Cerpen Ita Siregar (Media Indonesia, 19 Januari 2020)

Sepasang Mata Sunyi yang Mengejar ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia
Sepasang Mata Sunyi yang Mengejar ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

ARIS Mulia Sitorus menelepon saya dengan sekonyong-konyong. Ia memberitahu kasus pemerkosaan di satu desa yang berjarak dua desa dari tempat saya tinggal dan meminta saya menemaninya ke rumah korban. Bagi saya itu sebuah perintah.

Di Medan, jawab Aris ketika saya bertanya posisinya. Saya bergerak sigap, menghubungi bupati dan kepala Polres soal kedatangan aktivis anak dari Jakarta itu.

Sudah sebulan lebih ini saya tinggal di desa untuk mengurus rumah kayu segilima warisan ibu. Bagian belakangnya bolong akibat tertimpa pohon kemiri tua kami yang roboh sewaktu hujan lebat dan angin hebat waktu itu. Saya ingin memperbaiki rumah kenangan ini tanpa mengubah bentuk agar memori saya tentang ibu di dalam kepala pun tak berubah.

Seorang ahli kayu dari desa sebelah sudah mengecek bangunan dan berkesimpulan, rumah panggung berusia ratusan tahun itu dapat digeser. Rencananya dia akan melepas lantai kayu, menaruh beberapa gelondong bulat panjang yang berfungsi memanggul bangunan, menariknya dari satu arah, sampai ke fondasi beton yang sudah dibuat. Saya tergetar melihat ketahanan kayu yang telah melindungi kami berpuluh tahun di rumah itu. Seperti ibu, saya membatin.

Tiga jam kemudian Aris Mulia Sitorus tiba di rumah saya. Sambil memandang ahli kayu bekerja, pegiat hak asasi manusia yang terkenal galak itu menjelaskan dengan suara datar bahwa korban telah diperkosa oleh pamannya, adik ibunya, sejak masih 13 tahun, dan setahun belakangan oleh ayah kandungnya. Sekarang usianya 15 tahun.

Perut saya mual mendengar itu. Kegilaan macam apa ini? Kedua jahanam sudah ditahan polisi, katanya lagi. Perut saya agak melega.

Lalu telepon genggam saya bergetar di dalam kantong celana. Seorang sintua di ujung suara mengabari bahwa dia tidak dapat hadir karena urusan mendadak. Saya menutup telepon dengan kesal, bergumam, “Apa sih kerja gereja ini sebenarnya?”

“Apa?” tanya Aris Mulia Sitorus, memandang saya.

“Enggak,” jawab saya ketus. “Saya ambil kunci mobil.”

Kami tiba di lokasi dan mendapati rumah korban sudah dikerumuni warga. Sudah ada beberapa wartawan menunggu. Bupati menyalami saya dan memperkenalkan seorang laki-laki muda berwajah tembem. Kepala desa, katanya.

Kami masuk ke rumah, dan seorang gadis remaja, saya duga si korban, dan ibunya tengah duduk di lantai beralas tikar.

Rumah kayu itu sederhana. Ada dua kamar dan satu ruang cukup besar tempat kami duduk ini. Dapur dan kakus mungkin di luar, sebagai ruang tambahan. Saya mengira-ngira satu kamar ditempati oleh orangtua, satu kamar lain si gadis. Mungkin si paman tidur di ruang besar ini. Tempat mereka melakukannya, dan kapan? Gila, gila, pikir saya.

Saya memperhatikan si gadis 15 tahun. Kulitnya terang. Kedua matanya sunyi. Ia tidak menunduk. Rambutnya hitam melewati bahu, lebat berminyak, jatuh begitu saja ke bahu. Mulutnya terkatup. Datar, tidak senyum atau apa pun. Serupa patung. Saya tergetar melihat pemandangan sedingin itu.

Aris Mulia Sitorus membuka percakapan. Ia bertanya ini dan itu kepada korban. Korban merespons dengan gelengan atau anggukan. Karena itu, ia beralih kepada sang ibu. Suasana terasa suram dan lamban.

Saya memperhatikan si ibu yang tampaknya masih muda. Kulit terang si gadis diwariskan darinya. Tubuhnya gempal, jemari tangannya bulat dan kuat, pertanda ia seorang pekerja keras. Pekerjaannya, kata dia, berdagang sayur di pasar dan suaminya bekerja di ladang orang.

Lalu Aris Mulia Sitorus meminta saya untuk berbicara. Saya mengarahkan pandangan ke si ibu.

Inang, sian dia ma hamu mamboto borum diperkosa?” tanya saya, pelan dan halus.

Hening. Hati saya dipenuhi sesal karena air mata perempuan itu keluar lebih cepat dari yang saya perkirakan. Mulutnya bergetar halus ketika menjawab, “Ro Nai Yosua nantoari i, donganku martiga-tiga di onan, songon na hapal pinggol borum, ninna.”

Setelah itu, hening. Tiga menit. Perempuan itu mengusap air matanya lagi, dengan ujung bajunya. Si gadis bergeming. Sepasang matanya tetap sunyi mencekam.

Hapal pinggol, aha do lapatanna i, Inang?” tanya saya pelan.

Mendengar itu tangan si ibu makin sibuk mengusap air mata dan ingus yang berleleran, isaknya membuat bolong hati saya.

“Dia hamil,” bisik Aris Mulia Sitorus kepada saya, mewakili si ibu.

Kembali hening. Saya sempat berpikir, itu hasil dari paman atau ayah? Gila, gila, pikir saya.

Inang, husungkun ma jo hamu. Akan kita gugurkan atau kita teruskan kehamilan ini?” tanya saya, hati-hati.

Hening. Tiga menit. Kemudian, “Teruskan, Amang. Jangan digugurkan.”

Mendengar itu spontan saya mengangkat bokong, menyorongkan tangan kanan saya ke arahnya, yang disambut ragu oleh si ibu, dan saya berkata, “Mauliate, Inang. Di rohangku pe. Jangan digugurkan.”

Polisi menjelaskan bahwa sekarang si korban diamankan di rumah kepala desa. Refleks saya menengok ke arah orang yang dimaksud, merasa sebal melihat senyum aneh si tembem, membayangkan dia akan mengambil untung dari situasi yang sudah buruk ini.

Pada akhir pembicaraan, saya meminta bupati agar mengambil alih masalah, mengurus si gadis tetap sekolah dengan menghadirkan guru dan bidan untuk memeriksakan kehamilan. Bupati menyanggupi, mengangguk-angguk.

Kami meninggalkan rumah itu dan hati saya tertinggal di sana. Si gadis tak beranjak, tak juga menerima tangan saya untuk disalam. Saya mengusap rambutnya sekilas, berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja. Setelah berkata itu saya gelisah.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir di satu warung. Hanya kami berempat. Bupati dan asistennya, saya, dan Aris Mulia Sitorus.

“Pak Bupati, saya tidak percaya kepada semua laki-laki. Maksud saya, sebaiknya kita pindahkan gadis itu dari rumah kepala desa ke tempat yang betul-betul aman.”

Mulut bupati langsung menyebut asrama bible vrouw yang berjarak 100 meter dari tempat kami berada. Ketika kami ke sana, tempat itu ternyata penuh. Syukurlah seorang gadis berkacamata menahan kami pergi, berkata, “Biar dia tinggal di kamar saya.” Dia seorang perawat di satu rumah sakit milik gereja.

Begitulah urusan si gadis bermata sunyi selesai sementara. Setelah itu, kami bubar. Aris Mulia Sitorus kembali ke Medan mengurus urusannya yang lain. Saya balik ke rumah.

Seminggu dari peristiwa saya ke Jakarta. Sebulan di sana, saya kembali ke desa untuk mengecek rumah warisan. Di dalam pesawat menuju Silangit, kedua mata sunyi gadis itu menyapa. Jantung saya berdebar. Saya mengutuk diri karena telah melupakan perkara dia selama ini.

Dari bandara, saya perintahkan sopir langsung ke asrama bible vrouw. Saya lega melihat pipi gadis itu bersemi. Namun, benak saya terganggu melihat pakaiannya sama seperti pertama saya melihatnya: daster bunga-bunga dua bagian.

Dari si gadis perawat, saya tahu bahwa sebulan ini tak seorang pun mengunjungi si gadis bermata sunyi, kecuali ibunya. Tidak guru, tidak bidan, tidak siapa pun. Darah saya seperti hendak muncrat mendengar laporan itu. Saya langsung menelepon, mendamprat si bupati. Di saluran telepon, bupati itu mengucapkan kata maaf beberapa kali, berjanji akan membereskan semuanya.

Lalu, saya minta mereka berkemas. Kita ke rumah sakit dan ke pasar, ujar saya. Di rumah sakit, si gadis bermata sunyi diperiksa kandungannya untuk pertama kali. Di pasar, saya menyerahkan sejumlah uang ke gadis perawat, berkata, “Tolong belikan kebutuhannya.”

Lima belas menit kemudian mobil meluncur ke asrama mereka.

Ompung,” terdengar suara si gadis perawat.

“Ya, Inang?”

“Ada permintaan si Nur. Katanya dia ingin melihat Pantai Bulbul. Belum pernah dari sana dia. Boi doi, Ompung?”

Mendengar permintaan itu saya memejamkan mata. Gadis itu tidak lagi segan kepada saya. Ada perasaan aneh yang menyenangkan menyelinap ke hati saya.

Boi, Inang,” jawab saya lembut. Tanpa saya perintahkan, mobil mencari arah yang benar.

Saya duduk di bale-bale bambu beralas tikar, memperhatikan gadis itu berjalan di pinggir pantai Danau Toba, melompat-lompat kecil, memandangi kakinya lama-lama, membenam-benamkan kakinya ke pasir, seperti merayakan sebuah kesenangan. Si gadis perawat sibuk berswafoto.

Empat potong arsik, daun singkong tumbuk, dan sambal andaliman sudah tersedia ketika mereka kembali. Saya bahagia melihat gadis itu menandaskan makanan di piringnya, tanpa malu-malu, tanpa bicara.

Sepulang kami, saya memonitor si gadis. Memastikan guru dan bidan datang sesuai jadwal, dan saya menikmati rumah warisan ibu yang selesai dibangun tanpa terburu-buru.

Malam ini perayaan Natal di rumah dinas bupati. Baru kali ini acara keagamaan bikin saya bersemangat. Mengenakan batik, saya tiba di lokasi seperempat jam sebelumnya. Hati saya seringan kapas ketika melihat-lihat halaman rumah yang berhias lampu-lampu warna-warni dan seorang berkata bahwa saya ditunggu oleh sekumpulan ibu.

Saya berjalan masuk, menyalami tiga perempuan berkebaya berdandan wangi, dan istri bupati yang tampil sempurna malam itu. Dengan sopan saya memuji kecantikan mereka.

Seorang memuji saya awet muda. Seorang mengucapkan selamat atas rumah baru saya. Seorang berkata dia iri kepada istri saya karena suami yang ganteng dan setia. Nyonya rumah berterima kasih saya mau repot mengurus gadis korban dan meminta maaf karena belum menengok.

Saya mengangguk-angguk, tersenyum.

“Sebenarnya Amang tak usah repot-repot mengurus karena toh korban menikmatinya,” celetuk salah satu dari mereka, yang disambut tawa cekikikan.

Badan saya membeku mendengar itu, hati seperti teriris dan dikucuri jeruk nipis.

“Maaf, permisi.” Saya berjalan cepat ke halaman, pergi. Tangan saya bergetar saat memegang kemudi. Mobil meluncur tenang dalam gelap ketika mata saya memanas. Wajah ibu memenuhi kepala saya. (M-2)

 

1:  Penatua

2:  Ibu, dari mana Ibu tahu putrimu diperkosa?

3:  Begini, Amang. Ibu Yosua, teman saya berjualan di pasar, bilang pinggang putri saya tebal.

4:  Apa maksudnya tebal pinggang?

5:  Ibu, sekarang saya bertanya.

6:  Terima kasih, Ibu. Saya pun berpikir demikian.

7:  Penginjil perempuan, bahasa Belanda.

8:  Kakek

9:  Bisa, Kakek?