Cerpen Anton Kurnia (Koran Tempo, 18-19 Januari 2020)

Pencegahan Bunuh Diri ilustrasi Koran Tempo (1)
Pencegahan Bunuh Diri ilustrasi Koran Tempo

Hari Senin panjang yang membosankan dan meletihkan ini sungguh membuatku ingin bunuh diri. Aku baru saja tiba di rumah membawa tas kerja penuh dengan kertas-kertas laporan, hasil penelitian, dan proposal proyek. Untuk menghindari kemacetan yang kian edan, dari kantorku di pusat kota aku naik kereta listrik yang penuh sesak pada jam sibuk pulang kantor sampai ke stasiun pinggir kota di dekat tempat tinggalku. Dari situ aku tinggal berjalan kaki tak sampai sepuluh menit ke kompleks perumahan kami.

Istriku sedang membaca buku di atas ranjang saat aku masuk ke dalam kamar. Kulirik judulnya sekilas: Cara yang Indah untuk Mati. Tampaknya sebuah novel. Tak terbaca nama penulisnya. Tanpa mengalihkan pandangan dari buku di tangannya, dia berkata acuh tak acuh, “Kamu kelihatan lelah. Cobalah menghibur diri.”

Terdengar suara-suara rutin di rumah ini: dentam musik pop Korea dari kamar anak perempuanku, deru bising game balap mobil dari kamar anak lelakiku.

Anak-anakku sudah besar. Anak lelakiku kuliah semester awal. Kampusnya tak terlalu jauh dari rumah. Dia mengambil jurusan manajemen bisnis digital. Jurusan itu belum ada saat aku kuliah dulu. Anak perempuanku baru saja genap enam belas tahun, kelas sebelas SMA. Dia mengambil jurusan IPA dan amat menyukai segala yang berbau Korea.

Istriku bisa dibilang tidak bekerja, sibuk menghabiskan waktu seharian di rumah-bermain gawai, menonton televisi, membaca buku. Sesekali dia bergaul dengan kawan-kawannya: arisan, reuni sekolah, latihan yoga. Dulu kami sekampus, tetapi beda jurusan. Setelah lulus kuliah, aku bekerja di sebuah perusahaan survei pertambangan-sampai kini. Kami kawin dua tahun setelah aku memulai karier. Menjelang kelahiran anak pertama kami, istriku berhenti bekerja di sebuah bank.

Dua puluh satu tahun pernikahan telah berlalu dan tiba-tiba saja kini kami sudah menjelang tua. Menjadi gemuk bersama, tetapi menjalani hidup dengan kerutinan masing-masing. Kami makin terasing satu sama lain. Hanya serupa teman sekamar. Tak lagi kawan hidup.

Aku pergi ke ruang perpustakaan, satu-satunya tempat di rumah ini yang membuatku bisa merasa nyaman sendirian tanpa melakukan apa-apa. Aku duduk di atas kursi empuk. Memandang berkeliling. Menatap buku-buku berdebu yang berderet di atas rak kayu. Melihat sekilas foto-foto lama dalam bingkai kaca yang dipajang di dinding. Kubuka sebuah majalah lama yang tergeletak di atas meja. Namun, aku tak sungguh-sungguh membaca barisan aksara di dalamnya. Pikiranku mengembara.

Kerap aku jenuh dengan hidupku. Rasa bosan bisa sangat menyiksa. Sesekali bahkan terlintas di kepalaku untuk bunuh diri. Kita perlu hiburan atau sesuatu yang benar-benar menggairahkan di dalam hidup ini agar bisa bertahan.

Istriku masuk ke dalam perpustakaan. Dasternya tampak kedodoran. “Mau makan malam?”

Makanan telah terhidang di atas meja makan. Ada buah-buahan yang tampak segar dan bergizi-apel, jeruk, pisang. Ada nasi putih hangat. Ada sayur lodeh, tempe goreng, perkedel, empal. Ada pula kerupuk udang. Pembantu kami yang memasak. Istriku tidak pernah memasak karena memang tidak bisa memasak. Seperti juga aku.

Kami berempat makan malam bersama seperti sebuah keluarga yang bahagia. Namun, meski duduk semeja, kami sibuk makan tanpa bercakap-cakap. Anak-anakku bahkan mengunyah makanan sambil menatap layar ponsel masing-masing. Sesekali kutatap mereka, tetapi tak kutegur.

“Mau ikut jalan-jalan naik mobil sebentar?” tanyaku berbasa-basi kepada istriku setelah kami selesai makan dan kedua anak kami kembali ke kamar masing-masing. Aku tahu dia tak akan mau—ini waktu khusus untuk menonton sinetron seri di televisi.

“Mau cari hiburan? Mobil barumu itu memang mahal sih. Sayang kalau tidak dipakai,” tukas istriku tak peduli sambil mengunyah pisang.

Mobil istriku menghalangi jalan keluar mobilku dari garasi. Aku memindahkan van merah itu dan memarkirnya di tepi jalan. Lalu, aku mengeluarkan mobilku dari garasi, memarkirnya di tepi jalan, memasukkan mobil istriku ke dalam garasi, kemudian menutup pintu garasi. Semua ini membuatku agak kesal.

Kuputar kunci kontak untuk menyalakan mesin sedan hitamku yang baru sebulan menghuni garasi kami. Aku merasa lega saat melaju di atas roda. Seperti biasa, aku pergi tanpa tujuan. Aku hanya ingin mencari jalanan yang sepi. Jalanan yang ramai tak cocok untuk melakukan kesenangan rahasiaku.

Lima belas menit kemudian aku mengemudikan mobilku perlahan-lahan di satu ruas jalan yang temaram, kanan-kirinya dipenuhi pepohonan. Terasa sunyi yang menyenangkan. Tempat yang sempurna.

Lelaki atau perempuan? Aku belum memutuskan. Belum kulihat satu pun sasaran yang tepat. Aku mulai merasa tegang. Selalu seperti itu. Tetapi aku menyukai sensasinya.

Lalu aku melihat perempuan itu. Sebetulnya perempuan sedikit kurang menyenangkan ketimbang lelaki karena biasanya terlalu mudah.

Perempuan itu mengenakan rok hitam polos dan blus merah terang sewarna kesumba. Usianya mungkin awal tiga puluhan. Rambutnya dipotong pendek seleher. Dia berjalan bergegas, membawa barang yang dibungkus plastik putih—mungkin dari toko swalayan. Apa dia tidak tahu kalau plastik tidak baik bagi kelestarian lingkungan? Ikan paus saja bisa mati karena terlalu banyak menelan limbah plastik. Lagi pula, sampah plastik butuh waktu amat lama untuk terurai.

Ada pepohonan setiap lima meter di sepanjang jalan; tantangan menarik yang menuntut keahlian tinggi. Aku mematikan lampu depan dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Dia baru menyadari aku melaju kencang ke arahnya saat dia mendengar bunyi ban membentur tepi trotoar. Dia tak sempat menjerit. Sempat kulihat sekilas sorot matanya yang memancarkan kengerian.

Aku menabraknya di atas lutut, tepat di tengah kakinya—sebetulnya sedikit lebih condong ke kaki kirinya, kurang simetris dengan bagian kaki kanan yang terhantam. Kudengar suara tulang yang patah berderak. Tetapi ini belum selesai.

Aku membelok cepat ke kanan, mengebut melintasi celah di antara pepohonan dan, dengan diiringi suara ban berdecit, bergegas mundur kembali ke jalan aspal. Mobilku melaju dari nol ke enam puluh kilometer per jam hanya dalam tempo tujuh detik. Bisa kulihat tubuh perempuan itu terpental lalu terkapar bersimbah darah di tepi dinding pagar tembok sebuah rumah. Tak bergerak lagi.

Aku melihat berkeliling. Tak ada orang. Tak ada saksi yang melihat. Mungkin Tuhan diam-diam mengintip perbuatanku. Tetapi aku tak peduli.

Kembali ke garasi, kuperiksa mobilku. Kuelus perlahan bagian depan bumpernya yang mulus berkilau dengan penuh kebanggaan. Tak ada noda segores pun. Hanya segelintir manusia di dunia ini yang mampu menyamai keahlianku dalam ketangkasan mengemudi mobil.

Keluarga kecilku yang tampak bahagia sedang berkumpul menonton televisi di ruang tengah sambil mengudap penganan ringan.

“Merasa terhibur setelah berjalan-jalan?” tanya istriku yang berbaring berselonjor di atas sofa-sepasang matanya terpaku menatap layar kaca.

“Aku mau tidur,” kataku. “Besok hari yang sibuk di kantor. Ada rapat penting setiap Selasa.”

 

Wina-Bratislava-Budapest-Krakow-Berlin-Frankfurt-Jakarta, Oktober-Desember 2019

Anton Kurnia menulis cerpen dan esai. Kumpulan cerpennya yang kedua adalah Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Dalam Gelap Malam (2019). Buku esainya yang terbaru berjudul Menuliskan Jejak Ingatan (2019). Datang dan pergi di banyak kota, kini ia tinggal di pinggiran Jakarta.