Cerpen Damar I Manakku (Fajar, 26 Januari 2020)

Mantra Tubuh ilustrasi Fajar-1
Mantra Tubuh ilustrasi Fajar

“Lima puluh tahun akan datang, tubuhku menjadi tanah yang subur ditumbuhi bunga mawar disirami air mata, Pinta”

Pinta sedang berdialog panjang dengan Eyang Amin, usia semakin menggigit, tapi Eyang sangat percaya pada firasatnya, firasat kematian yang mampu ia ramal. Eyang percaya tafaqqurnya selama berpuluh tahun, kematian dapat dibaca juga ditunda.  Seringkali melihat Eyang berdoa pada petang hari, menengadah ke langit selepas azan magrib  berkumandang.

Di Kampung Parang Mata, semua mengenal Eyang Amin, laki tua yang mulai membungkuk, namun orang di sekitar tempat tinggalnya, sampai ke kota  mengenal  Eyang, lelaki dengan ramalan nubuatnya, juga ijabah doanya. Eyang menjadi perbincangan tetangga, bagaimana tidak, tiap hari ia kedatangan tamu dari berbagai daerah berharap mendapat berkah dan sentuhan tangan dingin Eyang. Pinta hidup bersama Eyang selama delapan belas tahun. Gadis dipinta oleh Eyang menemani sisa hidupnya.

Eyang masuk ke hutan Barugaya bertapa empat puluh hari, sebagai syarat penguatan ilmu kanuraga dan moksanya. Eyang harus menjumpai keheningan, bersendagurau dengan alam, kadang ia mendapati seekor burung mati diterkam induknya sendiri, suara nyaring serangga bersahutan berirama membuat malam makin hening, sampai ia pernah menemukan jasad seorang janda muda mati mengenaskan setelah dibunuh kekasih gelapnya.

Banyak cerita Eyang yang ia tuturkan padaku, waktu itu, Pinta  masih balita, baru saja lahir dari rahim seorang ibu, mungkin perempuan  pelacur, apa kesalahanku?, aku dibuang di sebuah tepian sungai dekat hutan Barugaya, suara tangis mengganggu pertapaan Eyang yang khusyuk di dalam gua, pikirannya buyar, pekikan suara tangis bayi membuat Eyang mulai mencari dari mana arah suara tangisku, lalu ia keluar dari pertapaan dan menemukanku di tepi sungai terbungkus daun pelepah pisang. Sungguh malang nasibku.

Eyang memberiku nama Pinta, telah lama kehilangan anak dan istrinya, perilaku dahulunya urakan membuat istrinya kabur dan menikah dengan lelaki lain, istrinya pindah ke kota bersama suami barunya, anak semata wayangnya diboyong ke kota. Eyang kehilangan harapan, rumah peninggalannya tak terjaga, ia menjadi lelaki linglung, perawakannya tak terawat, Eyang sering ke tepi sungai berteriak, lalu tertawa, berusaha mengubur kisahnya, berlari dari kenyataan yang ia derita.

***

Usia Eyang kini sudah menua, meski demikian, ia tetap menjadi pelayan bagi orang-orang yang meminta belas-kasih. Menjadi junub orang pintar dan peramal, memang tidaklah menjadi hal umum, hanya dimiliki orang pilihan, tingkat spiritual yang tinggi, dan banyak pantangan dalam hidup. Eyang menjadi manusia berkarisma, janggut lebat berwarna putih, rambut mayang penuh uban, dan aroma minyak wangi yang ia racik sendiri tercium pekat di dalam rumah, melihat mata Eyang dengan tatapan jengas, tiap kali kutatap dengan tajam, Eyang membalasnya dengan senyum yang mekar.

Malam makin dingin, desau angin menampar jendela yang terbuka di sudut selatan kamarku, malam ini tampak lebih sepi, hujan gerimis di luar membuat suasana lebih sunyi, oh iya, biasanya, Pinta diajak oleh Eyang untuk bercengkerama hingga subuh, Eyang tak berhenti memuji Allah. Saya dan Eyang duduk berhadapan, kami mulai berzikir hingga larut dalam gelombang nada Ilahiah, sampai mataku kantuk dan tidur dengan tubuh terlentang.

Menjelang subuh, Eyang membangunkanku dari tempat zikirku, suara di surau masjid mulai berbunyi, dalam tidur singkatku semalam, ada mimpi yang menghampiri. Kulihat Eyang dalam mimpiku, tak biasanya saya memimpikannya, saya penasaran dengan penanda ini.

“Eyang, semalaman kita bersama, tetapi mengapa Eyang hadir dalam mimpiku?” “ Itu sebuah petunjuk, Nak”. Eyang tersenyum. “Petunjuk apa Eyang? Saya belum memberitahu mimpiku.” “ Kau lihat tubuhku terlentang dan di sisiku ada bejana emas bukan?” “ Iya, kenapa Eyang tahu” “ Itu kelahiran sebuah firasat Nak” “Sebuah firasat?”. “ Iyya, aku masih dipercaya untuk hidup lima puluh tahun lagi, banyak yang masih membutuhkan kehadiranku. Doaku pada Allah adalah menahan kematianku”

Eyang begitu yakin tentang hal itu. Saya mulai menerka pernyataannya. Eyang menjelaskan tentang deraannya, ia pernah bersumpah ingin hidup lebih lama, mengabdi pada Allah, dan memilih jalan kekuatan Allah. Eyang makin berkarisma. Baginya kematian bisa ia persiapkan dengan baik, bahkan sampai ia gali sendiri kuburannya.

Usia sepertiku, memang masih perlu berkontemplasi, tapi mengapa Eyang begitu percaya diri, bahwa hidupnya akan panjang?. Tak takut mati. Eyang bercerita padaku, bahwa suatu waktu, akan kunikmati saat-saat teerakhirku dengan terlentang di dekat pintu rumah, menikmati desau angin yang akan menerbangkan ruhnya, menuju peristirahatan yang sempurna, tanpa ada rintih, di pundak kirinya ia lihat pintu neraka yang tertutup, dan di pundak kanannya pintu surga terbuka, memegang surat undangan Allah yang telah lama merindukan kekasihnya.

“Lima puluh tahun akan datang, akan menjadi tanah yang subur ditumbuhi bunga mawar yang disirami air mata anakku, Pinta.” Ucap Eyang.

Kata ini seperti mengandung makna, Eyang telah memberiku pelajaran tentang kebaikan yang dihamparkan, meski aneh. Berkat Eyang, banyak orang merasa hidup kembali, tapi Eyang tak pernah menganggap itu kemampuannya. Di hadapannya adalah sisa-sisa usia pembaktiannya.

Nilai ilahiah dalam dirinya telah merasukinya, saya pernah mendengar bahwa kekuatan ramalan kematian itu memang ada bagi pemilik firasat. Ilmu ini seringkali dianggap  sebagai kekuatan yang mustahil, tapi orang-orang sebelum Eyang telah menggunakan ilmu ini menjemput kematiannya dengan indah. Peristiraahatannya telah ia bangun sebelum ia kembali  dengan tenang.

 

Damar I Manakku nama pena dari Rahmat R. S.S. Lahir di Takalar, Sulawesi Selatan, 13 Agustus 1995. Pendiri Komunitas Sastra Berkata (Kosakata) Makassar dan mengasuh TBM Pakalawaki Pustaka Takalar. Alumni Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia. Telah menerbitkan beberapa buku puisi dan cerpen. Kumpulan puisi: “Pulanglah Daeng”, “Di Tubuh Puisiku, Ada Memeluk Kekasihnya” dan kumpulan cerpen: “Matinya Penyair di Tangan Almanak”, “Surat Kematian Cinta”.