Cerpen Herumawan PA (Minggu Pagi No 42 Tahun 72 Minggu IV Januari 2020)

Perut ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Perut ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

“KOK buang botol di situ, Mas,” kataku memergoki seseorang sedang membuang botol plastik bekas air mineral ke selokan pinggir jalan. Orang itu tak menggubris perkataanku dan langsung pergi begitu saja.

Aku prihatin melihatnya. Satu botol plastik bagiku berharga sekali. Sanggup membuat perutku dan perut keluargaku kenyang. Ya aku pengumpul botol bekas dari kampung ke kampung, rumah ke rumah. Suatu pekerjaan yang sudah kujalani separuh hidupku.

Hari ini, baru sedikit botol bekas yang berhasil kukumpulkan. Artinya belum banyak uang yang bisa kudapatkan dari tempat pengepul. Sementara perut ini semakin lapar. Aku mengusap-usap perutku, seakan menyuruhnya bersabar sedikit lagi.

Entah kenapa, usapanku manjur juga. Rasa lapar di perut sedikit berkurang. Kembali kuayunkan langkah, sambil membawa karung yang baru berisi sedikit botol bekas.

“Bu, botol plastiknya, Bu,” teriakku di depan pagar rumah salah seorang warga kampung yang cukup mewah.

“Hari ini kosong,” si pemilik rumah menyahut dari balik pagar.

“Lho, itu botol plastiknya ada banyak,” kataku menunjuk dua karung berisi botol plastik bekas pakai tergeletak di halaman rumah.

“Ooo itu mau dibawa suami nanti sore buat didaur ulang ke tempat temannya,” sahutnya.

Aku mengangguk pelan lalu kembali berjalan.

Aku memutuskan beristirahat sejenak di pos ronda. Matahari sudah meninggi. Rasa lapar di perut kembali menyeruak, dan kali ini ditambah rasa haus di kerongkongan.

Tak jauh dari pos ronda, kulihat sebuah warung yang biasa kudatangi tampak sedang ramai pembeli. Lalu aku mendatangi. Si pemilik warung memandang curiga kedatanganku.

“Mau ngutang lagi, Pak!” kata si pemilik warung cukup kencang. Membuat semua pengunjung yang sedang makan di dalam warung menengok ke arahku.

“Ngutang kok jadi kebiasaan. Mbok ya nabung jadikan kebiasaan,” omel pemilik warung dengan nada kencang. Tapi omelannya tak kupedulikan. Rasa malu sudah kubuang jauh. Bagiku, perut yang kian melilit harus diisi bagaimana pun caranya.

“Iya, Bu. Boleh ngutang nasi oseng dan es teh lagi, Bu?” Mata si pemilik warung langsung melotot tajam mendengar permintaanku. Tanpa ia mengeluarkan satu patah kata pun, aku sudah tahu tak diperbolehkannya berutang.

“Ya sudah, air putih saja, Bu.”

Si pemilik warung mengambilkan gelas berisi air putih lalu meletakkannya dengan keras di meja depanku.

“Maunya gratisan,” ujarnya bersungut-sungut. Aku mengelus dada. Segera kuhabiskan air putih di dalam gelas.

“Terima kasih air putihnya, Bu. Saya doakan warungnya laris manis.” Bukannya balik mengucapkan, “Aamiin”, si pemilik warung mencibir sinis, “Kalau punya utang, cepetan dibayar.”

Aku pura-pura tak mendengarnya. Kupercepat langkah meninggalkan warung sambil membawa karungku.

Perutku terus berbunyi, pertanda meminta diisi. Di usiaku yang sudah kian menua, aku tak bisa lagi berlama-lama menahan lapar.

Setelah meletakkan karung di atas trotoar, aku duduk di sampingnya. Menunggu orang mengasihaniku, memberiku makan seperti hari-hari biasanya. Dengan pakaian yang compang-camping, wajah tua memelas dan kulit keriputku akan mudah mengundang iba orang.

Tak lama setelah aku duduk, datang seorang laki-laki kurus mengendarai sepeda motor. Lalu menghampiriku. Tanpa turun dari sepeda motor, ia memberiku nasi bungkus.

“Mau sekalian difoto enggak, Mas?” pertanyaanku membuatnya terkesiap. Ia sepertinya tak menyangka pertanyaanku. Lalu mengeluarkan gawai pintar. Kemudian memfotoku.

Selesai memfoto, ia tak langsung pergi seperti orang-orang yang biasa memberiku nasi. Ya setelah memberi nasi bungkus dan memfotoku, mereka segera tancap gas. Tak peduli aku memakannya atau membuangnya nanti.

Ia turun dari sepeda motorku. Mendekati dan duduk di sampingku. Hingga aku selesai makan, ia tak beranjak dari sampingku.

“Bagaimana, enak Pak?” tanyanya. Aku mengangguk menjawabnya.

“Kenapa Bapak bisa tahu saya mau foto tadi?” tanyanya lagi.

“Saya sudah hafal tingkah laku orang-orang yang biasa memberi nasi bungkus seperti Anda itu.” Ia mengangguk.

“Terima kasih, Mas. Berkat nasi bungkusnya, Bapak bisa hemat uang buat dibawa pulang.” Ia tersenyum simpul.

“Memangnya pekerjaan Bapak apa?”

“Pengumpul botol bekas, Mas.” Lalu kutunjukan karung berisi botol bekas kepadanya. Tampak belum banyak botol bekas di dalamnya.

“Baru sedikit dapatnya ya, Pak.”

“Iya, Mas. Orang-orang sekarang pintar-pintar, mereka meremas botol bekas minumnya dulu, baru membuangnya.”

“Itu kan bagus, Pak. Biar cepat didaur ulang.”

“Iya benar, tapi juga merepotkan pengumpul botol seperti saya. Harga jual botol bekasnya jadi jatuh, Mas.” Ia mengangguk-angguk mendengarnya.

“Nasi bungkus enak, Mas. Sering-sering ya kasih beginian.” Aku melontarkan pujian sekaligus pengharapan, selesai makan.

“Bapak sudah biasa menerima nasi bungkus ya.” Kata-katanya menohok hatiku. Raut wajahku berubah kesal. Ia buru-buru menyadarinya.

“Maaf, Pak, kalau kata-kata saya tadi tak berkenan.”

“Tak apa-apa, Mas. Bapak hanya kaget baru ini ada yang tanya begitu.”

“Tak dijawab juga tak apa-apa, Pak.”

“Enggak apa-apa, Bapak memang selalu mengharap pemberian nasi bungkus, betul-betul berguna apalagi kalau uang yang Bapak dapat baru sedikit.” Ia mengangguk pelan.

“Awalnya malu, Mas. Mengharapkan nasi bungkus setiap hari lalu difoto. Tapi apa boleh buat, perut lebih penting daripada ego.”

“Bapak enggak coba puasa?” Aku langsung menggeleng menjawab pertanyaannya.

“Bapak enggak kuat puasa, kan sudah tua. Lagipula kalau puasa, lambung Bapak malah sakit. Kalau sakit, Bapak enggak bisa kerja. Lha terus nanti yang cari makan buat istri anak Bapak siapa?” Aku berujar panjang lebar. Ia tersenyum lalu pamit pergi.

Kupandangi ia berlalu dengan mengendarai sepeda motornya. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa tak enak hati kepadanya. Mungkin inilah untuk pertama kalinya aku bicara panjang lebar dengan orang yang memberiku nasi bungkus.

Kulangkahkan kaki menuju tempat pengepul. Di sana, entah berapa uang yang bisa kudapatkan. Tapi aku tak mau pusing memikirkannya. Yang penting, perutku sudah kenyang. Dan aku bisa bawa pulang uang utuh ke rumah. Istri dan anakku pasti akan senang melihatnya. n

 

Yogyakarta, 16 Desember 2019