Cerpen Fahrul Rozi (Medan Pos, 19 Januari 2020)

Mengapa Mereka Menjauh ilustrasi Medan Pos-1
Mengapa Mereka Menjauh ilustrasi Medan Pos

Entah. Mereka lama-lama menjauh, dan tak pernah bermain lagi denganku.

Rumah yang berbentuk persegi panjang dengan atap genteng usang, dengan pintu tua berlubang—terbuka ketika ditendang salah satu dari kelima anak lelaki yang datang melenggangkan tangan.

Adit, salah satu dari mereka mengapit bola di tangan. Ia menendangnya ketika tiba di ruang tengah—teman-temannya mengejar sambil berteriak, “Aku, aku, aku yang dapat.” Dan setelah salah satu dari mereka mendapatkan bola lantas menendang, bola terbang— melambung ke atas.

Mereka merapat ke bawah bola yang melambug. Siap menyundul. Mereka kembali berteriak mengejar Adit yang menggiring bola ke arah gawang. Bocah berkulit coklat dengan tubuh paling kecil menggamit pundak Adit dan menariknya. Adit terjatuh dan bola didapatkannya. Bola pun segera ditendang. Wush. Sangat kencang hingga membobol gawang.

Permainan berhenti ketika terdengar beduk azan. Mereka duduk melingkar meluruskan kaki di depan rumah kosong, di dekat sungai.

Begitu terus setiap sore, mereka bermain ke rumah kosong di bawah jembatan dekat sungai. Yang konon, rumah kosong itu merupakan peninggalan Belanda yang ditempati seorang pendatang dari kota. Katanya, rumah itu tidak boleh dimasuki orang. Ada hantu yang tinggal, begitu orang kampung katakan pada anak-anaknya.

Awalnya mereka menghiraukan dan tak mau menganggap benar. Namun, setelah mereka mendengar suara benda tumpul pecah di ruang belakang rumah, mereka jadi teringat apa yang dikatakan orang tua mereka saat ketahuan bermain di rumah tersebut. “Itu hanya lamunan kalian.” Sanggah Adit.

Namanya juga anak-anak mereka masih saja datang dan bermain ke rumah kosong— yang mereka jadikan tempat bermain, akan tetapi sesuatu telah terjadi. Mereka melemparkan alasan pada Adit. Begini.

“Besok aku tidak boleh bermain di rumah ini lagi, Ayah melarangku,”

“Ibuku akan memtong uang jajanku jika aku masih bermain di sini,”

“Duh, gimana ya. Aku tidak boleh keluar rumah setelah sekolah,”

Semua teman Adit mengeluh, ia berdiri dan memandang rumah itu.

“Kalian payah! Payah!” Adit meludah.

“Apa yang kalian takuti? Rumah ini tidak ada bahayanya, bukankah kalian sendiri yang menentukan rumah itu sebagai tempat bermain kita?” semua temannya mengangguk. Ado berdiri mengiringi Adit.

“Bukan begitu, Dit. Kita semua di—” Adit mendengus.

“Seandainya kita tidak punya orang tua sepertimu, pastinya kita bebas bermain.” Salah satu teman Adit berdiri. Adit menatapnya. Wajahnya merah padam, ia merasa tersinggung.

“Apa maksudmu? Tidak memiliki orang tua tidaklah senyaman yang kalian pikir. Aku harus mandiri.” Semua diam, dan Ado kembali duduk menatap Adit. Mereka tidak berani membuka mulut.

“Aku akan buktikan rumah ini tidak ada hantunya.” Adit masih memandang rumah. “Asal, kalian bisa ke sini nanti malam! Setelah mengaji,” tanpa menunggu persetujuan dari mereka. Adit melanjutkan.

“Baiklah, nanti kutunggu kalian di sini,” Adit meninggalkan mereka, berjalan lunglai seperti baru saja mendapatkan beban yang amat berat.

Desa Kajo terletak di utara Desa Gajong. Tepat di bawah jembatan terdapat rumah peninggalan Belanda yang ditempati Mukidin dan istrinya. Rumah yang memunggungi sungai. Bangunan kokoh yang tidak lagi dicat ulang oleh Mukidin menjadi perhatian ketika keluarganya berkunjung ke Desa Kajo. Mereka akan memuji dan mengambil gambar.

Tapi sesuatu yang aneh terjadi di rumah tersebut. Sebuah suara mirip teriakan manusia samar-samar bergaung di telinga warga. Suara itu mengecil dan hilang. Warga tidak pernah mendengar suara itu lagi.

Seminggu setelah itu warga mencium bau busuk dari arah sungai. Mereka tahu betul tidak ada rumah selain milik Mukidin, rumah peninggalan Belanda. Karena dipaksa rasa penasaran dan bau busuk yang selalu mengganggu. Maka  mereka pada sore hari setelah asar pergi ke rumah itu, yang seminggu lalu dititipkan oleh Mukidin ke warga. “Aku dan istriku ingin menjenguk saudara yang sakit di kota.” Begitu jawaban Mukidin ketika ditanya warga mau ke mana. Mukidin membawa mobil jazz kuning.

Ia memiliki saudara di kota. Paling mereka berencana melahirkan anaknya di sana, anggap warga begitu.

“Eli!” pekik seorang perempuan setelah membuka pintu rumahnya.

Darah berlumuran di lantai. Eli terkujur dengan selangkang terbuka. Bayi di selangkangnya tak menangis atau pun bergerak. Salah satu warga berlari keluar, memanggil warga yang lain.

Sore itu mereka melingkari mayat Eli dan anaknya. sebuah dengungan seperti orang menangis mengganggu telinga warga. Mereka berpaling dari mayat Eli. Mencari tangisan seorang perempuan.

“Kita harus segera mengubur mayat Eli sebelum arwahnya gentayangan,” cetus seorang warga di sela-sela kegemingan.

“Mukidin telah mengotorkan kampung kita. Dia telah membunuh istrinya sendiri.”

Adit mengganjal sepedanya dengan batu di bawah pohon trembesi. Ia memainkan lampu senter yang kemarin ia beli di abang-abang. Mengarahkan sorot lampunya ke atas, ke rumah, ke jalanjalan yang gelap. Ia melihat jam tangan, pukul 19:57, sudah satu jam ia menunggu. Ia tidak sabar menantikan temannya dan melihatkan rumah—yang ia tinggali—yang sudah ia dan temannya jadikan taman bermain.

Bangunan kuno itu sama pada umumnya. Hanya bentuk yang berbeda. Ucap Adit dalam hati.

Adit berjalan resah mengelilingi trembesi sambil memainkan lampu senter. Ia takut kalau teman-temannya tidak akan bermain lagi ke rumah.

Ia sudah lama merasa kesepian, dan itu berubah ketika bertemu mereka di taman kanak-kanak. Saat itu ia yang hanya berpakaian lusuh berdiri di pagar taman kanak-kanak, dan melihat bola melambung keluar. Adit berlari mengejar dan menangkapnya.

“Terima kasih.” Itulah awal mereka mengenal Adit.

Lonceng berdenting di kejauhan. Itu pasti mereka, desis Adit. Ia mengarahkan sinar lampunya ke timur. Dan duga Adit benar. Mereka datang.

“Maaf kami terlambat,”

“Ayo, sebaiknya kita cepat-cepat sebelum orang tua kita khawatir.” Mereka pun masuk tanpa dipandu Adit.

Ia berjalan beriringan, sebuah dentang jam berbunyi. Langkah mereka mendadak berhenti. Mereka merapat di belakang Adit. Rumah itu tampak menyeramkan ketika malam.

“Tidak seram, ini karena gelap saja,” sanggah Adit.

Kini ia memimpin mereka. Cahaya lampunya memudar sesaat berhenti untuk memastikan balik kamar yang tidak pernah mereka masuki. Mendadak senter di tangan Adit mati. Ia mencoba menyalakannya. Tapi tidak bisa. Temannya berteriak ketakutan.

“Jangan berisik.”

Sambil berjalan ia memainkan senter di tangan. Lantai rumah itu terasa lembab. Mereka hampir saja terjatuh. Mungkin karena malam atau karena keringat yang kebanyakan merembes.

Tidak tahu kenapa mereka mendadak berhenti lagi dan makin mendekat di belakang Adit. Kuping mereka ditutup rapat-rapat. Tangisan terdengar tidak jauh dari tempat mereka berdirii. Tangisan tersebut tambah nyata di telinga. Lantas mereka berlari sambil berteriak-pekak kecuali Adit. Ia menatap perempuan terbaring dengan bayi di selangkangnya, darah menggenag di atas lantai.

Perempuan itu tidak asing. Adit merasa sangat dekat dengan perempuan yang bersimbah darah, tetapi ia lupa sejak kapan bertemu. Ia lupa atau mungkin ia tidak pernah ketemu dengannya sama sekali. Dan bayi itu, bukankah Adit. Mungkinkah? Adit terkesiap.

Mereka semua berlari mengarah pintu, Adit masih di belakang. Ia terkejut ketika terdengar suara teriakan memanggilnya dari luar. Ia tersadar bahwa temannya sudah tidak ada, mereka sudah di luar.

“Suruh siapa kau mengajak anakku bermain ke rumah ini?”

“Dasar anak hilang,”

“Matilah kau Mukidin!”

“Kalau kau bermain dengan anakku lagi akan kukirim kau ke rumah sakit jiwa,”

“Enyahlah dari kampung ini.”

Orang tua mereka sudah ada di depan pintu rumah kosong. Ia tidak tahu mengapa orang tua mereka sangatlah tidak suka dengan rumah ini. Dan mengapa mereka melarang anaknya bermain dengan Adit. Mereka masih mengumpat ketika anaknya menguap dan minta pulang.

Begitulah, temannya lama-lama menjauh, dan tak pernah bermain lagi dengannya.. Kutub,

 

05-12-2019

Fahrul Rozi lahir di Potoan Sampang Madura, saat ini tinggal di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) cerpennya tersiar di media cetak maupun digital.