Cerpen Beni Setia (Kedaulatan Rakyat, 26 Januari 2020)

Mencari Kepastian ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyat (1)
Mencari Kepastian ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat

HARI kelahiran akan selalu ditandai dengan pesta, perayaan untuk suatu kehadiran, untuk suatu yang dihadirkan dan di-pagelar-kan–setelah hanya yang tumbuh dalam rahim, tanda percinta-an yang berkembang dari semangat kebersamaaan  Ayah dan Ibu, yang harus dimanifestasikan dengan aktualisasi menyayangi—terutama ketika janin terlahir. Tak heran kalau setiap ulang tahun harus dirayakan sebagai ekspresi mengada, sebagai aplikasi menyayangi dan kesepakatan untuk terus menyayangi antara dua manusai yang bersepakat dalam ikatan perkawinan. Tapi benarkah begitu?

AKU selalu percaya hal itu—lantas bangga dengan fakta aku lahir di awal tahun dan dirayakan orang sedunia, setidaknya yang mengikuti kalender Masehi. Tapi benarkah aku lahir awal tahun? Aku tak tahu! Kata orang aku hidup dipelihara orang—dipelihara pakde dan bude—, karena aku lahir dan kedua orang tuaku bertengkar. Oleh Ayah ñdengan emosi—kepala Ibu dipukul dengan  tongkat dan karenanya berdarah. Katanya—aku hanya mendengar cerita, banyak kali cerita itu diulangulang oleh banyak orang tapi aku tak ingin mendengarnya lagi dan cukup hanya sekali mendengar. Insiden itu, yang membuat Ibu dibawa ke RS, menyebabkan keluarga Ibu tidak mau terima dan melaporkan Ayah ke Polisi, yang menyebabkan Ayah ditangkap dan dimasukkan ke bui.

Ibu di RS—mungkin seminggu, dan karenanya aku dipelihara pakde dan bude—sejak aku lahir aku telah dilatih untuk minum susu bubuk dan katanya tidak sekalipun berkesempatan menyusu pada Ibu. Malah aku terkadang dititipkan menyusu pada tetangga, hingga aku memiliki saudara sepenyusuan dan yang tidak boleh dinikahi. Dan di luar itu, kemudian Ayah dan Ibu bercerai.

Hidup terpisah—Ibu bahkan memilih menjadi honorer di kantor L,  dan karenanya hampir tiap hari—kecuali Minggu—meninggalkan kakakku untuk bekerja di kantor.  Dan karenanya aku tak pernah benarbenar sempat mengenal Ibuku—Ayahku tidak berani main ke kampungku, karena ia setengah diawasi dan diincer oleh keluarga Ibu. Ia melupakan aku—meski selalu ingat aku, karenanya, katanya, belajar kebatinan, untuk berolah rasa dan sepuasnya menyayangi aku dari jauh. Beberapa tahun kemudian Ibuku menikah lagi, berhenti ngantor, dan punya anak lagi—sambil terpaksa melupakan aku,meski ia tetap mengingat aku dan menyayangi aku dalam tidak sempat mengaplikasikannya. Aku jadi orang lain, aku jadi anak orang lain—ia hanya menitipkan nama, sebuah manifestasi janji setia menyayangi sampai mati, dan itu—rasa cinta itu—dipahami Ayah meski mereka tidak mungkin memperbaiki hubungan yang telah retak dan menyangkut harga diri dari dua keluarga yang tak mau disalahkan dan tak boleh berinisiatif jadi pihak yang minta maaf. Ini tragedi—dan keasingan itu semakin jadi perpecahan ketika anak pakde, yang masih remaja, menambahi namaku dengan panggilan Jerry—katanya dari Jerry Lee Lewis, tapi aku merasa itu berasal dari Tom and Jerry, nama si tikus dan si kucing, yang di  sepanjang hidup bersaing. Celakanya aku lebih dikenali dengan nama asing itu, dan bukan Prasetyo, yang merupakan janji  (tak diucapkan), tentang cinta dan kesetiaan Ibu kepada Ayah.  Dan aku—pelan-pelan—jadi orang asing bagi mereka—bahkan bagi diri sendiri.

SATU kali aku bertanya, tentang administrasi pendaftaran kelahiran di Kantor Desa pada Ibu, dan dengan tegas Ibu bilang bahwa yang mengurus itu adalah ayah—dan itu pasti ada pada Ayah. Aku mengangguk—aku tahu, pada hari pertama tragedi itu, Ayah masuk penjara. Dan aku tahu aku tak didaftarkan Ayah ke Desa, dan karena aku tak akan dikenali sebagai data sah di Desa, dan karenanya aku tak tahu pasti kapan lahir: Tahun berapa, tanggal berapa, dan bahkan hari apa. Aku tah, aku tak mungkin punya akte kelahiran. Tapi apa itu perlu? Pelanpelan aku mengerti bahwa hari lahir yang di awal tahun itu hanya bohong, hanya identifikasi administrasi. (Pada gugatan hasil Pemilu, pada data administrasi bahwa banyak yang lahir pada awal tahun, kemudian dikatakan bahwa itu hanya penandaan bagi banyak orang yang tak tahu hari lahirnya tapi ada pada ancerancer lahir di bulan pertama sampai Juni, dan 1 Juli untuk ancer-ancer yang lahir antara Juli dengan Desember). Dan aku tahu, aku kini tak berhari lahir—tapi aku hidup, lahir, dan ada menggejala. Tapi tahun berapa? Tapi hari apa? Dan karenanya aku selalu iseng pindahpindah zodiak saat di Hari Minggu baca koran, yang memuat rubrik itu—memilih zodiak yang paling bagus.

Tapi aku mengerti:  aku ada tapi aku tak pernah lahir-bahkan punya kebersamaan, suatu ke-sepakatan untuk mengaktualisasi dan mengaplikasi kasih sayang dan kebersamaan dua orang kekasih. Ya! Dan karena itu, bila orang lain bahagia dan histeris dengan hari kelahiran mereka, aku malahan bersedih dan menangis—karena tidak pernah tahu kapan terlahir, dan mengapa harus merayakannya dengan pesta. Tapi apa aku akan dikutuk sebagai si yang tidak tahu tanggal kelahiran?

Dan aku—seiring usia makin tua—: mengerti, yang pasti itu adalah tanggal hari kematian, yang akan ditorehkan pada papan nisan—dan mungkin akan dirayakan oleh anak dan cucu. Tapi mungkin juga tidak, dan karena aku akan mati dan hilang secara gaib—seperti keberadaan yang nyaris seperti batu karena tanpa hari kelahiran yang pasti—tanpa tahun kelahiran—dan bahkan neptu kelahiran. Gila! ❑- o

 

Beni Setia, pengarang tinggal di Caruban.