Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 22 Januari 2020)

 

Kejadian ini sudah berlangsung tiga tahun lalu. Tapi getarannya tak kunjung reda saban saya mengingatnya. Pada jiwa-jiwa yang melepaskan diri dari hiruk-pikuk kegilaan zaman, keikhlasan merimbun diam-diam.

Di waktu Duha yang menua, dalam perjalanan pulang dari kantor Disdikbud di Petanang, saya melihat seorang lelaki ringkih bertongkat di sisi kiri jalan raya di daerah Sumberagung. “Tidak salah lagi itu pasti dia!” batin saya yakin.

Laki-laki tua itu tampaknya sedang menanyakan sesuatu kepada seorang gadis yang menunjukkan ekspresi bingung dan berusaha untuk meninggalkannya. Saya langsung menepikan mobil.

“Ngape di sikak, Nang?” tanya saya ketika saya sudah berada di dekat laki-laki menjelang 90 tahun yang tak lain tak bukan adalah kakek dari pihak ayah itu. Karena ia berdarah Musi, kami cucu-cucunya biasa memanggilnya Neknang.

Lakonhidup.Com 22 Januari 2020 NEKNANG--Lampiran1
Neknang menerima suapan kue dari Walikota Lubuklinggau, H. S.N. Prana Putra Sohe, di Hari Kemerdekaan RI ke-72 tahun 2017

“Ngape nga di sikak, Ben?” ia malah balik bertanya mengapa saya berada di sana dengan nada terkejut.

Singkat cerita, saya pun mengajaknya ke mobil. Saya menawarkan untuk mengantarnya pulang atau ke rumah kerabat atau temannya yang mana saja yang ingin ia kunjungi. “Kumilu ke mane nga pegi bae, Benn,” katanya sambil membetulkan letak duduknya.

Wah, berabe pula ini kalau Neknang ingin ikut ke mana saja saya pergi, pikir saya.

Saya memberitahunya kalau hari ini saya akan membereskan urusan-urusan (Lubuklinhgau Writing Festival) yang baru berakhir sehari sebelumnya. “Bagaimana kalau saya mengantar ke rumah Papa atau ke Jalan Bengawan Solo (rumahnya) atau ke kantor (kantor Legiun Veteran RI) di Pasar,” tawar saya kemudian.

Neknang tidak menjawab. Ia malah bercerita tentang kekecewaannya karena tak kunjung bertemu teman lamanya di Sumberagung. Ia menyebut namanya seakan-akan berharap saya juga mengenalnya. “Ia mantan sekdes,” ujarnya kemudian. Ia sempat menyebut nama desanya, tapi telinga saya tak begitu jellas menangkapnya.

“Memangnya ada urusan apa dengan kawan lama itu, Nang?” tanya saya seraya menyalip sepera motor di sisi kiri jalan.

Baca juga: Kita (Bukanlah) Hari Ini! – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 15 Januari 2020)

“Mau nagih utang,” jawabnya.

“Utang? Berapa?” tanya saya cepat.

“Utang lama,” katanya lagi, “Cuma lima belas!”

“Lima belas? Lima belas juta?”

“Lima belas ribu,” jawabnya datar.

“Lima belas ribu?”

“Pinjaman tahun 1980.”

Saya terdiam. Memikirkan nilai konversinya ke tahun sekarang.

“Neknang juga sudah menulis surat,” katanya lagi.

What? Surat? “Kapan, Nang?” saya penasaran akhirnya.

“Dua minggu lalu,” jawabnya dan pikiran saya mencoba menerima kenyataan bahwa di zaman sekarang ini masih ada yang menulis surat. “Tulisan tangan dan tidak dibalas. Trus minggu lalu kirim lagi dengan ditik pake mesin di rumah dan tak dibalas lagi,” lanjutnya kemudian. Memang, hingga tahun 2017 itu, Neknang masih tekun mengetik apa pun di mesin tik tuanya yang setahun kemudian, karena tak berfungsi lagi, menjadi pajangan di lobi Benny Institute. Syahdan, karena kegemarannya membaca dan mengetik apa pun, bakat menulis saya turun darinya.

Baca juga: Kertas Kerja Omong Kosong – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 08 Januari 2020)

“Mungkin rumahnya sudah pindah, Nang,” saya mencoba beradaptasi dengan segala yang Neknang utarakan tadi.

“Kabarnya dia sakit. Sakit parah,” Neknang tak tertarik menanggapi spekulasi saya.

“Trus Nang nak nagih utang?”

“Nang takut dia sakit karena memikirkan utang itu. Nang datang nak menyampaikan kalau utang itu sudah lama diikhlaskan. Lima belas ribu tahun 1980 itu lumayan banyak.”

Saya diam dan merasa beruntung sekali menjadi cucunya.

“Antar Nang balik bae,” katanya seraya menunjuk Jalan Bengawan Solo di sisi kanan.

Usai mengantarnya sampai hingga ke dalam rumah, saya membawa sebungkus kue talam masakan Nekno (nenek). “Untuk Dinda dan Dkay,” pesannya.

Sedari kemarin-kemarin saya ingin menulis ulang ini. Tahun ini, Neknang memasuki usai 92. Segala kebaikan menyertai sisa usiamu, Nang. Amin. Allahumma amin. ***

 

Lubuklinggau, Januari 2020