Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 19 Januari 2020)

Perempuan yang Tidur Menghadap Tembok ilustrasi Budiono - Jawa Pos
Perempuan yang Tidur Menghadap Tembok ilustrasi Budiono/Jawa Pos

”JANGAN menatap mataku, nanti kamu jatuh cinta.”

Engkau lempar lagi kalimat itu kepadaku siang ini. Entah sudah keberapa kali.

Matamu berjibaku dengan berkas cahaya yang menyerbu dari kaca-kaca gedung, mobil, juga percikan jutaan miliar sinar matahari yang menghantam warna putih tembok pemakaman. Ada sisa bara yang memerah di sana.

Di taman makam pahlawan itu, engkau mengunjungi pusara kakekmu. Tempatnya persis berhadapan pintu dengan gedung pertokoan teknologi paling canggih; Hi-Tech Mall. Di bawah terik matahari, meski mengenakan kacamata hitam cokelat warisan almarhumah ibumu, engkau katakan permintaan itu pula. Baru kemudian mengungkap hal yang kukira lebih penting dari sekadar mencuri pandang matamu.

”Aku mengajakmu kemari sesungguhnya bukan untuk menziarahi kakekku,” katamu sembari menyingkirkan helai rambut dari parasmu.

”Lalu apa?”

”Aku cuma memperkenalkanmu kepadanya. Sekaligus menghitung seberapa jauh jarak antara pahlawan dan pecundang.”

Kamu katakan itu sambil membuka kacamata, menggigiti ujung gagangnya, lalu menyentuh-nyentuhkannya di dekat pupil matamu yang bening bercahaya cokelat kebiruan itu. Aku tahu, pecundang yang dimaksud bukanlah diriku. Tersebab itu aku punya nyali merampok pandang nyala matamu.

Sekelebat aku melihat ada amarah, ada pilu, juga syahdu di balik sayup-sayup mata beningmu. Lalu, kembali engkau berkata hal yang sama. ”Jangan menatap mataku…”

Aku dingin saja. Tidak tersenyum. Tidak jengah. Tidak juga menyanggah, apalagi membantahnya.

Sekejap kemudian dua lelaki membawa ember berisi air. Diletakkannya ember di dekat pusara kakekmu. Engkau menyerahkan selembar dua puluh ribuan kepada mereka. Lantas bercakap-cakap sejenak. Tentang rumput. Perihal kerikil. Soal tanah. Masalah siapa-siapa yang telah berkunjung kemari.

Aku mendengarnya sebagai percakapan yang sudah biasa meski tak berarti kalian saling mengenal. Aku tak mendengarmu meminta lelaki itu tak menatap matamu. Padahal, engkau telah melepas kacamatamu. Di bawah pusara itu, bayang deret pepohonan cemara memang menyejukkan.

”Dia hanya butuh uang, dan kuberi yang dia butuhkan. Lalu, dia membalasnya dengan apa yang sepertinya kubutuhkan. Air. Akhirnya, jadilah kebiasaan. Awalnya, mereka hanya minta uang. Mulanya, kami tak membutuhkan air.”

”Oh, ya. Sama-sama penipu yang ulung. Dia aman menerima uangmu dengan memberimu dua ember air. Demikian juga dirimu, ikhlas menyodorkan selembar rupiah berkat air yang menyejukkan hati dan pikiranmu,” kataku enteng sambil iseng mengurus rumput di pusara itu.

”Ah, nggak demikian juga. Jangan bicara soal hati, pikiran, dan perasaan kepadaku. Kau hanya perlu tahu, aku menolak simpati dan empati apa pun dari orang lain. Ini yang diajarkan kakekku,” tedasmu yang miskin senyum itu.

Kau mengawali peristiwa perkenalan selepas mengguyur pusara kakekmu. Aku membantumu menuangkan seember air yang tersisa agar merata ke seluruh penjuru kijing batu, dari maesan ke seluruh ”badan”. Setelah menepis sedikit pasir dan air di telapakmu, merapikan gaunmu, lalu berjongkok, kau pun berbincang dengannya.

”Kakek…aku datang…” katamu. ”Aku membawa laki-laki yang baik. Gagah seperti kakek. Tapi, dia kularang melihat mataku. Tentu kakek tahu maksudku.”

***

Semenjak itulah aku berpikir, engkau seorang penipu. Bermula dari percakapanmu yang tenang dengan preman kuburan. Aku juga bersikap dingin dengan energi tipu daya muslihatmu, lantaran sedikit-sedikit aku juga belajar ilmu menipu. Tersebab itu, siapa pun tidak perlu repot, bingung, apalagi panik bila sampai detik ini –seperti aku– sama sekali tak tahu maksud semua cerita ini. Yang terpenting, apa pun, jangan taklid sepenuhnya pada apa kata orang.

Dalam hal kejujuran, bilamana suatu kalimat diucapkan berkali-kali itu berhujah, engkau sedang berusaha keras untuk menipu dirimu sendiri dengan kalimat itu. Ini sama halnya dengan situasi: pura-pura serius dan serius pura-pura. Sama juga bohong. Akulah ahlinya dalam hal menempatkan diri dalam keadaan demikian. Keadaan adalah segala-galanya. Keadaan lebih penting daripada pesannya.

Mula-mula keyakinanku dalam hal keadaan ini begitu seriusnya. Kemudian, ternyata keseriusan itu sudah pernah terjadi jauh sebelumnya di dunia ini. Dalam sebuah buku, pernah kubaca, Bertolt Brecht berkata, kita sudah terlalu lama hidup dalam drama. Sehingga akhirnya aku pun tak lagi meyakininya dengan serius sebagai drama. Aku meyakininya dengan pura-pura.

Tersebab itulah aku tak pernah bertanya kepadamu; mengapa engkau memintaku tak melihat matamu yang bening cokelat kebiruan itu. Meskipun berkali-kali engkau katakan, setiap lelaki yang menatap matamu berakhir jatuh cinta kepadamu. Engkau sering terus mengingatkanku dalam hal itu, sesering aku menikmati keelokan matamu –mata seorang penipu.

Aku pun tak pernah bertanya dalam banyak hal. Aku menemukan jawabannya sendiri dari semua tipu dayamu. Karena desakanku, yang tak memercayaimu, dan lantaran mulai tumbuh ketakpercayaanmu kepadaku, lantas kita pun bersepakat sebagai sesama penipu. Lantas, apa yang bisa dipercaya atas segala cerita dari para penipu? Sudah barang tentu apa yang kita ucapkan, lakukan, bahkan mimpikan adalah tipuan belaka. Mimpi kita adalah mimpi para penipu tentang penipu dan cuma tipuan.

Lalu, nikmat apa lagi yang harus kita dustakan dengan keadaan tipu-tipu ini?

Engkau menipuku dengan mendaku diri putri seorang peranakan Eropa-Belanda. Sedang ayahmu lelaki Jawa berdarah biru yang keras lagi kaya. Sehingga kugambarkan engkau bermata bening cokelat kebiruan, berkulit manai, berwajah Indo-Eropa. Sementara engkau berusaha tunjukkan sopan santunmu, kelembutan dan keluwesan tutur katamu, juga minat mendalam pengetahuanmu pada budaya dan falsafah Jawa. Hei, engkau hafalkan tembang Sluku-Sluku Bathok dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Dus, kamu percayai pelbagai pengobatan alternatif warisan leluhurmu, sangkal putung, misalnya. Dan sesekali engkau menceramahiku perihal demikian.

Aku tak tanyakan saat engkau katakan ibumu seorang penari Jawa. Tersebab, pastilah kau akan lanjutkan karangan perihal kecantikan paras ibumu, yang menurun kepadamu dengan tahi lalat di bawah mata itu –mata kiri padamu dan mata kanan pada ibumu. Kemudian, kugambarkan ibumu seorang penari bedayan, sebuah tari legenda perjumpaan raja-raja Jawa dengan Ratu Pantai Selatan. Nah, itu cerita yang kamu suka juga: Nyi Roro Kidul. Dalam gambaranku, ibumu menari bersama sembilan penari lainnya, gemulai, ngelangut, lembut, khidmat, nikmat, diiringi irama gamelan yang sendu menawan. Seperti biasa sebelum aku tertipu, aku menipumu lebih dahulu dengan pengetahuanku yang ala kadarnya, semacam perasaan sok tahuku.

Dalam berbagai kesempatan, sesungguhnya aku menunggu cerita karanganmu perihal kakekmu yang terbaring di taman makam pahlawan itu. Yang kapan hari hendak kau hitung jarak kepahlawanannya dengan kepecundangannya, dengan entah siapa. Namun, yang meluncur malah kisah palsu tentang bapakmu. Baiklah, setidaknya kukira bapakmu adalah pecundang yang kamu maksudkan itu.

”Benar,” katamu, yang tentu engkau tahu tak kupercaya, selain sebagai bualan dan alasan hendak menipuku. ”Ayah mendidikku dengan sangat keras. Ayah membuatku seperti—tepatnya menghendaki diriku—lelaki. Aku harus jadi pemberani. Padahal, tak. Meski aku jelek, tapi wajahku lembut. Sangat bertentangan dengan hatiku yang sangat peka. Aku pendiam dan pemalu. Tapi, aku harus tegar, tangguh, kuat dalam menghadapi ketegasan ayah, karena ayah menginginkan aku lahir sebagai laki-laki. Aku diajari gerakan-gerakan silat, pukulan yang mematikan, titik-titik lemah musuh kita, belajar meditasi, dan tidak boleh menangis.”

Bualanmu mengingatkanku pada tokoh Zahra dalam novel Malam yang Keramat Tahar Ben Jelloun. Tak sulit menempatkanmu dalam cerita itu. Hanya, aku tak boleh berpikiran tragis pada nasibmu, setragis Zahra yang dicintai lelaki buta dan berakhir hidup dalam siksa penjara. Hanya novel. Sementara kita di dunia nyata. Dunia Zahra dunia nyata. Dunia kita dunia bualan. Atau terbalik? Entahlah, aku tak peduli. Mungkin saja terbalik, sebagaimana bisa pula kamu memutar jarak antara pahlawan dan pecundang.

”Di tengah ketakutanku,” lanjutmu. ”Nasihat ayah yang selalu aku ingat: Jangan pernah takut sama apa pun di dunia ini, kecuali Allah. Tetapi, saat kamu bersalah, meskipun kecil dan tidak ada artinya, takutlah kamu dan segeralah meminta maaf, meskipun itu kepada semut sekalipun.”

Di hadapan kejujuran para semut, engkau mulai makin ragu dengan pahlawan dan pecundang. Pada kakek dan ayahmu.

***

Tersebab itulah, aku pun tak takluk dengan suasana hatimu ketika ibumu berpulang beberapa hari sebelum kita di taman makam pahlawan itu. Betapa engkau begitu larut dalam kesedihan, kehilangan. Tangismu tak pernah berhenti. Matamu sembap dan bengkak sepanjang hari. Engkau seolah mengiba bahwa sepeninggal ibumu, tak ada lagi yang bakal mengasihimu. Kakekmu telah puluhan tahun lebih dulu tiada, ayahmu sudah gering tak bisa apa-apa, lalu kini ibumu.

Kuperingatkan kepadamu, berhentilah menangis. Menangis hanyalah membuat hati orang lain teriris. Berduka cuma bikin lelaki jatuh cinta. Aku berkata tanpa harus menatap matamu yang bening bercahaya cokelat kebiruan itu, yang apabila basah seperti danau di musim penghujan. Terlebih, buat apa mengumbar duka atau luka di media bilamana sesungguhnya engkau bisa bicara kepada Yang Mahakuasa? Tuhan tidak pernah membaca status-status WhatsApp, Instagram, Twitter, ataupun Facebook. Karena Dia telah mempekerjakan para malaikatnya dan membekali mereka pengetahuan bahwa itu semua palsu adanya, hoaks belaka. Ingat, malaikat itu mencatat, bukan meng-upload. Engkau tentu mengerti jagat virtual, digital hanyalah maya. Jagatnya orang tak percaya Tuhan, tatkala menjadikannya dinding ratapan.

Inilah khotbahku, yang aku sendiri tak memercayainya, namun engkau bisa menerimanya. Bahkan membuat panji-panji untuk tidak lagi larut dalam segala perasaan. Bahwa takdir dalam hidup bukanlah apa yang diterimanya, melainkan apa yang bisa diubahnya. Maka, engkau percaya pengasingan diri serta kebohongan terhadap orang lain. Termasuk kepadaku dengan memintaku tak menatap bening matamu itu. Juga menyusuri kembali riwayat hidup kakekmu –seorang perwira yang katamu pembasmi kejahatan di kota ini.

”Kepahlawanan kakekku, karena berhasil membuat seluruh penduduk kota ini bahagia. Menjadikan warga senantiasa sadar diri melihat keanehan orang lain, sebagaimana melihat dirinya sendiri diasingkan orang lain. Dengan kata lain, tidak ada orang yang benar-benar menjadi dirinya sendiri. Yang ada hanyalah selalu menjadikan diri dalam keadaan asing, atas nama kepentingan orang lain.”

”Maksudmu, kakekmu sudah sejak lama mengajarimu menampik tepa salira?” tedasku.

”Bukan, tepatnya, kakek sukses memaknai tepa salira dengan cara baru, era baru. Tepa salira yang lama hanyalah sumber dari segala sumber kejahatan, vandalis tatanan kehidupan kosmos.”

”Baiklah, aku harus pura-pura paham. Sepaham kenapa engkau melarangku menatap bening matamu yang seperti mata Madelon Szekely-Lulofs, pengarang Belanda kelahiran Surabaya itu. Kita hanyalah saling menunjukkan diri sesama penipu, bukan?”

Setelah engkau bisa pura-pura memahami kepura-puraanku, lantas kau pun melanjutkan kisahmu. Kisah tentang kakekmu, pahlawanmu yang sukses membawamu tak larut dalam kesedihan sepeninggal ibumu. Kisah lelaki pejuang yang tak pernah ada tragedi maupun komedi dalam hidupnya. Itulah sebabnya, katamu, kehidupan bapak dan ibu atas restu kakek berjalan dengan keanehan-keanehan, hampir tanpa kisah cinta indah sebagaimana novel-novel picisan kendatipun ibu dan bapakmu bagaikan langit dan bumi. Bapak seorang seniman, pelukis, dan penyair gagal yang keras kepala, sedangkan ibu seorang penari yang gemulai, namun sukses dalam karirnya. Meski demikian, kakek berhasil mendidik anak lelakinya dan menantunya yang blasteran Jawa-Belanda itu tenggang rasa –tepatnya tenggang pikir. Bahwa apa yang kita pikirkan tentang hidup bukanlah hidup yang sesungguhnya. Hidup yang sebenarnya adalah hidup yang serius dalam kepura-puraan, yang pura-pura dalam keseriusan. Urip mung mampir obah, owah, solah dan selanjutnya sawang sinawang.

Sepeninggal kakek, lambat laun arah hidup kembali bergeser. Kejahatan dimulai dengan ketika orang mengurusi orang lain. Saat orang mudah sekali tersedot simpati, empati, dan kasih sayang orang lain. Sebagaimana bapakmu pelan-pelan memperlihatkan cinta kepada ibumu dengan cara yang begajul. Kasar, membentak, memerintah. Ibu memang tak pernah menangis, tapi kemudian dengan tertegun, diam, justru membuat bapak iba. Saling menyentuh hati, sentimentil. Merajuk, merayu. Begitulah cinta dipertahankan dengan bermain hati dan perasaan.

Begitulah, cepat sekali kejahatan berbiak; perampokan, pencurian, pemerkosaan. Bukan saja atas harta, melainkan juga jiwa dan nyawa. Bukan saja di luar rumah, melainkan juga di dalam rumah, di bilik-bilik rumah tangga, bahkan di kamar-kamar sepasang suami istri, pencinta. Engkau menikah dengan suami pilihan Tuhan dan keadaan –yang sudah dalam kondisi lingkungan demikian. Aku lebih suka menyebutnya begitu. Bukankah aku tak memercayai apa pun yang engkau katakan dan ceritakan?

Termasuk ceritamu yang berikut ini: Engkau mengaku atas nama cinta sanggup hidup dengan dinikahi seorang lelaki yang sangat peka, perasa, dan sensitif hatinya. Maksudmu lelaki yang jago pukul, ringan tangan, kuat cengkeraman tangannya ketika memiting tubuhmu di tempat tidur. Seorang lelaki yang kasar, cablak, umpatannya tajam, sorot matanya semerah darah, ke mana-mana menggenggam bara amarah. Seorang yang sangat peduli kepadamu dan kepada orang lain. Peduli adalah serupa hasratnya untuk membikin orang lain tersiksa setengah modar. Maka, semenjak pernikahanmu, sebetulnya itulah hari pertama engkau memulai hidup baru: tidur menghadap tembok.

Demikianlah engkau boleh kisahkan apa saja. Tentang perubahan jalan hidupmu. Satu hal yang tidak pernah benar-benar berubah dan telah kita sepakati, hidup adalah menjalani diri sesama penipu. Aku tak percaya kepadamu sebagaimana engkau melarangku menatap matamu. Sekalipun kamu saban hari melalui pesan WhatsApp mengabarkan keadaanmu sehabis ditendang, digebuki, dihajar suamimu dengan pukulan seorang jagoan jujitsu. Sebaiknya aku menganggit dirimu seorang jawara pencak silat dari padepokan paling hebat, yang canggih menangkis dan kuat menyikat. Seorang jawara tentu telah terlatih tubuhnya merah lebam, bengkak biru, mata hitam berdarah, terjengkang, bahkan terluka. Apalagi cuma kata syair lagu: bekas gambar tanganmu.

Memang aku sering menjarah pandang matamu. Namun, aku tak pernah benar-benar jeri. Kesepakatan dan hidup kita telah mengajarkan, hidup sebagai sesama penipu akan meruwetkan jarak seorang pahlawan dan pecundang. Barangkali kamu lebih mengenal keduanya. Tetapi, aku akan terus katakan kepadamu: Aku tak memercayai apa pun cerita karanganmu, pengakuanmu, kabar-kabar yang kau kirim kepadaku, sebagaimana engkau tak percaya untuk apa aku menatap matamu. Meski aku tak percaya kepadamu, aku terus menunggu ceritamu, pengakuanmu, kabarmu.

Terus terang, ini yang tak kuungkap kepadamu. Aku menunggu kabar suamimu mati terbunuh. Boleh oleh orang lain. Bisa juga oleh tanganmu yang jawara pencak silat itu. Yang entah bagaimana taktik dan strategimu bahwa itu bukanlah sebuah pembunuhan. Tidak sulit bagimu menemukan titik kematiannya. Aku juga tak katakan kepadamu perihal rencanaku bila suamimu telah tiada. Aku bakal mengajakmu hidup sebagai sesama penipu. Bahwa sebagai penipu, aku punya cara hidup yang sama sekali baru sebagai seorang lelaki pada perempuan yang ditipunya. Sekalipun perempuan itu penipu pula.

Kau boleh melarangku melihat mata beningmu yang cokelat kebiruan itu. Sebagaimana aku tak akan ungkapkan dua kalimat yang tentu tak kau percaya kebenarannya bila kulayangkan kepadamu. Hidup bersamaku, kupastikan kau tak lagi tidur menghadap tembok. Kau akan tidur menghadap pekarangan, lapangan, atau hutan. Kita akan sama-sama menggelandang. Tanpa perasaan. (*)

 

Ngimbang, 2019

S. Jai. Pengarang sejumlah novel. Yang terbaru berjudul Ngrong (2019). Penerima Penghargaan Gubernur Jatim (2015) dan peraih Penghargaan Sutasoma dari Balai Bahasa Jatim untuk buku kritik terbaik Postmitos (2019). Kini tinggal di Lamongan.