Cerpen Maya Sandita (Singgalang, 19 Januari 2020)

Burung Hantu pada November Tanggal Satu ilustrasi Singgalang
Burung Hantu pada November Tanggal Satu ilustrasi Singgalang

SEPEKAN setelah purnama berhasil ia telan, langit mengubah malam menjadi sesuatu yang menyeramkan. Di suatu sudut desa dengan latar yang biasa, suara-suara duka seperti lahir dengan tiba-tiba. Berdendanglah isi rimba dengan gelisah. Terdengar pula sebuah seru dengan buru-buru. Meluap durja Tirana yang murka. Ia dalam balutan kain panjangnya.

Dalam durja yang melimpah ruah, yang terdengar akhirnya hanya teriakan berisi amarahamarah. Habis kata-kata Tirana, terkikis. Pisau yang ditempanya kala itu ternyata menjadi senjata yang menghabisi segalanya. Pisau yang pernah diberikannya pada sang kekasih bernama Anggau.

Malam itu mengganti kelam yang biasanya bisu jadi berjuta anak panah yang memburu. Suaranya melesat, menusuknusuk punggung Tirana dengan tepat. Ia menepuk dadanya sampai rusuk patah, sementara punggungnya mengalirkan banyak darah. Agak sedikit ia tak merasa sakit. Sebab luka perasaannya menganga seluas samudera. Telah bertabur garam dan asam dengan kadar tak terkira.

“Jutaan pun anak panah, tak akan membuatku kalah. Kau akan tetap ada setiap November tanggal satu dan akan kudengar penyesalanmu lewat nyanyian burung hantu,” ia bergumam dalam.

Malam tak kunjung habis selama sepekan dan matahari nyaris menyayat nadi menghadapi kenyataan. Orang-orang di desa entah kemana. Tirana jadi buta seketika saat matanya singgah di celah jendela. Yang tersisa di telinga hanya desis ular atau kepak kelelawar. Selain itu terkadang ceracau katak memanggil hujan bisa berubah jadi suara Anggau yang mengerikan. Suara yang pernah mengurung hati Tirana dan menggulainya jadi santapan lezat dalam bejana. Akhirnya kini kosong yang ia rasa. Dadanya tersisa empedu yang bahkan sudah membatu.

“Rana,” berbisik udara di kuping tanpa anting.

Ia menoleh ke sebuah sisi entah kanan atau kiri-ia tak tahu lagi.

Masuk dan berhembus udara sekencang-kencangnya lewat ventilasi jendela kayu tua. Entah telur semut atau rayap yang ada di sana, berserakan mereka bak pasir-bergulir sampai butir terakhir. Separuh jatuh ke atas kain panjangnya yang lusuh. Ia sibakkan seolah kainnya dijatuhi benih setan.

Dibalut kembali kain coklat sembari tangannya tetap memangku lutut.

Di luar kawanan katak bersahutan lebih nyaring. Angin menghantarkan suara mereka jadi jauh lebih bising. Atau karena hujan tak kunjung tiba, maka nyanyian mereka berubah jadi teriakan-teriakan yang mengoyak semesta.

Tirana tetap berjaga, dengan matanya yang merah menyala. Lingkaran hitam di sana membuat tatapannya kian seram. Ia makan bulan, ia telan bintang yang banyaknya milyaran. Ia tak butuh teman meski sekerat bulan sabit atau sekerjap bintang di langit. Sampai ia sadar, tak ada cahaya yang berpendar, kecuali bara dalam dua bola mata yang nyala. Maka wajar jika yang terasa selalunya panas saja. Lalu air mata mengalir tanpa rambu. Terus menuju sudut bibir yang biru.

Sementara ujung desa lain di sebelah utara, matahari  tengah murka. Ia nyalang, hingga sepekan itu hanya ada siang. Berkali-kali ia mencoba bunuh diri, menyerahkan gelap pada apa saja yang bersedia mendekap. Tapi tuhan diam mendengarkan pinta sang surya yang hendak padam. Jadi, setiap ia terkam dadanya dengan pedang, hawa panas mengubahnya menjadi sekadar sebuah besi panjang. Pengharapan mati yang terkumpul tiba-tiba ikut tumpul.

Daun kering terbakar, ranting terbakar, batang kayu mati terbakar, jadi abu semuanya sampai ke akar. Asap membubung, isi rimba dan desa berkabung. Sampai tidak ada yang tersisa, kecuali Anggau dan sebuah kenang di kepalanya.

Bercucuran keringat di sekujur tubuhnya yang berkulit cokelat. Lelaki itu merasa sesuatu tumbuh di sana. Lebat ia. Jika diperhatikan dengan saksama, bukan bulu beruang yang tumbuh di punggung kakinya, di betis, paha, dan pangkal lengannya, tapi semacam bulu unggas. Bulu-bulu itu tumbuh besar tapi tak kasar. Ia muncul berkelompok-kelompok dari satu permukaan ke permukaan lain. Kini sebidang bulu unggas itu tumbuh di pundaknya-di sebelah kiri.

Tumbuhnya bulu unggas itu melindungi sebagian tubuhnya dari panas. Ia cukup lega  tapi sekaligus gemetar tubuhnya. Khawatir ia bahwa ini adalah kutukan tanpa akhir.

Dengan keadaan semacam itu, matanya menahan kantuk seperti kelopaknya punya beban satu ton batu. Anggau tak tidur lebih dari sepekan. Ia juga kehilangan selera makan. Menurutnya ia mesti bertanya pada seseorang, tentang apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Tapi, sekali lagi-Anggau hanya sendiri. Dukun kampung yang dianggap paling ulung kabarnya telah mati kehausan di sebuah saung. Sementara kepala desa tubuhnya terbakar dan sudah jadi bara. Warga lain mengungsi dengan bekal semua sisa makanan yang agaknya kini di jalan sudah basi. Anggau tak ikut, dengan kondisinya yang begini ia khawatir akan membuat warga takut.

“Sisa umurku barangkali tak seberapa. Tapi jika memang ada reinkarnasi, aku ingin menemanimu di sebuah ranting pohon mati. Mungkin itu satu-satunya cara agar aku bisa tahu kau selalu bahagia, Rana,” katanya.

Sekelompok bulu unggas lain tumbuh di pipi dan gatalnya bukan main. Bulu-bulu tersebut tumbuh lebat dan sangat cepat. Sebentar saja sudah dipenuhi wajahnya. Anggau berteriak menahan gatal dan sakit. Sebentar ia terdengar seperti elang di langit. Lalu berubah ia jadi sedu sedan dengan mulutnya yang tak terbuka meski selebar dua jari tangan. Katakatanya mendadak jadi suara aneh yang meledak-ledak di dada. Ia bukan elang-apalagi katak seperti apa yang di telinga Rana selalu terngiang. Tapi tetap saja Anggau menyeramkan, ia kini adalah sesosok makhluk yang tidak ternamakan.

Di kepalanya yang mendidih, kenangan suara Tirana yang tertinggal adalah melodi sedih. Alunan yang lahir dari puisipuisi lirih. Hingga akhirnya jadi ingatan yang sangat perih menyakitkan. Sebuah janji untuk setia adalah penyebab segalanya.

“Hoo…, ho…,” suara berat dan panjang terdengar.

Tirana melihat sekitar dengan gusar. “Kau memanggil siapa? Di sini tidak ada sesuatu bernyawa,” katanya.

Suara hoho berganti siulan angin yang tak bisa diukur frekuensinya ataupun tempo.

Tirana semakin erat memangku lututnya dan ia menceracau seperti membaca mantra. “Bumi tak bergerak, porosnya retak. Bergeraklah ia sedikit saja, kiamat kusambut datang walau tiba-tiba. Bumi tak berputar, ia tak lagi melingkar. Bergeraklah ia sedikit saja, malaikat kusambut datang mencabut nyawa.”

Angin menghantarkan mantra Tirana yang dingin. Masuk ke dalam telinga Anggau yang kemudian membuat hatinya kian risau, “Ada apa denganmu, Rana? Jika aku adalah sesal, maka hanya padaku-lah tumpahkan kesal. Jika aku adalah sebab durja, maka katakan pada tuhan untuk segera membukakan pintu neraka,” batin Anggau-lelaki bermata besar dan bertubuh tinggi. Ia bicara sambil sekujur tubuh penuh dengan bulu unggas yang terus tumbuh.

“Doa-doa kausampaikan dengan dupa. Sementara dupa tak pernah dibakar sebatang saja. Harapan-harapan ke atas langit kausampaikan. Sebab congkakmu yang luar biasa, langit menghentikan segalanya. Ia membagi malam buatku dan siang buatmu. Ambillah! Semua terangku ambil sajalah. Bagilah dengan siapa saja yang menerimamu lengkap dengan segala tingkah.”

Pekan terakhir di bulan Oktober sebentar lagi akan bergeser. Tirana-yang sudah lama merasa tak bernyawa-mulai tersengal menghirup udara. Mantra tetap dibaca sebisanya. Sementara Anggau bertahan dengan keadaannya yang semakin kacau. Keduanya menunggu kiamat tiba.

Seorang warga desa kembali. Perempuan berbalut kain bali.

Anggau dijenguknya dan hampir lepas tali jantung di dada. Ia tak bertemu dengan sang kekasih, melainkan sesosok makhluk dengan bulu hitam dan mata besar berwarna putih.

Suara hoho menyeramkan itu terdengar. Suara teriakan ketakutan juga terdengar, lebih besar.

Perempuan dengan kain bali berlari, kakinya tersangkut pada sebuah tali temali. Jatuh ia. Suara dentuman terdengar di telinga. Tanah melemah. Bumi yang sepi oleng sedikit ke kiri.

“Bumi berasap dupa, dupamu hanya dua. Malam ini asapnya habis, doa-doamu juga habis. Tuhanmu meminta bumi, dan kau sadar telah gagal menjadi seorang suami,” Tirana membaca mantra terakhirnya.

Tiba-tiba ia muntah sejadijadinya. Bulan dikeluarkan dari tenggorokan, bintang-bintang yang semula ia telan kemudian berserakan. Mengudara segalanya menuju angkasa, kemudian langit berubah warna. Bergeser ia jadi gradasi malam ke pagi-di suatu sisi. Dan jadi siang ke petang-di sisi yang tadinya terang.

Tirana kehabisan daya, tapi tak mati juga. Hingga detik ini ia hidup selamanya di bawah rumah kayu di bawah pohon tua. Sedang Anggau kini tak punya apa-apa, bahkan sebuah harapan untuk dijangkau. Tirana dipandanginya dari sebuah ranting pohon tua. Perempuan berkain bali disaksikannya sudah jadi bangkai malam tadi. Dini hari yang menyeramkan itu,  tepat pada November tanggal satu.

Belum juga kiamat tiba. Tirana masih terus membaca mantra dan abadi Anggau jadi burung hantu yang dikutuk risau. (*)