Cerpen Agus Pribadi (Radar Banyumas, 19 Januari 2020)

Gadis Berbibir Tipis ilustrasi Radar Banyumas-1
Gadis Berbibir Tipis ilustrasi Radar Banyumas

Senja hari, hujan gerimis. Aku agak ragu sebenarnya, tapi kuputuskan untuk tetap berangkat kondangan ke tempat teman karib yang nikahan dengan gadis pilihannya. Rumahnya lumayan jauh, di daerah pegunungan.

Mengenakan mantel kalong, kulajukan sepeda motorku. Sebagai bujang, aku bebas pergi kapan dan ke mana pun yang penting pamit pada ibu tersayang. Ibuku kini memang orangnya posesif, mungkin karena kakakku meninggal dunia karena sebuah kecelakaan lalu lintas.

Jalanan sepi. Orang-orang banyak yang berada di rumah. Mungkin sedang kumpul dengan keluarga. Mungkin ada yang sedang menonton tivi atau bercengkerama dengan orang-orang terdekat.

Agak merinding juga, kebetulan ini malam Jumat, tapi aku bertekad untuk tetap ke sana meski lokasinya cukup sulit dijangkau. Aku harus melewati jalan khas dataran tinggi yang naik turun, melewati perkebunan salak dan hutan.

Melewati jalan yang sepi, laju motorku seperti kurang stabil. Ternyata ban roda belakang bocor. Aku celingak celinguk. Wah, ke mana kucari tempat tambal ban?
Aku tetap mengendarai sepeda motorku. Beberapa saat aku mencari tempat tambal ban sambil melajukan sepeda motorku pelan-pelan, namun hasilnya nihil. Aku hanya menemukan sebuah warung makan di pinggir jalan. Di warung itu aku melihat seorang gadis dengan rambut sebahu. Entah siapa dia? Mungkin anak pemilik warung atau mungkin seorang pembeli. Gadis itu tampak sedang makan. Dengan tertunduk, ia menikmati suap demi suap makanan yang sedang di sandingnya.

“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” tiba-tiba seorang wanita paruh baya muncul sebelum aku uluk salam.

“Saya mencari tempat tambal ban, Bu,” aku masih berdiri di dekat pintu masuk warung.

“Wah kalau di daerah sini tidak ada tempat tambal ban. Tapi nanti coba saya minta tolong suami saya untuk mengerjakannya. Silahkan masuk dulu, Mas. Ngopi-ngopi dulu.”

Aku masuk ke dalam warung, memesan segelas kopi dan duduk di depan gadis yang sedari tadi diam itu. Ia seperti tidak menghiraukan kedatanganku. Meski jarak gadis itu denganku tidak terlalu dekat, tapi aku masih bisa melihat tipis bibirnya, dan cantik paras wajahnya. Ia masih terlihat asyik menikmati makanannya. Setelah selesai makan, gadis itu terlihat membawa piring dan gelas ke belakang, setelah beberapa saat gadis itu pergi meninggalkan warung lewat pintu samping.

Hujan turun semakin deras. Ban sepeda motorku sedang ditambal oleh suami pemilik warung. Rencanaku untuk kondangan ke tempat teman tertunda atau bahkan terancam batal.

“Tadi siapa Bu?” tanyaku pada wanita pemilik warung yang sedang menghidangkan segelas kopi dan sepiring pisang goring panas.

“Gadis yang tadi maksudnya?”

“Iya Bu.”

“Katanya rumahnya tidak jauh dari sini. Ia ingin membantu mencuci piring, maka tadi kuberi sepiring nasi, dan pulangnya kuberi uang ala kadarnya.”

“O… saya kira anak Ibu.”

“Bukan. Mas naksir sama dia ya.”

“Ibu tahu saja.” Kami tertawa bersama.

“Memang kadang ada orang yang ingin membantu mencuci piring, ya saya beri kesempatan, Mas. Dibilang butuh ya butuh karena saya di sini cuma sama suami. Kadang suami pergi ke kebun, saya seorang diri di warung. Anak semata wayang saya sudah menikah dan tinggal di luar kota bersama istrinya. Dibilang tidak butuh, ya tidak, karena saya biasa mencuci piring sendiri, kadang dibantu suami. Dulu suami pernah membuka tambal ban, tapi berhenti, di sini kan sepi Mas.”

Hujan belum reda, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih, ban sepeda motorku sudah selesai ditambal, segelas kopi dan tiga pisang goreng pun sudah tandas kunikmati. Aku membayar semua biaya makanan dan minuman, serta tambal ban.

“Hati-hati di jalan, Mas,” ucap ibu pemilik warung ketika aku pamit meninggalkan warung itu.

Aku mengeneakan mantel, karena hujan masih turun dengan deras. Sebelum aku menyalakan mesin sepeda motor, aku melihat gadis yang tadi makan di warung masing berdiri di teras depan warung. Ia tampak ragu-ragu antara meninggalkan warung dan bertahan berada di tempatnya.

“Mau pulang, Mba?” tanyaku.

Gadis itu mengangguk. Ia tersenyum kepadaku, senyumnya manis sekali, bibir tipisnya merah alami. Saat berdiri gadis itu terlihat menarik, meski tidak terlalu tinggi. Jika kami sama-sama berdiri, ujung kepalanya sejajar dengan telingaku, padahal aku tidak terlalu tinggi. Posturnya proposional, kulitnya tidak terlalu putih tapi bersih.

“Mari ikut aku saja, barangkali arah rumah Mba searah dengan jalan yang akan aku lalui.”

Gadis itu mengangguk lalu berlari kecil ke arah sepeda motorku, ia itu memboncengku. Aku melajukan sepeda motorku pelan. Meski sudah cukup malam, aku tetap bertekad untuk menuju ke rumah teman karibku. Dia teman baikku, saat kuliah ia banyak membantuku hingga aku menjadi seorang sarjana. Tak elok rasanya jika aku tak datang di hari spesialnya ini.

Belum lagi aku menanyakan turun di mana, gadis itu menepuk bahuku pelan.

“Turun di sini Mba?” Aku menengok ke arahnya, ia mengangguk. Aku menghentikan laju sepeda motorku. Aku celingak- celinguk sama seperti tadi saat mencari tempat tambal ban. Kanan kiri jalan merupakan perkebunan salak, kemudian di daerah yang lebih jauh lagi terlihat hutan belantara yang ditumbuhi pohon-pohon yang besar dan tinggi.

Gadis itu mengucapkan kata terima kasih hampir tak terdengar di telingaku. Ia memasuki kebun salak kemudian menghilang di balik rimbun pohon itu. Aku termangu beberapa saat. Otakku seperti berhenti bekerja. Untuk beberapa saat aku tak bisa menimbang dengan akal pikiranku. Kenapa ia turun di tempat ini? Juga ada hal yang sedari tadi aku ingin tanyakan pada diriku sendiri, tapi urung aku lakukan karena lupa. Saat aku kembali melajukan sepeda motorku baru aku ingat pertanyaan apa yang tadi aku lupakan, yakni kenapa bibir bagian atasnya tidak ada lekukannya sebagaimana bibir manusia pada umumnya? Biarlah pertanyaan itu kusimpan sementara waktu, dan entah kapan kutanyakan pada orang lain. Saat ini, tujuanku hanya satu, menuju rumah teman karibku.[]

 

Banyumas, 27 Desember 2019

Agus Pribadi berprofesi sebagai Guru IPA sebuah SMP di Purbalingga. Cerpen-cerpennya terpercik di Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Radar Banyumas, dan lain-lain. Buku terbarunya sebuah Novel berjudul “Sihir Sayap Ular” (2019).