Cerpen Istifari (Suara Merdeka, 19 Januari 2020)

Perempuan Tembakau ilustrasi Suara Merdeka-1
Perempuan Tembakau ilustrasi Suara Merdeka

Hingga berusia 80 tahun, Salimah sudah tiga kali menikah. Pernikahan pertama dengan Saridin, tetangganya. Mereka dikaruniai anak perempuan.

Sebagai istri petani tembakau, Salimah lebih banyak menghabiskan waktu di sawah. Mula-mula ia membantu suaminya, kemudian mengembangkan sendiri berbekal pengetahuan bercocok tanam dari suaminya. Salimah memberikan hati sepenuh-penuh pada tembakau, tidak hanya menjaga dan merawat daun tembakau yang sebagian dirayapi ulat atau membusuk. Ia mengenal dengan baik nama dan rasa tembakau dari suaminya; pemasat dan pengering tembakau untuk konsumsi pribadi.

Kalangan petani tembakau dan tengkulak mengenal Salimah ulet dan telaten mengolah tembakau. Tembakau yang dia hasilkan lebih harum. Banyak sesama petani heran karena tembakau olahan Salimah selalu lebih laku di pasaran, padahal mereka menanam tembakau di tanah yang sama.

“Mungkin bukan karena tembakaunya, si Yek memuji dan menghargai tembakau Salimah lebih mahal daripada tembakau kita. Si Yek jatuh cinta,” cibir Muarko sirik.

“Saya pikir Kak Muarko benar. Semua itu pasti karena si Yek menginginkan Salimah,” timpal yang lain.

“Apa suaminya tak tahu istrinya main mata dengan si Yek?”

“Ko, apa urusanmu ngurus Man Saridin?” Paredi bertanya ketus. “Urus saja utangmu. Itu urusanmu dengan Man Saridin.”

Salimah tahu sering digunjingkan dan dikaitkaitkan dengan si Yek Pang, tengkulak tembakau yang konon berleluhur dari Jepang. Saridin pun beberapa kali menanyakan hal itu. Ia terusik dan malu saat sesama petani menyebutnya suami tak tahu malu. Namun Salimah berpendapat para petani menggunjingkan karena iri.

Saridin juga heran tembakau olahan istrinya memuaskan. Setiap panen tembakau, isi perabotan rumah Salimah berganti baru. Tipi, kasur busa, kursi, lemari, gorden, bahkan kulkas.

Di antara sekian petak sawah, Salimah menyisakan satu petak yang dia tanami tembakau khusus. Kata Salimah, itu khusus untuk konsumsi sendiri. Begitu Salimah selalu berkilah saat ditanya. “Tembakau-tembakau ini tak boleh dijual. Ini khusus buat kita”, kata Salimah kepada suaminya.

Saridin hanya mengangguk dan mengiyakan apa kata istrinya. Biar hemat. “Kak Saridin tak perlu beli rokok kemasan.”

Saridin yang pendiam mulai tak menghindari perasaan curiga dan cemburu atas keberhasilan Salimah. Perasaan itu makin menggumpal saat Saridin bertemu dan berkumpul dengan sesama petani tembakau.

Saridin tak betah berlama-lama tinggal di rumah yang Salimah lengkapi berbagai perabotan. Salimah membeli perabotan-perabotan itu langsung di Surabaya melalui teman si Yek, tengkulak tembakau.

Hati Saridin makin panas dan makin jarang pulang. Ia mulai banyak menghabiskan waktu di remoh-remoh, pergelaran tandak dan karapan sapi. Saridin makin tak peduli dan kalap, hingga akhirnya melampiaskan kekesalan; berhubungan gelap dengan seorang pesinden.

Salimah tahu suaminya bermain-main dengan perempuan. Namun ia menutup mata. Sebaliknya, ia terus belajar mengembangkan pemasaran tembakau. Ia menggelar tembakau di pasar tradisional. Dalam waktu dekat gelaran lapak tembakau Salimah dikenal dan laris. Tembakau kering bikinan Salimah sangatlah manis dan garing. Katanya, kalau diisap tidak akan membuat batuk dan sesak, tetapi terasa segar. Jadilah lapak tembakau Salimah tak pernah sepi. Salimah juga menyediakan kopi di lapaknya.

Si Yek sering berada di lapak Salimah, menikmati tembakau dan kopi seduhan Salimah. Orang-orang yang sering menghabiskan waktu di lapak Salimah senang ketika si Yek datang. Pasalnya, ia tak hanya ngopi, ngelinting rokok bersama-sama, tetapi juga sering mengoleh-olehi mereka makanan dari kota besar. Mereka senang berlama-lama berada di lapak tembakau Salimah. Salimah makin sibuk di lapak dan tak peduli atas tingkah aneh suaminya yang jarang pulang. Ia juga jarang turun ke sawah. Ia lebih banyak di pasar dan menerima pasokan tembakau dari petani. Dia memasarkan tembakau itu ke berbagai daerah dan kota di Madura dan Kediri. Pemasaran tembakau Salimah meluas berkat bantuan si Yek yang memiliki relasi di mana-mana. Sesekali Salimah pergi bersama si Yek menemui distributor.

Sepulang dari kota-kota di Madura dan Jawa Timur, Salimah terkejut atas kabar kematian suaminya, Saridin. Tidak jelas benar penyebab kematian suaminya itu. Hanya, ia tak bisa mengelaki kabar miring yang dialamatkan kepadanya; suaminya mati karena serangan jantung.

“Pantas,” Muarko menanggapi sinis. “La istrinya main serong sama si Yek.”

“Kamu bisa menjaga mulut tidak? Atau kusumpal mulutmu dengan tanah sawah?” Paredi, yang juga tangan kanan si Yek meradang. “Bukan mendoakan yang mati, malah nuduh aneh-aneh!” gertaknya sembari meninggalkan Muarko.

Sejak Saridin meninggal, Salimah tak lagi membuka lapak di pasar. Ia makin sering  pergi ke luar kota, mendistribusikan tembakau. Ia pun sering bertemu dan bepergian dengan si Yek. Akhirnya mereka tinggal di satu rumah di kota kecamatan. Keduanya diketahui sudah menikah.

Tidak banyak yang tahu bagaimana pernikahan antara Salimah dan si Yek berlangsung. Orang-orang hanya tahu, Salimah makin sukses menjadi distributor dan memiliki rumah besar di kota kecamatan. Petani-petani di tanah asalnya tak lagi mau menyoal apa yang terjadi dengan urusan pribadi Salimah. Mereka datang ke rumah Salimah, yang dilengkapi gudang penampungan tembakau di sebelahnya, lalu segera pulang seusai menyetor dan menerima uang hasil penjualan tembakau.

***

Pernikahan Salimah dan si Yek tak berlangsung lama. Laki-laki yang konon memiliki darah Jepang itu minggat, meninggalkan Salimah. Penyebab perceraian mereka, menurut kabar burung, karena Salimah tidak mau dibawa ke negara leluhur si Yek. Salimah bertahan dengan keinginan: tetap tinggal di kota kecamatan. Atau, kata Salimah, “Biarkan aku pulang ke kampung”.

Salimah memang memilih tetap tinggal di kampung ketimbang turut serta suaminya. Bahkan ia rela bila harus menempuh jalan perceraian. Kegagalan pernikahan kali kedua membuat Salimah memutus rantai dengan para pedagang tembakau di luar Madura. Salimah kembali menjadi penguasa pasar. Salimah berjualan tembakau kering siap linting. Salimah berpindah dari pasar ke pasar lain.

Salimah yang cepat akrab dengan orang, terutama konsumen, segera terkenal kembali. Dalam waktu pendek lapak tembakaunya sering jadi incaran pembeli, tak terkecuali tuan tanah, Haji Saidi.

Haji Saidi tertarik pada Salimah yang pandai bertani dan berdagang. Bagi dia, Salimah bisa menjadi mitra yang cocok. Haji Saidi berencana menyerahkan sejumlah tanahnya untuk Salimah kelola, sedangkan sebagian tanah lain dia berikan kepada istri pertama.

Hingga berusia 80 tahun, Salimah lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan sawah hadiah Haji Saidi, suami ketiga. Salimah menghabiskan hari-hari tuanya di sawah dan rumah; memasak tembakau sebelum anak-anaknya memasarkan. Berkali-ulang anak-anaknya meminta Salimah tidak memasak tembakau lagi. Namun ia hanya tersenyum menanggapi permintaan anakanak. Ia tak bisa menjelaskan kenapa hingga berusia 80 tahun terus memasak.

Ia hanya merasakan getaran sesuatu setiap kali memasak. Getaran dari masa lalu saat kali pertama suami pertama, Saridin, mengajak turun ke sawah, bertani tembakau.

Pada usia 80 tahun, Salimah selalu merasa muda dan gesit. Ia merasa saat memasak tembakau, Saridin datang dan mengajari beberapa teknik.

Tidak, tembakau yang tengah dia masak itu tiba-tiba menjelma punggung sang suami, yang meminta dikerok karena kelelahan dan masuk angin. Salimah senang melakukan itu. Saat seperti itu, tanpa terasa air matanya menetes, jatuh ke sela-sela helai-helai tembakau yang sedang dia masak.

 

Malang, 2019-2020

Istifari, lahir di Slopeng, Madura, 1985. Cerpennya diterbitkan dalam berbagai antologi bersama. Buku cerpen pertamanya Parodia (2017). Selain menulis, dia aktif di berbagai gerakan literasi dan komunitas di Malang. Saat ini, dia sedang mempersiapkan novel.