Cerpen Aji Saputra (Suara Merdeka, 12 Januari 2020)

Sebelum dan Sesudah Terompet Ditiup ilustrasi Hangga - Suara Merdeka-1
Sebelum dan Sesudah Terompet Ditiup ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

Tirai langit yang mendung seketika pecah menjadi penuh warna. Dentuman yang membelah udara terdengar sahut-menyahut. Di atas kepalanya, kelopak bunga raksasa memancarkan kelap-kelip warna merah berbalut oranye; pancaran di tengah gelap itu berubah keemasan. Namun, itu cuma peristiwa dalam angannya.

Saat ini ia tengah berdiri di balkon rumah seraya menutup kedua telinga dengan telapak tangan. Matanya sekian menit berbinar-binar, bukan karena bahagia melainkan ada air mata yang masih terbendung. Tinggal mengerjap, matanya pasti hujan.

Ia berbalik menatap pintu kaca tebal berbingkai logam. Jika tidak ada tirai menjuntai dari balik pintu, ia pasti melihat jelas orang tuanya yang sedang bertengkar. Sungguh, jauh di dasar hati, ia memberontak; ingin menunjukkan diri dan mengumpat untuk melerai. Namun ia tidak mampu sebab takut. Ia hanya bisa bersembunyi.

Tak lagi dapat terempang. Air mata mengaliri pipi gembilnya dan melesat membasahi terompet, yang ia geletakkan tatkala awal mendengar pertengkaran mereka.

“Mengapa bertengkar terus? Apakah menunggu kiamat baru duniaku tenang?” batin dia sambil terisak-isak.

Lemas berbalut kemelut batin membuat ia jengah menerima kenyataan atas nasib keutuhan keluarga yang berada di ujung tanduk. Kini perlahan dia membuka kuping yang tertutup rapat. Seketika ia merasa bodoh karena telah berusaha menghindari perang batin ayah dan ibunya. Percuma, sebab tidak tuli.

“Mengapa Ayah melanggar janji? Apakah karena tidak menyadari aku bersembunyi di sini?” kembali ia membatin. Air mata makin deras mengalir. Kedua betisnya lemas, sehingga ia pun jongkok dan meringkuk. Mukanya menelungkup di antara kedua lengan yang terlipat di atas lutut. Ketika memejamkan mata, memori perihal janji Ayah menyembul di balik tempurung kepalanya. Ia melihat peristiwa itu kembali melalui rekam mata yang tersimpan di memori otak.

“Tahun baru identik dengan kembang api dan terompet kan, Yah?”

Pria berkumis tipis itu mengangguk. Setelah itu, menggapai secangkir kopi hitam di atas meja kayu berbentuk oval. Di ruang keluarga ia duduk berseberangan menatap ayahnya yang sejak sekian menit duduk belum menatapnya.

“Belikan aku terompet, Yah!” pintanya.

“Tanpa kamu minta, Ayah sudah membelikan. Ada di kamar di dalam kantong plastik transparan. Tengok saja bila tak percaya.” Masih tidak menatap wajahnya.

“Serius?” Wajahnya semringah. “Aku ingin bertanya tentang sesuatu. Ayah mau menjawab?”

“Tergantung konteksnya.”

Sepersekian detik, usai menghela napas, ia bertanya, “Rumitkah menjadi orang tua?”

Ucapan terhenti saat ayahnya menatap dia dengan mata mengejang.

“Rumah ini terlalu luaskah, sehingga Ayah dan Ibu selalu bertengkar?”

Ayahnya berdeham. “Sejak kapan anak SMP diajari bertanya begitu? Seseorang mengajarimu merangkai kalimat pertanyaan itu?”

“Iya, Yah….”

“Siapa? Katakan pada Ayah, Darius! Berani sekali mengajarimu bertanya hal dewasa begitu.”

“Aku diajari televisi yang Ayah beli. Itu makananku setiap hari untuk meluruhkan kebosanan mendekam di rumah. Juga dari tayangan dewasa yang setiap hari dijejalkan. Jadi wajar bila aku bisa bertanya perihal kehidupan orang dewasa.”

Pria itu gelenggeleng. “Besok tak ada lagi televisi!”

“Tak masalah kok, Yah. Kan masih ada ponsel.”

“Ponselmu mulai besok Ayah sita.”

“Mengapa harus menyita kebahagiaanku bila kalian belum bisa memberikan kebahagiaan untukku?”

Kembali geleng-geleng. Pria itu merasa ucapan Darius lebih dewasa dibandingkan dengan umur sebenarnya.

“Sungguh akan mengambil kebahagiaanku, Yah?”

“Demi kebaikan, kenapa tidak?”

“Jika tega begitu, mengapa tak rela membahagiakan aku? Berhentilah bertengkar dan buat aku tersenyum setiap hari!”

“Ayah janji akan membuatmu tersenyum dan tidak akan ada lagi pertengkaran.”

Teriakan perempuan yang memekak telinga mengembalikan kesadarannya setelah tenggelam dalam kenangan sore tadi.

“Perempuan tak tahu malu! Jika bukan karena arisan itu, mungkin aku tak perlu menanggung malu!” Suara berat itu sangat familiar. Ayahnya.

“Tubuhku kalian nikmati saat tahun baru. Ketika aku hamil, tak ada satu pun mau bertanggung jawab. Satu-satunya cara memang harus dengan arisan! Lima belas nama yang tertulis di kertas, dilinting, dan dimasukkan ke baskom. Sial, namamu yang terambil olehku. Andai mataku bisa melihat nama di lintingan itu, aku pasti akan memilih dia. Bukan memilih kamu!”

Darius terperangah mendengar pengakuan ibunya.

Terdengar bunyi plak dan isak tangis perempuan. Meski tak melihat apa yang terjadi, dari suara itu Darius yakin itu tamparan yang mendarat ke pipi ibunya.

Darius menjerit. Jeritan yang tak terdengar siapa pun. Jeritan tak bernada, tapi sangat menyesakkan dada. Ia berbalik, melangkah, lalu berhenti tepat di batas balkon. Tangannya menggenggam lingkar besi seukuran setengah pergelangan tangan orang dewasa, yang direbahkan di atas dinding balkon setinggi setengah badan orang dewasa.

“Kita cerai!” Suara ayahnya terdengar lagi.

Darius sudah tidak peduli. Pikirnya, lebih baik mengakhiri hidup ketimbang menjadi penyulut pertengkaran orang tua, yang ternyata belum tentu bisa menerima dia hidup. Ia membayangkan betapa tenang nanti di surga. Tidak akan ada lagi pertengkaran. Mungkin badan remuk ketika menghantam aspal tak masalah, karena pasti cuma terasa tidak lebih dari sedetik.

Langit gelap tiba-tiba menampakkan bunga-bunga kembang api. Pertanda tahun telah berganti. Beberapa saat Darius menikmati keindahan langit itu. Iris matanya menampakkan ledakan warna-warni.

Kebahagiaan sesaatnya luruh ketika mendengar pria itu mengutarakan alasan memilih cerai; demi dia agar tak mendengar pertengkaran lagi. Ia pun mendengar pengakuan pria itu lagi; meski entah anak kandung atau bukan, Darius tetap ada di hati sang ayah. Pengakuan itu membatalkan niat mengakhiri hidup. Darius memilih menunjukkan diri.

Dentuman kembang api masih terdengar. Menggetarkan hati penghuni di belahan bumi lain. Darius membuka pintu dan sesuai dengan perkiraan, ayah dan ibunya terkejut. Saking kaget keduanya sampai melongo melihat dia. Darius melihat pipi kanan ibunya memerah, sementara mata ayahnya mengejang dengan rambut acak-acakan.

“Entah siapa ayahku sebenarnya, aku tetap bahagia,” kata Darius. Nada bicaranya berkesan menyindir. “Kebahagiaanku bukan perpisahan kalian. Cukup kali ini saja menikmati euforia pergantian tahun. Pura-pura bahagia pun tak masalah.”

Ayah dan ibunya mematung.

“Aku akan meniup terompet.” Darius lantas meniup terompet. Suara yang keluar dari moncong terompet terdengar nyaring, tetapi agak bas. Terus meniup.

Sekian detik berhenti meniup ketika melihat gelagat kedua orang tuanya, menengadah menatap langit-langit rumah. Oh, bukan.

Bukan menatap langit-langit rumah. Mereka sedang mencari tahu sumber suara keras yang membuat dia tak meniup terompet lagi. Suara itu makin mengumandang. Seketika suasana sepi. Dentuman kembang api di langit pun lenyap.

Untuk kali pertama di dalam hidup, ayah dan ibunya menarik dia dalam pelukan. Keesokan hari, berita kematian jutaan manusia merebak ke seantero dunia.

Bencana kemanusiaan akibat ketakutan manusia saat mendengar suara sangkakala pada malam pergantian tahun. Media massa mengasumsikan itu sebagai kedatangan hari kiamat. Namun, bagi Darius, itu tanda cinta-Nya. (28)

 

Purbalingga, 1 Januari 2020

Aji Saputra pemilik alter ego Athar Farha, kelahiran Purbalingga. Novelnya Final, sedangkan buku kumpulan ceritanya Fenomena Pemukiman Bunglon.