Cerpen Susy Ayu Tearne (Minggu Pagi No 41 Th 72 Minggu III Januari 2020)

Lengkung Langit yang Sama ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Lengkung Langit yang Sama ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

“DASAR tolol!”

Seorang pengemudi memakinya. Ia jatuh terduduk di tepi jalan. Siapa yang menarik tubuhnya hingga kecelakaan bisa terelakkan? Namun tak ada siapapun di dekatnya. Ke mana orang itu? Hanya sekumpulan orang menatap terkejut dari kejauhan.

“Apakah kamu tahu siapa yang menolongku tadi?” Ia bertanya pada seorang pria yang segera menghampiri dan membantunya berdiri.

“Tidak. Tapi aku melihat kau tiba-tiba terlempar ke trotoar. Kupikir truk itu menghantammu. Apakah kamu mabuk? Kau bahkan tidak menyeberang di zebra cross.”

“Mungkin. Terimakasih!”

Jawaban yang memalukan. Dengan harga diri yang sempoyongan ia berusaha menegakkan dada terhuyung menyusuri trotoar layaknya idiot. Tubuh gemetar itu memaksanya berhenti di bawah pohon mimosa. Kepalanya terkulai kebelakang menengadah dengan mata terpejam. Daun ramping mimosa menjuntai ke bawah berkerumun di atas kepala orang dewasa jika duduk di bangku taman itu. Sesaat ia merasakan sensasi sentuhan jemari lentik mengusap dahinya, ia menikmatinya. Namun ketika aroma yang begitu ia kenal menguar dan memerangkap udara di sekeliling ia terhenyak.

“Isabel? Isabel! Kaukah itu, darling?” Aroma woody dan yellow floral powdery semakin kental. Ia mengendusi udara. Panca inderanya meluap.

“Isabel? Aroma parfummu. Isabel!”

Tak ada sahutan. Suara lantang menghambur dari tegak tubuhnya menarik perhatian seorang lelaki kecil.

“Tuan, Tuan, Anda mencari siapa?”

Jatuh terduduk, tubuhnya kembali melunglai putus asa.

“Apakah kau mencium aroma parfum?”

Tatapan yang membutuhkan jawaban ‘ya’ itu menghujam lawan bicara.

Meskipun penuh rasa keheranan, si  kecil mengendusi udara.

“Di sini? Hmm… tidak, Tuan. Hanya bau bunga mimosa. Apakah Anda baik-baik saja?”

“Ah, ya. Aku baik-baik saja.” Tentu ia berdusta. Tapi untuk apa berkata jujur pada seorang anak kecil yang asing? Tahu apa bocah ini tentang kehilangan? Ia merogoh tas kerja yang penyok karena menghantam trotoar, mengeluarkan Baileys dalam ukuran botol mini sedikit retak lantas meneguknya kuat-kuat hingga menimbulkan suara. Si kecil tetap duduk di sampingnya, mengamati sambil menyimpan pertanyaan polos. Sesuatu menahannya di sini.

“Rumahku di ujung jalan ini. Maaf, Tuan, Anda tidak baik-baik saja. Sebaiknya Anda beristirahat sejenak.” Tawaran masuk akal namun tidak menarik.

Si  kecil menatapnya sejenak tanpa bermaksud  lancang sambil merapikan selebaran flyer di atas pangkuannya dengan posisi terbalik. Lelaki dewasa hanya melirik sekilas menakar usia si lelaki kecil sekitar 9-10 tahun. Dalam diam ia terus meneguk hingga tetes terakhir.

“Aku tinggal bersama Ayahku. Ibuku sudah lama meninggal. Apakah Anda percaya arwah mampu berkomunikasi dengan yang hidup, Tuan?” Tangan kecilnya membuka sedikit kedua sudut selebaran. Menunduk dengan pandangan melesat ke dalam, memastikan tak ada yang berubah di sana.

Telinga si lelaki dewasa mendadak tegak, ingin sekali ia menjawab pernah dan masih percaya, juga tidak lagi percaya. Pertanyaan dengan jawaban yang menyakiti dirinya sendiri. Sesuatu yang ingin terus ia percayai sekaligus ingin ia bantah. Semua itu hanya menaburkan racun di atas lukanya. Ia memilih diam dengan benak dipenuhi ingatan tentang sang istri.

“Iya, sayang. Aku tahu kau sangat mencintaiku, aku mencintaimu lebih!” Isabel membalas kecupanku yang bertubi-tubi dengan satu ciuman dalam.

“Jika aku mati lebih dulu, jangan menikah lagi. Aku akan menunggumu di sana. Kita akan hidup bersama selamanya.” Aku tahu ini terdengar sangat konyol bagi Isabel.

Isabel tergelak. “Jika aku mati lebih dulu kau harus menikah lagi agar selalu bahagia. Kita tidak akan bertemu lagi, semua yang mati hanya akan meledak menjadi debu.”

“Jangan patahkan hatiku, Isabel. Kita akan bersama selamanya! Tolong yakinilah ini.” Aku lebih dari bersungguh-sungguh, aku memohon.

Percakapan aneh pagi hari di telinga Isabel, segera diraihnya kunci mobil dan bergegas. “Akan aku pikirkan. Sampai ketemu saat makan malam!” Perjalanan Isabel ke kantor membawanya pergi ke tempat jauh yang tak bisa kujangkau, selamanya!

“Oh tidak! Flyer-ku terbang!” Si kecil melompat berusaha meraih selebaran yang terlepas  dari genggaman oleh angin kencang yang bertiup tiba-tiba. Lelaki dewasa spontan  berdiri dan tangan besarnya menangkap selebaran kertas yang melayang di depan wajah. Sekilas ia membaca tulisan di flyer Psychic-Medium Lady Pink.

“Terimakasih, Tuan. Angin yang aneh!” Si kecil itu segera meraih selebaran flyer itu kembali ke pangkuan, merapikan  lagi dengan posisi terbalik dan menjaga seperti sesuatu yang sangat berharga.

Psychic Medium? Flyer apakah itu?” Ketertarikan yang gagal diperangi itu pun muncul sesaat.

“Betul, Tuan. Seorang medium akan datang ke kota ini….” Ucapannya terhenti. Seketika kaki kecil itu menjauh.

“Aku harus segera pulang, Tuan!”

“Tunggu! Biarkan aku melihatnya,” sergahnya cepat.

Mereka berdiri saling berhadapan. Tatapan polos seorang bocah menembus kepala mencari sesuatu. Dengan mata kecil berpendar antusias perlahan tangannya menyodorkan selebaran itu namun menariknya kembali dengan cepat didekap di dada secepat binar percaya yang pergi dari matanya.

“Aku tahu Anda tidak percaya arwah, Tuan. Anda akan mengolok-olokku seperti yang semua orang lakukan. Tapi aku tidak pernah menyerah, aku akan berbicara dengan arwah Ibuku. Aku menabung cukup lama untuk ini. Sampai jumpa lagi, Tuan.” Mata bocah itu perlahan basah.

“Kau benar, aku sudah putus asa mempercayai itu. Pulanglah, selamat tinggal!” Suaranya terdengar payah. Ia tercenung hampir  tidak mempercayai ucapannya sendiri.

Bocah kecil itu meyakini bisa berbicara dengan arwah ibunya lewat seorang medium. Lady Pink? Ia membayangkan seorang perempuan gypsy dengan gaun panjang dan cat rambut merah jambu, berbau napas bawang putih dan suka kentut sembarangan.  Jika arwah Isabel benar hidup, mengapa tak menghubunginya lewat mimpi saja? Lamunannya terhenti oleh getaran telepon genggam di sakunya. “Di mana kau? Kau sudah kutoleransi dua bulan. Aku tidak bisa mengerjakan proyek kita sendirian. Jangan memaksaku menggantikanmu dengan orang lain. Kita ketemu besok.

Aroma parfum menyebar di sekeliling, namun ia tidak lagi mempercayai penciumannya. Segala kegilaan ini harus dihentikan.

“Selamat tinggal, istriku.”

***

DI tengah panggung besar pada sebuah auditorium dipenuhi orang-orang yang kehilangan, seorang wanita dengan setelan blazer dan pantalon berwarna khaki senada dengan rambut kecoklatan sebahu yang ditata rapi sedang melakukan pembacaan arwah untuk seorang lelaki kecil yang datang sendirian.

“… begitu Ibumu berpesan. Satu lagi, Tom. Tidak perlu datang tiap hari membawa bunga kuning ke makan Ibumu, terutama saat hari hujan.” Senyum Lady Pink yang hangat menemani buliran air mata Tom.

“Sebentar… sebentar….” Lady Pink memiringkan kepala, matanya bergerak-gerak diikuti anggukan kepala, “Isabel? Grant? Ya, ya… pelan-pelan jangan terlalu cepat.” Lady Pink tampak berbicara pada sesuatu yang tak nampak di sebelahnya.

“Tom, arwah seorang wanita bernama Isabel hadir. Pesannya, sampaikan pada Grant bahwa Isabel telah berusaha; lampu kamar sering pecah, kopi tumpah, menyelamatkan Grant dari hantaman truck. Isabel kerap datang dalam tidur, namun Grant tidak menyadari karena tertidur dalam keadaan mabuk. Kau sungguh paham yang dimaksud oleh Isabel?”

Lady Pink memberi isyarat agar Isabel berhenti bicara sejenak sambil menunggu klarifikasi dari si kecil. Tom kebingungan. Siapa Grant?

“Tom, Grant adalah pria yang seminggu lalu kau hampiri di bawah pohon mimosa. Isabel ada di sana saat itu. Kau ingat, Tom? Jika suatu hari kau bertemu dengannya lagi, katakan Isabel mencintainya dan sampai jumpa lagi bukan selamat tinggal.”

Susah payah Lady Pink mengatasi gemetar tubuhnya. Dari tempat duduknya, Tom  mengangguk menangis. Air mata di mana-mana. n – e

 

Januari 2020

Susi Ayu Tearne: kelahiran Purwakarta Jawa Barat. Tinggal di Perth Australia.