Cerpen Putu Oka Sukanta (Kompas, 19 Januari 2020)

Tutur Wani ilustrasi Butet Kartaredjasa - Kompas-1
Tutur Wani ilustrasi Butet Kartaredjasa/Kompas

Mbak Narti berulang tahun yang ke-75, dan saya datang ke rumahnya. Setelah mencium pipinya kanan kiri, ia menyeret tangan saya. “Sampeyan harus berkenalan dengan keponakan baru, Wani.”

Kemudian Wani yang duduk di kursi sambil mengunyah kerupuk berdiri dan mengulurkan tangannya

“Betha.” Suaranya tidak mulus karena masih ada sisa kerupuk di mulutnya. Ia berdiri menatap saya. “Terima kasih Om sudah mau berkenalan dengan saya. Tante Narti bilang, harus berkenalan dengan Om.”

“Kenapa?”

“Tante Narti bilang, seru deh.”

Narti seorang perempuan yang tidak mau bersuami, katanya, lelaki belum tentu setuju dengan pikiran-pikirannya apalagi ia eks tahanan.

“Betha, itu nama panggilan saya,” lebih lanjut kata perempuan yang rambutnya digerai dengan beberapa helai ubannya. Ia murah senyum, dengan bibir dilipstik tebal dan rapi, giginya tampak bersih dibingkai oleh senyum. Betha sama sekali tidak canggung sebagai orang baru berkenalan.

Baca juga: Mak Mar – Cerpen Putu Oka Sukanta (Kompas, 02 Juni 2019)

“Nama sering membuat saya merenung, terkait dengan perjalanan hidup saya. Dari nama yang diberikan kepada saya saja, tersimpan sejarah hidup saya. Betha, diambil dari kata Ellysabeth. Sebelum saya diberi nama Ellysabeth, saya dipanggil dengan sebutan Wani, lengkapnya Mardikawani. Nama ayah saya Sutoyo. Teman-temannya menambahkan kata Kiwo, jadi Sutoyo Kiwo, karena tangan kirinya lebih aktif daripada tangan kanannya. Tapi nama ayah saya dihilangkan, diganti dengan kata Wuryantiko, nama seorang pastor yang melekat di dokumen-dokumen saya. Papa Tiko, begitu saya memanggilnya, timbul tenggelam dalam kehidupan saya. Ia sayang kepada saya. Tapi ada tembok pembatas yang tidak bisa dihancurkan oleh kasih sayang yang saya terima. Pada nama Mardikawani, tersirat nama ibu saya Mardiani, tetapi karena saya lahir pada tanggal 17 Agustus, maka nama saya dilenturkan menjadi Mardikawani. Saya bahagia dengan nama itu, tetapi saya harus menyimpannya, menyembunyikannya.”

Wani bertutur seperti membaca sebuah teks pidato yang sudah dipersiapkannya dengan cermat. Saya menduga, Narti sudah menceritakan diri saya yang suka nguping dan menyimpan tuturan orang, kepada Wani. Kemudian ia meneruskan tuturnya, “Nama itu justru menyulap saya menjadi manusia yang penuh beban. Beban itu tidak pernah saya ceritakan kepada siapa pun, kecuali Om, di saat saya menjelang berumur 60 tahun. Saya berharap beban ini akan berkurang sedikit perlahan-lahan, sesudah saya berani mengungkapkannya.”

Ngapain beban dipikul terus sepanjang hidup. Kibaskan, bagi kepada teman yang mau ikut memikul.” Saya nyeletuk tanpa pikir.

“Tidak mudah Om.” Ia menunduk, saya diam.

Saya tidak memotong ceritanya, ia mengajak saya ke pojok ruangan yang lebih sepi. Suaranya lirih tapi jelas, dengan kalimat yang runtun.

“Jadi aku panggil Wani atau Betha?”

“Terserah Om, asal Om nyaman.”

“Ya Wani.” Saya setengah berbisik.

Baca juga: Atavisme – Cerpen Budi Darma (Kompas, 12 Januari 2020)

“Saya tidak ingat dengan wajah ayah saya, walaupun belakangan saya mendapatkan dan menyimpan fotonya. Ingatan saya hanya sepotong tentang ayah, ketika saya bertanya kepada ibu, ‘Bapak kok tidak pulang Bu? Mungkin tugasnya belum selesai. Banten jauh dari sini.’ Ibu menjelaskan bahwa Bapak yang pegawai kereta api, sering bertugas di daerah Banten, sehingga sering menginap beberapa hari di sana Kemudian saya tidak pernah bertanya lagi. Tapi pada suatu hari saya melihat beberapa teman Ibu datang ke rumah bergantian. Entah apa yang dibicarakannya, saya tidak mengerti. Tapi Bapak belum juga pulang.” Ia mengusap ludah di pojok bibirnya. Tampak bekas lipstik di tisunya.

“Ibu masih mengajar di sekolah taman kanak-kanak. Saya terkadang ikut. Tapi pada suatu hari Ibu mengatakan pergi ke kantor, dan saya dititipkan di rumah Bude Sari tetangga kami. Saya sudah biasa bermain di rumah Bude Sari, karena ada teman bermain Nita, anaknya. Saya tidak banyak ingat dengan keluarga ini, walaupun kata Ibu di kemudian hari, saya sempat menginap beberapa hari di rumah Bude Sari, karena Ibu tidak pulang. Suatu hari, saya ingat benar kejadian ini, Bude Sari menyuruh saya mandi dan sarapan pagi-pagi. Saking paginya, saya masih tidur dibangunkannya. Saya disuruh membawa pakaian salin, yang juga sudah disiapkan oleh Bude Sari.”

“Bude, kita mau ke mana? Nita ikut Bude?”

“Kita nengok ibumu. Nita tidak usah ikut.”

Kami naik becak sampai di sebuah kantor yang besar, pintu depannya dijaga oleh tentara. Bude Sari menuju tempat mendaftar, dan bapak tentara bertanya siapa nama saya. Saya menjawab langsung, Wani.

“Siapa?”

“Wani.”

“Ooo, Wani, Gerwani ya?”

“Wani.”

“Ooo perempuan berani ya?”

Baca juga: Pengelana Laut – Cerpen Linda Christanty (Kompas, 05 Januari 2020)

Saya tidak mengerti. Saya menunduk, takut. Tentara itu mengantar kami masuk ke dalam gedung dan bertemu Ibu. Ibu memeluk saya dan mengusap air matanya. Sejak hari itu saya bersama Ibu tinggal di dalam gedung itu. Juga ada ibu yang lain. Tentara yang tanya nama saya sering datang menengok dan memanggil saya dengan panggilan Gerwani. Ia selalu senyum. Ibu sering dipanggil tentara, tidak tabu dibawa ke mana. Ibu selalu berpesan, “Tunggu Ibu, jangan menangis.” Saya hanya duduk, tetapi terkadang sampai tertidur. Saya tidak tahu berapa lama saya bersama Ibu di gedung besar yang dijaga banyak tentara itu. Wani menelan ludahnya, sekejap saja suaranya berderai lagi.

Suatu hari, sesudah makan nasi besek, (begitu disebut Ibu) saya naik mobil bersama beberapa Ibu lainnya. Saya senang karena pergi dari tentara yang menakutkan, walau tidak tabu akan dibawa ke mana. Akhirnya mobil masuk ke dalam halaman rumah yang lebih besar lagi. Ibu-ibu berbaris, masuk satu per satu sesudah namanya dipanggil. Nama saya tidak terdengar. Ibu terus menuntun tangan saya. Akhirnya saya tahu, tempat ini adalah penjara. Banyak ibu-ibu, tante-tante dan mbak yang tinggal di penjara ini. Mereka suka ngajak saya main ke kamarnya. Saya ingat ada tante dari gedung sebelah yang sering memberi makanan. Kata Ibu, ia itu tahanan kriminal yang baik hati. Saya tidak paham perkataan Ibu. Di tempat ini, teman-teman Ibu dan petugas yang perempuan dan laki-laki. memanggil saya dengan nama Wani. Saya senang.

Saya disulap Wani menjadi patung selama mendengarkan ceritanya. Matanya berkedip-kedip sayup, bibirnya merekah. Tiba-tiba ia menyadarkan saya, “Yuk Om ke sana, nanti dikira kita pacaran di sini.”

Ia menyambung langsung gaungan lagu Selamat Ulang Tahun yang sudah dinyanyikan oleh teman-teman Narti. Kemudian dia menjauh dari saya dan bergabung dengan ibu-ibu lainnya. Saya khawatir tidak bisa lagi mendengarkan kelanjutan ceritanya. Mata saya tidak pernah melepaskannya. Tiba-tiba ia mendekati saya dan bertanya, “Om mau makan apa? Ada pepes gurameh, tumis daun papaya, ayam rica, sop buntut. Saya ambilkan mau?”

“Jangan. Aku mengambil sendiri, pasti enak tumis daun pepayanya.” Dia menyelinap di antara banyak orang dan tidak kelihatan lagi.

Mudah-mudahan tidak langsung pulang.

Selesai makan, saya duduk kembali di tempat semula. Wani tidak tampak, saya gelisah. Beberapa orang menyanyi, dan tiba-tiba Wani datang membawa dua cangkir.

Baca juga: Kisah Cinta Perempuan Perias Mayat – Cerpen Agus Noor (Kompas, 29 Desember 2019)

“Om cendol Bandung.” Kegundahan saya mereda.

“Duduk Wani.”

Ia sibuk mengaduk dan minum es cendolnya. “Boleh aku mendengar cerita Wani lebih lanjut.”

“Ah cerita basi, apa serunya?”

“Wani datang dengan keluarga?”

Single fighter, Om.” Ia tertawa lepas.

“Kenapa?”

“Suami lebih sering menambah beban.”

“Tapi pernah pacaran kan?”

“Ah mau tahu saja. Pernah gonta-ganti Om. Takut pacarku tahu siapa aku. Jadi lebih ringan sendiri, kan aku bisa membiayai hidup sendiri.”

“Sempat bekerja di mana?”

“Tuhan melindungi saya, saya bekerja di penerbangan asing dan tidak pernah diganggu.”

“Tidak pernah di-Litsus?”

“Litsus itu yang diperiksa-periksa gituan ya Om?”

“Ya. Penelitian Khusus. Mengikuti berbagai wawancara.”

Baca juga: Requiem bagi Ibu – Cerpen Warih Wisatsana (Kompas, 22 Desember 2019)

“Puji Tuhan, selamat. Kan sejarahku sudah disulap. Walaupun begitu, saya sempat panas dingin sebelum diwawancara Bali kan tiba-tiba saya menstruasi yang belum pada waktunya. Ya lemas, ya tegang.” Wajahnya mengkerut, garis senyumnya membayang terang.

“Ooo, menarik seru. Ceritain dong Wani kelanjutannya.”

Wani tidak segera menjawab, ia meneruskan minum es cendolnya. Lahap. Saya menunggunya.

“Singkatnya Om. Saya diambil dari penjara oleh keluarga gereja, dan Ibu dipindahkan ke Pelantungan.

Saya tinggal di asrama, tapi kalau liburan ke rumah Ibu angkat saya. Saya dipermandikan, diberi nama Ellysabeth, bla, bla, bla. Sudah ya Om, aku mau pulang. Rumahku jauh, pakai kendaraan umum.”

“Makasih Wani.” Jalannya cepat menyelinap di antara ibu-ibu yang aku tahu pernah ditahan di penjara, ia mencium pipi perempuan-perempuan itu, ber-haha hihi, tampak lepas riang.

Ketika ia lewat di depanku, ia mengulurkan tangannya, ia menggamit tanganku mengajaknya ke luar, ke halaman rumah, “Om kalau ada berita pembongkaran kuburan massal di Banten, beri tahu aku ya.”

“Nomer kontakmu mana?”

“Tanya tante Narti.”

 

Putu Oka Sukanta, lahir di Singaraja, Bali, tahun 1939, sekarang tinggal di Jakarta. Ia menulis puisi, cerpen. dan novel. Beberapa buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen dan novel sudah terbit, dan sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing. Novel terbarunya berjudul Celah.

Butet Kartaredjasa. Lahir di Yogyakarta 21 November 1961, lebih dikenal sebagai aktor teater, tv-play dan film. Mengelompok di Teater Gandrik Yogya sebagai aktor dan praktisi manajemen seni. Meski begitu, sejatinya, Butet adalah penulis dan pelukis. Kini. selain tetap berteater, ia juga menggeluti seni visual.