Cerpen Nurillah Achmad (Radar Bromo, 19 Januari 2020)

Wajah Malam yang Berderai Bakau ilustrasi Istimewa
Wajah Malam yang Berderai Bakau ilustrasi Istimewa

Ini bukan kali pertama aku menadah kabut sembari menerka, apakah gemeletuk gigil tubuhku mampu membekukan kalbu atau tidak. Tetapi ini kali pertama, aku melepas sergapan kabut bersamaan dengan air mataku yang luruh ke bumi.

Aku tak mengerti, mengapa kau menyangka lakon Bakau sebagai makna kosong yang binal dalam keyakinan. Tidak, Ram. Sungguh tidak. Mengapa tak kau amati, betapa bunyi gamelan, beduk, rincik, saron dan gong besar ini sesungguhnya adalah ingatan yang tak pernah luluh di pangkuan lupa. Bila kau terlalu enggan menerima, tak mengapa. Diamlah di situ, sejenak saja. Barangkali ini malam terakhir yang mungkin nanti kau menyebutnya sebagai hikayat tak bernama.

***

Sejak dulu, Panduman tak banyak berubah. Ditakdirkan Tuhan berada di lereng Argopuro, Panduman masih memiliki jalanan berkelok, tanjakan curam khas pegunungan, semua masih bisa dinikmati dengan mata telanjang. Pepohonan dan hijaunya padi masih bisa disaksikan tanpa merisaukan tergerusnya lahan. Tak seperti desa-desa lain, katakanlah Wirolegi, Pakusari dan Mayang. Gumuk-gumuk dibabat. Diambil pasir dan bebatu. Sawah-sawah dibeli. Dijadikan perumahan. Entah lima atau sepuluh tahun lagi. Barangkali sudah berubah jadi wahana hunian. Moga-moga Panduman tak mengikuti jejak desa-desa ini. Apalagi Panduman semakin menelurkan banyak manusia. Yang dulunya beranak satu, kini beranak lima. Seakan berlomba dengan sapi yang dipelihara, berlomba dengan dinginnya kabut tebal yang menyergap kapan saja.

Mungkin karena lelaki, sengaja kau tak kabari kepulanganmu dari pulau seberang. Atau mungkin sudah merasa dewasa, tak perlu meminta jemputan di terminal kota. Tak heran jika bapakmu terkejut luar biasa. Padahal, sebagai orang tua, bapakmu kerap menunggu liburan ini. Sebuah masa di mana rindu yang berserakan, disatukan cahaya keperakan. Sebuah masa di mana langkah kaki yang sengkarut di ranting-ranting, kini sanggup berlari-lari.

Ah, Ram. Tak tahukah kau kalau orang tua selalu menganggap anaknya sebagai bocah? Sedewasa apapun dia, pertumbuhan tak akan memutus rantai ingatan ketika anaknya masih bertatih-tatih berjalan, mudah marah ketika tak dituruti, dan kerap tertidur di sepeda padahal ayahnya memancal pedal sekuat tenaga.

Dan kini kau kembali dengan hati terbentang tuba.

“Aku sungguh-sungguh bahagia kau datang hari ini. Istirahatlah, Ram, agar nanti tak kelelahan di surau.”

“Menabuh gamelan, beduk, rincik, saron dan gong besar, bukan?”

Bapakmu tersenyum.

“Tentu. Esok pesta tembakau dimulai. Sebelum memetik, adakalanya kita mengucap syukur melalui lakon Bakau.”

“Tak tahukah Bapak kalau ini perbuatan syirik? Tak malukah Bapak melakukan ini semua? Tani, ya, cukup bertani, Pak. Tak perlu ada tari-tarian segala.”

Andai kau mampu melihat betapa dada bapakmu berkecamuk, Ram. Tangisanmu tak akan cukup meredam hati yang terlanjur suram. Sungguh, ucapanmu tak hanya menghancurkan harapan seorang ayah, tetapi juga meruntuhkan apa yang dilakukannya bersilam-silam.

“Sebaiknya Bapak berhenti melalukan perbuatan ini. Aku malu, Pak. Malu ayahku sendiri melakukan perbuatan setan.”

Setan? Kau menganggap cara bersyukur seperti ini sebagai amalan setan?

“Kalau mau menari, sekalian menari. Tak usah bertani.”

***

“Mengapa anak kita seperti ini, Rahmi? Tidakkah dia paham kalau aku merawatnya  siang-malam? Bukan aku berharap balas budi. Tidak. Sungguh tidak. Aku masih sanggup mencari nafkah sendiri. Tetapi mengapa, sebilah lidahnya seakan tak pernah aku ajari mengaji?”

Hanafi, jangan kau leburkan dukamu begini. Barangkali karena Aram masih muda, gelora jiwanya belum matang. Tataplah masa depan, Hanafi. Jadikan ia cita-cita sebagaimana wujud cinta kita berdua.

“Tapi Aram menuduhku musyrik, Rahmi. Menyembah selain Ilahi.”

Sesungguhnya aku tak hendak murka padamu, Aram. Tersebab kau menyebut bapakmu musyrik. Lelaki yang air maninya mengalir di urat-urat tubuhmu. Lelaki yang siang-malam menyebut namamu di setiap salat fardu. Aku tahu, bila aku murka, Lah Ta’ala akan mendatangkan nestapa padamu. Hati ibu mana yang sanggup melihat anaknya disergap derita? Tetapi hati perempuan mana yang tega, melihat lelakinya dikoyak-koyak anak kandungnya sendiri?

Gamelan, beduk, rincik, saron dan gong besar itu bukan menyembah setan, Ram. Sungguh bukan. Itu warisan nenek moyang yang selalu bapakmu jaga layaknya ia merawat anaknya sendiri. Bukankah sedari kecil kau selalu disusupi banyak cerita, kalau seperangkat tetabuhan itu tak serta merta ada.

Bukankah kau juga tahu, kalau alat-alat itu diperoleh dari bebuyutmu yang dulu bertani tembakau di Timur Jawa? Bukankah kau jua paham, kalau tarian Bakau tak ubahnya menyambut masa panen setelah berbulan-bulan berjibaku dengan tembakau? Menyebarkan benih, merawat urat-urat tembakau, menanti musim kemarau yang kering, ini bukan perkara mudah.  Lantas, laku mana yang pantas kau sebut pemuda beradab, sedang pada orang tua sendiri, kau menghina?

“Seandainya, Rahmi. Seandainya aku sanggup menghentikan perputaran bumi. Aku ingin Aram seperti dulu. Seperti masa kanak-kanak yang kenakalannya membuatku mengelus dada. Mungkinkah Aram telah lupa, Rahmi, kalau dulu, saat Mauludan, dia sering mengambil buah di berkat yang disembunyikan dalam sarung, lalu memakannya di belakang dapur? Mungkinkah Aram telah lupa, Rahmi, kalau dulu justru Aram yang menyiapkan air kembang, serbuk bata merah yang diusap dengan serabut kelapa kering untuk membersihkan gamelan ini? Mungkinkah Aram telah lupa itu semua, Rahmi, sampai-sampai seperangkat tetabuhan ini dikatakannya mainan setan? Bukankah sudah kusampaikan berulang-ulang, kalau tetabuhan ini berusia ratusan tahun dan hanya dibunyikan sekali setahun sebagai wujud syukur atas lahirnya manusia agung? Bukankah bebuyutku mewariskan ini agar aku dan anak cucuku tetap memelihara kebaikan ini? Lantas mengapa, Aram, anak kandungku sendiri yang mengatakan kalau ini perbuatan setan?”

Bersabarlah, Hanafi. Bersabarlah. Jangan kau kuras air matamu sampai mengering begini. Biarlah Lah Ta’ala yang memberi pencerahan. Sebagai ibu yang melahirkannya ke dunia, bisaku hanya berdoa. Moga-moga anak kita tak lupa kalau ia masih punya orang tua. Dan sebagai perempuan yang tercipta dari tulang rusukmu, aku berharap kau tetap merawat buah hati kita. Bagaimanapun keadaannya, ia wujud kasih kita berdua.

***

Kabut tebal menyergap Panduman. Namun tak menghalangi suara gamelan, beduk, rincik, saron dan gong besar yang saling bersahutan. Di sudut depan, seorang lelaki tak henti-hentinya menembang kidung dengan suara pilu. Sesekali air matanya menetas bercampur isak tangis. Di sampingnya, anak kecil berusia sebelas tahun ikut menembang dengan nada lirih.

Mengapa kau berkata, kalau langgam dan tetabuhan ini perbuatan setan, Ram? Tidakkah kau tahu, kalau ini tembang seorang wali?

Ini bukan kali pertama, aku menadah kabut sembari menerka, apakah gemeletuk gigil tubuhku mampu membekukan kalbu atau tidak. Tetapi ini kali pertama, aku melepas sergapan kabut bersama air di kedua anak sungai mataku yang luruh ke bumi.

 

Nurillah Achmad. Penulis lepas tinggal di Jember, Jawa Timur.