Cerpen Ilham Wahyudi (Analisa, 19 Januari 2020)

 

Obsesi Lamhe ilustrasi rio Art - Analisa (1)
Obsesi Lamhe ilustrasi Rio Art/Analisa

Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Anu. Saya sudah dua hari tidak makan. Saya hanya mau numpang ngamen sebentar. Boleh, ya? Bapak, Ibu, Mas, Mbak, lihatkan apa yang sedang saya pegang? Ya, benar sekali ini silet. Silet ini bisa saja saya gunakan untuk merusakkan tas atau dompet bapak, ibu, mas dan mbak sekalian. Tapi, saya tidak mau melakukannya. Mendingan silet ini saya makan saja dari pada saya gunakan untuk kejahatan! Untuk itu, dengan hati yang tulus saya berdoa semoga Bapak, Ibu, Mas dan Mbak tersentuh serta tergerak hatinya agar mau menyisihkan seribu atau dua ribu perak buat makan saya hari ini. Saya percaya itu tidak akan membuat Bapak, Ibu, Mas dan Mbak jatuh miskin apalagi menderita. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih dan selamat sampai tujuan!”

Semua ini berawal dari dendam. Ya, dendam Lamhe pada pengamen-pengamen ibu kota. Pengamen-pengamen yang sering kita jumpai itu kenyataannya adalah pemalak yang berlindung dibalik profesi mengamen. Sebetulnya, bukan hanya pengamen seperti contoh di awal tulisan ini saja yang sudah menjurus pada sebuah bentuk intimidasi. Pengamen-pengamen yang bernyanyi atau membaca puisi juga bernada serupa. Kadang malah ada yang sanggup ngomong kalau mereka sebenarnya bukan tak mau bekerja, namun karena tak ada perusahaan yang mau menerima, terpaksa mereka menjadi pengamen. Dan yang bikin jengkelnya lagi, mereka juga berlaku sombong dengan mengatakan bahwa sebenarnya di dalam tas mereka ada selembar ijazah S1. Omong kosong!

Memang tidak semua pengamen begitu. Tetapi, menurut Lamhe nyaris seluruh pengamen ibu kota mendekati dugaannya.

Lamhe tidak berlebihan. Ia sebenar sering menyaksikan sendiri kelakuan pengamen-pengamen ibu kota. Cakapnya sih enggak memaksa alias menerima seberapa pun yang diberi atau ketika sama sekali tidak diberi uang. Tapi kalau benar tidak diberi uang, pengamen-pengamen itu akan habis-habisan menyindir. Kadang sindiran itu yang membuat Lamhe—mungkin juga kita—naik pitam bahkan bisa sampai beradu mulut atau tangan.

Lama sudah kemarahan dan kebencian Lamhe pada pengamen-pengamen ibu kota berpinak di hati dan pikirannya. Wajar saja—6 tahun sejak pindah dari kota kecil ke ibu kota—Lamhe memang pengguna setia transportasi umum. Terutama ketika ia pergi dan pulang bekerja. Saat itulah ia acapkali bertemu dengan pengamen. Malahan, sewaktu Lamhe istirahat makan siang, pengamen-pengamen itu pun tak kalah agresif di warung-warung makan langganan Lamhe. Dan bila sudah bertemu begitu, Lamhe hanya bisa mengelus dada menahan api amarah dendamnya supaya tidak muncrat keluar.

Lantas, perkara apakah sesungguhnya yang membuat Lamhe mendendam? Kiranya tidak perlu kita ceritakan lagi. Yang pasti Lamhe marah dan benci, titik! Sekarang, lebih baik kita masuk ke dalam rencana balas dendam Lamhe saja. Betul, Lamhe memang punya rencana ingin menghabisi seluruh pengamen ibu kota!

Bagaimana caranya, ya, menghabisi seluruh pengamen ibu kota? Selain  melanggar hukum, tentu bukan hal gampang menghabisi mereka semua. Lagi pula mereka juga bukan orang-orang lemah yang begitu gampang dikalahkan jika sekiranya Lamhe harus beradu fisik ketika akan menghabisi mereka. Ya, betul sekali kalau melihat tubuh kurus Lamhe yang ringkih. Pasti dengan sekali pukul saja, Lamhe akan tumbang. Benar-benar tidak masuk akal rencana Lamhe!

Walakin, bukan Lamhe namanya jika menyerah tak mencari jalan penyelesaian. Kerasnya hidup di ibu kota telah memahat Lamhe menjadi pribadi yang cepat beradaptasi serta cepat pula dalam mencairkan padatnya masalah. Benar sekali, kita semua memang percaya itu, tapi bagaimana caranya bisa menghabisi semua pengamen ibu kota?

Teror! Lamhe akan meneror pengamen-pengamen ibu kota. Pertama-tama ia akan membunuh seorang pengamen yang secara fisik kuat dan kekar. Pembunuhan itu, kalau bisa dibuat sekejam mungkin; sesadis mungkin. Sehingga meninggalkan ceruk trauma bagi siapa saja yang melihat mayat pengamen yang menjadi target Lamhe, atau bagi siapa pun yang hanya sekadar mendengar kabar kematian pengamen itu. Selanjutnya, ia akan membunuh setiap pengamen-pengamen ibu kota dengan ciri fisik seperti korban pertama. Tapi, tentu di wilayah ibu kota yang berbeda. Dan terus seperti begitu sampai mewakili beberapa wilayah yang kemudian menggambarkan kalau pembunuhan yang dilakukan Lamhe adalah pembunuhan berencana serta akan terus berlangsung di ibu kota.

Percayalah, setelah berita pembunuhan itu heboh di televisi dan koran-koran, pasti pengamen-pengamen ibu kota akan menghilang dari peredaran. Apalagi dalam pembunuhan itu Lamhe akan membuat sebuah tanda. Contohnya, Lamhe akan meletakkan bunga mawar di atas tubuh pengamen yang telah ia habisi atau sebuah sapu tangan, barangkali. Persis seperti film-film pembunuhan berencana dari luar negeri. Wah, pasti asyik ini, pikir Lamhe!

Lamhe semakin antusias! Setiap hari ia selidiki kebiasaan pengamen yang akan menjadi targetnya. Tentu sambil pelan-pelan ia cicil alat untuk meluluskan niat hatinya. Mulai dari pisau Rambo, tali penjerat leher, sarung tangan, penutup wajah, pokoknya semua keperluan yang akan digunakan untuk menghabisi korbannya.

***

Akhirnya hari itu tiba juga. Selepas pulang dari kantor, Lamhe langsung menuju lokasi yang biasa disinggahi salah seorang pengamen saat sedang istirahat melepaskan penat tubuh. Lokasi itu sudah 3 bulan ini Lamhe pelajari. Sampai-sampai jika misinya ketahuan orang, Lamhe sudah tahu harus lari ke mana untuk menyelamatkan diri dari amuk massa.

Lama sudah Lamhe menunggu di lokasi. Biasanya menjelang magrib, pengamen itu singgah ke lokasi Lamhe sedang menunggu. Namun ini sudah selesai pula isya, pengamen yang ditunggu belum juga kelihatan urat lehernya. Lelah menunggu, Lamhe pun tertidur di lokasi targetnya.

Keesokan hari, orang-orang di sekitar lokasi Lamhe menunggu, sibuk menjinjing rasa penasaran. Semakin tinggi hari mendaki semakin banyak orang mendatangi lokasi itu lalu kembali dengan membopong gunung penasaran yang teramat besar. Apakah sesungguhnya yang telah terjadi? Bagaimana dengan rencana besar Lamhe?

Ah, entah! Tapi yang jelas sejak pagi Lamhe tidak ada di kantor. Orang-orang di kantor tempat ia bekerja mulai dari anak buahnya, teman sejawatnya bahkan sampai bos Lamhe sendiri sudah bolak-balik menghubungi ponsel Lamhe. Namun, Lamhe tidak kunjung menjawab. Malah sampai tulisan ini dimuat, kabar Lamhe belum juga terbetik.

 

Surabaya, 2019

Ilham Wahyudi. Lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Ia seorang fundraiser dan penggemar berat Chelsea Football Club. Beberapa cerpennya telah dimuat koran-koran, majalah dan antologi.