Cerpen Kak Ian (Radar Banyuwangi, 19 Januari 2020)

Saksi Mata ilustrasi REZA FAIRUZ-RABA Radar Banyuwangi -1
Saksi Mata ilustrasi Reza FairuzRaba/Radar Banyuwangi

NAJIB terengah-engah sepulang dari ladang. Napasnya turun-naik, tak menentu. Ia seperti orang dikejar-kejar binatang buas. Mukanya sudah bermandikan begitu banyak peluh. Guratnya pun menampakkan ketakutan juga yang amat dalam. Sampai-sampai saat ia masuk ke dalam rumah langsung menceracau tidak karuan.

“Tutup pintu! Tutup semua! Jangan ada yang terbuka!” pekik Najib sambil menutup semua jendela dan pintu rumah. “Sih, Asih! Tolong tutup semua bila ada yang terbuka!” lanjutnya.

Usai itu Asih hanya termangu. Sejenak ia melihat lelaku aneh Najib selepas pulang dari ladang. Suaminya itu seperti orang ketakutan.

“Sudah aku tutup semua, Pak! Pintu dan jendela di rumah tidak ada lagi yang terbuka!” seru Asih memberitahukannya.

“Bagus! Jika nanti ada yang ketuk-ketuk pintu lalu mencari aku, bilang saja tidak ada!” Asih hanya menganggukkan kepala. Tanda mengiyakan.

Tapi sejak senja hampir tenggelam di kaki langit, tidak ada seorang pun yang mengetuk apalagi menggedor pintu mereka. Dan Najib sendiri masih menyudut di kamarnya. Ia tetap berada di sana. Usai itu Najib tidak mau keluar kamar. Walaupun saat itu aman-aman saja. Ia masih menyudut di sana! Lalu angannya melayang pada apa yang ia lihat saat pulang dari ladang.

***

Hari itu seperti biasa sebelum burung-burung prenjak kembali ke sarang dan senja masih asyik menemani pantai, Najib sudah pulang dari ladang. Dalam perjalanannya, ia selalu melewati kebun singkong. Namun saat ia melalui kebun hari itu, tanpa sengaja ekor matanya melihat beberapa lelaki berbadan tinggi, tegap, dan gempal bersama seorang pria berpakaian jas sangat rapi sekali sedang berkumpul. Mereka sedang berbincang-bincang. Begitu jelas Najib melihatnya.

Bukan hanya itu, di antara mereka Najib melihat ada dua lelaki yang sangat ia kenal rupanya. Lelaki pertama menggunakan pakaian cokelat dan berkopiah. Lalu di sampingnya berdiri seorang anak muda. Ia tahu sekali wajah keduanya itu.

Mereka ternyata sedang melakukan transaksi. Entah transaksi apa Najib tidak bisa melihat jelas mimik mulut mereka dari balik pohon-pohon singkong itu. Di mana ia sembunyi agar tidak diketahui oleh mereka. Tapi yang mengejutkan dirinya saat anak muda itu dihunus belati oleh lelaki berpakaian cokelat-mocca itu. Usai itu menerima koper dari pria berjas tadi. Najib yang takut darah sejak anak-anak ketika melihat ada darah di tangan lelaki berpakaian dinas itu seketika panik. Ia langsung meninggalkan tempat itu.

Sayangnya, wajah Najib sudah diketahui. Itulah kenapa Najib lari tunggang-langgang. Lari seperti orang ketakutan saat sepulang dari ladang.

***

Sejak peristiwa itu terjadi, Najib tidak mau keluar rumah apalagi berjualan buah di terminal lagi seperti biasanya. Ya, sehari-hari pekerjaan Najib adalah seorang penjual buah-buahan.

Asih yang melihat Najib seperti itu pun mulai khawatir. Apalagi sudah sepekan suaminya tidak berjualan. Memang mereka bisa makan karena masih ada hasil panen di ladang. Jadi bisa mereka jual. Tapi jika terus-menerus mengandalkan panen, bisa jadi mereka akan kelaparan.

Akhirnya Asih pun menegur Najib. Saat itu suaminya lagi menyudut rokok di kamarnya. Asyik menghirup asap dari tembakau itu.

“Pak sudah seminggu ini tidak berjualan. Ada apa memangnya?”

Najib saat itu masih asyik menyumpal mulutnya dengan kretek.

“Aku tidak mau lagi jualan!”

“Kenapa, Pak?”

“Sudah ah kamu jangan banyak tanya!”

“Aku bukan banyak tanya, Pak! Tapi panen kita sudah mau habis. Seminggu Bapak tidak berjualan. Nanti kita mau makan apa?”Asih akhirnya mengeluarkan segala unek-uneknya itu. Kenapa akhir-akhir ini suaminya itu tidak peduli lagi untuk mencari nafkah, berjualan buah-buahan. Itu yang masih Asih tanyakan.

Najib diam sejenak. Ucapan Asih coba ia masukan ke kuping kiri lalu diendapkan ke kuping kanan. Usai itu ia pun menyadarinya. Apa yang dikatakan istrinya itu ada betulnya. Ia sebagai kepala rumah tangga sudah sewajibnya memenuhi kebutuhan keluarga.

“Iya, besok aku mulai lagi berjualan!” Akhirnya keluar juga ucapan itu dari mulut Najib yang hitam.

Asih merasa lega mendengarnya. Ia bersyukur suaminya itu masih punya rasa malu menjadi kepala rumah tangga jika tidak mencari nafkah. Malu jika tidak berjualan. Ia berkali-kali berucap syukur.

***

Hari ini adalah awal di mana Najib berjualan kembali di terminal sejak seminggu ia seperti terkena delusi. Sebuah perasaan dikejar-kejar oleh sesuatu yang amat ditakutinya.

“Terima kasih ya, Pak sudah mau kembali berdagang lagi,” ucap Asih.

“Iya! Seharusnya aku yang malu tidak mau menafkahi keluarganya sendiri.”Asih semringah mendengar kembali kata-kata Najib bak motivator. Ucapan suaminya itu, kali ini benar-benar sangat bijak dan sejuk. Jadi Asih tidak lagi memusingkan makan apa nanti.

Di terminal Najib berjualan, di tempat ia biasa mangkal hari itu sangat terik. Bola raksasa sudah tepat di atas kepalanya. Begitu pun dengan peluh sudah banyak membanjiri pelipisnya. Tapi belum juga ada pembeli yang menghampirinya. Atau, mungkin para pelanggannya tidak tahu kalau ia sudah mulai berjualan lagi?

Najib merasakan dahaga. Ia pun langsung mengambil air mineral yang sudah Asih taruh di dalam gerobak dagangannya. Saat Najib sedang minum, ia melihat dari kejauhan ada dua sosok lelaki berbadan tegap dan besar menyerupai preman menuju ke arahnya. Ia sangat kenal dengan kedua lelaki itu. Ya, lelaki itu pernah dilihatnya di kebun singkong bersama pria berjas rapi. Ia sangat ingat betul!

Mau apa mereka itu datang? Pikir Najib. Raut wajahnya menampakkan pias. Ia kembali merasa ketakutan.

Tidak lama kemudian dua lelaki yang menyerupai preman itu sudah di hadapannya. Najib terpaku.

”Kami ke sini tidak bermaksud jahat pada kamu! Kami hanya mengantarkan ini saja dari Pak Kades. Kami harap kamu bisa bekerja sama soal ini,” ucap salah satu lelaki berpakaian preman itu. Najib masih tetap tergugu. Bungkusan berwarna cokelat yang menggembung itu sudah di hadapan dirinya. Najib dihantui dilema.

“Baiklah, kami balik dulu, Jib! Kami tunggu seminggu lagi untuk memikirkan pilihan kamu. Lagi pula Pak Kades ingin sekali kamu mengunjungi rumahnya.” Begitu pesan terakhir dari lelaki berbadan tegap dan besar pada Najib.

Menurut Najib itu bukan pesan, tapi tekanan. Bisa juga sebuah ultimatum. Siang itu seketika di terminal Najib rasakan begitu sangat panas. Apalagi saat ia melihat bungkusan cokelat yang ada di hadapannya sedang merayu dirinya untuk segera dinikmati dengan cara membeli apa saja. Entah, bisa membeli barang mewah, pecah-belah, perabotan rumah tangga, dan kalau perlu membeli kalung untuk Asih atau membeli perlengkapan bayi. Ya, karena Asih sedang buncit 4 bulan.

Pikiran itulah yang sedang menggerogoti benak Najib. Ia harus bisa mengambil keputusan secepatnya. Atau, ia kembali dihantui ketakutan terus-menerus.

***

Sepulangnya dari terminal, Najib kembali bimbang. Ia hanya diam membisu. Kopi yang ada di hadapannya tidak ia sentuh sama sekali. Padahal Asih sudah membuatkannya penuh dengan cinta.

Asih yang mulai merasakan keanehan Najib kumat kembali pun jadi penasaran. Apalagi tadi saat suaminya itu ada di terminal, orang-orang kepercayaan Kepala Desa mendatangi rumah mereka. Asih pun akhirnya memberitahukan Najib soal kedatangan mereka itu.

“Pak, tadi orang-orang Kades kemari. Mereka menyuruh aku untuk menyampaikan ke kamu. Kamu mau tidak jadi tim sukses Kades? Sebentar lagi kan di kampung kita ada pemilihan kades baru lagi. Apa kamu bersedia jadi tim suksesnya?” pungkas Asih membuka topik obrolan malam itu.

Najib hanya diam. Matanya kosong. Pikirannya melompong.

“Pak! Bapak mau tidak jadi tim suksesnya Kades?!” Asih menegaskan kembali pada Najib.

Najib bukan menjawab melainkan masuk ke dalam kamar. Ia ternyata mengambil amplop cokelat yang menggembung itu. Amplop yang diberikan oleh orang-orang yang menemui dirinya di terminal saat ia berjualan tadi.

“Ini jawabannya! Kenapa aku diam saja sejak tadi saat kamu nyerocos terus! Ya, karena ini juga, Asih!” seru Najib sambil membanting amplop di meja.

Asih yang tidak tahu apa isi di dalam amplop cokelat itu. Ia lantas mendekatinya, memegangnya, lalu melihatnya. Lalu ia keluarkan isi di dalamnya.

“Astaga! Pak ini uang banyak sekali! Dari mana kamu mendapatkannya, Pak?” dengan mata terbelalak Asih menghampiri Najib sambil memegang uang itu.

“Itulah Asih yang aku pikirkan! Mereka ingin menyuapku. Ingin menyumpal mulutku agar tidak melapor kepada pihak polisi atas peristiwa yang kemarin aku lihat di kebun singkong,” Najib akhirnya mengeluarkan apa yang ada di benaknya sejak tadi. Ibarat gunung meletus laharnya sudah menjalar ke mana-mana jika ia mau meletuskannya.

“Maksudmu, Pak?”

“Iya, mereka melakukan begitu agar aku menutup mulut soal apa yang kulihat seminggu yang lalu saat pulang dari ladang. Kades telah membunuh Sobur, bawahannya itu. Bukannya hanya itu. Aku juga melihat orang-orang yang memberikan uang ini! Maka dari itu mereka ingin aku tidak menjadi saksi mata atas kematian Sobur. Padahal aku tahu jelas ia dibunuh agar tidak ada yang mengadukan jika Kades menerima suap dari pria berdasi itu. Bagaimana ini, Sih? Aku harus apa!” Najib panjang lebar memberitahukan Asih. Istrinya hanya mendengarkan saja tidak dapat berkata-kata lagi saat mengetahui kebenarannya.

“Bagaimana kalau aku minta nasihat dari Ustad Kusnan, guru mengaji di kampung sebelah. Siapa tahu dari beliau bisa mengambil keputusan yang tepat,” Najib akhirnya menemukan sebuah pencerahan.

“Terus mau menemuinya kapan?”

‘Malam ini, Sih! Mumpung belum begitu larut.”

“Ya, sudah, Pak! Aku setuju! Kalau begitu aku siapkan dulu pakaian dan sarung juga tas kecil untuk menaruh uang ini.” Asih dengan gesit membawakan pakaian dan sarung untuk Najib mengunjungi Ustad Kusnan, guru ngaji yang sangat disegani itu.

Akhirnya Najib meninggalkan rumah malam itu. Tampak malam itu sangat sunyi. Desir angin malam begitu dingin. Sesekali terdengar bunyi burung malam menyayat hati dan membuat bulu kuduk berdiri. Seperti ada malapetaka terjadi. Najib pun tidak lupa melewati kebun singkong itu kembali. Maklum ke rumah Ustad Kusnan melewati kebun itu.

Tapi belum sampai di tengah perjalanan ada beberapa orang bertopeng menghadang perjalanan Najib. Najib dikepung dan dikeroyok tanpa perlawanan. “Ini untuk orang yang tidak mau diajak bekerja sama. Daripada kamu buka mulut lebih baik aku yang lebih dulu menutup mulutmu selama-lamanya, Najib!”

Dengan bersimbah darah tumbuh Najib tersungkur ke tanah. Tapi sebelum ia menghabiskan napas terakhir itu lebih dulu diseret ke kebun singkong. Tempat di mana ia pertama kali melihat sebuah kejahatan bermula.

“Semoga kamu damai di neraka, Jib! Ha-ha.” Orang yang menghunuskan belati ke tubuh Najib terbahak-bahak, menertawakan kematiannya.

“Oya, kamu harus tahu, Jib. Pria berdasi yang memberi aku koper itu adalah seorang pengusaha ternama di ibu kota. Dan uang yang ia berikan itu untuk membeli lahan yang kamu tempati bersama warga kampung ini untuk dijadikan apartemen serta mendukung kesuksesanku kembali dalam pemilihan kades nanti. Najib… Najib… kamu memang manusia lugu dan polos. Selamat jalan ke neraka, Jib! Ha-ha.”

Kini pembunuh Najib membuka topengnya. Ternyata saat ia lihat muka dari balik topeng itu, tampak jelas terpampang wajah Kades yang menyeringai seperti serigala. Tanda kenyang seusai memakan mangsanya mati tak berdaya seperti Najib.

Najib perlahan-lahan menutup mata. Amplop cokelat yang ia bawa kini sudah bercampur oleh darahnya. Lengkap sudah kematian menjemputnya. Sedangkan para pemakai topeng itu meninggalkan tubuh kaku Najib di kebun singkong dan uang di dalam amplop yang dibawanya diambil paksa kembali oleh Kades untuk membeli suara-suara dalam pemilihan kepala desa nanti. Sekarang Kades itu aman karena batu sandungannya sudah terbujur kaku, tidak berdaya. Ia sangat puas membunuh saksi mata yang tidak bisa diajak bekerja sama dengannya. (*)

 

Kak Ian, penulis dan aktivis anak. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta (KPBJ). Karya-karyanya berupa cerita anak, cerita remaja, dan cerpen serta puisi telah dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional serta online. Penulis yang sedang menggandrungi fiksi anak dan menjadi pendongeng ini sudah memiliki buku solo maupun antalogi.