Cerpen Mhd Ikhsan Ritonga (Waspada, 26 Januari 2020)

Cerita Asmarandana ilustrasi Denny Adil - Waspada (1)
Cerita Asmarandana ilustrasi Denny Adil/Waspada

Malam bersenandung dan merapalkan kenangan yang mati dalam setiap pertemuan. Pertemuan yang kita rindukan. Di antara hujan yang mengguyur bumi kita menjadi secarik kopi yang menghangatkan tubuh. Bayu berhembus dan kita mengikuti arahnya. Hingga akhirnya kita berada pada jarak yang membentang jauh.

Aku menelusuri jalanan yang menjadi saksi pertemuan kita di kota ini. Tidak jarang di kala rembulan datang dan bersinar dengan keikhlasan. Aku haturkan doa kepada sang Khalik tentang kita yang kini jauh tanpa arah. Aku masih memandang rembulan malam ini dan menatap segala kenangan yang akan mati. Secarik kopi menemani. Aku termenung, tiba-tiba ada tangan yang menjamah pundakku. Aku menoleh ke arah belakang. Sontak aku kaget kehadiran ibu yang tiba-tiba.

“Ibu! Membuatku khawatir saja.”

Ibu tersenyum melihatku yang sedang duduk sendiri saat itu. “Kenapa Luhut? Kau sedang memikirkan apa? Ayoklah cerita sama ibu, tak biasanya anak ibu seperti ini.”  Menghela napas panjang. Kutatap wajah ibu sembari kumemegang erat kedua tangannya.

“Tidak apa-apa bu, hanya masalah hati saja.”

Ibu memandangku sambil melempar senyum.Tanpa sepatah kata ibu pun meninggalkanku dan membiarkan aku sendiri. Aku paham maksud ibu. Biarlah aku menangkan hati terlebih dulu. Dalam perjalanan kisah yang begitu rumit. Aku masih menjadi sebuah kesunyian diantara rintik hujan dan cahaya rembulan malam ini.

Ranjang adalah satu-satunya tempat istirahat malam ini. Kurebahkan badan diantara kesepian dan kerinduan. Aku masih menatap cahaya rembulan dan wajahmu terbayang bersamanya. Harapku esok semua baik-baik saja.

Mentari menyambut pagi. Aku menikmatinya seperti membaca puisi, penuh dengan diksi, rima dan majas yang menggambarkan jati diri. Jalanan aku susuri menuju kantor kerja. Menjadi seorang redaktur rubrik Sastra di harian waspada menjadi sebuah tantangan dalam hidupku. Perjalanan sepuluh menit menuju tempat kerja. Disini aku sering merapalkan cerita. Di ruang tamu bu Ayu sudah menunggu. Dia menyambutku dengan senyuman yang begitu manis.

“Luhut, lama sekali kau datang.”

“Ah bu Ayu, tak begitu lama kok, biasa ada sedikit kendala tadi diperjalanan. “Oh iya, bagaimana kau dengan si Romaito itu?” Tampaknya kau murung aja belakangan ini.” Tanya bu Ayu.

Kutinggalkan serangkum pertanyaan bu Ayu dengan senyum merona. Kuberalih pergi ke ruangan kerja, untuk mengedit beberapa naskah yang masuk. Naskah sastra yang masuk hari ini begitu banyak, aku bingung memilih yang mana untuk diterbitkan minggu ini. Kubaca satu persatu tapi masih saja belum ada yang sesuai kategori yang akan diterbitkan. Suara telepon berbunyi, segera aku mengangkatnya.

“Ia, dengan siapa?”

“Ini, bu Ayu Luhut, cek emailmu lagi, ada naskah cerpen baru yang masuk, mana tahu cocok untuk rubrik cemerlang minggu ini.” Ucap bu Ayu.

Tanpa pikir panjang aku langsung cek email yang dimaksud bu Ayu. Setelah kubuka email tersebut. Nama Romaito menjadi alamat emailnya. Nama Romaito kembali menjelma dalam pikiranku. Pada tapak jalan yang retak nama itu kembali menyatukan jalanan itu seperti semula. Kubaca cerpen yang dikirim oleh orang tersebut, cerpennya begitu menarik dengan gaya bahasa yang memikat dan mudah di pahami pembaca. Dan yang paling aneh kisah yang diceritakan di cerpen itu seperti kisahku dengan Romaito.

Suara azan berkumandang, aku bergegas meninggalkan ruangan. Semoga saja ketenangan segera datang setelahnya. Dalam cerita asmarandana entah siapa yang akan aku salahkan, atau sama sekali bukan. Kisah kita seperti khayalan. Setelah kepergianmu yang tak pernah ada kabar.

Seusai shalat aku duduk di teras masjid. Berucapkan syukur tentang segala nestapa. Cerita asmarandana kini menjadi luka. Aku menjadi kenangan yang saat ini jauh. Aku termenung merangkai kata merapalkan cinta. Jam kerja telah usai aku putuskan untuk pergi menyaksikan gedung jam lima sore di lapangan merdeka.

Di lapangan merdeka aku berharap menemukan sebuah kenangan yang sempat pergi. Merangkai kata dan menikmati segala cerita yang berada di depan mata. Betapa mereka bahagia. Sepertinya mereka bahagia dalam memerdekakan rasa. Merangkai setiap untaian sajak yang begitu mesra. Mereka mengibaratkannya seperti puisi dengan kata-kata yang dirangkai dengan rasa. Cahaya senja mulai menyapa. Gedung-gedung berwarna merah dan menunjukkan bayang yang begitu indah. Bayangan itu adalah cinta yang menggengam rasa membuai setiap mata yang memandangnya menjadi sebuah cerita yang amat indah.

Sore itu aku berhasil mendapatkannya. Dari kejauhan seorang laki-laki berlari menuju kearahku. Tubuhnya kecil berambut keriting. Perlahan tubuh itu mendekat dan memperlihatkan wujudnya. Sontak aku kaget. Itu adalah Tua.

“Kenapa Tua? Kau lari seperti di kejar setan saja.”

“Luhut, kau harus dengar ceritaku ini.” Ucap Tua sambil menghela napas.

Aku menunggu sebuah kabar gembira keluar dari lisannya. Tak seperti biasanya Tua seperti ini. Dia menatapku sembari menebar aroma yang tak sedap. Tua melanjutkan kata-katanya.

“Luhut, aku lihat Romaito udah kembali kerumahnya. Keluarganya juga ikut!” Ucap Tua dengan nada tinggi.

“Tenanglah Tua! Tak mungkin Romaito kembali lagi ke Medan ini. Kau jangan mengada-ngada.”

“Kalau kau tak percaya Luhut ikuti aku sekarang, kita sama-sama pergi kesana.”

Tua pun menarikku dan memaksuku pergi ke rumah Romaito. Dengan sigap dia tancap gas dari Lapangan Merdeka. Kira-kira lima belas menit perjalanan kami sampai di gerbang rumahnya Romaito. Benar apa yang dikatakan Tua tentang kepulangan Romaito. Aku menatap wajah Tua dengan penuh kegembiraan. Dalam dekapan samudera aku adalah cakrawala yang bebas dari kenangan. Tua memperhatikan tingkahku saat itu. Tampaknya dia merasa aneh.

Mataku liar, mencari batang hidung Romaito. Bayu terus berhembus dan nelaksa hadir dalam setiap langkah dan pandanganku saat itu. Jalanan adalah sebuah kesunyian yang mampu menghadirkan kasih sayang. Dalam sajak-sajak asmarandana aku melihat Romaito hadir dengan cerita yang sama.

Masih terus liar, mencari mata di antara bilik. Aku merasakan rindu semakin dekat. Dan kami ingin sama-sama mendekap. Tua masih menungguku dan dia hanya mampu memperhatikan tingkah anehku. Sudah tiga puluh menit kami disini, namun wajah Romaito juga belum muncul.

“Luhut, ayoklah kita pulang saja. Nanti Romaito juga akan mencarimu.”

Setelah penantian dan hari pertama ingin bersua tidak ada kabar jua yang kudapatkan. Kami meninggalkan rumah Romaito dengan harapan. Hari-hari yang diharapkan indah kini hanya menjadi kenang. Sebab dia tak jua mampu mengobati rindu yang larut dalam kesedihan. Di perjalanan pulang Tua terus menghiburku. Tapi semuanya terasa hampa dan hanya ada air mata yang menyayat luka.

Tiga hari setelah aku datang kerumah Romaito. Tanda-tanda kehadirannya belum aku dapatkan. Hanya ada kesunyian berbalut kenang. Sore itu senja kembali hadir dengan membiaskan cahaya yang begitu indah. Ilalang menari dengan penuh harap bayu menghembuskan lukanya.

“Luhut ini ada undangan.” Panggil ibu dari depan rumah.

Penasaran dengan undangan yang tiba-tiba mendarat di rumah. Kuterima undangan itu. Nama yang begitu sukar aku sebutkan tertera di pojok kanan undangan.

“Mulak Tondi Tu Badan” (Kembali Jiwa Kepada Raga)

Kata-kata penenang jiwa menjadi kata pembuka. Undangan pernikahan Romaito Batubara dengan Porkot Ritonga. Sejenak aku memejamkan mata betapa rindu menyayat luka. Kalau tidak salah Porkot adalah anak namboru dari Romaito. Pesta pernikahan mereka akan dilaksanakan di rumah persatuan Marga Angkola tepatnya pada hari Minggu 03 November 2019. Aku menatap langit yang tak sebiru biasanya. Membiaskan kenang yang sukar untuk kembali seperti biasa. Aku dan dia menjadi sebuah lara yang terpisah begitu saja.

Hari pernikahan itu tiba. Aku melihat senyum dari wajah Romaito menunjukkan bahagia. Dalam nestapa yang sempat sukar aku kini adalah daun-daun yang gugur dengan sendirinya. Tak sempat sepatah kata terucap untuk menunjukkan kecewa. Sukma adalah bagian dari cinta yang harus dijaga.

“Luhut, kau tabah dengan semua ini?” Tanya Tua di pesta itu.

“Tua, biarlah kita seperti hujan bulan juni dalam puisi eyang sapardi.”

Tua diam, dan melanjutkan aktivitas makannya. Mataku dan mata Romaito bertemu di satu titik yang sama. Ingin rasanya mengungkapkan rasa yang amat dalam, tapi jarak menjadi pemisah. Aku mendekatinya, sembari membawa selembar kertas dengan harapan ini adalah kata terakhir untuk sebuah pertemuan yang amat sukar.

Aku memandangnya. Mata kami kembali bertemu. Hanya ada diam. Pembicaraan ada pada bola mata. Kuperhatikan dua bola matanya yang berlinang mengisyaratkan rindu. Dalm dua hati ada satu kesedihan yang sama. Pertemuan itu tak bermakna apa-apa. Hanya ada kenang yang mengucap pilu.

Cerita asmaranda seperti kenang pancaroba. Berisyarat dan bertutur hanya mampu dengan air mata. Romaito masih memandangiku. Tak ada sepatah kata yang aku ucapkan padanya. Pembicaraan dua pasang bola mata masih berlanjut. Aku pergi dan meninggalkan puisiku yang telah menjadi milik yang lain. Walau itu merupakan adat dan tuntunan dengan anak namborunya.

Cerita Asmarandana

Begitu aku mengenang luka

Sebab dikau berpaling menghapus segala metafora

Dalam sajak-sajak bermula

Hanya ada doa dan pinta tentang juang di tanah kita

Bagas godang Angkola, begitu aku sebut tempat menyucikan cinta

Sebab cerita asmarandana amat sukar untuk pergi begitu saja

Romaito

 

Mhd Ikhsan Ritonga. Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia Unimed, bergiat di LP2IM Unimed dan FLP Medan.