasa setia melahap mendoan yang dihidangkan di meja makan. Ia selalu menepis rasa bosannya. Walaupun menu lauk yang silih berganti seperti sayur sop, oseng kangkung, semur jengkol dan lain-lain akan tetapi ada sepiring mendoan di pinggir lauk-lauk itu.

“Apakah kamu tidak bosan memasak mendoan terus?” keluh Warto.

“Mendoan itu makanan khas kita, Mas. Kita harus menjaganya.”

“Tapi menjaga itu tidak harus memasaknya setiap hari.”

Sri terdiam. Ia tidak melayani ocehan suaminya yang mulai bosan dengan mendoan. Dirinya menyadari bahwa tiga tahun memakan mendoan bukan waktu yang sebentar. Patut saja jika kali ini suaminya sedikit bosan dengan makanan khas daerah mereka.

Perempuan tersebut mencoba melupakan perkataan suaminya. Makan malamnya menyisakan tiga lembar mendoan dan ia menghilangkan rasa marah di benaknya. Tatkala Warto mengajak tidur, Sri tetap mengabulkan permintaan suaminya.

Paginya, Sri benar-benar lupa atas kejadian semalam. Kali ini memasak sayur terong. Dan ia kembali memasak mendoan untuk menemani sayur terong yang dimasak.

“Mendoan lagi, mendoan lagi. Kan semalam aku sudah bilang, kalau mendoan itu membosankan,” amarah Warto tersulut.

“Maaf Mas, Sri lupa. Karena sudah menjadi kebiasaan, sulit bagi Sri untuk melupakannya.”

“Ya sudah ini mendoan terserah kamu mau diapakan. Yang jelas aku tidak mau memakannya lagi.”

Pagi itu Warto berangkat bekerja tanpa sarapan. Mendoan hangat yang disajikan di atas meja makan tidak tersentuh sedikit pun oleh suaminya Sri. Bahkan sayur terong yang jarang hadir di atas meja makan menjadi sia-sia karena sosok mendoan. Akhirnya sayur terong dan mendoan masih sama-sama utuh sepiring penuh.

Sri menangis setelah melihat meja makan tidak terlihat kotor oleh nasi atau runtuhan lauk. Meja makan yang tertata rapi tetap rapi, tidak ada yang berubah. Dengan lauk lengkap bersama aromanya.

“Sia-sia sekali masakan aku ini,” ucap Sri sambil terisak-isak. Sudah lama sekali Sri tidak menangis. Air matanya kini turun kembali persis seperti saat acara sakral itu. Bedanya, acara pernikahan mereka dulu membuat Sri menangis terharu dan bahagia. Sedangkan tangisan kali ini karena sedih dan terluka.

Di tengah-tengah tangisan Sri, sekelebat pikiran aneh muncul. Pikiran tentang memberikan makan sisa ini kepada tetangganya. Sebenarnya bukan makanan sisa namanya, karena tidak tersedikit pun disentuh. Tapi rasa sayang akan mubazir, mau tidak mau Sri memberikannya kepada tetangganya. Kebetulan sekali tetangga Sri bukan berasal dari pulau yang sama dengannya. Ia berasal dari pulau seberang. Sudah barang tentu belum mengenal mendoan bahkan menyicipinya.

Sri bergegas ke dapur mengambil kantong kresek. Tiga lembar kertas minyak juga tak luput darinya. Dari ketiga lembar minyak tersebut, masing-masing mewadahi nasi, sayur terong dan mendoan. Semua Sri masukan ke dalam kantong plastik yang telah diambilnya.

Ia keluar dari rumah. Berjalan menuju rumah tetangganya. Tepat berada di depan rumahnya. Sri memilih memberikan kepadanya, sebab tetangganya seorang perjaka yang berasal dari pulau seberang. Khawatir akan sang perjaka kelaparan, maka Sri berikan makanan itu kepadanya.

Sesampai di depan rumah tetangganya, Sri mengetok pintu dan memberi salam. Cukup lama salamnya tidak dijawab. Namun setelah beberapa menit menunggu akhirnya pemuda itu keluar.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” ucap Jason, tetangga Sri. Pemuda berperawakan tinggi besar serta kulit gelap berdiri di hadapan Sri.

“Ini saya ada makanan untuk kamu. Ambillah dan makanlah!”

“Wah kebetulan sekali saya belum sarapan. Terima kasih Nona.”

Jason menerimanya dengan senang hati. Sebagai timbal balik atas kebaikan Sri, Jason menawarkannya mampir ke rumah untuk menyicipi beberapa kudapan. Akan tetapi Sri tidak mau dan memilih segera kembali ke rumah.

Hati Sri merasa senang. Masakannya tidak sia-sia walaupun tidak dimakan oleh suaminya. Nyatanya tetap ada yang mau menerima dan memakan masakannya. Tangisan Sri tidak berlanjut kembali dan terlupakan begitu saja.

Setelah satu jam peristiwa pemberian makanan tersebut, seseorang mengetuk pintu rumah Sri. Ia bergegas membukakan pintu untuk tamunya. Pintu pun terbuka, Jason berdiri di hadapan Sri.

“Maaf menganggu waktunya, Nona. Saya kesini hanya ingin mengucapkan terima kasih kembali. Masakan nona terasa nikmat. Apalagi makanan yang seperti gorengan. Saya suka sekali,” jelas Jason.

“Kamu suka? Baiklah, saya akan masak kembali untukmu siang nanti.”

“Puji Tuhan. Terima kasih banyak, Nona.”

Jason kembali ke rumah dengan perasaan bahagia. Hari ini ia tidak perlu masak atau membeli makanan. Ada seorang tetangga baik hati kepadanya. Memberikan makanan dengan suka rela.

Begitu juga dengan Sri. Ia sama bahagianya seperti Jason. Makanannya dipuji membuatnya terasa terbang melayang. Sudah sangat lama perempuan ini dipuji bahkan oleh suaminya sendiri. Patut saja kalau sekali pujian terasa senang bukan main.

Sri berusaha menepati janjinya. Tapi tidak ada sayur apa pun kecuali bahan-bahan untuk membuat mendoan. Terpaksa ia hanya bisa memasak mendoan untuk Jason. Dan ketika mendoan matang, ia langsung memberikan mendoan itu ke rumah Jason dengan wadah piring keramik.

Belum genap lima belas menit, Jason mengetuk pintu rumah Sri. Ia datang bermaksud mengucapkan terima kasih dan mengembalikan piring yang sudah bersih dari sisa-sisa mendoan. Hal itu membuat Sri senang dan berjanji akan membuatkan makan malam untuk Jason.

Saat malam tiba, Sri memasak mendoan dengan bahan-bahan yang tersisa. Ia tidak mau melanggar janjinya terhadap Jason. Ia juga lupa akan kewajibannya membuat makanan untuk Warto, suaminya sendiri.

“Ahh mungkin Mas Warto sudah makan di luar malam ini. Buat apa aku masak untuk dirinya. Lagipula ia sudah bosan dengan masakanku,” batin Sri.

Setelah mendoan matang dan siap diberikan kepada penggemarnya. Ia meletakkannya di atas piring. Kemudian Sri kembali mengunjungi rumah perjaka itu. Hanya butuh satu kali salam agar pintu terbuka. Nampaknya sang tuan rumah sudah menunggu kedatangannya.

“Masuklah dulu ke dalam, Nona. Saya tidak enak jika Nona selalu memberi tapi saya tidak.”

Kali ini Sri menerima tawaran dari Jason. Masuk ke dalam rumah perjaka itu. Memakan kudapan khas daerah asal Jason yang ia buat sendiri.

Selang beberapa menit, Warto pulang dari kerjanya. Belum sempat ia mengetuk pintu, betapa terkejutnya pria itu melihat sendal istrinya tidak ada di depan rumah. Tanpa sengaja Warto membalikkan badan dan melihat sandal Sri di depan rumah Jason.

Dengan amarah yang berkobar-kobar Warto berjalan cepat menuju rumah Jason. Tanpa ketukan atau salam, ia langsung saja membuka pintu rumah tetangganya dan masuk seenaknya. Sopan santun telah hilang dari jiwanya.

“Sri! Apa yang kamu lakukan di sini?!” ucap Warto ketika melihat Sri duduk berdua dengan Jason di meja makan. Belum sempat Sri menjelaskan atas kejadian ini, sebuah tamparan dari Warto menghantam pipi istrinya dengan keras. Dan membuat Sri hanya menangis tanpa mengeluarkan kata-kata.

Peristiwa tersebutlah yang melatarbelakangi mendoan tidak disajikan lagi di meja makan Warto dari Sri. Kini hanya ada surat perceraian dari pengadilan agama yang dikirim Sri untuk dirinya.

 

Bagus Sulistio, lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Berdomisili di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Karangsuci, Purwokerto. Saat ini ia masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto dan Komunitas Pembatas Buku Jakarta (KPBJ).