Cerpen Regent Aprianto (Fajar, 19 Januari 2020)

ANDI ilustrasi Fajar-1
ANDI ilustrasi Fajar

Jika aku seekor kijang, aku benarbenar tak bisa menerka taring singa mana yang akan menghabisiku. Aku tak akan bisa menyangka perburuan mana yang akan mengantarkanku pada sebuah tatapan kosong seperti ini. Benar-benar tak ada yang bisa mengira sebuah kematian. Sebab maut bagiku ialah hal paling semenamena yang pernah ada. Ya, aku tahu. Pun tidak semua orang mati dalam keadaan suka cita. Sebagaimana cerita-cerita pendek yang sering kubaca di koran Minggu. Tak ada yang tahu dari dan sampai mana arus cerita itu akan mengalir, dan bagaimana cerita akan berakhir? Hanya si penulis pengecut di balik semua itu yang tahu.

“Menurutmu, jika kau tahu aku rela mati hanya demi namamu, kau pikir aku akan cemas? Tidak Uni. Aku lelaki paling bahagia saat itu,” sekonyong-konyongnya pikiran itu muncul. Tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutku. Dari tadi bibirku hanya sedikit bergetar dan perlahan mulai kaku.

Saat kecil aku memang tidak pernah mau pergi ke dokter gigi. Walau Ibu selalu punya ijuk untuk menakut-nakuti. Tapi sekarang aku tahu, bahwa geligi yang berdarah punya aroma amis dan rasanya agak asin. Sekiranya sekitar sepuluh tonjokan mengarah ke rahang bawahku. Preman-preman sialan itu benar-benar ingin membunuhku walau bayaran mereka kutaksir hanya lima ratus ribu. Namun setidaknya aku mungkin sudah membunuh salah seorang rekan mereka yang cungkring itu. Sedikit pengetahuan dan pengalaman tentang teknik kempo dan lebih banyak menggunakan prinsip hantam saja kurasa sudah membuat preman-preman itu sedikit kewalahan, dan mungkin khawatir mereka tak akan dibayar karena aku tak jadi mati malam ini. Tapi aku benar-benar harus mati malam ini, bukan?

Tidak salah lagi. Sudah kuduga adegan berikutnya adalah penikaman. Walau di jalan kecil itu tak ada satupun lampu yang menyala, kilatan badik lima belas senti yang baru saja dilepas dari sarungnya itu bisa aku lihat akibat biasan lampu mobil yang baru saja lewat. Seakan hanya angin lalu, mobil itu melintas dan tak acuh dengan seseorang yang terkapar di pinggir jalan. Padahal, asal dia tahu, dia adalah harapan terakhirku. Jalanan ini memang sangat sepi di atas jam Sembilan malam. Aku yakin itu adalah kenderaan terakhir yang melintas dan harapan terakhirku untuk selamat dari malam yang mencekam ini.

“Uni, jika saja aku masih selamat malam ini, aku berjanji tidak akan berdebat denganmu lagi tentang nama anak kita nanti.” Setahuku, itu yang ada di benakku sebelum badik itu dilayangkan ke arah perut bawahku. Ya, sebelum aku mengerang seketika dan sekeras-kerasnya.

Akhir-akhir ini aku memang berhenti merokok dan mengurangi minum banyak kafein. Kata Uni, istriku yang lulusan keperawatan dan bawel itu, aku mengidap sakit lambung yang parah. Dan benar, sesekali jika aku nakal dan melanggar aturannya itu, beberapa menit kemudian perutku akan terasa seakan ditusuk seribu jarum. Perih sekali. Tapi ini lebih dari sakit perutku setelah kebanyakan minum kopi atau makan santan. Hujaman ini lebih perih dari itu. Dan berpisah dengan Uni lebih sakit dari hujaman sajam manapun. Tapi aku harus melakukannya.

Dingin. Sangat dingin. Lalu tanpa waktu lama berganti lagi jadi hangat seiring cairan merah mulai mengucur dari bekas tikaman. Begitu mudahnya badik itu menyelinap masuk ke perutku. Rasanya benda itu baru saja merobek usus-ususku. Entah, pada tikaman keberapa, aku mulai menikmati rasanya terkapar tak berdaya. Mulutku makin kelu, dadaku seakan dihimpit benda berat dan besar. Sesekali yang kudengar hanya suara Uni menyaut dari jauh.

Aku sebenarnya tahu bahwa Puang Haji sedari awal benarbenar tidak suka padaku. Begitupun Andi Bakri, yang diharapkan Puang Haji jadi menantunya. Semua yang terjadi malam ini rasanya memang dispesialkan untukku. Perkiraanku, badik itu sudah diasah semenjak rasa dongkol padaku itu tumbuh di dada Puang Haji.

***

“Kaupun tahu itu, bahwa kami ini beda dari orang kebanyakan di luar sana. Tanah Bugis ini merdeka berkat Puang Allahu Ta’ala dan perjuangan leluhur kami, para bangsawan. Jangan kau mengundang malu hanya karena nafsumu belaka,” Wajahnya merah padam. Tangannya menunjuk-nunjuk stambom usang berbingkai kayu yang digantung di dinding papan. Aku hanya menunduk sementara Uni menangis tersedu-sedu di pelukan Indo. Aku tahu semua yang diucapkan Puang Haji saat itu tidak sepenuhnya benar. Stambom yang ditunjukannya padaku itu tidak lebih dari sekadar syarat untuk mendaftar HIS atau OSVIA.

Aku tak punya darah Bugis. Apalagi punya gelar bangsawan yang dielu-elukan Puang Haji. Itulah sebabnya lamaranku ditolak mentah-mentah. Bukan karena apa. Jika Uni berhasil kusunting, jelas gelar ke-Andi-an akan terputus. Itu semua karena Uni seorang perempuan.

***

Aku mengenal salah seorang dari mereka. Andi Bakri. Uni banyak bercerita tentang tetangga yang dijodohkan dengannya itu. Terlepas dari mereka yang sesama Andi, Uni dan Andi Bakri adalah teman dari kecil. Sampai saatnya mereka terpisah saat Uni memilih kuliah di Makassar dan Andi Bakri meneruskan usaha Ayahnya sebagai tengkulak cengkeh. Aku ingat wajahnya. Karena di hari aku melamar Uni, dia ada di sana. Mukanya tak kalah merah dari Puang Haji saat tahu niatku waktu itu.

Sebuah pembunuhan berencana tentu akan sangat terugikan jika ujung-ujungnya terendus pihak kepolisian. Akupun yakin, Andi Bakri tidak akan sudi mendekam di penjara. Biar kutebak. Setelah semua ini, dia akan senantiasa menunggu masa iddah Uni, lalu menikahinya.

Jadi wajar saja, jika untuk menghilangkan jejak, jasadku dibuang ke sungai setelah kepalaku dipenggal. Tapi pikiranku tentu saja bukan tertuju pada adegan selanjutnya itu. Saat ini aku sedang sekarat, kupikir tak ada salahnya jika aku membayangkan Uni untuk terakhir kalinya.

Aku tahu dia cemas padaku yang tiap hari bekerja dan pulang larut malam. Mungkin saja dia saat ini khawatir karena belum juga terdengar suara ketukan suaminya yang meminta membukakan pintu. Tapi aku yakin, sepolos-polosnya istriku itu, dia adalah wanita yang setia dan tahu menjaga diri. Tapi bagaimana dengan detak di perutnya?

 

Samata, 2019

Regent Aprianto. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Alauddin Makassar. Forum Lingkar Pena Ranting UIN Alauddin Makassar.