Cerpen Dede Yetty Suminar (Pontianak Post, 26 Januari 2020)

Lampion Kecil dalam Tepekong ilustrasi Pontianak Post
Lampion Kecil dalam Tepekong ilustrasi Pontianak Post

“Mampirlah sesekali!”

Bisikan itu masih terngiang jelas seolah baru terjadi kemarin. Aroma samar apel yang tercium saat ia berjingkat agar bisa berbisik tepat ditelingaku, masih terasa hingga kini.

“Mampirlah! Bahkan saat kita sudah menua, jangan lupakan kota ini dan aku,”bisiknya lirih sebelum tubuhnya berbalik menjauh.

Bayangan tubuhnya masih lekat hingga kini. Bisa kuingat dengan jelas  raut kesedihan di wajahnya, sesaat menjelang keberangkatanku pindah ke sebuah kota kecil di ujung Sumatra.

***

Tubuh mungilnya memang tidak sebanding dengan tinggiku yang di atas rata-rata. Itu sebabnya ia sering memanggilku ‘Kung’, singkatan dari jangkung. Awalnya aku sempat protes, secara namaku begitu gagah ‘Arga Bharata Yudha’, eh …dia seenaknya memanggil ‘Kung’.

“Memangnya Kangkung,” protesku dulu. Dan dia hanya tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. Berani sumpah, itulah senyum tercantik yang pernah kulihat.

“Kamu tahu ndak, Kung, arti tulisan itu apa?” tanyamu di suatu siang saat kita duduk di undakan tangga sebuah tepekong tua dekat jalan masuk kota. Tanganmu menunjuk tulisan di depan toko kelontong  seberang jalan.

Aku hanya menggeleng. Bagiku, semua masih terasa asing. Saat itu baru dua bulan aku ikut ayah pindah ke kota ini. Sudah tak terhitung sejak kecil pindah-pindah kota mengikuti tugas ayah yang TNI. Namun, baru kali ini pindah ke sebuah kota yang begitu kental nuansa Tionghoa-nya, Singkawang.

“Memangnya kamu tahu?” tanyaku menantang.

“Nih, dengarkan Bu Guru Lini cerita, ya!” katanya dengan mimik lucu. Mata kecilnya semakin menyipit, dan mulutnya dikerucutkan. “Tulisan yang itu artinya selamat mendapatkan rezeki dan yang itu artinya kira-kira semoga hidup sehat dan bahagia,” urai Lini sambil menunjuk sebuah tulisan lagi pada pintu masuk bengkel motor tak jauh dari kami.

“Tahun Baru Imlek sebentar lagi tiba, dan buat kami-orang Tionghoa-Imlek adalah penanda datangnya musim semi, di mana harapan-harapan baik ikut bersemi.” Lini berhenti sejenak, senyum hangat mekar dibibirnya. Mungkin kebahagiaan tiba-tiba menghangat di hatinya. Sekali lagi aku dibuat terpana dengan senyum manisnya.

***

Kini aku di sini. Sebuah café yang nyaman di seberang tepekong tua tempat dulu kita bercerita. Bahkan undakan tangga tempat favorit kita masih jelas terlihat. Hanya saja kini nuansanya sudah berbeda. Warna merah dari lampion kecil meraja dari dalam tepekong hingga jalanan. Bahkan seluruh kota semarak dengan nuansa merah dan hiasan-hiasan menjelang Imlek. Entah aku yang salah menilai atau bagaimana, tapi rasanya sekarang suasana Tionghoa lebih kental dari saat terakhir kota ini kutinggalkan. Sepuluh tahun ternyata waktu yang cukup untuk sebuah perubahan besar.

Kuhirup nafas dalam-dalam. Kota yang begitu kurindukan, entah karena suasananya atau karena ada seseorang yang istimewa. Entahlah. Hanya dua tahun aku tinggal di kota ini, tetapi rasanya seperti sudah sejak lahir. Ingin kususuri setiap sudut kota, merasakan kembali aura magis-nya dan juga mengenang saat-saat bersamanya. Sahabat terbaikku sekaligus cinta pertamaku.

“Kung…! Kamu kah itu? Suara yang sangat kukenal memecah lamunanku. Tidak jauh dariku, gadis kecil berwajah oriental mendorong kursi roda mendekatiku. Wajahnya cantik, sangat mirip dengan wanita berkursi roda di depannya.

“Lini?” tanyaku. Wanita berkursi roda itu tersenyum, sangat cantik seperti senyum yang kuingat selama ini. Mengenakan dress putih gading yang sederhana, dia terlihat sangat dewasa namun sedikit rapuh.

“Kamu menepati janji, Kung. Terimakasih.” Matanya berbinar bahagia. Sungguh, jika tidak ingat ada di mana, tentu sudah kurengkuh dia. Ingin kuluahkan banyak hal yang bertahun-tahun kupendam.

“Apa kabar, Lini?” Hanya itu kata pertama yang mampu kukeluarkan. Dadaku bergemuruh dengan rasa yang telah kuanggap hilang. “Bertahun aku kehilangan jejakmu,” sambungku lagi.

Lini tersenyum.“Kenalkan dulu, Kung. Ini anakku, namanya  Ryu.”

Gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun itu mendatangi dan mencium tanganku. Kamu tahu nama lengkapnya? Aryu—yang kuambil dari singkatan namamu, Arga Bharata Yuda. Baru satu tahun kami kembali dari Taiwan.”

Lini membelai rambut panjang Aryu, dan memberi isyarat padanya untuk bermain sedikit menjauh dari kami.

“Apa yang terjadi padamu, Lini? Tanpa sadar mataku memandang kedua kakinya.

Lini tersenyum getir. “Aku kurang beruntung, Kung. Suamiku memperlakukanku tidak selayaknya, hingga aku menjadi seperti ini. ”Kepedihan jelas terpeta dan setitik air mata jatuh dari mata kecil Lini.

“Dua tahun sejak kepindahanmu, aku terpaksa menerima perjodohan itu. Seorang pria Taiwan yang berjanji akan memberi modal pada orangtuaku dan menyekolahkan kedua adikku hingga selesai. Dia berjanji membahagiakanku asal aku mau ikut ke negaranya. Namun kebahagiaan itu hanya ada dalam angan, Kung. Aku di sana seperti sapi perah, bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kamu tahu? Pria yang kusebut suamiku justru menyiksaku setiap hari.”

Lini terisak pelan, air mata kembali luruh di pipinya.

“Ya Tuhan! Jadi bagaimana kamu kembali, Lin?” tanyaku geram. Lini yang malang. Pantas kini dia terlihat begitu rapuh.

“Dia sumber kekuatanku.” Pandangannya mengarah pada gadis kecil yang sedang bermain ayunan dekat tanaman Bougenvile yang berbunga. Jika tidak ada Ryu, mungkin aku sudah putus asa. Aku berusaha kabur, lebih karena ingin menyelamatkan masa depannya,” ujarnya pelan. Dihelanya napas dalam, mungkin melepaskan beban yang begitu berat.

“Kamu sendiri bagaimana, Kung? Kamu terlihat begitu berwibawa kini.” Dalam dipandangnya kedua mataku.

Tidak tahan, kudekati dia. Kudorong kursi rodanya mendekati tepian pagar pembatas halaman café ini. Terlihat jelas tepekong tua tempat kami sering berbincang dulu, Sangat eksotis dengan balutan sinar matahari sore yang mulai temaram.

“Lin, kamu ingat saat kita berpisah dulu? Kamu bilang, mampirlah sesekali. Dan kamu tahu, begitu besar keinginanku untuk itu? Tapi ternyata waktu belum berpihak padaku. Bertahun di akademi militer, dan penempatan di Papua segera setelah lulus, membuatku harus menunda keinginan untuk mampir. Kamu tahu, ada yang ingin kusampaikan padamu.“

Kuputar kursi roda Lini, dan kini aku berlutut di depannya. Kupandangi wajah dan matanya yang menyorot tidak mengerti.

“Lin, aku mencintaimu. Kamu selalu ada di hatiku, dulu bahkan hingga kini. Mulanya aku ragu, apakah masih ada perasaan ini untukmu? Ataukah aku hanya terjebak dalam kenangan masa lalu hingga mengira masih mencintaimu? Entahlah. Namun tadi, saat melihatmu pertama kali, aku merasa jatuh cinta lagi. Aku merasa seperti remaja lagi.”

Kupandang kedua matanya dalam. Ingin sekali kugenggam tangannya, namun aku khawatir dengan pandangan Ryu. Tentu saja gadis kecil itu belum mengerti apa yang terjadi.

Lini menundukkan wajahnya. Dari sudut matanya kembali bulir bening jatuh perlahan. Dengan mata berkaca, akhirnya dia membalas pandanganku dengan sedih.

“Kenapa begitu terlambat, Kung? Dulu aku sangat menanti saat seperti ini. Saat kamu akan mengakui perasaanmu dan menjadikanku orang paling istimewa di hatimu. Bukan sebagai sahabat, tapi lebih dari itu. Bahkan dua tahun sejak kepindahanmu, aku masih berharap kamu akan menghubungiku. Setidaknya memberiku penguatan untuk menolak perjodohan itu. Tapi ternyata, takdir menuntunku pada kisah ini. Namun, di balik semua penderitaan yang kualami, Tuhan memberikan Ryu, mutiara terindah dalam hidupku.”

Lirih suara Lini mengurai panjang. Matanya masih menyiratkan kepedihan yang dalam.Namun, senyumnya mekar saat ia memandang putri yang disayanginya. Ryu melambai pada mamanya dan Lini membalasnya dengan penuh sayang.

Lini kembali mengarahkan pandangannya kepadaku.

“Kini aku tidak ingin menukar kebahagiaan ini dengan apapun. Bagiku Ryu adalah hidupku, mungkin baginya saat ini aku adalah hidupnya. Sudah cukup segala penderitaan yang kami alami selama ini. Belum genap setahun kami berdua memulai semuanya dari nol, menata hidup dan merasakan kebebasan yang mungkin orang lain tidak pahami. Aku belum siap untuk memulai lagi sesuatu yang bagiku masih abu-abu, bahkan jika itu datang darimu, Arga Bharata Yuda,” katanya dengan tegas.

Kali ini dia mengakhiri bicaranya dengan menyebut namaku secara lengkap. Khas Lini yang kukenal dulu. Selalu yakin dengan apa yang diinginkannya.

Kuhela nafasku dalam. Kuraih kursi roda Lini dan kudorong perlahan. Kami sama-sama diam, merasakan sepoi angin senja dan bias cahaya dari tepekong tua di seberang jalan. Kubiarkan Lini larut dengan pikirannya. Kurasa Lini juga memberikan kesempatan kepadaku untuk berpikir.

Kini senja sudah mulai gelap sempurna. Lampion-lampion merah di sepanjang jalan sudah menyala. Dan kami masih di sini, menikmati suasana menjelang Imlek yang sudah lama tidak kurasakan.

“Lin, maafkan aku yang baru bisa menyampaikan ini semua padamu malam ini. Entah mengapa, sepertinya takdir kita memang seperti itu. Aku dan kamu tentu saja tidak bisa memutar kembali waktu yang telah lewat. Kita yang kini, tentu saja ada karena kita yang dulu. Seperti katamu, setelah penderitaanmu, justru kamu memiliki Ryu yang menjadi bahagiamu saat ini. Aku sedih tapi juga bahagia malam ini. Aku sedih, seperti ada bagian hatiku yang dirampas paksa. Sepertinya aku sudah terbiasa hidup dengan kenangan tentangmu dan perasaan memilikimu. Sebaliknya aku bahagia, karena aku sudah memiliki kepastian. Aku harus menghormati keputusanmu dan merelakan semua itu pergi. Walaupun berat, hidupku harus berlanjut.”

Aku berhenti sejenak. Memberi waktu untuk Lini mencerna katakataku.

Lini membalikkan posisi kursi rodanya tepat menghadapku. Sulit baginya menyembunyikan gerimis yang mulai ritmis di kedua matanya.

“Maafkan aku, Kung. Ini juga berat buatku. Pengalaman hidup mengajarkanku untuk memilih. Dan aku memilih Ryu. Bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi aku yakin ini adalah yang terbaik untukku dan juga untukmu.”

Kini dia mengalihkan pandangannya pada gerombolan bunga Bougenville ungu yang cantik. “Kamu perwira yang gagah, Kung. Nikahilah wanita cantik yang bisa mendampingimu dan mendukung karirmu.”

Bicara Lini terhenti saat Ryu berlari menghampiri kami. “Om sama Mama sudah selesai ya bicaranya?” tanya Ryu dengan polos.

Aku hanya bisa mengangguk pada gadis kecil ini. Gadis kecil yang tanpa sadar membawa namaku didirinya. Gadis kecil yang dengan sigap mendorong Mamanya menjauh, setelah dengan takzim mencium tanganku.

Terenyuh hatiku melihatnya. Segera kuhapus air mata yang hampir jatuh sebelum ada yang menyadarinya.

***

Aku sudah menemuinya, Lana. Seperti katamu, aku masih mencintainya. Tapi, semua sudah berakhir malam ini. Hatiku memang sakit, seperti ada yang tercerabut pergi. Tapi aku lega setelah mengetahui keadaannya dan mendengar keputusannya. Kurasa aku siap untuk melanjutkan hidupku dan mulai membuka hatiku untuk wanita lain. Terimakasih untuk waktu dan kesabaranmu selama ini.

Kukirim pesan kepada Lana malam ini juga. Seseorang yang sudah dekat denganku lama. Seorang psikolog yang selalu ada untukku dan memberikan hatinya tanpa syarat untukku. Seseorang yang mengerti bahwa cinta tidak bisa dipaksakan dan memberikan peluang bagiku agar tidak ada kata menyesal. (*)