Cerpen Arianto Adipurwanto (Banjarmasin Post, 19 Januari 2020)

Gayas untuk Para Arwah ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post (1)
Gayas untuk Para Arwah ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post

Jika ia mulai mabuk berat, bayangan istrinya sedang mencangkul di sebuah bukit yang asing namun sepertinya ia pernah ke sana selalu mengisi kepalanya. Lalu ia akan mengajak istrinya yang hanya ada dalam kepalanya untuk bercakap-cakap seakan-akan istrinya benar-benar berada di hadapannya. Padahal di depannya hanya ada Bugiali.

Bugiali selalu duduk bersila. Cara duduk ini membuat luka di kedua lututnya tampak membesar. Lalat pun berdatangan. Dan ia membiarkan dua tiga lalat berebutan menghisap cairan yang sepertinya terus menggenang di luka itu. Bugiali tidak pernah menghiraukan apa yang menimpanya. Ia tidak pernah marah karena batu-batu di bawah pohon enau tempat ia terjatuh menggerus bahkan seluruh kulit lututnya, ia hanya menyayangkan kekelok-nya yang pecah dan air nira yang tumpah.

Berbeda dengan Maq Kepaq. Sejak kemarin, ia tidak henti-hentinya bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. Ia terus-menerus mengajukan pertanyaan seperti menghendaki peristiwa yang dialami rekannya terulang kembali dan ia bisa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.

“Kamu kenapa bisa jatuh?” tanyanya. Kedua matanya menunjukkan rasa ingin tahu yang teramat sangat, namun bibir dan hidungnya menunjukkan tanda tidak puas pada tuak dan beberapa potong gayas yang baru saja ia telan. Hidung itu kembang kempis dalam gerakan sangat diam-diam, dan lidahnya mencari-cari potongan gayas yang terselip di antara gigi-giginya.

“Saya jatuh ke bawah,” lalu Bugiali tertawa; senang dengan jawaban yang ia lontarkan. Maq Kepaq menuangkan tuak dari grijen. Bugiali berkata lagi, “Ya, saya jatuh ke bawah.” Maq Kepaq menenggak isi gelasnya dan Bugiali berkata untuk ketiga kalinya, “Ya, saya benar-benar jatuh ke bawah” dan tertawa terpingkal-pingkal sampai kepalanya bergerak-gerak serupa gerakan kepala sapi yang ingin menghindar dari gangguan lalat.

“Setan!” bentak Maq Kepaq. Dan ia tertawa juga.

Yok! Kok kamu tahu? Ya, setan, ya setan. Setan yang buat saya jatuh,” kata Bugiali antusias. Sekarang ia tidak duduk bersila. Melainkan meluruskan kedua kakinya. Hanya pada saat-saat seperti inilah ia akan berhenti duduk bersila. Saat-saat ia merasa tengah terjadi sesuatu yang luar biasa dalam hidupnya.

“Setan apa? setan apa?” Maq Kepaq penasaran.

“Kayak kamu rupanya.” Bugiali terpingkal-pingkal. Maq Kepaq mendengus kecewa. “Saya kira kamu lihat istri saya,” katanya. Lalu ia menenggak tuak yang kesekian, mencomot gayas dari piringnya yang ia dapat tadi dari puncak Mur Monjet. Ia mencangkul sendirian dan terus-menerus mendesah setiap kali mata cangkulnya menembus tanah. Lama sekali, setelah ia mengumpat berkali-kali, baru ia mendapatkan seekor gayas. Dan, ketika dadanya mulai terasa sakit, ia telah mendapatkan: cukup untuk sedak dua kopek tuak.

“Kalau kamu ndak bilang pasti saya ndak ingat. Ada istrimu saya lihat juga tadi. Ya, istrimu. Benar-benar istrimu. Dia sedang mencangkul di bukit.”

Maq Kepaq terperanjat. Kali ini benar-benar terperanjat. Beberapa tetes tuak lolos dari bibirnya. Merembes menuruni kedua sisi bibirnya, dan bersatu di dagu. Ia membiarkannya menggantung seperti itu sampai lalat yang karena gerakan tubuh Bugiali lebih memilih untuk mengganggu setetes tuak itu hingga terjatuh, tepat di atas betis Maq Kepaq yang penuh bulu.

“Di mana?” kata Maq Kepaq. Bugiali sedang menenggak tuak, karena itu ia tidak bisa langsung menjawab.

“Di bukit, ya, di bukit. Mur Monjet, oh ya ya, Mur Monjet,” kata Bugiali sambil mengunyah gayas. “Hmm, enak sekali gayas ini, di mana kamu dapat?”

“Di Mur Monjet,” sambar Maq Kepaq.

“Mur Monjet?”

“Ya, Mur Monjet.”

“Astaga, istrimu saya lihat di Mur Monjet.”

“Benar?”

“Ya, di mencangkul. Jangan-jangan dia cari gayas.”

Maq Kepaq memberengut.

“Kamu kira orang mati ndak bisa makan gayas? Benar, pasti dia sedang cari gayas.”

“Serius?”

“Ya, saya lihat dia memang sedang cari gayas.”

“Oh istriku,” ratap Maq Kepaq pilu.

Istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Kata salah satu dukun yang mereka datangi, istrinya mendapat sihir melalui gayas. Setelah makan gayas itu, perut istrinya mulai membesar. Menurut dukun yang sama, istri Maq Kepaq disihir karena telah menyinggung perasaan orang itu ketika berjalan bersama pulang dari mandi. Sang istri mengatakan kalau orang itu sangat miskin dan jika tidak segera berusaha keras maka dalam jangka waktu setahun dua tahun dia dan seluruh anaknya akan mati kelaparan. Orang itu merasa kesal dikatakan akan mati, karena itu ia membuat orang yang mengatakan dirinya akan mati, merasakan kematian terlebih dahulu.

Maq Kepaq percaya pada dukun itu, karena kata-katanya selalu benar. Ia pernah mengatakan bahwa gunung paling keramat di dunia akan meletus. Seorang yang memerkosa ibunya adalah penyebab penunggu gunung itu murka. Benar memang ada anak yang menyetubuhi ibunya. Dan benar, esoknya, Maq Kepaq dan istrinya yang masih segar-bugar tidak bisa ke mana-mana. Hujan abu membuat mereka merasa kehidupan akan segera berakhir.

“Saya mau ke Mur Monjet,” kata Maq Kepaq. Ia berdiri. Sempoyongan.

“Kamu ke mana?”

“Cari istri saya,” jawab Maq Kepaq. Keras. Seperti berbicara dengan orang yang sedang sangat jauh dari dirinya.

“Istrimu ndak ada di Mur Monjet.”

“Tadi katamu di Mur Monjet.”

“Ya, di Mur Monjet.”

“Saya ke sana.”

“Istrimu ndak ada di Mur Monjet.”

Yoh! Tadi katamu dia di Mur Monjet. Dia pasti masih di sana.”

“Dia ndak ada di sana.”

“Dia di sana pasti pasti, saya ke sana.” Terdengar suara ada yang jatuh. Benar. Maq Kepaq berjalan pincang dan langsung ambruk.

“Istrimu ndak ada di Mur Monjet. Istrimu di gunung.” Tidak ada lagi yang menyahut. Bugiali merasa kesepian. Lalu ia bernyanyi. Lagu yang terlintas begitu saja di kepalanya. “Tolang tilong ketok ketok, tolang tilong ketok ketok, tolang tilong ketok ketok.” Irama lagu itu terdengar bagus di telinganya, lalu ia bertepuk tangan. “Ncek, ncek, ncek, ncek,” decaknya. Dan ia berjoget ria di tempat duduknya. Kembali ia meluruskan kedua kakinya. Lagu yang sama terus berulang. Pembicaraan tentang istri Maq Kepaq telah terlupakan. Ia juga telah lupa bahwa baru saja rekan minumnya pergi meninggalkannya. Meninggalkannya pergi ke Mur Monjet untuk mencari istrinya yang telah lama mati. Namun ia tidak sampai di mana-mana kecuali hanya empat langkah dari tempat Bugiali sedang berdendang ria. Ya, Maq Kepaq jatuh di halaman dan tertidur. Ia terlalu mabuk untuk bisa sampai di tempat tujuan, meski sekarang ia sedang tertidur tepat di kaki Mur Monjet.

Dalam tidurnya, ia bermimpi tentang istrinya. Istrinya semakin gemuk. Perempuan itu mendatanginya dan langsung meminta gayas padanya.

“Gayas, gayas, gayas.” Perempuan itu seperti orang kelaparan. Sebentar kemudian, istrinya tiba-tiba berada di sebuah bukit. Ia mencangkul. Mencari gayas. “Gayas, gayas, gayas,” katanya lagi. Lalu perempuan itu bernyanyi, lagu yang sama seperti lagunya Bugiali. “Tolang tilong ketok ketok, tolang tilong ketok ketok.” Berkali-kali.

Sang dukun yang meninggal beberapa bulan kemudian dengan penyakit yang sama, dan dengan cara mati yang sama—perutnya membuncit, darah keluar dari bibir dan hidungnya—juga hadir di tempat itu. Ia mencangkul. Ia mencari gayas.

“Kita mati harus bawa gayas,” kata Maq Kepaq.

Bugiali menimpali dari dalam rumah. “Kita juga harus bawa tuak.”*

 

14 Desember 2016

 

Catatan kaki:

Gayas : ulat yang bersarang di tanah dan sering dimakan sebagai teman minum tuak.

 

Arianto Adipurwanto lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Tahun 2017 diundang mengikuti Literature & Ideas Festival (LIFE’s) di Salihara, Jakarta. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018).