Cerpen Gandi Sugandi (Kabar Cirebon,18 Januari 2020)

Si Manis Tak Lagi Manis ilustrasi Kabar Cirebon (1)
Si Manis Tak Lagi Manis ilustrasi Kabar Cirebon

Pak Jhon dengan lembut membelai-belai punggung Si Manis, lalu berkata, “Kinilah saatnya kembali mandi agar bulumu selalu berkilat.” Si Manis pun tak berontak karena telah terbiasa dengan rutinitas Sabtu pagi, dan tahu Tuannya memang benar-benar sayang padanya, takpernah terlambat memberinya makan.

Pak Jhon lalu memutar keran, mengarahkan selang ke punggung Si Manis. Aliran air menyelusup ke seluruh lembar bulu hingga ke pori-pori kulit sampai kuyup. Kemudian Pak Jhon menggosok Si Manis dengan sampo khusus hingga berbusa yang semakin membuih, menutupi seluruh tubuh—kecuali bagian muka yang tetap mulus. Pak Jhon begitu berhati-hati, takmau kejadian seperti seminggu yang lalu terulang kembali, ketika percikan air sampo mengenai kedua mata Si Manis—yang membuat perih.

Kuku-kuku pada ke empat kaki juga takluput dari perhatian. Pak Jhon menekan lembut ujung jari-jari Si Manis, hingga kuku-kukunya menonjol keluar. Dengan perlahan, Pak Jhon menyikat semua kuku hingga kembali mengilat tanpa noda hitam. Pula tak tertinggal, kedua telinga bagian dalam juga dikorek.

“Nah, selesai! Kau pasti kedinginan. Sekarang berjemur!” Diangkatlah tubuh Si Manis, ditaruh di bangku tembok di tengah halaman yang berupa taman kecil. Keduanya lalu saling memandang. Tak lama, Si Manis menggoyang-goyangkan tubuh, agar air yang membasahi kulit dan bulunya segera cepat beranjak pergi. Rupanya Pak Jhon terkena juga cipratan, namun takmarah, malahan tertawa.

Sementara Iis pembantu rumah, sedang membersihkan kandang mungil dari besi. Iis telah mendapat tugas untuk selalu menjaganya tetap steril. Pada saat bersamaan, beberapa puluh meter dari rumah terdengar sayup-sayup suara tukang sampah. “Sampah! Sampah…! Sampah! Sampah…!”

Kedua telinga Si Manis bergerak-gerak. Saat suara itu semakin nyaring terdengar, membuatnya semakin menjadi taknyaman. Baginya, itu adalah teriakan yang menakutkan-menyeramkan, tidak seperti suara Tuannya yang selalu bertutur lembut. Pagar depan rumah yang tinggi serta tertutup mika berwarna coklat yang menghalangi pandangan mata Si Manis, menambah rasa taktenang. Takut, bila secara tiba-tiba orang yang suka berteriak itu ada di depannya.

Pak Jhon mengerti, segera mendekatinya, berkata, “Tak apa-apa, tenanglah. Selama ada aku, kau akan selalu kujaga baik-baik.” Pak Jhon pun teringat, telah tiga hari sampah bertumpuk di dapur. Sebelum tukang sampah berlalu menjauh, segera dipanggilnya, “Sampah! Sampah!”

Tukang sampah memarkirkan roda sampahnya di depan rumah, Iis melangkah ke depan pagar, membuka pintu kecil seukuran pintu masuk kamar; tukang sampah kemudian masuk ke halaman. Iis bergegas ke dapur hendak membawa tiga keresek besar. Saat kembali, Iis hampir saja terpeleset ketika berjalan akibat paving block yang licin. Tetapi tukang sampah malah tersenyum simpul, serta merta melontarkan pujian, “Benar-benar manis..”

“Yang mana?” Pak Jhon bertanya.

“Yang berjemur,” jawab tukang sampah cepat.

“Aku kira gadis ini. Oh ya, terima kasih, terima kasih untuk pujian pada kucingku. Cuma biaya pemeliharaannya lumayan juga.”

Tetapi, Si Manis bukannya senang. Kata-kata barusan dari tukang sampah telah menjadikan puncak rasa ketidaknyamanannya. Pak Jhon kembali mengerti; tidak memberikan kesempatan tukang sampah berlama-lama. Tukang sampah diberinya sekedar uang untuk membeli rokok. Kemudian langkah-langkah tukang sampah dari halaman menuju jalan, bagi Si Manis adalah langkah-langkah kebebasan. Pak Jhon kembali membelai-belai punggung Si Manis meskipun belum kering.

Iis yang kini sedang menyapu, segera dipanggilnya. “Sebentar lagi, aku akan pergi ke luar kota. Ada beberapa keperluan. Kau harus menjaga Si Manis dengan baik. Jangan lupa makan malamnya. Kalau sampai terjadi apa-apa, lihat saja nanti.”

“Iya Pak. Bapak di luar kota tidak lama, kan?”

“Bergantung beres tidaknya keperluan. Paling telat besok siang, semoga sudah ada di sini.” Kemudian Si Manis dimasukkan ke dalam kandangnya. Pak Jhon beranjak ke dalam rumah untuk berkemas. Ah, rupanya mereka taktahu, percakapan itu dikuping tukang sampah di luar pagar.

Tukang sampah yang pendatang di RW ini, lalu pergi. Dia terus menarik roda sampahnya. Dua besi panjang di pundak beserta tali tambang adalah kemudinya. Bau-bau dari segala bekas makanan yang membusuk, cairan sisa minuman yang tumpah, juga bekas keperluan rumah tangga lainnya, bercampur baur, menguar dari roda di belakangnya. Isi roda sampahnya hampir penuh. Dia terlihat payah menarik roda. Sedangkan di belakang roda tersampir dua karung berukuran besar—tempat gelas-gelas plastik dan botol plastik bekas minuman mineral berkumpul-beradu. Tetapi, belum terisi penuh. Padahal, itu semua adalah salah satu sampingannya untuk dijual.

Menjelang satu perempatan, dia teringat kucing tadi. Dia bergumam. “Kucing binatang, aku manusia. Oh nasibku jauh berbeda. Tubuhmu, bulu-bulumu selalu bersih. Sedangkan tubuhku? Pakaianku?  Makananmu juga mahal, kucing. Minumanmu, susu pula. Sedangkan aku?” Pikiran kotornya berkelebat. Pikirnya, pemilik kucing tentu sedang di perjalanan menuju luar kota. Dia kembali ke tempat tadi, melewati beberapa perempatan.

Di depan pagar rumah Pak Jhon, dia setengah berteriak, “Permisi! Permisi!”

Di dalam, Iis celingak-celinguk mendengar suara yang dikenalnya. Kemudian keluar, mendekatinya. Takmau terjadi apa-apa di rumah Tuannya, Iis hanya berkata di balik pagar. “Takboleh masuk! Takada izin dari Tuanku.” Tukang sampah terdiam. Lalu pergi.

Waktu pun beranjak.

Iis yang bekerja penuh waktu, kecapekan, ketiduran di siang hari, lupa mengeluarkan piaraan Tuannya dari kandang yang hanya berkunci slot untuk dibawa ke dalam rumah. Bahkan juga lupa mengunci pintu pagar.

Saat sore hari, oknum tukang sampah mengendap-endap hingga masuk halaman rumah Pak Jhon. Tukang sampah memberi umpan makanan yang telah diberi obat bius, Si Manis memakannya hingga tergeletak pingsan. Tukang sampah dapat dengan mudah membawanya.

***

Pagi-pagi, Pak Jhon terus gelisah sepanjang perjalanan pulang. Rupanya sebagai pertanda buruk. Tukang sampah di satu tempat sedang menjual si Manis ke penadah. Uangnya dipakai makan dan sebagiannya lagi untuk membayar kamar kontrakan yang selama ini dia tinggali. Tukang sampah yang sebatang kara, merasa terpaksa melakukannya.

Saat tiba di rumah, Pak Jhon sangat marah sekaligus bersedih. Saat itu juga Iis disuruh mencari Si Manis ke segenap penjuru di sekitar tempat tinggal. Iis melaksanakannya, tapi takdapat menemukannya, hingga mendapat marah.

Meskipun begitu, Pak Jhon tak berputus asa. Membuat banyak status di sosial media: kehilangan kucing beserta foto. Bahkan membuat pamflet beserta foto dan ditempel di tiang-tiang listrik secara merata di seluruh kecamatan; berisi pengumuman “Barang Siapa Menemukan Kucing Ini, Akan Diberi Imbalan”. Juga tak tertinggal membuat iklan di koran terbitan kota ini.

Berhari-hari menunggu, namun tak mendapat berita gembira.

Pada akhirnya, Pak Jhon curiga pada oknum tukang sampah. Dicarilah keberadaan tukang sampah itu ke tempat tinggalnya sesuai alamat RT-RWnya. Tetapi hampa. Tidak ada kucing sebagai barang bukti. Pak Jhon pun takingin memerpanjang urusan, memilih pasrah dengan kehilangan kucingnya.

Namun saat telah menginjak lima hari kehilangan, Pak Jhon demam. Nafsu makannya berkurang. Hari-harinya kini bersama kesepian-kesedihan. Selalu menginginkan dapat bersama kembali dengan Si Manis.

***

Di hari Sabtu pagi, di rumah Tuannya yang baru di kota lain, Si Manis tepergok memangsa tiga ekor ikan nemo dari akuarium. Tuannya yang baru marah tak kepalang, berkali-kali memukul kepala Si Manis dengan sapu. Seumur-umur, baru kali ini mendapat perlakuan kasar. Betapa sakit hati Si Manis. Dengan diam-diam saat siang kabur menyelinap pagar belakang. Berjalan taktentu arah seraya mengenang saat bersama Tuannya yang lama.

Berhari-hari, berminggu-minggu, Si Manis hidup di jalanan. Takada lagi yang rutin memandikan, memberi makan—kini harus mencari sendiri makanan, meskipun dengan mencuri. Apes bagi Si Manis, di satu hari tertangkap basah mencuri ayam goreng di warung nasi, kepalanya pun dipukul benda tumpul. Hanya di tempat sampah saat sepilah, Si Manis bisa makan makanan sisa dengan tenang.

Kini Si Manis telah menjadi kucing liar. Bulunya kumal penuh debu, berkutu. Kukunya juga hitam kotor. Si Manis taklagi manis.

 

Bandung, Desember 2019