Cerpen M Arif Budiman (Tanjungpinang Pos, 19 Januari 2020)

Akhir Seorang Buron ilustrasi Pur Purwanto - Tanjungpinang Pos
Akhir Seorang Buron ilustrasi Pur Purwanto/Tanjungpinang Pos 

Barangkali Bakir tak pernah menduga bahwa rencana pelariannya bersama Kustam akan membuahkan hasil. Sebab malam itu, mereka yakin siapapun tak mampu menandingi serbuan peluru para sipir yang membabi buta. Hanya keberuntunganlah yang kemudian membuat Bakir dan Kustam masih bernapas. Andai saja mereka tak menyelinap diantara lebatnya ilalang, mungkin nasib mereka sudah berakhir di liang lahat.

***

Tak ada satu pun orang-orang yang bermasalah dengan hukum ingin berakhir mendekam di penjara Pulau Mayit. Sebuah pulau yang di dalamnya dibangun penjara khusus bagi para napi kelas kakap. Tak hanya namanya yang terkesan angker dan membuat tubuh bergidik, cerita-cerita mistis juga kerap menyelimuti sudut-sudut ruang penjara. Tak jarang banyak napi menjadi stres, gila, bahkan bunuh diri karena tak tahan dengan keadaan.

Setelah Bakir dan Kustam divonis seumur hidup atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Haji Salim, mereka berdua menjadi tahanan keliling. Hampir semua penjara di kota-kota besar pernah mereka diami. Perilaku mereka yang buruk dan kerap ingin melarikan diri menjadi penyebabnya. Tak jarang mereka hanya bertahan sebulan di sebuah penjara, kemudian berpindah lagi di penjara lain. Namun malam itu, perjalanan hidup Bakir dan Kustam dalam pelariannya di Pulau Mayit barulah dimulai.

Malam baru saja jatuh. Bakir dan Kustam yang mendiami sel khusus kembali mematangkan rencana yang telah disusun beberapa pekan sebelumnya. Mereka benar-benar telah memahami celah untuk kabur.

“Apa kamu benar-benar mantap, Kir? tanya Kustam, setengah berbisik.

“Maksudmu?”

“Kali ini nyawa kita taruhannya.”

“Bodoh kamu. Apa sebelum-sebelumnya taruhannya bukan nyawa?”

“Benar juga katamu.” Kustam berpikir sejenak “Tapi nanti ketika di luar, kita kabur kemana? Bukankah pulau ini terpencil dan di tengah lautan.”

“Alaaah… Tak usah kamu pikirkan hal itu. Yang terpenting sekarang kita keluar dulu dari penjara ini. Kita tahu sendiri, penjara ini ternyata tak serumit yang kita bayangkan. Inilah kesempatan kita untuk menghirup udara bebas dan aku telah memiliki rencana lanjutan setelahnya.”

“Apa itu, Kir?”

“Akan kujelaskan nanti ketika kita sudah di luar.”

Kustam menarik napas panjang. Ia terdiam sembari menatap rembulan dari balik lubang angin. Batinnya bergejolak. Sesekali pikirannya terlempar ke rumah. Menggapai wajah teduh istrinya yang kala itu pasrah ketika menyaksikan dirinya digelandang ke kantor polisi. Juga wajah anaknya yang teramat polos memahami tentang permasalahan orang tuanya.

“Kus, sudah waktunya,” bisik Bakir, menepuk pundak Kustam.

Kustam terlempar dari lamunannya. Ia mengangguk. Lalu menyiapkan segala sesuatunya. Dengan keahlian yang telah dimilikinya, ia bersama Bakir berhasil membobol beberapa pintu dan mengelabuhi para penjaga.

***

“Sudah berjam-jam kita mendekam di sini. Apa tak sebaiknya kita keluar, Kir. Aku sudah mulai lapar,” ujar Kustam, setelah pagi menyingsing.

“Tahan barang sejenak. Telingaku seperti mendengar derum mesin mobil. Barangkali pagi ini mereka berpatroli.”

Benar dugaan Bakir. Tak lama berselang, sebuah mobil patroli datang dan berhenti di jalur persembunyian mereka yang hanya berjarak seratus meter.

“Saudara Bakir! Saudara Kustam! Sebaiknya kalian menyerahkan diri. Sebelum kami mengadakan operasi besar-besaran!” ujar suara sipir yang keluar dari corong sepiker. “Kalian tak mungkin bisa keluar dari pulau ini hidup-hidup. Lebih baik kalian menyerahkan diri. Kami akan membantu kalian untuk meringankan hukuman. Tapi jika kabur adalah pilihan kalian, maka tak segan-segan kami melubangi kepala kalian dengan pelor!” pungkas sipir, lalu mobil patroli kembali berjalan pelan.

“Bagaimana ini, Kir.”

“Apanya yang bagaimana?”

“Apa tak sebaiknya kita menyerah saja.”

Bakir terkekeh. Tapi kemudian ia tutupi mulutnya sendiri dengan tangan.

“Kamu ini goblok atau bagaimana? Apa kamu lupa. Bukankah ini tujuan kita selama ini. Dari sekian banyak penjara yang kita masuki, baru kali ini kita berhasil lolos.”

“Tapi kelihatannya mereka tak main-main. Bisa-bisa kita dijadikan hewan buruan bagi mereka dan mayat kita dibiarkan jadi santapan anjing liar.”

Bakir menatap tajam Kustam, “Apa kamu takut mati? Sejak kapan kamu takut mati. Haji Salim saja kamu jagal tanpa rasa ngeri. Ini tiba-tiba kamu takut mati.”

Kustam merebahkan tubuhnya ke tanah. Menatap langit dengan perasaan campur aduk, sambil memegangi perutnya yang mulai terasa perih karena lapar.

***

“Ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Sebaiknya Komandan segera meminta persetujuan Komandan Besar agar segera bergerak. Takutnya mereka akan menyeberang ke Pulau Gede.”

Kepala sipir mengangguk, lalu mengambil gagang telepon. Memutar berapa angka. Tak lama kemudian ia terlibat pembicaraan serius dengan orang diseberang telepon.

“Bagaimana, Ndan?” tanya salah seorang sipir.

“Komandan Besar setuju. Siang ini juga mereka menuju ke sini. Dua kompi. Besok pagi kita bergerak. Sebaiknya kalian siapkan segala sesuatunya. Ingat. Jaga tempat ini agar tetap kondusif. Upayakan tahanan yang lain tak terpancing untuk melakukan hal yang sama.”

“Siap, Komandan!” ujar para sipir, lalu meninggalkan ruangan.

“Aji,” panggil komandan pada salah seorang sipir.

“Siap Komandan.”

Sipir bernama Aji kembali menghadap komandan.

“Ada apa Komandan?”

“Aku dengar kamu kenal dengan mereka.”

“Benar, Ndan. Mereka masih satu kampung dengan saya.”

“Berarti mereka kenal kamu kan?”

Aji mengangguk.

“Bagus. Kamu akan memimpin satu kelompok untuk penyergapan besok pagi.”

“Siap Komandan!”

Pagi masih mengembun. Segalanya masih terasa basah. Debur ombak Pantai Selatan terdengar berdentum silih berganti menghantam tebing dan karang. Dua pasang mata tampak siaga mengawasi sekeliling, kalau-kalau ada mata lain yang sedang mengawasi mereka.

“Aku penasaran dengan rencanamu setelah ini, Kir. Katanya kamu akan jelaskan ketika kita sudah di luar.”

Bakir tersenyum simpul, “Benar. Aku memang memiliki rencana lanjutan. Setelah kita berhasil keluar dari pulau ini dan sampai ke Pulau Gede, secepat mungkin kita kabur dan menyeberang ke Bandar Kopi. Di sana aku punya kenalan yang siap menampung kita untuk sementara waktu hingga kita benar-benar menemukan tempat persembunyian yang aman.”

“Tapi rasa-rasanya mustahil kita keluar dari pulau ini, Kir,” desis Kustam setelah melihat ombak besar bergulung-gulung, sembari mencungkil duri ikan yang terselip di gigi.

“Pokoknya apapun caranya kita harus keluar dari pulau ini,” ujar Bakir, menebar pandangan was-was.

“Bagaimana caranya?”

Bakir menatap tajam Kustam. Namun pikirannya mengembang.

“Aku dengar dari beberapa napi, di selatan pulau ini ada sebuah lembah. Lembah itu jarang ada orang yang menjamahnya. Kita bisa bersembunyi di sana untuk sementara waktu. Namanya Lembah Nirbaya.”

Wajah Kustam yang tadinya cerah setelah melahap bangkai ikan, mendadak padam. “Kau ingin ke sana, Kir?”

“Kau tahu lembah itu?”

“Siapa yang tak tahu Lembah Nirbaya. Bahkan konon orang-orang kampung yang bermukim di pulau ini pun tak ada satu pun yang berani menjamahnya.”

Bakir tersenyum, “Kalau kamu ingin terus hidup, ikutlah denganku.”

“Tapi, Kir…”

Bakir beranjak dari tempat duduk. Lalu berjalan menuju selatan. Sementara Kustam masih memandangi Bakir dengan perasaan aneh.

***

Satu kompi polisi telah tiba di Lapas Hitam. Dengan segera komandan besar membagi mereka menjadi empat peleton. Masing-masing peleton dibantu beberapa sipir setempat yang menguasai medan. Tak terkecuali Aji. Ia ditugaskan untuk menjadi cucuk lampah menuju Lembah Nirbaya.

“Aji, apapun yang terjadi kamu harus bisa menahan diri,” bisik Komandan Sipir. Aji mengangguk.

Setelah semua menaiki truk, mereka berangkat. Truk kemudian menyebar ke titik-titik yang telah ditentukan. Menyusuri jalan becek berlumpur.

“Aku dengar tempat yang akan kita datangi merupakan tempat yang paling dihindari orang-orang, apa benar?” tanya seorang polisi pada Aji.

“Benar.”

“Seperti apakah tempat itu?”

“Tak lebih dari kebun biasa yang tak terawat.”

“Apa yang menjadi kemungkinan mereka ada di sana?”

“Karena tak mungkin itulah, kemungkinan besar mereka berada di sana.”

“Apa kamu yakin?”

“Dua ratus persen yakin.”

***

Hujan menyemai ketika dua buah truk berhenti di mulut sebuah jalan setapak. Setelah turun, Aji dan rombongannya perlahan bergerak dengan memasang pandangan awas. Moncong-moncong senapan menatap tajam pada pohon-pohon dan semak-semak. Meski mereka tahu, tak satu pun lawan yang mereka cari bersenjatakan sama. Namun kesiapsiagaan tetap mereka jaga untuk meminimalisir hal-hal yang tak diinginkan.

Jauh di ujung depan, Bakir dan Kustam berteduh di bawah shelter yang mereka bangun dari tumpukan daun lompong. Kedua wajah mereka menampung kegembiraan hingga membuat mereka terlena. Mereka tak menyadari bahwa Aji bersama rombongannya telah mengendus keberadaan mereka. Peringatan untuk menyerahkan diri pun menggema dari segala penjuru.

“Bagaimana ini, Kir. Apa rencanamu?”

“Belum tahu.”

“Kok belum tahu,” bisik Kustam, mulai panik.

“Kamu tak perlu panik. Jika ingin selamat kamu harus mengikuti komandoku.”

Sementara itu peringatan untuk menyerahkan diri kembali diserukan. Karena tak juga mendapat respon, tembakan peringatan pun diletuskan. Kustam bertambah panik. Wajahnya pucat pasi. Lalu tanpa sepengetahuan Bakir, ia lari tunggang langgang. Apes bagi Kustam. Terjangan peluru merobohkan tubuhnya ke tanah.

“Kang Bakir! Sekarang tinggal kamu. Sebaiknya kamu menyerah!” teriak Aji. Bakir tak kuasa melihat Kustam tersungkur. Ia pun keluar dari shelter. Dijamahnya tubuh Kustam yang bersimbah darah.

“Kang Bakir, menyerahlah,” teriak Aji. “Angkat tanganmu!”

Bakir menatap Aji dengan penuh amarah. “Kamu telah membunuh kawanku! Kalian telah membunuh sahabat karibku!” teriak Bakir, lalu berdiri, mencoba menghampiri Aji. Namun seorang polisi dengan sigap melepaskan tembakan ke arah kaki kanan Bakir. Bakir bertekuk lutut memegangi lukanya. Saat itu pula Aji menghampiri Bakir. Dalam keadaan menahan perih, Bakir melihat wajah yang tak asing.

“Aku seperti tak asing denganmu?”

“Ya, Kang. Aku Aji. Aku anak Haji Salim yang kamu gorok lehernya dua tahun silam.”

Bakir terperangah. Wajahnya yang merah penuh amarah mendadak memudar.

“Sungguh biadab dirimu memperlakukan bapakku. Padahal sudah puluhan tahun kamu dihidupinya. Namun karena uang dan keserakahanmu, kamu jadi gelap mata.”

Bakir tertunduk. Ia menangis bersama hujan yang kembali turun.

“Maafkan aku. Aku memang bersalah,” tangis Bakir, sembari menggapai kaki Aji. “Berilah aku kesempatan hidup.”

“Tapi bagaimana dengan bapakku? Apakah kamu memberi kesempatan bapakku hidup? Padahal konon ia sudah berlutut dihadapanmu. Namun dengan keji, kamu justru menggorok lehernya.”

Suasana hening, namun hujan terus menderas. Tiba-tiba Bakir tertawa terbahak-bahak sambil mengumpati Haji Salim berulang kali. Dan tak lama kemudian. Cras! Aji menancapkan sangkur tepat di pangkal leher Bakir.

 

Kudus, 2018

M Arif Budiman lahir di Pemalang 5 November 1985. Menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.