Cerpen Afri Meldam (Padang Ekspres, 26 Januari 2020)

Burung Kalimbang Hujan ilustrasi Orta (1)
Burung Kalimbang Hujan ilustrasi Orta/Padang Ekspres

“ANJING!”

Karanih membuka mata perlahan, menyingkap pandang dari balik dinding anyaman bambu. Pohon-pohon kuyup. Embun masih menyungkup bukit. Belum ada matahari. Ia pun kembali menarik kain sarung, menyungkupi tubuhnya.

“Dasar anjing!” Kembali terdengar suara itu memasuki celah telinganya. Meski lamatlamat, Karanih hapal betul pemilik serapah itu. Dan ia juga tahu kepada siapa serapah itu dialamatkan.

“Anjiing!”

Karanih tak tahan lagi. Ia bangkit, lalu dengan tergesa menuju pintu. Laki-laki gaek itu dilihatnya tengah memandikan anjingnya di sungai. Jelas sekali raut kesal di wajah hitam yang tak pernah tersenyum itu.

“Saya letih. Saya ingin istirahat dulu sebentar. Bapak pergi saja dulu. Nanti saya susul!”

Laki-laki itu memandangnya sejenak. Karanih menutup pintu dan kembali tidur.

***

Puncak Batu Tanggo tampak menjulang di hadapannya. Bukit terjal penuh bebatuan tajam.  Tak ada jalan lain. Mereka harus menarik kayu-kayu balok itu ke atas bukit, lalu melintas ke arah hilir untuk kemudian turun di sebuah celah karang yang cukup lapang. Dari sana, mereka akan turun bergantian, bergelayutan pada akar-akar pohon yang mencuat dari balik bebatuan bukit, dan dengan hati-hati menuruni tebing ngarai hingga mencapai sebuah batu landai yang mereka pakai sebagai pijakan. Sebagian dari mereka akan menunggu di bawah, sementara yang lain akan meluncurkan balok-balok kayu itu ke lembah ngarai.

Meski sudah memakai sepatu gambighgambigh—sepatu karet murahan, yang anehnya sangat tahan dibawa ke mana saja, Karanih masih merasakan bebatuan ngarai itu menusuk-nusuk telapak kakinya. Mungkin benar kata Juman, ia memang tak seharusnya berada di sana, menjadi buruh pengangkut kayu seperti orang-orang kampung kebanyakan. “Kulitmu bukan kulit pengangkut kayu seperti kami. Kau harusnya menggenggam pena, pergi ke Padang atau ke Jawa sekalian, belajar dan menjadi orang besar!”

Sekalipun ia tak bisa mengingat hari-hari yang sempat ia lalui bersama mendiang ayahnya, ia yakin beliau pasti juga menginginkan hal yang sama. Karanih seharusnya melanjutkan sekolah ke kota, belajar sampai menjadi sarjana, lalu menjadi orang yang bekerja dengan mengandalkan isi kepala, bukan liat otot seperti sekarang.

Tapi, apa mau dikata. Ayahnya meninggal saat ia masih bayi merah. Bukan karena penyakit, tapi karena renta usia, begitu ia sering mendengar orang-orang berkata. Datuk Syamsudin, ayahnya, diberkahi umur yang cukup panjang untuk ukuran orang-orang kampung: delapan puluh sembilan tahun. Dan, menjelang hari kematiannya (ia ditemukan tertidur pulas di pondok tempat ia biasa menunggui anak buahnya menimbang potongan-potongan getah karet) tak sekalipun terdengar kabar bahwa ia pernah mengalami sakit yang serius. Ia selalu terlihat segar bugar, dan bahkan masih dengan rajin mengunjungi ketiga istrinya di tiga kampung yang berbeda.

Dan, dari ibunya, ia juga mendengar bahwa sehari sebelum ia berpulang, ayahnya menginap di rumah mereka di tanjung. “Padahal seharusnya malam itu ia menginap di rumah Uni Halimah. Tapi, ia memilih datang ke sini. Ia menimangmu malam itu sampai kau tertidur,” cerita ibunya.

Satu hal yang terus menjadi penyesalan mereka semua sampai bertahun-tahun kemudian adalah tak seorang pun dari anak istri serta cucu-cucu yang berpikir bahwa maut akan datang dengan cara demikian lembut kepada alhamarhum, sehingga tak terbersit sekali pun mengurus atau menanyakan kedudukan harta benda milik Datuk Syamsudin, yang hampir semuanya berada di tanah keluarga ayahnya. Dan, itulah yang kemudian terjadi. Saudara ayahnya mengklaim semua peninggalan Datuk Syamsudin menjadi milik mereka, kecuali harta yang dibawa ke rumah istrinya masing-masing.

Untung saja, beberapa perhiasan yang dihadiahkan Angku bisa menjadi penopang hidup mereka hingga kemudian Juluih, lakilaki beraroma tembakau itu datang melamar ibunya.

***

Mereka memasang beberapa perangkap burung di balik bukit ladang gambir. Sudah tiga hari mereka bolak-balik memeriksa dan masuk lebih jauh ke dalam hutan untuk mencari tempat baru, tapi tak seekor pun burung yang terpikat mendatangi perangkap-perangkap itu. Jangankan burung kalimbang hujan yang mereka incar, barabah atau sipocah yang pada musim-musim tertentu sering dianggap sebagai penganggu pun seolah enggan menghampiri perangkap mereka. Dan, Karanih yakin pagi ini pun hanya kekecewaan yang akan mereka temui. Itulah yang membuatnya enggan menyusul lakilaki itu. Lagipula, rasa letih sehabis mengangkut beberapa balok dari balik Batu Tanggo dua hari yang lalu masih bersarang di sekujur badannya!

Kalau saja Jamal masih membutuhkan tenaga tambahan untuk mengangkut balokbalok kayu itu dari hutan, ia tentu lebih memilih berada di sana, berjuang melawan rasa sakit yang mendera, asal tidak mendengar mulut tajam Juluih. Atau, ingin rasanya ia pergi ke Malaysia, menyusul perantauperantau lain yang sudah lebih dulu menginjakkan kaki di negeri jiran. Namun, mendengar cerita-cerita tentang bagaimana para pekerja gelap itu mencapai daratan di seberang sana dan perjuangan setelahnya tak pelak menyurutkan niatnya. Pun, jika ia ingin masuk sebagai pendatang resmi ke Malaysia, ia tak punya cukup uang untuk sekadar mengurus paspor dan biaya-biaya lain selama perjalanan ke sana. Dan, demi menyadari itu, Karanih kembali tersadar bahwa itulah sebenarnya tujuan utamanya datang dan bermalam di pondok ladang ini: mencari uang untuk memulai hidup baru di Malaysia!

“Pokoknya kau datang dulu ke sini. Jangan risau soal kerja. Kalau tak bisa masuk sebagai pelancong, kau tentu kenal Uda Syafril. Ia sudah sering membawa perantau masuk lewat Dumai atau Batam. Tinggal kau cari duit untuk ongkos sampai ke sini saja,” terang Kamir, kakak tirinya suatu kali melalui SMS.

Sudah setahun lebih sejak pesan itu ia terima, tapi ia masih saja belum bisa mengumpulkan cukup uang untuk pergi merantau. Dan, akibatnya, tiap hari ia harus menebalkan kupingnya, mendengar caci maki dari mulut busuk Juluih.

“Mau kerja apa kau di Malaysia? Kau pikir bos di sana mau membayar tukang tidur sepertimu?” Juluih pernah melesakkan katakata itu ke pangkal telinganya.

“Ya kerja seperti orang-orang!” balas Karanih waktu itu. Telinganya memerah.

“Seperti orang-orang?” Juluih mencibir, lalu melanjutkan, “Kau pikir kau sama dengan orang-orang itu? Mengangkut balok sepotong saja kau seperti orang mau mati!”

Kadang Karanih berpikir, apakah lakilaki itu masih menganggapnya sebagai seorang bocah yang bisa dibentak sesuka hati karena perangainya yang mungkin kurang berkenan di hati? Atau, apakah Juluih masih belum bisa memaafkan kehadiran Karanih yang tentu akan selalu mengingatkannya pada mendiang Angku Syamsudin yang dulu telah merebut Hindun darinya? Ya, semua orang tahu betapa Juluih menyimpan perasaan yang begitu dalam kepada Hindun, yang kemudian terpaksa ia kubur begitu Angku Syamsudin datang mengantar pinangan. Apalah daya Juluih yang hanya seorang tukang takik yang bekerja di ladang tauke karet itu.

***

Awalnya Karanih hanya sepintas lalu mendengar tentang burung kalimbang hujan itu dari para pengangkut kayu, yang katanya sedang dicari-cari oleh kolektor dari kota. Jangankan melihat wujudnya, mendengar namanya saja Karanih belum pernah sebelumnya. Namun, begitu mengetahui tingginya harga yang ditawarkan untuk seekor burung kalimbang hujan hidup, Karanih pun tak bisa menyembunyikan ketertarikannya.

“Kau tak pernah mendengar tentang burung kalimbang hujan?” Jiman keheranan.

Karanih menggeleng.

“Kau tahu bunga kalimbang hujan?” tanya Jiman kemudian.

“Bunga mirip kincung itu?”

“Itu dia! Burung itu badannya menyerupai bunga kalimbang hujan yang sedang kembang. Tapi, bulu-bulunya sangat bagus! Aku hanya pernah sekali melihatnya, dan dapat kupastikan kalau aku tak bisa menghitung dengan pasti semua warna bulunya!”

“Bujang Karak butuh berapa ekor?” Ia menyebut nama orang kampung mereka yang terbiasa menjadi perpanjangan tangan kolektor berbagai barang-barang langka itu.

“Berapa pun akan dia tampung katanya!”

Detik itu juga jantung Karanih terasa bekerja lebih cepat, seiring rangkaian rencana yang mulai tersusun di benaknya jika ia bisa menangkap burung kalimbang hujan itu – bahkan seekor saja sudah lebih dari cukup untuk mengongkosinya ke Malaysia! Namun, begitu mengetahui Juluih juga sudah mendengar soal burung yang dicari Bujang Karak itu dan sudah mulai menyiapkan perangkap yang akan dipasang nantinya, yang tentu saja akan melibatkan ia di dalamnya, Karanih tiba-tiba kehilangan minat. Ia tahu, apapun yang mereka kerjakan berdua tak akan pernah berjalan baik-baik saja. Laki-laki itu belum pernah sekali pun kekurangan kata-kata untuk merendahkannya.

***

Matahari sudah mulai memanggang ketika akhirnya Karanih membuka langkah, menyusul Juluih ke hutan di balik ladang. Namun, ketika ia baru mencapai bukit pertama yang lereng berbatunya menyerupai jalur pendakian di Batu Tanggo tempat ia dan kawan-kawan pengangkut kayu sering mengaso, Karanih melihat laki-laki itu berjalan ke arahnya, menenteng sebuah sangkar perangkap. Sementara anjingnya tampak mengekor dengan riang. Dan, betapa terkejutnya Karanih begitu mengetahui isi sangkar yang dibawa Juluih. Tak salah lagi, itulah burung kalimbang hujan yang mereka cari!

“Bapak sudah periksa semua perangkap yang kita pasang?” Karanih tak tahu harus menanyakan apa selain pertanyaan itu.

“Kenapa pula kau menyuruh-nyuruhku?” jawab Juluih sinis sambil berlalu begitu saja di hadapan Karanih.

“Biar saya bawa sangkarnya…” tawar Karanih kemudian.

“Kau urus saja dirimu sendiri! Cukup anjing ini saja yang membantuku!”

“Anjing!” Karanih sudah tak tahan lagi. Ia pegang baju laki-laki itu dari belakang dan menyarangkan sebuah pukulan tepat di kepalanya. Juluih terjerembab, sangkar itu terlepas dari tangannya, sementara anjingnya mulai menyalak-nyalak. Saat laki-laki itu hendak bangkit, Karanih menghantamkan sebongkah batu ke kepala Juluih. Laki-laki itu sempat memekik sebelum suaranya hilang sama sekali, digantikan salak anjing yang semakin keras, yang berputar-putar mengelilingi tuannya.

Karanih mengambil sangkar, dan begitu memastikan burung kalimbang hujan di dalamnya baik-baik saja, ia bersandar sejenak di pohon kayu modang yang tumbuh di puncak bukit itu, menatap tubuh Juluih yang tak lagi bergerak.

Ia harus segera menemui Bujang Karak dan kalau bisa malam ini juga ia akan berangkat ke Dumai. Namun, tentu saja, hal pertama yang harus ia lakukan adalah membereskan semua jejak yang mungkin akan menghentikan langkahnya untuk pergi merantau ke Malaysia. ***