Cerpen Milanur Almair (Radar Mojokerto, 12 Januari 2020)

Ketika Perempuanmu Menangis Sebelum Tidur ilustrasi Radar Mojokerto-1
Ketika Perempuanmu Menangis Sebelum Tidur ilustrasi Radar Mojokerto

Akhir-akhir ini kau sering mendapati dia menangis sebelum tidur. Ada apa gerangan? Pernah juga seperti ini. Tapi itu dulu saat awal menikah. Saat kautanya, dia hanya menjawab ‘kangen Ibu’. Biasanya begitu pagi tiba, kausuruh ia menelepon ibu mertua yang berdomisili di Sulawesi.

Pernah juga ia menangis begini beberapa saat setelah itu. Kaupikir kangen lagi dengan ibunya. Ternyata tidak. Dia menangis akibat terharu membaca sebuah buku. Dasar wanita, rutukmu kemudian. Kenapa hobi sekali berurai air mata?

Sarda, istrimu, memang hobi membaca sebelum tidur. Katanya biar cepat mengantuk. Tapi sepertinya justru sebaliknya yang terjadi. Sering kaudapati wanita berambut hitam itu tertidur sambil memeluk buku ketika jam bertengger di angka satu. Tak dinyana, tubuhmu kalah hangat dengan benda tebal dan persegi itu.

Sebenarnya kau ingin bertanya, apa yang membuatnya menangis. Tapi kau urungkan! Kaupikir tangisannya itu belum perlu membuatmu campur tangan. Sehari-hari ia berlaku biasa. Istri tercantik dan ibu terbaik untuk tiga buah hatimu.Tingkahnya juga tak ada yang berubah. Masih mesra meski telah sebelas tahun menikah. Pipinya masih menyemburat saat melihatmu mencopot handuk setelah mandi untuk pakai baju.

Hal lain yang kausuka darinya adalah ia tak bosan menggenggam tanganmu saat acara berdua menonton TV. Kadang ketika jalan pagi sekitar kompleks dengan anak-anak pun, ia selalu menggandeng lenganmu. Hal yang jarang dijumpai bila dua manusia sudah bertahun-tahun membina rumah tangga.

Dulu, usai wisuda kau nekat mengutarakan isi hatimu padanya meski saat itu ia sudah pulang ke Palu, daerah asalnya. Padahal kau baru beberapa bulan bekerja di sebuah penyedia layanan pendukung IT untuk perusahaan di kota kelahiranmu yang terkenal sebagai Kota Industri.

Perempuan berdekik di pipi kanan itu menyambut baik niatmu. Dengan satu syarat, ia tak ingin pacaran, langsung menikah saja. Kau iyakan, meski dengan sedikit keberatan dari keluarga yang mengetahui daerah asal calon istrimu yang jauh di bumi Kasuari. Karena tekadmu sudah bulat, mereka tak bisa berbuat banyak.

Akhirnya kau terbang ke Palu, menemui orang tua Sarda untuk meminang sekaligus menjadikannya sebagai istri. Jarak yang lumayan jauh Batam-Palu, pun biaya tiket yang lumayan mahal saat musim liburan, membuatmu hanya bisa membawa Ibu sebagai perwakilan keluarga karena ayahmu telah tiada.

Resmilah Sarda kauboyong ke kota ini untuk memulai hidup baru. Awalnya ia bekerja sebagai crew freelance sebuah event organizer untuk menyokong perekonomian kalian, sekaligus mengurangi jenuh tak punya kegiatan setelah menikah. Tapi setelah buah hatimu lahir berturut-turut, ia memutuskan untuk fokus saja mengurus anak. Meski kadang terbersit keinginanmu untuk menyuruhnya bekerja mengingat Sarda punya potensi untuk maju. Tapi kau menghargai keputusannya, yang tak ingin anak kalian besar di tangan pembantu.

Setelah bertahun-tahun menikah, baru kali ini Sarda menangis saat hendak memejamkan mata? Ada apa gerangan?

Kau mengingat-ingat, hal buruk apa yang tak sengaja kaubuat. Kau bahkan sudah tak ingat kapan terakhir kali bertengkar. Menurutmu Sarda terlalu pintar meski untuk diajak berdebat sekalipun. Lagi pula ia lebih banyak mengalah. Katanya hidup terlalu singkat jika dihabiskan hanya untuk bertengkar. Pasangan hidup tak selamanya ada untuk bersama.

Kau memilin-milin kening, berusaha mencari dan menemukan ucapan dan tindakanmu yang mungkin saja tak sengaja telah menyakiti hatinya. Tapi nihil. Tak berhasil. Selama ini kau menjunjung benar sabda baginda Nabi, bahwa sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik terhadap istrinya.

Apa mungkin ini menyangkut masalah keuangan, pikirmu. Seingatmu hampir seluruh gaji kauserahkan padanya setelah diambil untuk dikirim pada Ibu yang memang berlainan kota. Kaubebaskan ia memanajemen urusan finansial rumah tangga.

Hasilnya memang luar biasa. Semua gajimu selama ini, ditabung dan disulap menjadi sebuah rumah minimalis dengan  city car sederhana terparkir di garasi meski dipakai akhir pekan saja. Putra-putrimu bisa makan enak dan berpakaian sangat layak.

Ini malam ketiga ia kaudapati kembali menangis. Tak bersuara tapi kau yang sudah dua malam ini pura-pura tidur di sampingnya, tahu persis ia sedang berurai air mata. Bahunya berguncang dan hidungnya seperti tersumbat. Meski tidur membelakangimu, dengan jelas kau bisa mendengar susah payah ia mengirup oksigen lewat mulut. lni tak bisa dibiarkan lagi. Kau memang harus mencari tahu penyebabnya malam ini.

“Adek kenapa?” Kaudekap ia sambil perlahan menguak selimut yang menutupi tubuhnya.

“Eh, Abang belum tidur?” Sarda seperti melakukan gerakan menyeka air mata dengan sarung bantal, lalu mengarahkan tubuhnya menghadap ke arahmu yang tidur dengan posisi miring bertelekan sebelah tangan. Lampu tidur temaram tak mampu menyembunyikan wajah istrimu yang memerah dengan mata sembab sebagai hiasannya.

“Sudah beberapa malam ini Adek menangis, kenapa?” Kau mengusap air mata yang masih mengenang di sudut netranya dengan jempol kiri.

“Kok Abang tahu? Bukannya Abang sudah tidur ya?” Alisnya mengerut membentuk barisan  hitam yang bergelombang.

“Iya, biasanya Abang tidur duluan. Tapi sudah dua malam ini Abang pura-pura tidur, karena Abang merasa ada yang sedang menahan tangis di sebelah Abang!” Raut wajahnya berubah mendengar ucapanmu.

“Sarda nggak kenapa-kenapa kok, Bang!”

Ia menjawab dan mencoba tersenyum. Sarda meletakkan telapak tangan kirinya di pipi kananmu, mengusapnya lembut. Padahal seharusnya kau yang melakukan itu untuk menghibur hatinya yang mungkin sedang kusut. Membuat wajah manis yang berjarak 15 cm di depan mukamu itu, kini berkabut.

“Kalo nggak kenapa-kenapa, istri Abang kok nangis?”

“Mm, itu…, mm, Sarda abis baca buku tadi!” Olala, mulai lagi! Sesenggukan gara-gara bacaan!

“Baca buku apa?” Entah kenapa kau merasa Sarda hanya mengarang cerita kali ini. Matanya tak mampu menatapmu saat mengucapkan alasan ia menangis tadi.

“Mm…, buku tentang memuliakan orang tua!”

“Yakin Adek menangis hanya gara-gara itu?” tanyamu penuh selidik.

“Mm … kok Abang nggak percaya gitu?”

“Bukan nggak percaya cuma rasanya kok aneh menangis terus gara-gara baca buku.” Kau mengelus pelan rambutnya.

“Aku cuma sedih, Bang! Sudah bertahun-tahun tak bisa mencium tangan dan memeluk mereka.”

Ucapan Sarda memang pelan, tapi entah kenapa mendengarnya jiwamu terbakar. Menghitam. Terasa ada yang menyentil perasaanmu begitu halusnya. Sehingga tanpa sadar jiwamu bergetar. Ada malu juga menyesal. Kau terdiam lama. Merenungkan kata-katanya sambil menyadari bahwa kau telah melalaikan sesuatu. Sesuatu yang yang tak diminta Sarda, istrimu.

Sarda yang menyadari perubahan sikapmu, akhirnya berkata.

“Maaf, Bang! Sarda nggak bermaksud menyinggung Abang! Sarda tahu konsekuensinya bersuamikan orang luar Palu, setelah menikah tak bisa sering bertemu Bapak dan Ibu! Sarda harus menomorsatukan kepentingan keluarga kecil kita! Karena bagi wanita yang sudah menikah, surganya tak lagi berada di kaki ibunya, tapi beralih di tangan suami!”

Ucapan panjangnya malah membuatmu makin terpojok. Tak ada yang bisa kaulakukan selain membenamkan dirinya dalam pelukanmu. Betapa jahatnya kau selama ini. Sejak menikah delapan tahun lalu, tak sedikit pun terlintas dalam pikiranmu untuk mengajak Sarda pulang ke kampung halamannya.

Setiap bulan kau memang menyisihkan uang untuk dikirim ke mertua. Kaupikir, dengan begitu kau telah berbakti sekaligus menyenangkan hati istri. Tiap lebaran, Sarda juga tak pernah meminta untuk mudik. Jadi kaupikir ia baik-baik saja jika tak bertemu orang tuanya. Toh, setiap hari ia tak kaularang menelepon mertua.

“Kenapa Adek nggak ngomong kalau ingin bertemu Bapak dan Ibu? Abang pikir Adek memang belum ingin pulang ke Palu!” Kaurenggangkan tubuh agar bisa menatap wajah bundarnya.

“Maafkan Sarda, Bang! Sarda cukup tahu diri untuk tak membebani dengan beban lain. Abang susah payah bekerja untuk memberikan Sarda dan anak-anak hidup yang nyaman. Abang juga sudah mengirimi uang buat mereka. Jadi rasanya terlalu berlebihan jika Sarda juga meminta untuk pulang ke Palu. Biayanya pasti tak sedikit. Sarda hanya tak mau gara-gara sentimentil ingin bertemu Bapak dan Ibu, Sarda memupus impian-impian Abang dan anak-anak.”

Kau kembali memeluknya dengan rasa bersalah yang mengumpal. Bagaimana kau bisa tak sepeka ini pada istri sendiri? Sesuatu yang tak ia pinta, kauanggap tak dibutuhkannya.

“Harusnya Abang yang minta maaf!” Tubuh beraroma musk itu hanya mengeratkan pelukan padamu. Dua menit sesudahnya sebuah ide terbesit di otakmu. Dengan cepat kauraih HP di bawah bantal, lalu menyalakannya.

“Abang mau apa?”

“Ngecek tiket pesawat!”

“Tiket ke mana?”

“Palu!”

“Kita kan tak punya tabungan, Bang! Tak ada alokasi dana untuk itu, mau bayar pakai apa?” Sarda bangkit seraya menatapmu bingung.

“Pakai mobil!”

“Dijual?”

Kautatap Sarda dengan mata tak mengerjap! *

 

Cikarang Pusat, 2019

Milanur Almair. Penulis adalah anggota FLP Bekasi, asal Sambas, Kal-Bar. Aktif juga di Komunitas Bisa Menulis (KBM) dan Kampus Fiksi. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Kabar Madura, Koran Merapi, Literasi Kalbar, Malangpost Online, dan Kataberita.id. Pecinta fiksi yang mengisi waktu luangnya dengan menjahit. Sekarang tinggal di Cikarang Pusat, Kab. Bekasi.