Cerpen Isbedy Stiawan ZS (Republika, 12 Januari 2020)

Perempuan yang Patut Kusayangi ilustrasi Rendra Purnama - Republika-1
Perempuan yang Patut Kusayangi ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Sendiri

Sepi

I don’t know!

Itulah pesan dalam kiriman tiga kali masuk ke WhatsApp-ku sore ini. Siapa lagi kalau bukan Dinda Yuliastuti, sumber inspirasiku selama ini? Aku menyebutnya, “Monalisa” bagi karya-karyaku. Atau, si gadis Bali buat Blanco!

Dinda sendiri di kosnya. Teman-teman lain sedang berlibur menyambut Natal dan Tahun Baru.

Ini 2018

Desember basah. Tiada hari tampaknya tanpa hujan. Entah malam, subuh, pagi, siang, atau petang. Sore ini, langit cerah. Sabtu benderang. “Lalu?” tanyaku kemudian. “Aku tak tahu.”

“Aku tahu.”

“Apa?” tanyamu.

“Pasti rindu.”

“Tidaaak!”

“Ya sudah, aku deh biarkan yang rindu,” godaku.

“Nah itu betul. Kamu memang selalu punya simpanan rindu. Dibagi pada siapa saja. Kalau aku sementara jeda.”

Obrolan di telepon genggam mengalir. Aku yakin, kamu dengan tersenyum-senyum saat menulis. Aku pun begitu. Layaknya kamu di depanku, dan aku di hadapannu. Di sebuah kafe, yang kini belum kuperlukan namanya.

Kita mengobrol santai, walau tidak romantis. Sebab, tanpa pertengkaran lagi. Kamu juga sudah menyadari tak mudah merajuk, asalkan aku tidak membuatmu kesal. Nakal.

Aku tahu, setiap kau menghubungiku lebih dulu, berarti kau sedang kesepian. Dan, rindu pastinya. Walaupun kamu tidak mengakui itu.

“Bedanya perempuan dengan lelaki. Kalau lelaki, cepat dan berani mengungkapkan kangennya, bahkan dengan beberapa perempuan. Kalau wanita, lebih baik disimpan, disembunyikan. Kendati hatinya meradang. Pria yang teliti akan tahu membaca wajah wanita yang sedang dirajam rindu. Jadi enggak usah ditanya lagi,” katamu. Kau senang tidak menjadi penghuni kotak dalam ceritaku. Dinda kubawa ke tiap adegan. Ke mana kusinggah, Dinda kusebut. Tak perlu memiliki dialog.

Sejak kuniatkan ingin menghilangkan tokoh ini, kamu merajuk, marah, dan mengiba. “Jangan! Tapi, kalau juga, baiknya kau matikan saja dari jembatan atau terjun dari lantai delapan sebuah bangunan. Sekalian menderita itu tokoh Dinda….” Namun, kuputuskan tidak kuhilangkan. Aku cari tokoh lain yang bakal kukorbankan. Kau sangat riang. Kau mengusulkan, Rena tetap dipertahankan. Dia bisa jadi temanmu, atau saingan untuk memperoleh perhatianku.

“Tetapi, malah kumunculkan tokoh Sani. Perempuan yang ditingal mati suaminya karena terserang penyakit paru-paru. Dia menikah lagi, tapi tak lama karena dilabrak istri pertama,” jelasku.

“Waduh, kenapa malah ditambah tokohnya? Jangan-jangan kamu memang sengaja, cari cara buat membunuh tokoh Dinda,” serobotmu cepat. Merajuk. Wajah memerah. “Sensi amat!”

“Yalah. Kamu sih….”

“Itu kan biar seru aja ceritanya….” aku kasih alasan. “Tokoh Sani—lengkapnya Mulyasani Indriati—memang pernah muncul di kafe. Saat itu, aku bersama tokoh Rena, istri pelaut yang bule, di sebuah kafe.”

“Alasan apa kamu memasukkan Rena ke dalam ceritamu?” selidikmu.

“Ia adalah reinkamasi dari tokoh perempuan dalam cerpenku ‘Bulan Rebah di Meja Diggers’ yang kukira sangat berkesan. Ternyata, dia juga terinspirasi dengan tokoh tersebut,” jelasku.

Entah mengapa setiap pertanyaan Dinda, aku mendengar sebagai orang yang hendak menyelidik. Aku harus menjawab dengan hati-hati pula dan mesti logis. Sebab, bisa-bisa kembali terjadi perdebatan amat lama. Pertengkaran tak terelakkan.

“Baiklah, kalau alasanmu begitu. Masuk akal juga,” katamu. “Sengaja aku bertanya bukan ingin menyelidikimu atau mendiktemu, melainkan harus jelas kenapa pengarang memasukkan tokoh ini dan tidak membawa tokoh itu dalam bagian tertentu. Jangan sampai sekelasmu, soal tokoh masih menjadi kendala.”

Dinda menarik napas sesaat, lalu menghembuskan. Suaranya jelas. Ia mau buat jeda sejenak. Aku menunggunya bicara lagi.

“Aku terkadang kecewa kalau membaca roman. Terlalu banyak memakai tokoh, tetapi hanya sedikit yang berperan. Lainnya ibarat pemain figuran. Ya harusnya kalau tak banyak dipakai, ya tak usah dimunculkan. Mestinya, pengarang belajar banyak dengan dalang yang memainkan wayang-wayangnya.”

“Lalu,” masih katamu, “cara membangun narasi dan konflik juga sering terburu-buru. Muncul konflik segera diselesaikan. Kayak ketakutan habis dialog atau tak paham persoalan. Jadi, cerita menjadi lemah. Mudah ditinggalkan sebelum dibaca tuntas. Sejatinya, sebuah roman memberi keseruan, ketertarikan, sehingga pembaca selalu mengikutinya karena penasaran, hingga bacaan itu selesai.”

Aku tak membantah. Kubiarkan Dinda mengungkapkan pendapatnya tentang roman sastra. Ia, seperti juga Rena, memang pembaca karya sastra yang aktif. Bukan saja bacaan prosa, puisi juga tak luput dilahapnya.

“Ada juga roman yang kurang detail. Menyebut bunga, namun tak dijelaskan apakah mawar, ros, melati, dan seterusnya. Juga karakter tokoh, tanda di tubuh—misal wajah apakah ada tahilalat, alisnya tebal atau tak, bibir bagaimana, dan seterusnya. Narasi itu mesti menjelaskan agar pembaca bisa membayangkan seakan kenyatan. Novel Pramoedya Ananta Toer sangat kuat menarasikan semua itu,” katamu kembali.

Aku setuju karena itu tak kubantah. Aku pernah membaca penulis muda, antara karya dan pemikirannya jauh bagai api dengan periuk. Teori atau istilahnya top hebat sekali. Begitu kubaca karyanya, ya tak luar biasa amat.

“Itulah kalau menulis terpaku dengan teori-teori sendiri. Padahal, saat menulis, lupakan teori yang bakal membelenggu itu!” katamu.

Aku maklum. Kau sudah lebih lama membaca karya sastra meski tak punya niat jadi penulis sastra. Katamu, “Cukuplah aku jadi pembaca, penikmat. Itu sudah syukur. Tak harus semua menjadi sastrawan. Lalu siapa pembacanya?”

“Tepat!” balasku. “Jangan sampai kita seolah-olah serbabisa, nyatanya satu pun tak kita geluti maksimal. Akibatnya, seperti perenang yang hanya berada di tepian.”

“Ya, akibat merasa seakan-akan diri bisa semua, padahal minus kemahiran, banyak omongnya…. hehehe,” tambahmu.

Sungguh, aku makin mengagumimu. Kupandangi diri Dinda dari rambut panjang hingga melebihi punggung, hidung mangir putih, tangan putih halus. Apalagi yang bisa kuurai untuk mengatakanmu indah?

“Terima kasih, Sayang. Kamu memang patut kusayangi+kucintai. Kau sumber inspirasiku: Monalisa dalam karya-karyaku,” aku membatin.

Sungguh, keberanian untuk kukatakan itu di depanmu tak punya. Cukuplah kusimpan.

Lalu, Rena bermain-main di dekat mataku. Oh, aku berada di antara dua belokan.

 

2018-2019

Isbedy Stiawan ZS lahir di Tanjungkarang, Bandar Lampung, pada 5 Juni 1958. Ia menulis antara lain puisi, esai, dan cerita pendek. Karya-karya sastranya dimuat di bebagai media massa. Sebagai pengampu Lamban Sastra, ia telah menerbitkan buku sekitar 30 judul. Yang terbaru adalah kumpulan puisi Seseorang Keluar dari Telepon Genggam dan Alamat Rindu (2019). Pada tahun ini, ia siap meluncurkan karya berjudul Peziarah Waktu dan Kini Aku Sudah Jadi Batu! Pada 2019, ia masuk dua kategori lomba penulisan: cerpen dan puisi yang ditaja Dinas Pariwisata Pemprov DKI Jakarta.