Cerpen Hendy Pratama (Medan Pos, 19 Januari 2020)

Malinda dan Marunda ilustrasi Medan Pos (1)
Malinda dan Marunda ilustrasi Medan Pos

PERTEMUANKU dengan Malinda mungkin bakal jadi pertemuan terakhir. Kami tak akan pernah lagi menonton opera, menikmati musim dingin dengan boneka salju, memandang hamparan senja di balkon rumahku, dan berciuman ketika keramaian berangsur tenggelam. Segalanya—cepat atau lambat—bakal terkubur menjelma kenangan.

Sebenarnya, aku tidak ingin hal itu terjadi. Tentu karena aku mencintainya—kendati di dadaku terdapat dendam yang membara. Malinda mungkin saja menangis setelah kalimat Jahanam ini melompat dari mulutku. Aku tak suka melihat perempuan menangis. Tangisan Malinda senantiasa membanjiri rasa bersalahku—seperti halnya kapan hari saat aku berujar padanya bahwa suatu saat nanti aku akan pergi, membawa dendam yang sukar dijelaskan.

“Sejak kapan kau punya dendam padaku?” Malinda mendesakku untuk menjelaskan apa yang kumaksud dengan ‘dendam’. Waktu itu, kami berbicara empat mata setelah keluar dari pintu opera. Kami berjalan perlahan, membawa sebotol es limun.

“Pertunjukkan barusan menyenangkan, ya.” Aku berusaha mengalihkan topik. Dan, ini tampak konyol; Malinda mungkin saja tidak terkelabuhi tatkala aku berlagak tuli dengan beralih membahas opera. Namun, aku mencoba menambahkan, “Tidakkah kaulihat anak-anak yang menjadi jamur polkadot tadi? Atau, pria berpostur tinggi yang berperan sebagai pohon? Mereka tampak natural dan lucu.”

“Apakah kau berusaha mengalihkan topik pembicaraan?”

Aku terdiam beberapa lama, sebotol es limun di genggamanku berangsur cair. Kami menghabiskan separuh perjalanan tanpa mengucapkan apa pun. Aku seperti orang bisu dan orang yang tak pandai berbahasa. Keadaan ini sungguh menyedihkan. Lidahku susah payah merangkai kata-kata. Sebaris kalimat yang kupikirkan kembali karam. Aku merangkai lagi, kalimat yang kupikir terbaik dalam situasi ini. Namun, kalimat itu kembali tertelan.

Keadaan baru pulih ketika taksi berwarna kuning berlabuh di dekat kami. Malinda masuk ke dalamnya, meletakkan kepalanya di bantalan kursi. Ia mengatur posisi. Tas biru menutupi kedua pahanya. Mungkin, sebentar lagi matanya akan mengatup; Malinda tidur dan waktu berjalan kian cepat. Selagi masih di dekatnya, aku mencoba melambaikan tangan. Perempuan itu membalas lambaianku. Kami sempurna berpisah malam ini.

***

Tiap malam, aku kehilangan nafsu tidur. Ini bukan perkara tiga cangkir kopi yang kutandaskan dalam waktu satu jam. Bukan juga soal sebotol anggur. Bayangan Malinda rajin mendatangi lamunanku. Perempuan itu seperti tinggal di kepalaku. Dan, aku hampir selalu menghabiskan malam dengan bermain biola, mengunjungi diskotik, dan kadang kala pergi ke rumah bordil. Semua kulakukan untuk mengusir Malinda. Sialnya, seluruh usahaku itu berujung sia-sia; aku telentang di atas ranjang dengan mata terbuka hingga pagi menjelang.

Karena merasa jemu, aku memikirkan sesuatu yang sulit. Barangkali, aku bisa jadi simpanse yang terbang ke bulan. Tetapi, aku lekas sadar bahwa hal itu merupakan pikiran yang ceroboh. Aku tak ubahnya seekor keledai paling dungu sedunia.

Selama berbulan-bulan, aku hilir mudik ke mana-mana. Menonton opera pasti tidak lagi menjadi solusi yang tepat bagi kepalaku yang tanpa otak ini. Apalagi membuat boneka salju dengan menancapkan wortel sebagai replika hidung. Aku juga tidak mungkin duduk di balkon rumah dan memandang langit beranjak temaram. Apabila semua itu kulakukan, Malinda tidak hanya kegirangan, melompat-lompat di kepalaku, melainkan ia mengambil sebilah pisau dan mulai mengiris otakku seperti membuat tumis kangkung.

“Apa pun yang terjadi, aku harus menemui Malinda dan mulai membalas dendam,” aku memekik dalam puncak khayalanku.

Pada akhirnya, aku memberanikan diri membuat surat untuk Malinda. Petugas pos di dekat rumahku, kuharap dapat mengirimkan selembar surat itu secepat roket. Ia tak perlu membuka, lantas membaca isi suratnya. Seandainya melakukan itu, mungkin ia tidak hanya menangis tergugu-gugu serupa bayi, melainkan berpikiran untuk bunuh diri. Seolah-olah, dunia diciptakan dari gumpalan demi gumpalan kesedihan.

Hari baik telah menyambutku ketika Malinda membalas surat itu. Kotak surat yang berdebu, dan seekor laba-laba telah membuat rumah sebesar tiga kepalan tangan, berlari. Sepotong tanganku meraih selembar surat itu, bagai sedang mengambil sebongkah emas. Secara perlahan, aku membacanya. Malinda seakan-akan berbicara padaku.

“Bila kau ingin bertemu, mengapa kita tidak mengunjungi opera? Bukankah kau menyukai anak-anak yang serupa jamur polkadot itu? Atau, pria berpostur mirip tiang yang memerankan pohon secara lucu dan natural? Kita akan tersenyum dan tertawa bersama. Dan, setelahnya, aku mengizinkanmu untuk berbicara. Tentu saja setelah kita membawa pergi sebotol es limun dari kasir. Aku tunggu jam sembilan malam, ya.”

Surat itu kembali kulipat. Wajah Malinda perlahan-lahan berubah remang, layaknya bola lampu menjumpai tenggat kedaluwarsa. Pertemuan itu, kini, tinggal hitungan hari.

***

Aku bertemu dengan Malinda. Dan, mungkin saja ini pertemuan kami yang terakhir. Malam ini, aku melihatnya berbeda. Perempuan itu mengenakan kemeja putih bagai putri, rambutnya terulur dan berwarna pirang, mata cokelatnya lentik nian, serta kulitnya seperti susu sapi perah. Penampilannya malam ini mengancam jantungku. Aku tidak ingin terkena serangan jantung lebih awal, demi merasakan debar yang tak berkesudahan ini. Demi satu hal yang lebih penting—kelangsungan hidupku di masa depan, aku berusaha menyapa dan melupakan gempa berskala luar biasa di lempeng dadaku.

“Se-selamat malam, Nona.” Aku berkata dengan canggung. Aku mengumpat diriku sendiri yang lupa tidak membawa kacamata. Apakah Malinda menemui mataku yang terkulai oleh pesonanya? Semoga kecemasanku itu tak sungguhan terjadi.

“Kau tampak seperti karyawan supermarket. Ayolah, aku datang ke sini tidak untuk membeli sebungkus popok bayi. Tidak pula dengan keripik kentang. Namun, apabila kau bermaksud memberiku sebotol es limun, aku tidak keberatan.”

Perkataan Malinda barusan membuat suasana jadi cair. Kami mulai membicarakan banyak hal; tentang kaus kaki yang lupa dicuci, sebungkus cumi-cumi bakar yang tertinggal di dalam tasku selama berhari-hari, hingga ciuman pertama kami di atas balkon rumahku yang lantas membuat Malinda tersipu malu. Kami tertawa, kebahagiaan meriap. Hingga, malam kian larut. Bulan sepertinya hendak terbelah ketika kabut menutupinya. Pada saat itu, aku mulai melancarkan aksi balas dendam. Ini terdengar kejam!

“Sekarang waktuku untuk balas dendam.” Aku berkata lirih, hampir tak terdengar.

“Balas dendam?”

“Dendam yang membara selama berbulan-bulan.”

“Kita tidak sedang bermain opera.”

“Apakah kau masih ingat dengan Marunda?” Kata-kataku itu mirip sebuah sumbu di ujung petasan. “Tentu saja, aku tidak perlu menanyakan itu padamu. Kecuali bila kepalamu terbentur batu. Namun, ini tampak baik bagi sandiwara kita.”

“Kau tidak ingin memesan es limun?”

“Marunda pergi dari kehidupanku ketika surga kudapati tinggal sepelemparan batu. Aku tak ubahnya seekor ikan yang melompat ke kuali seorang koki.”

“Aku dan Marunda berbeda.”

“Kelahiranmu dengannya hanya berselang beberapa menit. Dari rahim yang sama pula. Apakah kalian menganggap satu sama lain berbeda?” Aku berkata agak keras dan bila teliti, barangkali sebagian pengunjung ada yang menambatkan matanya ke arah kami.

“Apakah itu kausebut dendam?”

“Mari kuantar pulang.”

“Kita tak akan pernah mengunjungi opera lagi.”

Setelah itu, aku dan Malinda berpisah. Mobil taksi berwarna kuning menjemput kami. Tidak, maksudku menjemput perempuan itu. Aku hanya berjalan seorang diri trotoar dan mulai tertawa, sejadi-jadinya. Mungkin, perempuan itu akan menangis sepanjang perjalanan. Ia akan meratapi, betapa kehidupannya telah hancur. Malinda akan menjadi aku, menjadi seorang paling kecewa di hadapan almarhumah kembarannya. Apalagi, mendapati seorang bayi yang tertanam di perutnya—hasil balas dendamku terhadap Marunda. ***

 

Rumah Cerita, Januari 2020

Hendy Pratama, lahir dan tinggal di Madiun. Menerbitkan buku kumpulan cerpen yang berjudul Heliofilia.