Cerpen Baharuddin Iskandar (Fajar, 12 Januari 2020)

Mimpi Pakarena dan Percakapan Beringin di Pekarangan ilustrasi Fajar-1
Mimpi Pakarena dan Percakapan Beringin di Pekarangan ilustrasi Fajar

Aku sungguh tidak mau menceritakan tiga pohon tua di belakang rumah. Era maju sekarang, tidak pantas. Apalagi, tiga pohon itu hanya tentang sesuatu yang ada dalam dunia khayal belaka.

Aku memutuskan dan melupakan. Bukankah masa lalu, menghambat kemajuan? Seseorang yang mengenang hari kemarin, niscaya jauh di belakang.

Keputusanku benar. Kesibukan sebagai pelatih penari mulai kulupakan pohon tua tersebut. Menurutku, tiga pohon yang biasa bercakap-cakap di saat sunyi, tidak perlu mengusiki hidup. Tak penting. Bukan pohon itu yang sakti, tetapi aku yang sakit, simpulku.

Tetapi tidak mengapa, jika aku mengingatkan sejenak. Tak pantas, aku tadi bercerita hal itu, lalu diam menutup rapat. Dengarkan saja, kisah yang sudah hampir kulupakan itu!

Awalnya memang aku tidak percaya. Tiga bulan lalu, aku sedang menata kembali, alur-alur tarian yang sedang kulatihkan di sanggar.

Saat itu, aku duduk. Asyik menepikan pikiran ke ruang sepi. Tarian Pakarena telah dikreasi di sanggarsanggar kesenian lain dan semakin banyak kreasi bermunculan. Namun, kreasi tersebut telah menghilangkan makna asali. Kesesuaian gerak dan musik yang mengiringi seolah bukan bidadari lagi. Bukankah pakarena adalah simbol to manurung?

Upts! To manurung.

Kalian yang mendengarkan kisah ini, diam dulu! Apa itu to manurung? Tidak usah ditanyakan dulu. Dengarkan dulu!

Lihat saja, iringan musik sanggar-sanggar itu! Penghayatan para penari sudah keluar. Tidak memiliki pola. Iringan dan bunyi-bunyi alat musik, grasah-grusuh. Tarian tidak lagi mengeksplorasi keagungan masa lalu.

Ah! Aku harus…. Pikiranku berhenti. Bagian awal Tari Pakarena adalah duduk, begitu pula sebaiknya di akhirnya. Lalu mengapa, dua bagian penting ini dihilangkan? Penari-penari itu langsung ke luar  dari panggung ketika selesai pertunjukan tarian. Lihat saja, mata penari-penari itu bukan bidadari. Terbuka lebar. Kaki penari bukan bidadari, diangkat terlalu tinggi.

Lalu, pikiran-pikiran telah kusampaikan ke sanggar-sanggar seni yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Aku undang mereka. Aku katakan kesalahan filosofi sebuah pertunjukan tarian di pertemuan itu. Mereka tersentak. Tidak mau mengerti saat kusampaikan, penari-penari pakarena adalah bidadari tomanurung. Aku tersenyum simpul.  Kukulum rapat, takkala satu dari mereka bertanya, apa itu to manurung?

Duhai! Makanya. Aku katakan tadi, jangan bertanya dulu tentang to manurung. Aku katakan tadi, ditunda dulu deËnisi tersebut. Dan lihat saja! Bukan saja kalian yang tidak tahu, pelaku-pelaku seni saja juga tidak tahu pengertian to manurung itu. “Makanya, dengarkanlah!”

“Filosofis! Tarian punya makna dan sarat cerita. Ia akan mengabarkan simbol-simbol dari setiap gedan Mimpi Pakarena Percakapan Beringin di Pekarangan rakan yang dimiliki. Latihlah sanggar kalian seperti itu! Latihlah! Jangan kosong! Tampil asal-asalan. Sekadar menunjukkan baju pahang dan membunyikan gendang, kannong-kannong, gong, kancing, dan pui-pui. Bukan! Itu bukan pakarena!”

Mereka terdiam.

Pakarena itu bukan sekadar menyenangkan. Orang asing datang ke kota ini sekadar menikmati. Ada makna yang mesti disampaikan. Tapi ingat! Pariwisata budaya tidak bisa dibungkus kepalsuan. Penari-penari pakarena harus mengabarkan perpisahan penghuni langit dengan penghuni bumi. Gerakan pekarena menyampaikan kisah penghuni langit sebelum berpisah. Cara hidup, bercocok tanam, dan cara berburu.”

Memang, daerah kami sedang berdarah-darah. Pemerintah tertarik mengembangkan destinasi budaya luar biasa. Bukan bagus, tetapi buntung. Satu sisi, berhasil mengangkat khazanah masa lalu, tetapi mencederai masa lalu. Duh.

Kini, aku menemukan kesendirian, setelah mereka pergi. Aku termangu di belakang pekarang rumah. Duhai pakarena, duhai masa lalu. Pikirku lagi. Saat ini, mereka dan sanggar-sanggar itu berdiri sangar dengan gelontoran anggaran pemerintah. Jamur musim hujannya mengerakkan seni yang tidak tahu seni. Sekadar ikut-ikutan. Satu per satu. Mereka mengajukan proposal, dan memperoleh kucuran dana lumayan banyak jumlahnya. Industri pariwisata budaya yang digalakkan pemerintah, secara gilang-gemilang menarik wisatawan. Turis tertarik. Pertunjukan demi pertunjukan budaya dan kesenian yang dipentaskan. Namun palsu.

Di depanku, aku menatapi gelap dan berselimut kelam. Tiga pohon yang di depanku, memperlihatkan sosok malam nan gulita. Aku menatapi, dan aku sampaikan situasi. Tiap bulan. Ya, tiap bulan. Ada saja, dua atau tiga sanggar menampilkan wajah kesenian.

Aku mendengus perlahan. Seolah masa depan begitu membahagiakan. Seolah pakarena akan menemukan wajah masa depan sedemikian rupawan. Sabang waktu, dan kreasi-kreasi tarian semakin kehilangan makna. Pentas berjam-jam dan demi mengulur-ulur waktu sehingga muncul gagasan-gagasan yang kehilangan asali.

Aku lalu mendorong tubuh ke depan. Menekukkan kepala ke depan. Dari keheningan yang tercipta, terrciptalah keriuhan. Hati benar-benar yang terbuang dalam ruang batin nan beku. Seolah kehilangan bentuk dan tanpa rongga.

“Bangunlah demi takdirmu!”

Suasana pekat tetap terjadi ketika kuangkat kepala. Sekeliling, hanya keremangan hitam. Mataku menatapi pekarangan belakang rumah. Menatapi bayangan tiga pohon yang tidak dapat digapai mata. Tak ada siapa-siapa. Cahaya bulan yang hilang oleh awan menyisakan kabar, gelap.

Pandanganku terambau. Menangkap suara di pekarangan. Begitu dugaanku, dan segera menjadi kesimpulan pasti.

“Masih terlelapkah?”

Rahim kegelapan yang tertutup seketika terbuka. Aku menajamkan mata setelah  tertunduk. Kepalaku terangkat, suara itu berasal dari pohon beringin

“Belum cukup penantian ini?”

Rumah cahaya di mataku yang tertutupi gelap, seolah-olah menemukan setitik sinar. Lamat-lamat di mataku menemukan gurita mistis di pohon beringin. Di kulit batang yang bergurat, seperti dua mata terpejam. Di bawah ada cabang mirip hidung. Lalu di bawah hidung itulah, mulut.

Aku berdiri, ingin memastikan dan khayalan semata. Itu pohon, pohon itu bukan manusia, simpulku.

Kemudian, hendak beranjak tidur. Tetapi keinginan tersebut terhenti. Pikirku, aku harus menyelesaikan kreasi akhir pakarena. Jika asali akhir pakarena adalah duduk maka harus begitu posisinya. Namun, aku harus menciptakan kreasi yang lebih segar. Bukan sekadar duduk sebagai penanda akhir. Apa kira-kira?

Aku duduk di meja yang terletak di kamar tidur. Dahi dikerutkan, dan jemari-jemariku meremas-remas, memecahi polemik kesenian yang sumbang. Masa lalu membutuhkan keaslian, masa kini tidak boleh meninggalkan kekayaan itu. Manusia  berjaya di masa depan apabila perasaan masih mau mengolah kearifan masa lalu.

Ya, duduk penari pakarena diangkat oleh penari-penari lainnya. Ketika pikiranku tertuju ke bagian itu ketika itu pula, telinga menangkap suara yang berasal dari pohon beringin.

“Penantian memang begitu lama. Kesabaran selalu ada di setiap penantian. Bangunlah!”

“Belum masanya, dan masih adalah puluhan purnama,” timpalnya.

“Aku sungguh sangat lama.”

“Kalian ikutlah denganku. Akhir bulan Desember mereka akan datang ke sini!”

“Itu untukmu. Bukan untukku.”

“Apalagi aku! Aku masih ada dua tahun lagi, tiga bulan lagi.”

“Kalau begitu, takdirku bukan untuk takdir kalian. Kalian tertidurlah kembali! Masa berjumpaan di akhir Desember ini adalah milikku!”

Ah!  “Siapa itu?” Tak ada suara dari pertanyaan.

Lalu, aku melakukan reka ulang kreasi pakarena.

Sama persis.

Bahkan ingatan-ingatan tentang pakarena dikaitkan sama dengan gerakan-gerakan baru yang kuciptakan. Dan, beringin tersebut mengulang percakapannya lagi. Seolah mau menampakkan diri dengan dialog sama.

Topik yang sama sekali tidak aku mengerti.

Aku berhenti dan masuk ke kamar.

Membuka mata, mengintip lewat jendela hanya untuk menuntaskan keingintahuan yang tiada tuntas. Mengapa ada beringin bisa bicara? Pertanyaan yang membuat aku diseret ke dalam arus sungai begitu kuat di dalam kalbuku. (*)

 

Baharuddin Iskandar Pemerhati Sastra. Sekarang tinggal di Pinrang.