Cerpen Indra Tranggono (Kedaulatan Rakyat, 19 Januari 2020)

Serigala Malam ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyat-1
Serigala Malam ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat

ANAK-ANAK muda itu lahir dari rahim jalanan. Diinfus debu, asap dan kemarahan kota. Diasuh kisah-kisah legenda para jagoan. Ditikam dingin malam. Mengigil diringkus kabut maut.

Anak muda  berjaket kulit hitam dengan gambar tengkorak itu, masih ada di dekat tikungan jalan. Duduk di atas sepeda motornya yang menyala. Ia memutar-mutar ingatan: siapa yang pantas dijadikan korban. Celurit yang dibawanya seperti menjerit-jerit, minta darah segar. Dan itu artinya ia harus bergerak, keliling kota bersama rombongan serigala-serigala lainnya, mencari mangsa.

Ia bergerak bersama rombongan yang menamakan dirinya ‘Serigala Malam’. Tak ada percakapan, kecuali suara kenalpot yang membangunkan malam. Mereka menunggu orang yang berani menyalip mereka sebagai objek sasaran. Melukai atau bahkan membunuh, tak selalu punya alasan, begitu batin serigala-serigala muda itu. Karena yang penting bisa mereguk sensasi kekerasan yang bisa membusungkan dada.

Mereka terus bergerak, menyusuri jalan-jalan sunyi kota. Di warung burjo dan mie instan, sebuah televisi menyala. Memberitakan “korban klithih akhirnya meninggal”. Kamera sempat menangkap keranda dan wajah ibu muda yang menangis meraung-raung. Orang-orang yang jajan di warung itu pun, dengan geram membicarakan. Mereka siap menghajar para pelaku klithih itu, jika kebetulan bertemu. Beberapa anak muda yang duduk di pojok, tampak terkantuk-kantuk. Hingga tak sempat melihat, rombongan ’Serigala Malam’ itu lewat.

“Kenapa diam!? Ayo kita kejar mereka. Kita hajar mereka!” seru anak bertubuh tambun.

“Capek. Ngantuk. Besok saja kita buru,” ujar si kurus, malas.

Tiga polisi yang menyamar sebagai orang biasa, hanya tersenyum.

***

Kawanan ’Serigala Malam’ itu berhenti di pengkolan jalan. Menenggak minuman oplosan. Alkhohol membakar darah. Mendidih. Jantung berderak cepat.  Mereka segera ingin meluapkan amarah. Tapi calon  korban tak kunjung muncul. Sementara malam terus bangkrut. Adzan Subuh sebentar lagi menggema, menggetarkan langit yang tak lama lagi bertabur semburat sinar matahari.

Mendadak dari kejauhan mereka melihat sepeda motor dipacu kencang. Mereka siap-siap menghadang. Lonjoran besi, rantai dan gir, sudah disiapkan. Ketika pas sampai di depan mereka, sepeda motor itu bisa melesat terbang. Darah anak-anak muda itu semakin mendidih. Mereka kontan mengejar. Gas terus dipacu. Pengemudi sepeda motor yang dikejar itu seperti mempermainkan perasaan anak-anak muda. Ia memperlambat laju motornya. Anak-anak muda itu semakin bergairah mengejar. Dan berhasil. Namun apa yang mereka lihat? Ternyata pengemudi sepeda motor itu tanpa kepala. Hanya krah jaket yang menggelembung.

“Hantu!” seru anak-anak muda.

“Malaikat!” seru yang lain.

Kota kembali sunyi. Anak-anak malam kembali mengasah pisau…

 

Yogyakarta 2020

Indra Tranggono, cerpenis dan esais, tinggal di Yogyakarta.