Cerpen Whani Darmawan (Jawa Pos, 12 Januari 2020)

Monolog Angka ilustrasi Budiono - Jawa Pos-1.jpg
Monolog Angka ilustrasi Budiono/Jawa Pos

DI suatu waktu, temaram—tak merujuk kegelapan malam, juga terlalu suram untuk mewakili siang—menaungi sebuah bangunan besar. Superbesar. Nyaris sebesar gunung. Di halamannya terpancang papan nama besar dengan susunan huruf kemilau bertulisan “Perguruan Akal Budi Siap Pakai”.

Inilah tempat kondang bergengsi. Konon, tempat di mana para tunas bangsa ditempa. Jika dilihat dari luar, ia nyaris seperti bukit belaka. Menggunduk dalam ketenangan yang sunyi. Bukan. Ketenangan yang miris.

Bukan satu atau dua kali saja berita kematian siswa secara misterius berembus dari sana. Tapi, toh berita itu seperti helai kapas yang diembus angin pegunungan. Lenyap tak berbekas. Tetapi, ada pula orang yang menyatakan bahwa betapapun, bangunan itu adalah candradimuka anak bangsa terbaik. Sementara, tak sedikit yang dengan sinis menyatakan bahwa tempat itu tak lebih dari sekolah tukang jagal.

Berapa orangkah yang pernah menengok ke dalam bangunan? Kesimpulan satu orang dengan yang lainnya bisa berbeda. Terlepas dari itu, bukti bahwa bangunan itu tetap berdiri sampai hari ini pastilah karena ada sistem yang kukuh. Orang memang tak bisa mendekati bangunan tersebut dengan mudah. Sebab, bangunan tersebut dilingkari sabuk jalan yang superlebar dan berliku. Dan, itu bukanlah jalan umum. Jadi, jalan superbesar itu pun lengang.

Andai saja ada orang yang bisa mendekat ke bangunan itu, pasti akan mendengar suara ledakan-ledakan. Suara-suara itu sering terdengar dari dalam sana. Ledakan apakah itu?

Bukan. Itu bukan suara mercon, apalagi pistol. Itu adalah suara ledakan ujung cambuk yang membelah udara. Suara yang ditimbulkan getas dan nggegirisi. Suara cambuk itu dihasilkan oleh tangan seseorang yang di lingkungan itu disebut sebagai Sang Penentu. Siapakah dia?

“Wooooeeeiiii!! Jangan jadi orang kampungan!” Terdengar orang yang bersangkutan melontarkan suaranya. “Kalian di sini dididik secara intelek! Jangan jadi orang kasar macam orang jalanan saja! Woooeeiii! Kamuuu! Kamu siaapaaa!? Memangnya gampang ngurus tunas bangsa seperti kalian? Kita dibayar dengan uang rakyat! Kita harus mengembalikannya dalam bentuk keberhasilan cita-cita kalian. Ngerti tidaaaakk?”

Di ruangan tak ada seorang pun, kecuali Tokoh Bercambuk itu. Lalu, bicara dengan siapakah dia? Orang ini mengenakan busana safari, sebagaimana gambaran para pemburu di film-film Hollywood. Atau, seperti busana yang dikenakan Rob Bredl dari Bredl Wild Farm Australia atau almarhum Steve Irwin, pengelola Australia Zoo di Beerwah, Queensland.

Di tangannya terpegang cambuk kulit yang jika terjulur ke udara panjangnya bisa mencapai tiga meter. Setelah meledakkan ujung cambuknya ke udara, Tokoh Bercambuk tersebut mencantelkan cambuknya di sebuah kapstok. Dia berdiri, menarik napas dalam-dalam, dan menyapu ruangan itu dengan pandangannya. Dia lalu berjalan menuju kursinya. Di meja depannya ada sebuah papan nama bertulisan Prof Dr Didik ST, SE, SSos, SH, SKom, SS, SSn, PhD, SAP, SStat, MT, MSM, MKn, RFP-I, CPBD, CPPM, CFP, CFP, AffWM, BKP, QWP.

Entah gelar apa saja yang merumbai-rumbai di belakang namanya tersebut. Yang jelas, kalau melihat penampilannya, gelar itu TIDAK cocok. Penampilannya kurang sempurna sebagai akademisi. Dia malah menyerupai pawang. Ah, jangan-jangan dia memang pawang. Pawang Didik. Ah, tak ada bukan gelar seperti itu? Kita sebut orang ini sebagai Tokoh Bercambuk sajalah.

Ruangan itu sebenarnya sama sekali tidak tampak seperti tempat akademik maupun lembaga edukasi meski dipenuhi buku-buku dan laptop. Abu dan puntung rokok bertebaran. Botol-botol minuman beralkohol kosong maupun setengah isi bergelimpangan di sana-sini. Di antara panorama tersebut yang paling menonjol justru serangkaian puzzle yang terbuat dari dus-dus berukuran besar. Terserak memenuhi lantai sehingga gambar keseluruhannya tak terlihat dengan jelas meski sebagian sudah tertata.

Tokoh Bercambuk tampak lelah. Dia duduk di sebuah kursi. Dia lalu mengucek matanya yang memang kuyu, dengan lengkung hitam di kantung mata yang seolah-olah menjadi penanda bahwa yang bersangkutan sudah berabad-abad tak memejam dalam tidur. Dia menggumam gundah.

“Banyak orang tidak tahu betapa sibuknya kami. Ya, kami. Pawang Didik yang diserahi tugas untuk membuat kurikulum. Orang-orang yang terdidik untuk bisa menggerakkan massa menjadi gelombang yang siap menerjang kehidupan. Mereka, orang-orang banyak, para intelektual bebas itu, cuma bisa mengkritik. Mereka sungguh tidak mengerti dunia pendidikan yang sesungguhnya! Dunia pendidikan itu tidak hanya berhadapan dengan manusia, tetapi juga angka-angka. Jangan dibalik. Generasi ini harus diperlakukan sebagai angka. Tidak manusiawi? Kata siapa? Tengok sono pendidikan di kuil Shaolin. Seorang anak lima tahun dipaksa mengangkangkan kaki. Split. Demi kesempurnaan bentuk tendangan. Si bocah sampai meringis-ringis, bahkan menangis. Tidak manusiawi? Lebih tidak manusiawi mana daripada kelak ketika dewasa mereka tak mampu menghadapi kejamnya kehidupan? Manusiawi yang mana? Manusiawi dari Hongkong!? Dan memangnya ukuran manusianya itu manusia kapan? Zaman baheula? Purba? Megalitikum? Pithecanthropus erectus? Mikiiiirr!”

Sampai saat gerundelan itu menjelma monolog, tetap tak ada orang lain di ruangan itu.

“Untuk memulai semuanya, ukuran dan data statistik menjadi catatan penting. Ibarat sensus, matrikulasi, silabus, jumlah jam per minggu dan kurikulum mesti pasti supaya tidak meleset ketika diterapkan terhadap peserta didik. Memangnya gampang menerima tanggung jawab sebagai Pawang Didik di negeri koprol ini? Bukan hanya binatang yang butuh pawang. Para tunas bangsa apalagi.”

Tokoh kita kini berdiri memandangi puzzle yang berserak di sekelilingnya. Menghela napas, kemudian mendekati potongan puzzle yang tergeletak di suatu sudut, memungutnya, dan berusaha menatanya sambil bicara.

“Sebenarnya menata semua puzzle ini tidak susah. Di luar pencocokan gambar, sebenarnya saya menandai dengan angka-angka di belakangnya. Hehehe. Hmm, orang sering salah dengan semua ini. Angka-angka ini sangat penting dalam penataan kurikulum. Jumlah jam dengan angka, urutan dengan angka, hasil penilaian dengan angka, hitungan jumlah murid juga angka. Tidak mungkin tidak menggunakan angka. Dan untuk mempermudah penataan kurikulum, kami selalu menggunakan simbol. Ini penting untuk mendisiplinkan. Daaan……..”

Tokoh kita menghela napas sambil menimang puzzle di tangannya.

“Inilah selingan saya saat otak penuh dengan kurikulum pendidikan. Permainan puzzle ini meringankan saya. Ada pengamat psikologi yang mengatakan kepada saya bahwa puzzle yang sudah terbentuk sebaiknya dihancurkan kembali. Kenapa? Katanya, pendidikan itu tidak boleh masif, tidak boleh hanya repetitif sehingga menimbulkan kemacetan atau stagnasi. Maka, dia mengharapkan saya berani menantang diri saya sendiri untuk selalu menghancurkan, menata kembali, menghancurkan, menata kembali. Supaya saya selalu tertantang pada pembaruan-pembaruan. Karenanya, mereka yang tinggal di sini terpaksa betah. Hihihi…”

Terdiam sejenak, dan tiba-tiba suara hihi-nya terdengar kembali. Kali ini dengan resonansi yang aneh, seperti suara perempuan di puncak pohon kelapa pada malam keramat. Dan Tokoh Bercambuk ternyata takjub sendiri dengan kalimatnya yang tak selesai itu. Hihi-nya hilang, berganti haha yang membahana. Tawanya terbahak, tetapi penuh desis oleh riak ludah kental yang menghuni kerongkongannya. Kemudian tiba-tiba diam dan mengasyiki puzzle mainannya. Kelamaan gambar dalam puzzle itu semakin jelas meski belum selesai semuanya. Yakni, bendera Merah Putih yang berkibar. Di bawah gambar itu ada tulisan yang belum selesai. Ing Madya Mangun Kar…

Mendadak tokoh kita membanting sebuah puzzle.

“Tai kucing! Persetan dengan Arthur Combs, David Kolb, Honey, Mumford, Habermas, Abraham Maslow! Fuck Carl Ransom Rogers! Drijarkara! Tidak usah mengajari bagaimana saya mendidik tunas bangsa itu! Menyusun puzzle dan menghancurkannya kembali? Omong kosong! Jangan mempersulit diri sendiri. Pendidikan harus dibakukan! Bentuklah manusia-manusia setangkas mesin dan sepasti matematika!”

Dia terus berbicara tak jelas sambil memunguti potongan puzzle lainnya dan melihat dinding belakangnya, lantas membantingnya kembali. Dia seperti sedang mencari gambar yang pas untuk jodoh puzzle berikutnya. Tapi, tak juga nemu. Dia lakukan berulang-ulang sambil meneruskan senewennya dengan nada jengkel.

“Sebagai pendidik, kita harus membuat sistemnya menjadi mudah demi gampangnya peserta didik di masa depan. Contohnya ini.”

Tokoh kita mengambil berkas di mejanya.

“Ini adalah Hasil Penataan Ulang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan dan Kurikulum Sekolah Menegah Kejuruan yang sudah dibakukan. Nah, struktur penataan spektrum ini berdasar KI-KD, sementara materi ajarnya diletakkan dalam B1, B2, B3, dan aplikasinya sebagaimana yang tertera dalam P1, P2, sesuai dengan ancar-ancar C1. Semua itu supaya bisa diakses DUDA/DUDI.”

Tiba-tiba Tokoh Bercambuk berlari menuju keranjang sampah di sudut ruangan. Terdengar suaranya muntah. Tapi, tak setetes cairan pun keluar dari sana.

“Gila kalau orang mengira bahwa saya juga paham singkatan-singkatan itu. Dikira semua orang paham dengan singkatan-singkatan ini. Celakanya, meski tak ada yang mengerti, tetap saja singkatan-singkatan itu digunakan. Gila, dasar negeri singkatan. Sing-sing-bing-bing; singkat-singkat bikin bingung! Lalu, kenapa saya melakukannya juga? Haah! Memang saya tinggal di mana? Sudah sejak kecil orang tua saya selalu mengatakan kepada saya, mengaumlah di kandang harimau, mengembiklah di kandang kambing. Nah, itu!”

Tokoh Bercambuk makin bersemangat bermonolog.

“Mentang-mentang saya pimpinan di sini, memangnya itu otomatis membuat saya jadi penentu arah? Saya pun cuma sekrup. Mau apa saya? Akhirnya, saya pun berposisi membela jabatan saya. Apa peduli saya dengan masyarakat? Sekarang saya terpaksa mengatakan, jangan bilang ini ruwet. Mendidik bangsa memang tidak mudah. Jangan mempermudah. Itu akan menghasilkan generasi bangsa yang lembeng!”

Mendadak Tokoh Bercambuk belingsatan. Matanya jelalatan mencari sesuatu, kemudian berteriak ke suatu arah.

“Wooeeeeeee! Siapa mencuri angka-angka di siniiiii!? Kalian mengganggu permainan puzzle-ku tahuuu!? Anak-anak, nggak usah menyuruhku bereksperimen dengan pendidikan. Yang pasti-pasti saja deehh! Puzzle ini kuberi angka supaya semuanya jadi mudaaah! Woooeeeee! Lima ratus ribu sampai lima ratus ribu sepuluuuuh! Kalian suka menyusup ke sini, kan? Kalian yang sembunyikan angka-angka di sini yaaa? Wooeee! Di mana kalian lima ratus ribu sampai lima ratus ribu sepuluuuuh!? Nggak usah menampilkan nama. Namamu tak ada guna dan fungsi di negeri koprol ini!”

Tiba-tiba terdengar suara berkelontang dari ruang sebelah dan disusul suara pecah berantakan. Beruntun. Tokoh kita menengok. Bergegas mengambil cambuknya dari kapstok dan meletarkannya ke udara di sela berbicara. Persis gaya pawang harimau sirkus.

“Wooeeeiiii! Siapa menjatuhkan apaaaaaa!? Baru jadi penghuni baru saja sudah belajar menjatuhkan barang, bagaimana kalau jadi penghuni lama kalian? Mau menjatuhkan kekuasaan, ya? Woeee, angka berapa kamuuuuu? Aangkaaaa! Aku tidak tanya nama! Di sini tidak ada nama. Yang ada angka! Angka berapa kamuuuu?”

“Lima juta lima ratus lima puluh limaaa?”

Tokoh Bercambuk membuka sebuah berkas dengan cepat dan mencocokkan. Dia mengangguk-angguk dalam, seolah menemukan kecocokan antara berkas dan fakta.

“Bukankah itu kamu yang kemarin jadi otak demonstrasi yang mengaku pelajar SMP itu? Wuuuu… Apaa… Pelajar SMP kok bulu kakinya kayak genderuwo! Kamuu! Iyaa, kamuuu! Kamu yang mimpin tawuran pelajar kemarin bersama angka lima ratus lima puluh ribu tiga belas? Oh bukan? Apa? Oooo….ya, ya, ya. Kamu yang menyaru pimpinan BEM tapi gak tahu RUU KUHP itu ya? Yang getol membela buruh tapi nggak ngerti standar UMR itu? Halaahh, nurut saja kamu! Orang tuamu di sini lagi sibuk menentukan kurikulum kalian! Kami sibuk memperhitungkan segala sesuatu dalam konsep ini! Sementara kalian di sana malah bikin onar! Bisa tenang tidak!? Ini waktuku menyusun kurikulum! Bisa tenang tidaaak?”

Bahkan, suara gaduh dari ruang sebelah kian bertambah. Kini disertai suara derap ratusan pasang sepatu. Tokoh kita ini meletarkan cambuknya membelah udara. Letaran cambuk di udara dan derap ratusan pasang sepatu itu menjadi orkestrasi menarik, setidaknya seperti derap gegap pasukan dalam klip video The Wall-nya grup musik lawasan, Pink Floyd. Bukannya reda, tetapi justru suara kemelontang kembali terdengar, disusul suara runtuhan barang, entah apa pun itu, tetapi sangat riuh.

Tokoh Bercambuk memandang pintu ruang sebelah dengan pandangan yang sukar ditebak. Seperti sebuah sikap paham yang dingin atau entahlah.

“Baiklah, harimau sirkus. Binatang memang mesti diajari dengan cara binatang. Mending menghilangkan nyawa satu orang untuk melindungi masa depan jutaan orang. Tak akan ada yang menanyakan kamu, toh kamu cuma sebatang angka. Apa gunanya untuk industri, apalagi hidup ini.”

Tokoh kita mengambil pistol dari lacinya, mengokangnya, dan segera masuk ke ruang sebelah. Tak menunggu dua menit, terdengar suara, dor! Lalu, terciptalah damai. Bukan. Bukan damai. Tepatnya sunyi. Tokoh kita masuk kembali. Menyimpan pistol di laci mejanya dengan dingin, kemudian dia memencet tombol interphone yang menempel pada salah satu sisi dinding.

“Administratir!! Catat, tujuh juta lima ratus enam puluh satu ribu tidak pernah ada. Masukkan dalam sistem KNKT-DO-tewas karena penyakit sampar. Pengurangan angka ini penting untuk menghitung kembali jumlah jam yang ditentukan dalam kurikulum untuk mengajar. Satu guru mengajar lima puluh angka dengan satu guru mengajar lima belas angka sudah beda lagi. Dan ini memengaruhi sistem administrasi serta, saya tidak suka ini, membuat defisit! Bangsat! Bangsatlah kalian. Dasar angka-angka! Dikiranya tidak terkait pada data ekonomi dan inflasi!”

Meletarkan cambuknya sekali ke udara, melemparkan cambuk begitu saja, mencopot sebuah badge angka dari dadanya dan meletakkannya di sebuah meja.

“Saya kira hari-hari perubahan masih panjang. Apa peduli saya. Toh, sebentar lagi saya pensiun. Semua orang berhak menyelamatkan hidupnya sendiri. Ibarat bunglon, di kekuasaan mana bertengger, saya akan menjelma serupa. Hhmm, lelah saya. Dan puzzle education game ini lama-lama tidak menarik lagi. Terkadang saya menyesal, kenapa dulu saya tidak meneruskan usaha Rawon Setan saya. Sama-sama ngurusi angka, lebih jelas peruntungannya. Uh!”

 

Bandung-Kendal-Jogja, 2016–2019

Whani Darmawan. Adalah aktor dan penulis kelahiran Jogjakarta. Berkreasi sejak 1985 hingga kini. Tahun lalu menerbitkan buku lakon Luka-Luka yang Terluka: Jejak Perkembangan Lakon yang juga diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Belum lama ini meraih Piala Citra kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik dalam film Kucumbu Tubuh Indahku.