Cerpen Fatih Muftih (Tanjungpinang Pos, 12 Januari 2020)

Miaw Max ilustrasi Tanjungpinang Pos (1).jpg
Miaw Max ilustrasi Tanjungpinang Pos

M AX hilang. Aku kangen dia. Sudah semalam si gembul itu tidak pulang. Padahal, sedang ada pesta makan enak di sini. Aku tahu, otak bisa dikibuli dan selamba mengudap sajian selagi hangat dan berasap. Tapi, sial sekali, tanpa Max, sewadah kenikmatan ini hambar belaka. Bobo dan Dumel ligat melahap. Gigiku mengunyah seadanya. Kata orang, menunggu (sialnya juga merindu) itu berat, aku butuh tenaga.

Ke mana kau, Max? Suara jangkrik sudah semakin nyaring bersahutan. Tiang listrik juga sudah diketok sekali. Motor hanya satu dua melintas. Aku masih berjaga. Terjaga, tepatnya. Berharap malam yang gelisah ini segera habis. Aku khawatir, bajingan Garong itu menghabisimu malam ini. Ia sudah menyimpan dendam padamu. Lama-lama.

Bobo tadi sempat cerita, kau ingin pergi jauh. Sejauh tempat yang tak bernama, tidak tertera di peta. Aku sangsi. Bobo kerap berlebihan bercerita.

“Dia sedang ingin sendiri, Cinna. Sendiri dan tak ada yang mengganggu.”

Sendiri? Aku ragu. Alasan melankolia macam itu begitu tengik buat Max. Petarung pilih tanding mana mau berkutat dengan hal-hal sentimental macam itu. Max selalu punya alasan untuk sebuah siasat, rencana, muslihat, atau bahkan sekadar diam membisu. Tapi dengan tidak berpamitan (ini aku merasa sok penting dalam hidupnya), Max melakukan sebuah kesalahan. Sudah tabiat jantan selalu begitu. Cetek akalnya. Tinggi egonya. Tapi angin bangsat macam apa yang menerpaku malam ini, aku emoh berdusta. Aku merindukan Max.

Dahulu, Max datang tiba-tiba. Kakinya pincang. Saat itu, dari kejauhan, aku amat tahu, cedera itu bukan dari peristiwa kecelakaan. Tidak mungkin engsel pahanya tergeser karena sekadar terjatuh, kena tendang, atau dihantam. Tak terbayangkan olehku rasa sakit semacam itu. Namun, oleh Max, “Apa yang tidak membunuhmu akan menguatkanmu.”

Sontoloyo! Hari ke hari ia hanya bisa terbaring, sesekali duduk, makan, minum, dan beol. Itu saja kulihat ia kesulitan. Yang dikatakannya menguatkan itu malah berjauhan dari sikapnya sehari-hari. Bobo sampai malas hendak menyapanya. “Tiga kali kupanggil dia, menoleh pun tidak. Tua bangka!”

Maklum saja Bobo membenci atau mungkin sekadar sebal dengan Max. Kini, dengan kehadiran Max, ia bukan lagi satu-satunya jantan di lingkungan kami. Remaja tanggung itu otot-otot kakinya saja belum becus berlari, tapi gayanya sudah berlagak petarung kelas tinggi. Itulah jenis ketololan diperbudak ego yang tidak aku dan betina pada umumnya punya. Kami cenderung berhati-hati, waspada, dan berhitung atas segala kemungkinan di depan mata. Mereka boleh menang otot, tapi kami menang teliti.

Hari ke hari, yang dilakukan Max hanya berlatih berdiri. Dari jarak selompatan, aku seksama melihatnya berusaha, bahkan matianmatian. Ia hanya mengumpat melengking kala pahanya terbanting ke ubin. Dalam sehari, ia bisa menjerit tiga puluh tiga kali. Dan selama itu pula, Max tidak pernah mau menerima kenyataan kaki kirinya tidak bisa digerakkan lagi. Lumpuh. Mati rasa. Selama-lamanya.

Seolah-olah ada sesuatu yang ia tunggu nun jauh di luar sana. Sesuatu yang membutuhkan kaki-kaki tegapnya. Sesuatu yang tidak bisa menunggu kendati ia sedang tak berdaya. Dari caranya berlatih, ia ingin segera mampu berdiri, berlari, dan menyelesaikan sesuatu yang begitu menghantui.

Suatu kali, ketika ia sedang minum dan ngaso dari latihannya, aku pernah menyapanya. Ada tanda tanya yang terlampau besar dan mengganjal dalam kepala. Kuberani-beranikan walau bulu roman di tengkuk menegang ketika kami bersitatap mata.

“Kamu tidak apa-apa?”

Bajingan! Ia tidak menimpali sapaanku. Malah memilih selama mungkin meminum air putih, membilas muka, dan minum lagi. Kelahiran negara mana ada jantan sedemikian. Baru kali ini ada yang berani menolak sapaanku. Padahal Garong sudah mendambakannya sejak dulu.

Namun, tepat sebelum balik ke tilam, ia menghampiriku dengan langkah tertatih. Aku ingin mengasihaninya dan memapahnya dan mengantarnya ke pembaringan. Kuurungkan niat itu. Pantang bagi petarung sejati dikasihani.

“Apa kau pernah merasa takut?”

Pertanyaan macam apa ini. Sungguh tidak terduga. “Hmmm … sekali. Ketika aku terbuang dan tidak tahu ke mana harus mencari makan dan hujan sedang lebat-lebatnya,” kataku.

“Kau betina tak bermutu. Memikirkan perut melulu bisamu,” desisnya, tanpa memandangku.

Kutu kurap! Aku ingin seketika mencakar wajahnya. Dengan kuku-kuku paling tajam. Lalu mencengkeram batok kepalanya dan menyayatnya sampai habis, sampai lepas kulit. Eh, itu belum begitu menyiksanya. Dengan taring tajam, aku ingin mengoyak pahanya yang lumpuh itu. Mencabik dagingnya dan memperlihatkan tulang-tulang di sana sudah tidak berfungsi lagi. Lalu kugigit kuat-kuat tulang itu sampai copot dari persendiannya dan melemparkannya ke jalan. Biar digondol tikus got keparat. Lalu …

“Tapi terima kasih sudah menanyakan kabarku,” ucap Max. Sejenak kepalanya menoleh ke arahku, lalu terpincang-pincang ke arah pembaringan.

Aku gugup bukan kepalang.

***

Ini sudah hari kedua aku tidak melihat Max. Bobo, Dumel, Ndis, dan Una mulai mengkhawatirkan Max. Kata mereka, si pincang ini tidak akan lama bertahan hidup di luar sana dengan berjalan menyeret kaki kirinya yang lumpuh.

“Si Garong pasti sudah menghabisinya sejak semalam.”

“Dia pasti sedang menahan lapar dan tidak seorang pun mengasihani.”

“Apa susahnya sih, duduk manis di sini, dikasih makan setiap hari, tidur tanpa takut kena hujan, malah melarikan diri. Pincang tak tahu diuntung.”

Aku malas menimbrung obrolan recehan macam itu. Seperti kata Max, dasar betina-betina tak bermutu. Murahan. Kampungan. Usai menyantap sarapan, aku duduk santai menikmati matahari yang masih hangat. Sekali-sekala menoleh ke kanan ke kiri, berharap melihat Max berjalan mendekat dari ujung jalan sana. Terserah dari arah mana saja ia suka. Namun, sampai kesibukan hilir-mudik orang berangkat kerja surut, Max masih masih juga belum menampakkan batang hidungnya. Pikiranku ditingkahi kegamangan: duduk menunggu atau beranjak mencarinya.

Menanyakan hal semacam ini kepada kawankawan di belakang sudah pasti akan menuai cibiran. Akan ditengkingnya aku sebagai perawan murahan sampai harus keluar mencari jantan. “Apa memang yang kau harapkan benar dari si pincang?” Aku membayangkan Bobo akan melontarkan pertanyaan ledekan sedemikian.

Baiklah, kegamangan ini kusimpan sendiri dalam kepala. Aku menghitung daun mangga yang gugur diterpa angin laut. Kalau sampai sebelum matahari setinggi tombak bisa gugur tujuh belas helai, aku akan mencari Max. Jika tidak, aku mesti menerima sebuah legenda tua: para pendekar selalu punya jalan tualang sekaligus jalan pulang. Tidak ada yang perlu dipusingkan.

***

Mengapa harus sepedih ini? Ibuku dulu pernah berkisah tentang seorang putri yang tertidur lelap bertahun-tahun akibat memakan apel yang sudah dimantrai. Tapi dasarnya itu dongeng, harus manis di akhir kisahnya. Datanglah seorang pangeran (berparas rupawan pula!) mengecup keningnya dan membangunkannya dari tidur panjangnya.

Menunggu tinggal menunggu jika itu pasti. Tapi menanti Max, seperti tersedak duri ikan di tenggorokan. Dimuntahkan sakit, ditelan mustahil. Aku menghitung daun di hadapanku sudah sampai helai kelima belas. Dua lagi sebelum matahari meninggi. Jika iya, aku akan mencari Max ke mana aku bisa. Namun, aku sungguh lebih memilih kenyataan lain: sebelum helai ketujuh belas atau sehelai lagi daun gugur, Max berjalan menujuku. Persetan dengan langkahnya yang pincang, aku akan bangkit dan lekas ke arahnya meluru.

Sedikit lagi sang surya setinggi tombak. Keringat mulai merembas di sela-sela buluku. Ini daun keenam belas belum juga gugur. Angin tidak sekencang tadi, tapi masih terasa sepoisepoi. Ngantuk juga mulai menggelayuti. Aku kebanyakan sarapan. Benar kata Max, tidak baik terlalu memanjakan isi lambung. Barangkali itulah keyakinan yang diembannya sampai tidak pernah menghabiskan santapan di piringnya dan selalu menyisakan sepertiga yang kemudian dilumat Bobo. Aku menyesal, Max, tidak belajar dari tindak-tandukmu.

Daun keenam belas gugur, terbang, dan tergolek tidak jauh dari tempatku berdiri. Pintaku dalam hati semakin kencang. Semoga Max lekas pulang. Semoga Max segera datang. Kuulangi kalimat itu sampai aku benar-benar bosan.

“Sudahlah, Cinna. Sini main sama kami. Si pincang itu kalau lapar pasti pulang,” Bobo memekik dari arah belakang.

Remaja durjana! Tahu apa kau soal rindu dan cinta.

***

Belajar menerima kenyataan selalu tidak mudah. Utamanya kenyataan yang tidak pernah diharapkan. Realita yang tidak pernah dipinta. Tapi, bisa apa. Semesta bekerja dengan cara paling misterius yang tak terduga. Seperti aku hari ini. Ketika matahari sudah tinggi, tidak ada helai ketujuh belas yang gugur ke atas bumi. Langit seperti bersekongkol dengan bumi dengan tidak menggugurkan daun penentu itu. Aku ingin mengumpat, tapi kosakata makianku sudah habis.

Benar kata Bobo, lebih baik aku menerima ajakan bermainnya sendiri. Kalau bukan karena rindu denganku, barangkali karena lapar pun tak apa, yang penting Max bisa pulang. Kadang, aku perlu tahu diri mengharap pejantan. Cinta ini kelewat dungu dan tidak satu pun yang mengajariku sedari dulu.

Setan alas! Anjing kudis! Tai kuda! Lengan siapa ini yang tiba-tiba meraihku. Mendekapku dalam bidang dadanya yang lebar. Wangi merebak dari kemeja putih yang dikenakan. Memang nikmat. Namun aku benci dibuat terkejut seperti ini, undur-undur busuk!

Sebisa mungkin aku menggeliat, mencoba melepaskan diri, melompat dan memilih berjalan dengan kaki-kakiku sendiri. Lagi pun, kaki orang ini pincang juga. Serasa lambat jadinya.

“Ini aku, Cinna. Ini aku. Tenang.” Suara lelaki itu berat dan berwibawa di telinga.

Dari balik dekapannya, aku menengadah. Wajah itu teduh, cara menatapnya mantap. Misainya tipis dan rapi sekali. Hanya perawan buta yang bisa menolaknya.

Tapi, tunggu! Dari mana ia bisa tahu namaku?

“Maafkan aku, Cinna. Aku datang dari dunia yang amat jauh dan dalam wujud yang tidak tepat. Tapi, aku tahu cinta kelewat keparat!” ia mengucapkan itu sambil mengelus kepalaku, menggelitiki leherku. Geli-geli nikmat.

“Jika segalanya selesai, aku akan kembali. Kembali ke sini. Kembali menjadi Max yang selalu kau tunggui ketika berlatih berdiri, menjadi Max yang tidak pernah menghabisi makannya, menjadi Max yang selalu mampu bikin Bobo cemburu, menjadi Max yang diamdiam selalu kau curi pandang. Menjadi Maxmu, Cinna.”

Cicak sundal! Mata itu. Cara berjalan itu. Kemantapan itu. Hanya Max! Cuma Max!

“Aku harus pergi ke sebuah masa di mana kita bisa bercinta tanpa terbatas rupa, jiwajiwa yang tenang, dan terbebas dari segala batas yang bumi terapkan. Sekarang, biar aku menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan dan tidak terjebak pada cinta yang mudah merusak ini, Cinna.”

Tokek nista! Kau mau ke mana, Max? Bawa aku! Aku ikut!

Aku dimasukkannya ke kandang yang pernah ia tempati. Lalu dengan langkah pincang, lakilaki itu melangkah keluar pagar, ditelan cahaya dari langit, dan pergi entah ke mana. Seiring biasnya sirna, aku kehilangan bahasa. Aku kehilangan kata-kata.

“Miaw, Max. Miaw … miaw … miaw … miaw, Max. Miaw … miaw … miaw, Max!!!”

Dari dalam rumah, terdengar majikan berteriak lantang, “Itu kucingnya dikasih makan dulu sana! Berisik! Ganggu tidur siang.” ***

 

Fatih Muftih, selain cerpen, juga menulis puisi dan esai. Mengapa Mario Menghidupkan Raja Ali Haji adalah kumpulan esai terbarunya.